RSS

Sajarah Snouck Hurgronje di Ciamis

Dulur, geuningan Snouck Hurgronje anu kamashur tea teh pernah aya di Ciamis nya. Malah Tuan Walanda anu kakoncara sabage pemecah belah kekuatan rahayat Aceh teh kagungan bojo urang Ciamis sagala. Kantos maos lalakonna? Cobi pribados postingkeun cutatan tina majalah TEMPO.

Tentang Keris Ketemu Tutup

Alkisah, suatu hari di tahun 1890, Profesor Christiaan Snouck Hurgronje dipersilakan menyunting gadis-gadis menak di Ciamis, Jawa Barat. “Mangga, silakan pilih sendiri gadis yang paling sreg,” kira-kira begitu tawaran yang disodorkan oleh keluarga Bupati Ciamis, Raden Arya Kusumasubrata.

Tawaran ini klop betul dengan hasrat di hati Snouck, yang ketika itu berusia 33 tahun. Dia segera berkeliling Ciamis mencari-cari si gadis tambatan hati. Alamak, jantungnya berdesir saat menyaksikan Sangkana, putri Raden Haji Muhamad Taik, penghulu di Ciamis. Snouck segera menetapkan pilihan: Sangkana yang bakal dia persunting.

Raden Haji Taik sejatinya tidak setuju. Apalah Snouck ini, orang dari negeri jauh Belanda yang belum teruji betul bobot, bibit, dan bebet-nya. Apalagi Sangkana juga disebut-sebut takut terhadap orang asing. Namun, kekuasaan sang Bupati tak bisa terelakkan. Akhirnya, masih di tahun 1890, Snouck Hurgronje resmi menikahi Sangkana.

Begitu menikah, setiap tahun pasangan ini dikaruniai satu anak hingga di tahun 1895 mereka sudah memiliki empat anak. Tahun 1896, Sangkana mengalami keguguran dan meninggal bersama calon bayi yang kelima.

“Snouck pun jadi duda,” demikian penuturan Nina Herlina Lubis, sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Bandung.

Namun, tak sampai dua tahun menduda, Snouck kembali menikah dengan mojang Sunda. Kali ini dia memilih Siti Sadiah, putri Kalipah Apo, bangsawan yang juga wakil penghulu di Bandung—kini nama Kalipah Apo dijadikan nama jalan di kawasan Alun-Alun Bandung. Dari Siti Sadiah, Snouck memiliki satu anak bernama Raden Yusuf. Ketika Yusuf baru berumur 18 bulan, “Snouck pulang ke Belanda dan tak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah Bandung,” kata Nina.

Dr. P.S. Koningsveld, peneliti dari Belanda, pernah menelusuri riwayat pernikahan Snouck dengan Siti Sadiah. Seperti terungkap dalam wawancara Koningsveld dengan Kompas (6 Februari 1983), keluarga Kalipah Apo yakin benar akan keislaman Tuan Snouck. Tidak mungkin kiranya seorang wakil kepala penghulu, posisi penting bagi masyarakat muslim, membiarkan putrinya dinikahi Snouck jika dia tidak yakin benar bahwa Snouck adalah muslim lahir dan batin.

Koningsveld juga sempat bertemu dengan Yusuf, yang sebetulnya tidak sempat mengenal Snouck dengan akrab. Raden Yusuf mengatakan, ibunya yakin dengan mutlak bahwa suaminya adalah muslim. Snouck disebut rajin sembahyang, puasa, juga telah disunat.
Berdasarkan penuturan Nina, dan referensi dari berbagai buku, wartawan TEMPO mencoba melakukan napak tilas jejak Snouck Hurgronje di Jawa Barat. Pelacakan yang tergolong rumit, karena tidak tercatat dengan pasti siapa saja nama anak keturunan Snouck dan di mana mereka tinggal.

Pertama, TEMPO mendatangi Raden Haji Djuhes Thojib, 80 tahun, yang merupakan anak Raden Bakri Muhamad Saleh, menak terakhir yang menjadi penghulu Ciamis di tahun 1960. Siapa tahu, Kang Uhes—sapaan Raden Haji Djuhes—bisa menceritakan jejak-jejak masa lalu Snouck yang antropolog kenamaan di zaman kolonial Belanda ini.

“Memang benar,” tutur Kang Uhes. Maksudnya, Snouck memang pernah menikahi Sangkana, putri penghulu Ciamis. “Yang masih saya ingat, satu dari keempat anak Snouck-Sangkana bernama Raden Ibrahim. Parasnya indo, hidungnya mancung,” tuturnya. Raden Ibrahim sudah meninggal, tahun 1976, dan dikuburkan di pemakaman khusus keturunan penghulu di belakang Jalan Warung Asem, Ciamis.

Betul, ketika TEMPO mendatangi pemakaman tersebut, terlihat sebuah nisan bertuliskan nama R. Ibrahim. Dia dilahirkan di Jakarta, 31 Desember 1894, atau satu tahun sebelum Sangkana meninggal. Kemungkinan besar Ibrahim inilah anak bungsu dari pasangan Snouck-Sangkana. Hanya, tidak tersedia bukti autentik semisal akta atau dokumen tertulis lain yang bisa menguatkan.

TEMPO kemudian menemui Tayo Jayakusuma, cucu Bupati Raden Kusumasubrata, yang kini menjadi anggota Komisi B DPRD Kabupaten Ciamis. Informasi seputar Snouck, menurut Tayo, agak sukar dilacak karena memang ada upaya Snouck menutup-nutupi perkawinannya dengan menak Sunda. “Saya hanya pernah diberi tahu oleh ibu saya bahwa ada cucu Snouck di Ciamis,” kata Tayo.

Ihwal tutup-menutup ini juga dibenarkan oleh sejarawan Nina Herlina Lubis. Menurut Nina, Snouck pernah mengeluarkan surat wasiat yang tidak boleh dibuka selama 100 tahun sesudah kematiannya (dia meninggal 1936). Surat wasiat itu sampai kini masih tersimpan di KITLT, institut kerajaan tentang ilmu bumi, bahasa, dan antropologi, di Belanda. Kelak, tahun 2036, wasiat Snouck mungkin akan menyingkap banyak rahasia.

Berikutnya, pelacakan berganti pada keturunan Snouck dari garis Siti Sadiah, putri Kalipah Apo, yang tinggal di Jakarta. TEMPO berhasil menjumpai cucu dan buyut Snouck dari Yusuf, anak satu-satunya Siti Sadiah. Yusuf, yang telah wafat 10 tahun silam, diketahui memiliki 11 anak. Yang sulung adalah Edi Yusuf, pemain bulu tangkis nasional.

“Keluarga kami tidak ada yang menyandang nama Hurgronje,” kata Iki, putri Edi Yusuf atau cucu buyut dari Snouck. “Bukan karena ada larangan, tetapi karena sejak dulu memang begitu,” kata Iki sambil menambahkan bahwa sampai kini keluarga besar keturunan Snouck kerap menggelar pertemuan guna mempererat silaturahmi.

Selain Iki, TEMPO juga berjumpa dengan Nita Kabul, anak kedelapan dari Yusuf.
“Nenek saya sangat mengagumi Snouck,” kata Nita. Buktinya, Siti Sadiah (meninggal di tahun 1985) tidak pernah lagi mau menikah dengan orang lain sejak kepergian Snouck ke Belanda. Padahal, ketika itu Siti masih perempuan yang ranum di awal usia 20-an tahun.

Nita juga menuturkan bahwa nenek dan kakeknya rajin saling berkirim surat. Setumpuk surat yang diterima dari Snouck dikumpulkan dalam boks khusus, dan baru dibakar ketika Sadiah berumur 70 tahun. “Saya melihat sendiri ketika surat-surat itu dibakar,” kata Nita. Alasannya, tutur Nita, “Nenek sudah merasa tua.”

Berikutnya, Nita mengisahkan kedekatannya dengan Sadiah. Di masa kecilnya, saat masih SD, Nita kerap tidur dikeloni, dipeluk sang nenek. Dari kedekatan inilah dia tahu bahwa neneknya adalah istri kedua, di Ciamis, setelah Sangkana. Nita juga mafhum bahwa kakeknya telah menikah lagi dengan perempuan Belanda. “Ayah saya, Yusuf, sering bersurat dengan Christien, saudara tirinya yang ada di Belanda,” kata Nita.

Pelacakan pada berbagai dokumen menunjukkan Snouck Hurgronje bukan hanya beristri tiga. Sebelumnya, yakni di Jeddah di tahun 1880-an, Snouck ditugasi pemerintah Hindia Belanda meneliti para mukimin—orang yang tinggal—di Mekah dan Madinah untuk mencari ilmu. Termasuk para mukimin ini adalah orang-orang Aceh yang melakukan perjalanan ibadah haji. Hasil penelitian diharapkan berguna untuk membantu mengatasi perlawanan rakyat Aceh.

Persoalannya, Mekah dan Madinah adalah kota terlarang bagi kaum nonmuslim. Demi kepentingan penelitiannya, Snouck tinggal di Jeddah dan mengaku diri sebagai muslim bernama Abdul Jaffar atau Abdul Ghofar. Dia bahkan menikah dengan perempuan Jeddah. Setelah mendapat pengakuan sebagai muslim, barulah Snouck bisa berlenggang memasuki Mekah dan Madinah.

Adaby Darban, pengajar di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menegaskan bahwa Snouck Hurgronje memang dikenal sebagai ilmuwan yang berdisiplin dan ulet.

Kendati bisa dipesan sesuai dengan kepentingan kolonialisme, sebagai antropolog Snouck meneliti dengan cermat dan mendasar. Dia pun tidak segan menikah dengan gadis-gadis putri tokoh masyarakat setempat. “Cara ini membuat dia bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat yang diteliti,” kata Adaby. Metode participatory observer, pada akhir abad ke-19, bisa dibilang terobosan di bidang antropologi. Jurus ini memang jitu menghasilkan penelitian yang komprehensif dan menjadikan Snouck sebagai ilmuwan yang disegani.

Dalam perbincangan dengan Nina Herlina Lubis, Romo Zoetmoeldeer, murid Snouck di Yogyakarta, secara berolok-olok menyebut perilaku “nikah demi riset” versi Snouck ini sebagai “mabok manggih gorong”. Perumpamaan Sunda itu kira-kira berarti seperti keris ketemu tutupnya. Klop.

dari:http://urangciamis.blogspot.com/2008/11/snouck-hurgonje-di-ciamis.html

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SOSOK

 

SMA Se-Bandung Pentaskan Ciung Wanara

RETNO HY/"PRLM"

RETNO HY/”PRLM”
SALAH satu adegan Teater Musikal Kolosal The Legend of West Java “Ciung Wanara” diikuti tujuh puluh lebi siswa siswi SMU Se Kota Bandung bertempat di gedung Kesenian Rumentangsiang Jalan Baranangsiang, Kosambi Bandung, direncanakan akan digelar selama tiga puluh hari berturut-turut.*

BANDUNG,(PRLM).- Sebanyak 75 siswa sejumlah SMU di Kota Bandung bergabung mementaskan Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”. Pegelaran yang direncanakan selama tiga puluh hari berturut-turut akan digelar di Gedung Kesenian Rumentangsiang dan Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

“Terus terang, pegelaran yang diprakarsai AAP (Anka Adika Production) ini bukan untuk mengulangi sukses ‘Surabi Bandung’ (Namaku Bukan Juliet) yang juga dipentaskan selama dua puluh hari dan ditonton lebih dari 30.000 orang.

Pegelaran kali ini murni sebagai bentuk apresiasi, kreasi serta ekspresi anak-anak sekolah yang ingin mengembangkan kemampuan mereka dalam berkesenian,” ujar Anton Justian Jr, seusai pegelaran perdana Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, bertempat di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jalan Baranangsiang 1, Kosambi, Bandung.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, setiap harinya digelar setiap pukul 15.00 WIB. Di GK Rumentangsiang, Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tampil mulai tanggal 2 hingga 20 Maret dan disambung pada tanggal 9 hingga 14 Mei, kemudian di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, akan dipegelarkan pada 24 hingga 27 Mei mendatang.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tidak jauh berbeda dengan cerita legenda sebenarnya. Hanya dialog dan cara membawakan yang rada ngepop layaknya teater anak muda.

Diceritakan, Prabu Barma Wijaya Kusuma, Raja Galuh memiliki permaisuri bernama Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep yang tengah mengandung. Dewi Pangrenyep melahirkan lebih awal seorang putra dan diberi nama Hariang Banga.

Saat Hariang Banga berusia 3 bulan, Dewi Pangtenyep khawatir rasa Cinta Prabu Barna Wijaya Kusuma berpaling ke putra Dewi Pohaci. Karenanya begitu Dewi Pohaci melahirkan bayinya diganti dengan anak seekor a***g, sementara bayi aslinya dimasukan dalam kandaga emas berikut sebutir telur dan dihanyutkan ke Sungai Citandui, dan sang bayi dipelihara hingga dewasa oleh Aki dan Nini Balangantrang di Desa Geger Sunten.

Anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ciung Wanara senantiasa membawa ayam jantannya untuk diadukan. Akhir cerita terkuak siapa sebenarnya Ciung Wanara, saat ayam jantan milik Ciung Wanara mengalahkan ayam jantan Raja Galuh. (A-87/A-26).***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/137

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

Seniman Priangan tidak Bisa Nyanyikan Laras Pelog Secara Benar

RETNO HERIYANTO/"PRLM"

RETNO HERIYANTO/”PRLM”
SENIMAN karawitan Sunda Atang Warsita saat memaparkan titi laras karawitan Sunda pada Seminar Titi Laras Karawitan Sunda, bertempat di Ruang Rapat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Senin (18/4).*

BANDUNG, (PRLM).- Semua seniman priangan tidak bisa menyanyikan atau mengumandangkan laras pelog secara benar, kalau tanpa dibarengi dengan gamelan pelog yang masih asli dari Jawa. Pada kenyataannya yang mereka laras bukanlah laras pelog yang sama dengan gamelan pelog, akan tetapi yang mereka laras tersebut adalah laras degung.

Demikian diungkapkan seniman karawitan, Atang Warsita, dalam “Seminar Titi Laras Karawitan Sunda kegiatan Pembinaan Apresiasi Seni di Jawa Barat”, di ruang rapat lantai 3 kantor Disparbud Jabar, Jl. RE. Martadinata Kota Bandung, Senin (18/4). “Laras pelog itu bukan milik karawitan sunda atau priangan, keberadaan laras pelog dalam karawitan sunda priangan mungkin karena pertama laras pelog tersebut enak di dengar dan yang kedua ada kemiripan dengan laras degung,” ujar Atang, dalam Seminar yang dihadiri sejumlah seniman sunda, staf pengajar musik, mahasiswa dan pelajar.

Dalam sambutanya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ir. H. Herdiwan, Iing Suranta, M.M., mengatakan acara seminar ini digelar berawal dari kegelisahan Wakil Gubernur Dede Yusuf, bahwa penggalian, pembaharuan, hal-hal baru tentang seni dan budaya Jawa Barat masih kurang. “Selama ini, hanya pagelaran kesenian yang ditampilkan. Sedangkan, penggalian hal-hal baru tentang seni dan budaya masih jarang dilaksanakan. Ini salah satu tujuan kita agar seni dan budaya ini digali lebih luas lagi,” ujar Herdiwan.

Dikatakan Herdiwan, bahwa Atang Warsita sebagai seniman karawitan beranggapan bahwa ada yang belum sempurna dalam Titi Laras Karawitan Sunda ini. Oleh karenanya, diperlukan penyempurnaan agar supaya Titi Laras ini bisa menjadi lebih lengkap. “Sebelum digelar seminar ini Pak Atang melontarkan gagasan tentang kurang lengkapnya titi laras sunda. Mendengar hal tersebut, Disparbud mencoba untuk mengakomodir dan memfasilitasi. Baru sekarang seminar ini bisa terlaksana,” ujar Herdiwan.

Hal seperti ini, lanjut Herdiwan, akan kita coba terus laksanakan. Jika ada gagasan atau ide tentang pembaharuan tentang seni dan budaya, akan kita coba fasilitasi. “Siapapun itu, jika itu memang untuk keberlangsungan atau kepedulian tentang seni dan budaya akan kita coba akomodir,” ujar Herdiwan. (A-87/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/142084

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

Dipusatkan di Alun-alun Kab. Garut Disparbud Akan Gelar “Kirab Seni Budaya”

Senin, 18/04/2011 – 13:56

BANDUNG, (PRLM).- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat akan menggelar “Kirab Seni Budaya” di Zona Budaya Priangan I. Kegiatan yang dipusatkan di Alun-alun Kabupaten Garut diselenggarakan pada tanggal 20-21 April 2011.

Kirab Seni Budaya yang rencananya akan dibuka Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, melibatkan seniman, budayawan dan pekerja seni dari Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasik, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Ir. H. Herdiwan Iing Suranta, MM., mengatakan Kirab Seni Budaya ini, merupakan kegiatan yang dianggap mampu menjadi transformasi budaya dari 3 zona beda budaya, yaitu Zona Cirebon, Zona Priangan dan Zona Melayu Betawi.

“Kegiatan ini tidak lagi memandang sebagai peristiwa transformasi budaya. Tapi juga sebagai sumber inspirasi ragam etnik dalam satu rumpun budaya sehingga akan memberikan warna yang lain bagi creator seni,” ujar Herdiwan, didampingi Kepala Bidang Kesenian dan Perfilman Drs. H. Jaenudin.

Provinsi Jawa Barat, menurut Herdiwan, dipetakan dalam 3 zona beda budaya. Ini merupakan asset budaya yang menguntungkan karena didalamnya memiliki aneka ragam etnik yang sarat dengan kreasi dan filosofi struktur berbeda di masing-masing zona. “Karen itu, diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan motivasi dan rangsangan kreatifitas seni dalam upaya mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan pelaku seni tradisional,” ujar Herdiwan.

Dikatakan Herdiwan, Kirab Seni Budaya ini dibuat dalam format pagelaran, helaran seni tradisional yang berada di wilayah zona budaya Cirebon, Priangan dan Melayu Betawi serta pameran seni rupa, kerajinan, Kriya dan kuliner. “Format karya seni hasil olahan atau murni yang berakar seni tradisional Jawa Barat, yang berada dan tumbuh di 3 zona beda budaya,” ujar Herdiwan.

Secara umum, menurut Herdiwan, pengertian pemeliharaan kesenian tidak sekedar pelestarian, revitalisasi, rekonstruksi seni tetapi lebih jauh kesenian harus pula mempunyai kesempatan untuk diperkenalkan kepada masyarakat agar kesenian tersebut menjadi bagian dari kelompok masyarakat serta mampu memberikan pencitraan bagi masyarakat pendukungnya.

“Dari beberapa jenis kesenian, Karawitan Teater, Padalangan, Musik, Tari, Sastra, Rupa dan film semuanya harus memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat secara seimbang,” ujar Herdiwan. (A-87/A-147)**

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

GALUH DAN CIAMIS

Proses berdirinya Kabupaten Ciamis diawali dengan penyusunan Sejarah Galuh,dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji Sejarah Galuh secara menyeluruh. Ada 2 pendapat tentang proses tersebut yaitu:

  1. Berdasarkan Titimangsa Rahyangta di Medangjati,.. yaitu berdirinyaKerajaan Galuh oleh Wretikkandayun tanggal 23 Maret 612 Masehi atau zaman Rakean Zamri yang juga disebut Raiyang Sanjaya sebelumSang Manarah berkuasa.
  2. Berdasarkan Tanggal dan tahun dari beberapa peristiwa berikut: (a). Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Raden Tumenggung Sastra Winata pada Tahun 1916 (b).Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Raden AA.Wiradikusumah pada tanggal 15 Januari 1815 (c).Berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah yang letaknya disekitar Cineam (Tasikmalaya) ke Barunay (Imbanagara) pada tanggal 12 Juni 1642.

Dan hasil akhirnya menyimpulkan bahwa Kabupaten Ciamis berdiri pada tanggal 12 Juni 1642, yang kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 17 Mei 1972 Nomor:22/V/KPTS/DPRD/1972. Dengan Keputusan DPRD tersebut diharapkan seluruh masyarakat mengetahui, sehingga akan lebih bersemangat untuk membangun Tatar Galuh ini sejalan dengan Moto Juang Kabupaten Ciamis: “Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya Dibuana, Mahayunan Ayuna Kadatuan” artinya apa ya?..hehehe. Kata Galuh berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti Batu Permata. Kerajaan Galuh berarti Kerajaan Batu Permata yang indah gemerlap, subur makmur, Gemah Ripah loh Jinawi Aman Tentreum Kertaraharja…Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15thn (597-612M) yang kemudian menjadi Pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang LayungwatangWretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karang Kamulyan sekarang). Ia dinobatkan pada tanggal 14 Suklapaksa bulan Caitra Tahun 134 Caka (kira-kira 23 Maret 612 Masehi). Tanggal tersebut dipilihnya benar-benar menurut tradisi Tarumanagara,karena tidak saja dilakukan pada hari purnama melainkan juga pada tanggal itu matahari terbit tepat di titik timur. Tujuan Wretikkandayun membangun pusat pemerintahan di daerah Karang Kamulyan (sekarang) adalah untuk membebaskan diri dari Tarumanagara, yang selama itu menjadi Negara “Adikuasa” (kalau sekarang mah kaya Amerika nu Presiden na Mang Jos Bus). Oleh karena itu demi mewujudkan obsesinya ia menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, bahkan putra bungsunya Mandi Minyak di jodohkan dengan Parwati putri sulungMaharanissima. Kesempatan untuk menjadi negara yang berdaulat penuh terjadi pada tahun 669 ketika Linggawarman (666-669M) Raja Tarumanagara yang ke-12 wafat. Ia digantikan oleh menantunya (suami Dewi Manasih) bernama Terus Bawa berasal dari Kerajaan Sunda Sumbawa. Terus Bawa inilah yang pada saat penobatannya tanggal 9 Suklapaksa Bulan Yosta Tahun 951 Caka (kira-kira 17 Mei 669 Masehi)mengubah Kerajaan Tarumanagara menjadi Negara Sunda. Masa Kerajaan Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 Masehi ketika Raja Ajiguna Lingga Wisesa atau Sang Dumahing Kending (1333-1340M) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakaknyaPrabu Citra Gada atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.Lingga Wisesa adalah kakek Maharaja Lingga Buana yang gugur pada “Perang Bubat” tahun 1357 yang kemudian diberi gelar Prabu Wangi. Ia gugur bersama putri sulungnya Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Diah Pitaloka mempunyai adik laki-laki yang bernama Wastu Kancana. Ketika Perang Bubat berlangsung Wastu Kancana baru berusia 9 tahun dibawah bimbingan pamannya yaitu Mangkubumi Suradipati aliasSang Bumi Sora atau Batara Guru di Jampang. Wastu Kancana berkembang menjadi seorang calon Raja yang seimbang keluhuran budi pekerti lahir bathin, seperti tersebut pada wasiatnya yang tertulis pada Prasasti Kawali yaitu: diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Negara akan jaya dan unggul perang bila rakyat berada dalam kesejahteraan~kareta beber, Raja (pemimpin) harus selalu berbuat kebajikan~Pakena Gawe Rahayu“...Itulah syarat yang menurut wasiatnya untuk dapat Pakeun Heubeul Jaya Dina Buana, Pakeuna Nanjeur Najuritan untuk menuju Mahayunan Ayuna Kadatuan…

Pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana negara dan rakyatnya berada dalam keadaan Aman Tentreum Kertaraharja, para Abdi Dalem patuh dan taat terhadap peraturan Ratu yang dilandasi oleh Purbatisti dan Purbajati. Wastu Kancana mempunyai 2 orang istri, yaitu: Larasati (putri Resi Susuk Lampung) dan Mayangsari.Putra sulung dari Larasati yang bernama Sang Halimun diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada tahun 1382. Dari Mayangsari, Wastu Kancana mempunyai 4 orang putra, yaitu: (1) Ningrat Kencana (2) Surawijaya (3) Gedeng Sindangkasih (4) Gedeng Tapa. Ningrat Kencana diangkat menjadi Mangkubumi di Kawali dengan gelar Surawisesa. Wastu Kancana wafat pada tahun 1475 Masehi dan digantikan oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskalaberkedudukan di Kawali yang hanya menguasai Kerajaan Galuh, karena Kerajaan Sunda dikuasai oleh kakaknya yaitu Sang Halimun yang bergelar Prabu Susuk Tunggal.Dengan wafatnya Wastu Kancana, maka berakhirlah periode Kawali yang berlangsung selama 142 tahun (1333-1475M). Dalam periode tersebut Kawali menjadi pusat pemerintahan dan keraton Surawisesa menjadi persemayaman Raja-rajanya terlebih lagi Sribaduga Maharatu Haji sebagai pewaris terakhir tahta kerajaan Galuh dari ayahnya Dewa Niskala yang pusat kerajaannya di keraton Surawisesa pindah kePakuan Pajajaran (kalau sekarang mah jadi Kota Hujan-Bogor tea…) untuk merangkap jabatan menjadi Raja Sunda yang dianugerahkan dari mertuanya, maka sejak itu Galuh Sunda bersatu kembali menjadi Pakuan Pajajaran di bawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata yang kini lazim disebut Prabu Siliwangi. Penanggalan pada zaman Kerajaan Galuh Biharinampaknya kurang tepat bila dijadikan penanggalan Hari Jadi Kabupaten Ciamis, karena luas teritorialnya sangat jauh berbeda dengan keadaan Kabupaten Ciamis sekarang. Nama Kerajaan Galuh baru muncul tahun 1595 Masehi, yang sejak itu mulai masuk kekuasaan Mataram. Adapun batas-batas kekuasaanya sebagai berikut:

# Di sebelah Timur: Sungai Citanduy.

# Di sebelah Barat: Galunggung Sukapura.

# Di sebelah Utara: Sumedang & Cirebon.

# Di sebelah Selatan: Samudera Hindia.

Prasasti Kawali

Daerah-daerah Majenang, Dayeuh Luhur dan Pagadingan termasuk juga daerah Galuh masa itu (menurut: Dr.F.Dehaan) dan ternyata dari segi adat istiadat dan bahasa masih banyak kesamaan dengan Tatar Pasundan terutama sekali di daerah pegunungan. Kerajaan Galuh itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan. Kerajaan Galuh pada saat itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan yang dipimpin oleh Raja-raja kecil (Kandaga Lante), yang kemudian dianggap sederajata dengan Bupati yang diantara satu dengan yang lainnya masih mempunyai hubungan darah mempunyai perkawinan. Pusat-pusat kekuasaan tersebut berada di wilayah Cibatu, Gara Tengah, Imbanagara, Panjalu, Kawali,Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojong Lopang) dan Kawasen (Desa Banjarsari). Pengaruh kekuasaan Mataram sedikit banyak mewarnai tata cara pemerintahan dan budaya Kerajaan Galuh dari tata cara Buhun sebelumnya pada zaman itu mulai ada pergeseran antara Bupati yang satu dengan Buapti yang lainnya. Seperti Adipati Panaekan putra Prabu Galuh Cipta Pertamana diangkat menjadi Bupati (Wedana-semacam Gubernur) di Galuh oleh Sultan Agung.Pengangkatan itu menyulut perselisihan faham antara Adipati Panaekan dengan Adipati Kertabumi yang berakhir dengan tewasnya Adipati Panaekan. Jenazahnya dihanyutkan ke sungai Citanduy dan dimakamkan di Pasarean Karangkamulyan. Sebagai penggantinya ditunjuk Adipati Imbanagara yang pada waktu itu berkedudukan di Gara Tengah (Cineam-Tasikmalaya). Usaha Sultan Agung untuk melenyapkan kekuasaan VOC di Batavia pada penyerangan pertama mendapat dukungan penuh dariAdipati Ukur (sekarang nama beliau digunakan nama jalan di Kota Kembang Jl.Dipati Ukur Unpad gitu lochhh…) walaupun pada penyerangan itu gagal. Pada penyerangan kedua ke Batavia, Adipati Ukur mempergunkan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah Ukur dan sekitarnya dari pengaruh kekuasaan Mataram. Politik Adipati Ukur tersebut harus dibayar mahal, yaitu dengan terbunuhnya Adipati Imbanagara (yang dianggap tidak setia lagi kepada Mataram) oleh utusan Mataram yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke Mataram sebagai barang bukti. Sedangkan badannya dimakamkan di Bolenglang (Kertasari). Tetapi kepala Adipati Imbanagar dapat direbut oleh para pengikutnya walaupun terjatuh di sungai Citanduy, yang kemudian tempat jatuhnya disebut Leuwi Panten. Kedudukan Adipati Imbanagara selanjutnya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Bongsar atau Raden Yogaswara dan atas jasa-jasanya dianugerahi gelar Raden Adipati Panji Jayanegara. Pada masa pemerintahan beliau, pusat kekuasaan pemerintahan dipindahkan dari Gara Tengah ke Calingging yang kemudian dipindahkan lagi keBarunay (Imbanagara sekarang), pada tanggal 14 Maulud atau 12 Juni 1642 Masehi.Perpindahan pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Imbanagara mempunyai arti penting dan makna yang sangat dalam bagi perkembangan Kabupaten Galuh berikutnya merupaka era baru pemerintahan Galuh menuju terwujudnya Kabupaten Ciamis di kemudian hari, karena:

  1. Peristiwa tersebut membawa dampak yang positif terhadap perkembangan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat Kabupaten Galuh yang mempunyai batas teritorial yang pasti dan terbentuknya sentralisasi pemerintahan.
  2. Perubahan tersebut mempunyai unsur perjuangan dari pemegang pimpinan kekuasaan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya dan adanya usaha memerdekakan kebebasan rakyatnya dari kekuasaan penjajah.
  3. Kabupaten Galuh dibawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Arya Panji Jayanegara mampu menyatukan wilayah Galuh yang merdeka dan berdaulat tanpa kekerasan.
  4. Adanya pengakuan terhadap kekuasaan Mataram dari Kabupaten Galuh semata-mata dalam upaya memerangi VOC dan hidup berdampingan secara damai.
  5. Sejarah perkembangan Kabupaten Galuh tidak dapat dipisahkan dari Sejarh terbentuknya Kabupaten Ciamis itu sendiri. Dirubahnya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada tahun 1916 oleh Bupati Raden Tumenggung Sastrawinata (sampai sekarang belum terungkap alasannya merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari).

dari: http://ahmedt.wordpress.com/2008/08/02/galuh-is-ciamis/

 

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

LAMBANG KRATON GALUH PAKUAN

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

LPJ SANGGAR SENI SIMPAY Periode 09-10

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

SANGGAR SENI SIMPAY

KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA

PERIODE 2009-2010

 

 

I.   PENDAHULUAN

Puji dan syukur pertama-tama kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nya kita dapat berkumpul dalam kesempatan yang baik ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad S.A.W beserta, keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.

Sanggar Seni “Simpay” yang merupakan lembaga semi otonom yang berada di bawah naungan Departemen Seni dan Budaya KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta senantiasa berusaha berkarya dan berkreasi dibidang seni budaya  sebagai upaya optimalisasi minat dan bakat warga dibidang seni budaya. Pada kesempatan ini yang merupakan batas akhir kepengurusan kami, kami akan menyampaikan usaha kami dalam mengemban tugas yang diamanatkan kepada kami melalui rembug sanggar ke 5 satu tahun yang lalu.

 

II. KONDISI OBJEKTIF

A. Kelembagaan

Dalam aktivitasnya Sanggar seni “Simpay” mengacu kepada program kerja Departemen Seni Budaya KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2010-2011 dan tentunya berdasarkan inisiatif dan kepentingan dari Sanggar Seni ”Simpay” itu sendiri yang telah dikonsultasikan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan Sanggar Seni “Simpay”.

Sejumlah agenda kegiatan yang telah dilaksanakan Sanggar Seni “Simpay” dalam periode ini diantaranya mengadakan:

1.      Pagelaran Milangkala Sanggar Seni “Simpay” ke-7 & ke-8.

2.      Pagelaran Hajat Warga periode 2009-2010 dan periode 2010-2011.

3.      Pagelaran pelantikan pengurus KPM Galuh rahayu Ciamis-Yogyakarta periode 2010-2011

4.       Mengikuti Festival Drama Basa Sunda XI tanggal 22 Maret 2010 di Bandung.

5.      Pagelaran dalam rangka dies natalis KPM galuh rahayu Ciamis-Yogyakarta ke-44 di Ciamis dank ke-45 di Yogyakarta.

6.      Karnaval dalam rangka HUT kota Yogyakarta.

7.      Pagelaran ronggeng gunung dalam rangka hari sumpah pemuda tahun 2010 di aula RRI Yogyakarta.

8.      Pagelaran ronggeng gunung dalam rangka panggilan professional Ujian Akhir S2 kang Rano sumarno S.Sn.

9.      Undangan mengisi upacara adat dalam setiap undangan pernikahan, diantaranya di perumahan mewah “casa grande”, di gedung multi purpose UIN Sunan Kalijaga dan ditempat-tempat yang lain.

10.  Karnaval dan panggung nusantara dalam rangka malioboro carnaval 2010.

11.  Penampilan dalam acara “syndrome batik” di 0 Km Malioboro.

12.  Mengirimkan delegasi kesenian dalam acara-acara seni di Komunitas-komunitas dan lembaga-lembaga (KPM Kujang, KPMT, KAPMI, Lkis, ISI).

13.  Latihan gamelan dan angklung.

14.  Kerjasama dengan pihak luar dalam pementasan seni budaya secara professional (Seni musik UNY, ISI, Sanggar seni rengganis, Gentra Parahiyangan)

15.  Mimbar ekspresi.

 

Dalam perekrutan dan optimalisasi minat dan bakat warga dalam bidang seni budaya Sanggar seni “Simpay” melakukan pendataan dengan berbagai cara dan selanjutnya melibatkan mereka (warga dan non warga) dalam kegiatan seni budaya baik di lingkungan Galuh Rahayu maupun di luar Galuh Rahayu. Kendala yang dihadapi dalam perekrutan warga adalah minimnya waktu yang diporsikan untuk mengidentifikasi minat dan bakat warga di bidang seni budaya sehingga potensi yang terdeteksi jauh dari harapan.

Pengembangan kualitas sanggar seni simpay dalam pagelaran dilakukan dengan konsultasi dan latihan dengan pihak-pihak yang kompeten di bidang seni budaya. Selain itu dalam perjalanan kami  menjalin kerja sama  dengan sejumlah komunitas seni  dan pakar-pakar seni dan budaya. Dalam Kepengurusan kami, perawatan inventaris belum optimal, hal ini ditandai dengan masih belum tertibnya penyimpanan inventaris Sanggar Seni “Simpay” dan berakibat adanya sejumlah inventaris yang rusak dan hilang. Hal tersebut terjadi karena minimnya rasa memiliki terhadap inventaris sanggar.

B. Kepengurusan

Kepengurusan merupakan perangkat vital yang menjadi police, subyek pemeliharaan dan pengembangan organisasi.

Pengangkatan pengurusan sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2009-2010 merupakan pengejawantahan dari ketetapan ugeran sanggar ke-5 tanggal 16 Mei 2009, yaitu dengan diawali pengangkatan formatur  yang sekaligus menjadi pupuhu sanggar seni “simpay” KPM “ Galuh Rahayu” Ciamis-yogyakarta periode 2009-2010. Perumusan kepengurusan secara utuh didelegasikan pada formatur dan mid-formatur ugeran sanggar ke-5. Rumusan dan personalia kepengurusan secara lengkap tertuang dalam Surat Keputusan Formatur-Mid Formatur sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta tahun 2009 Nomor: 01/KPTS/F-MF/SIMPAY/V/2009 tentang pengangkatan Pengurusan sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta Periode 2009-2010.

Struktur kepengurusan dibentuk dan dibangun oleh tiga bagian inti (Presidium) yang terdiri dari:

1.      Pupuhu-Wakil Pupuhu

2.      Sekretaris

3.      Bendahara

Empat bidang yang terdiri dari:

1.      Bidang seni modern

2.      Bidang seni tradisional

3.      Bidang pembinaan warga

4.      Bidang perlengkapan dan peralatan

Daftar personil kepengurusan sanggar seni “Simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta:

NO JABATAN NAMA PT ANGKT ALAMAT
1 KETUA Ahmad Mustofa S UIN 2007 Cihaurbeuti
2 WAKIL KETUA Asep Zery Kusmaya UNY 2008 Lakbok
3 SEKRETARIS Riesa Alfiera UIN 2008 Pangandaran
4 BENDAHARA Sofia Tresnasari UNY 2008 Lumbung
5 BIDANG SENI MODERN Yusi Nisfi Faridan UNY 2007 Lumbung
6   Ayu Dewi N UMY 2008 Parigi
7   Salim Firdaus UNY 2007 Cijulang
8 BIDANG SENI TRADISIONAL Andri Tardiansyah AMPTA 2008 Banjar
9   Siska Inalisa UIN 2008 Pangandaran
10   Deni Sunarya UAD 2008 Banjarsari
11 BIDANG PEMBINAAN WARGA Didit Adi Darmawan UNY 2007 Ciamis
12   Avid Firmansyah UAD 2008 Lakbok
13   Andi Pujianto UAD 2008 Purwadadi
14 BIDANG PERALATAN&PERLENGKAPAN Agil  Anandayu UMBY 2007 Sukadana
15   Samsul Muarip UIN 2007 Ciamaragas
16   Bayu M. Wardana UTY 2008 Ciamis

 

C. Keuangan

Keuangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah sanggar seni. Kesuksesan dalam merealisasikan program-program kerja sangat tergantung kepada kondisi finansial yang ada. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang menjadi tugas dan tanggungjawab bendahara harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dan professional dari mulai pencarian sumber dana sampai pengalokasian dana untuk kebutuhan organisasi, baik berupa kegiatan-kegiatan yang diprogramkan maupun operasional lain di setiap perangkat organisasi. Pengurus sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2009-2010 telah berupaya untuk mengelola keuangan agar proposional, efektif dan efisien, baik dalam usaha pencarian, pengalokasian dan penggunaan dana.

Sebagian sumber pokok dana Sanggar, kami mendapatkan subsidi dari sebagian dana KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta yang berasal dari PEMDA Kabupaten Ciamis sebagaimana yang telah ditetapkan dalam APBD kabupaten Ciamis. Kemudian sumber dana lain adalah usaha pencarian dana dalam berbagai bidang, pementasan kesenian, juga dengan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu dalam setiap kegiatan. Kemudian disamping silaturrahim kepada alumni, kami juga menawarkan kepada alumni dan pini sepuh untuk memberikan sumbangan dalam pelaksanaan kegiatan.

 

III. Hambatan

Hambatan yang dihadapi adalah minimnya konsolidasi antar pengurus Sanggar, dana yang masih jauh dari cukup, minimnya loyalitas pengurus dan kesibukan akademik para pengurus.

 

IV. Penutup

Kami sadari usaha yang kami lakukan masih jauh dari ideal, walaupun demikian semoga dedikasi dan pengabdian murni kami menjadi sebuah persembahan kecil yang manis bagi Sanggar Seni “Simpay” dan KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta. Pada akhir perjalanan ini kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang tulus kepada :

 

 

1.      Pendiri KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

2.      Pendiri Sanggar Seni “Simpay”

3.      Para Pupuhu Sanggar Seni “Simpay” sebelumnya (Kang Tatang, Kang Meden, Kang Kaerul dan Kang Risris)

4.      Padmanagara XXI KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta Periode 2009-2010 Samsul muarip.

5.      Pengurus KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis- Yogyakarta Periode 2009-2010

6.      Ibu Ela dan Kang Asep.

7.      Kang Rano Sumarno, S.Sn

8.      Mang Demang, Irman Firmansah (pa sekda), kang buyung.

9.      Seluruh Warga KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis- Yogyakarta.

 

Dan semua pihak yang telah berjasa kepada Sanggar Seni “Simpay” yang tidak  bisa kami sebutkan semuanya.

 

 

Yogyakarta, 22 Maret 2011

Pengurus Sanggar Seni ”Simpay”

KPM  ”Galauh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

Periode 2009-2010

 

 

 

 

Ahmad Mustofa Salim

Ketua Sanggar

Riesa Alfiera

Sekretaris

 

 

 

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 22, 2011 in SANGGAR SENI SIMPAY

 
 
%d blogger menyukai ini: