RSS

Arsip Kategori: GALUH

GALUH DAN CIAMIS

Proses berdirinya Kabupaten Ciamis diawali dengan penyusunan Sejarah Galuh,dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji Sejarah Galuh secara menyeluruh. Ada 2 pendapat tentang proses tersebut yaitu:

  1. Berdasarkan Titimangsa Rahyangta di Medangjati,.. yaitu berdirinyaKerajaan Galuh oleh Wretikkandayun tanggal 23 Maret 612 Masehi atau zaman Rakean Zamri yang juga disebut Raiyang Sanjaya sebelumSang Manarah berkuasa.
  2. Berdasarkan Tanggal dan tahun dari beberapa peristiwa berikut: (a). Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Raden Tumenggung Sastra Winata pada Tahun 1916 (b).Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Raden AA.Wiradikusumah pada tanggal 15 Januari 1815 (c).Berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah yang letaknya disekitar Cineam (Tasikmalaya) ke Barunay (Imbanagara) pada tanggal 12 Juni 1642.

Dan hasil akhirnya menyimpulkan bahwa Kabupaten Ciamis berdiri pada tanggal 12 Juni 1642, yang kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 17 Mei 1972 Nomor:22/V/KPTS/DPRD/1972. Dengan Keputusan DPRD tersebut diharapkan seluruh masyarakat mengetahui, sehingga akan lebih bersemangat untuk membangun Tatar Galuh ini sejalan dengan Moto Juang Kabupaten Ciamis: “Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya Dibuana, Mahayunan Ayuna Kadatuan” artinya apa ya?..hehehe. Kata Galuh berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti Batu Permata. Kerajaan Galuh berarti Kerajaan Batu Permata yang indah gemerlap, subur makmur, Gemah Ripah loh Jinawi Aman Tentreum Kertaraharja…Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15thn (597-612M) yang kemudian menjadi Pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang LayungwatangWretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karang Kamulyan sekarang). Ia dinobatkan pada tanggal 14 Suklapaksa bulan Caitra Tahun 134 Caka (kira-kira 23 Maret 612 Masehi). Tanggal tersebut dipilihnya benar-benar menurut tradisi Tarumanagara,karena tidak saja dilakukan pada hari purnama melainkan juga pada tanggal itu matahari terbit tepat di titik timur. Tujuan Wretikkandayun membangun pusat pemerintahan di daerah Karang Kamulyan (sekarang) adalah untuk membebaskan diri dari Tarumanagara, yang selama itu menjadi Negara “Adikuasa” (kalau sekarang mah kaya Amerika nu Presiden na Mang Jos Bus). Oleh karena itu demi mewujudkan obsesinya ia menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, bahkan putra bungsunya Mandi Minyak di jodohkan dengan Parwati putri sulungMaharanissima. Kesempatan untuk menjadi negara yang berdaulat penuh terjadi pada tahun 669 ketika Linggawarman (666-669M) Raja Tarumanagara yang ke-12 wafat. Ia digantikan oleh menantunya (suami Dewi Manasih) bernama Terus Bawa berasal dari Kerajaan Sunda Sumbawa. Terus Bawa inilah yang pada saat penobatannya tanggal 9 Suklapaksa Bulan Yosta Tahun 951 Caka (kira-kira 17 Mei 669 Masehi)mengubah Kerajaan Tarumanagara menjadi Negara Sunda. Masa Kerajaan Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 Masehi ketika Raja Ajiguna Lingga Wisesa atau Sang Dumahing Kending (1333-1340M) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakaknyaPrabu Citra Gada atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.Lingga Wisesa adalah kakek Maharaja Lingga Buana yang gugur pada “Perang Bubat” tahun 1357 yang kemudian diberi gelar Prabu Wangi. Ia gugur bersama putri sulungnya Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Diah Pitaloka mempunyai adik laki-laki yang bernama Wastu Kancana. Ketika Perang Bubat berlangsung Wastu Kancana baru berusia 9 tahun dibawah bimbingan pamannya yaitu Mangkubumi Suradipati aliasSang Bumi Sora atau Batara Guru di Jampang. Wastu Kancana berkembang menjadi seorang calon Raja yang seimbang keluhuran budi pekerti lahir bathin, seperti tersebut pada wasiatnya yang tertulis pada Prasasti Kawali yaitu: diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Negara akan jaya dan unggul perang bila rakyat berada dalam kesejahteraan~kareta beber, Raja (pemimpin) harus selalu berbuat kebajikan~Pakena Gawe Rahayu“...Itulah syarat yang menurut wasiatnya untuk dapat Pakeun Heubeul Jaya Dina Buana, Pakeuna Nanjeur Najuritan untuk menuju Mahayunan Ayuna Kadatuan…

Pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana negara dan rakyatnya berada dalam keadaan Aman Tentreum Kertaraharja, para Abdi Dalem patuh dan taat terhadap peraturan Ratu yang dilandasi oleh Purbatisti dan Purbajati. Wastu Kancana mempunyai 2 orang istri, yaitu: Larasati (putri Resi Susuk Lampung) dan Mayangsari.Putra sulung dari Larasati yang bernama Sang Halimun diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada tahun 1382. Dari Mayangsari, Wastu Kancana mempunyai 4 orang putra, yaitu: (1) Ningrat Kencana (2) Surawijaya (3) Gedeng Sindangkasih (4) Gedeng Tapa. Ningrat Kencana diangkat menjadi Mangkubumi di Kawali dengan gelar Surawisesa. Wastu Kancana wafat pada tahun 1475 Masehi dan digantikan oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskalaberkedudukan di Kawali yang hanya menguasai Kerajaan Galuh, karena Kerajaan Sunda dikuasai oleh kakaknya yaitu Sang Halimun yang bergelar Prabu Susuk Tunggal.Dengan wafatnya Wastu Kancana, maka berakhirlah periode Kawali yang berlangsung selama 142 tahun (1333-1475M). Dalam periode tersebut Kawali menjadi pusat pemerintahan dan keraton Surawisesa menjadi persemayaman Raja-rajanya terlebih lagi Sribaduga Maharatu Haji sebagai pewaris terakhir tahta kerajaan Galuh dari ayahnya Dewa Niskala yang pusat kerajaannya di keraton Surawisesa pindah kePakuan Pajajaran (kalau sekarang mah jadi Kota Hujan-Bogor tea…) untuk merangkap jabatan menjadi Raja Sunda yang dianugerahkan dari mertuanya, maka sejak itu Galuh Sunda bersatu kembali menjadi Pakuan Pajajaran di bawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata yang kini lazim disebut Prabu Siliwangi. Penanggalan pada zaman Kerajaan Galuh Biharinampaknya kurang tepat bila dijadikan penanggalan Hari Jadi Kabupaten Ciamis, karena luas teritorialnya sangat jauh berbeda dengan keadaan Kabupaten Ciamis sekarang. Nama Kerajaan Galuh baru muncul tahun 1595 Masehi, yang sejak itu mulai masuk kekuasaan Mataram. Adapun batas-batas kekuasaanya sebagai berikut:

# Di sebelah Timur: Sungai Citanduy.

# Di sebelah Barat: Galunggung Sukapura.

# Di sebelah Utara: Sumedang & Cirebon.

# Di sebelah Selatan: Samudera Hindia.

Prasasti Kawali

Daerah-daerah Majenang, Dayeuh Luhur dan Pagadingan termasuk juga daerah Galuh masa itu (menurut: Dr.F.Dehaan) dan ternyata dari segi adat istiadat dan bahasa masih banyak kesamaan dengan Tatar Pasundan terutama sekali di daerah pegunungan. Kerajaan Galuh itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan. Kerajaan Galuh pada saat itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan yang dipimpin oleh Raja-raja kecil (Kandaga Lante), yang kemudian dianggap sederajata dengan Bupati yang diantara satu dengan yang lainnya masih mempunyai hubungan darah mempunyai perkawinan. Pusat-pusat kekuasaan tersebut berada di wilayah Cibatu, Gara Tengah, Imbanagara, Panjalu, Kawali,Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojong Lopang) dan Kawasen (Desa Banjarsari). Pengaruh kekuasaan Mataram sedikit banyak mewarnai tata cara pemerintahan dan budaya Kerajaan Galuh dari tata cara Buhun sebelumnya pada zaman itu mulai ada pergeseran antara Bupati yang satu dengan Buapti yang lainnya. Seperti Adipati Panaekan putra Prabu Galuh Cipta Pertamana diangkat menjadi Bupati (Wedana-semacam Gubernur) di Galuh oleh Sultan Agung.Pengangkatan itu menyulut perselisihan faham antara Adipati Panaekan dengan Adipati Kertabumi yang berakhir dengan tewasnya Adipati Panaekan. Jenazahnya dihanyutkan ke sungai Citanduy dan dimakamkan di Pasarean Karangkamulyan. Sebagai penggantinya ditunjuk Adipati Imbanagara yang pada waktu itu berkedudukan di Gara Tengah (Cineam-Tasikmalaya). Usaha Sultan Agung untuk melenyapkan kekuasaan VOC di Batavia pada penyerangan pertama mendapat dukungan penuh dariAdipati Ukur (sekarang nama beliau digunakan nama jalan di Kota Kembang Jl.Dipati Ukur Unpad gitu lochhh…) walaupun pada penyerangan itu gagal. Pada penyerangan kedua ke Batavia, Adipati Ukur mempergunkan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah Ukur dan sekitarnya dari pengaruh kekuasaan Mataram. Politik Adipati Ukur tersebut harus dibayar mahal, yaitu dengan terbunuhnya Adipati Imbanagara (yang dianggap tidak setia lagi kepada Mataram) oleh utusan Mataram yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke Mataram sebagai barang bukti. Sedangkan badannya dimakamkan di Bolenglang (Kertasari). Tetapi kepala Adipati Imbanagar dapat direbut oleh para pengikutnya walaupun terjatuh di sungai Citanduy, yang kemudian tempat jatuhnya disebut Leuwi Panten. Kedudukan Adipati Imbanagara selanjutnya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Bongsar atau Raden Yogaswara dan atas jasa-jasanya dianugerahi gelar Raden Adipati Panji Jayanegara. Pada masa pemerintahan beliau, pusat kekuasaan pemerintahan dipindahkan dari Gara Tengah ke Calingging yang kemudian dipindahkan lagi keBarunay (Imbanagara sekarang), pada tanggal 14 Maulud atau 12 Juni 1642 Masehi.Perpindahan pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Imbanagara mempunyai arti penting dan makna yang sangat dalam bagi perkembangan Kabupaten Galuh berikutnya merupaka era baru pemerintahan Galuh menuju terwujudnya Kabupaten Ciamis di kemudian hari, karena:

  1. Peristiwa tersebut membawa dampak yang positif terhadap perkembangan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat Kabupaten Galuh yang mempunyai batas teritorial yang pasti dan terbentuknya sentralisasi pemerintahan.
  2. Perubahan tersebut mempunyai unsur perjuangan dari pemegang pimpinan kekuasaan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya dan adanya usaha memerdekakan kebebasan rakyatnya dari kekuasaan penjajah.
  3. Kabupaten Galuh dibawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Arya Panji Jayanegara mampu menyatukan wilayah Galuh yang merdeka dan berdaulat tanpa kekerasan.
  4. Adanya pengakuan terhadap kekuasaan Mataram dari Kabupaten Galuh semata-mata dalam upaya memerangi VOC dan hidup berdampingan secara damai.
  5. Sejarah perkembangan Kabupaten Galuh tidak dapat dipisahkan dari Sejarh terbentuknya Kabupaten Ciamis itu sendiri. Dirubahnya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada tahun 1916 oleh Bupati Raden Tumenggung Sastrawinata (sampai sekarang belum terungkap alasannya merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari).

dari: http://ahmedt.wordpress.com/2008/08/02/galuh-is-ciamis/

 

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

LAMBANG KRATON GALUH PAKUAN

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

Kerajaan Sunda Galuh

Sungai Citarum menjadi pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali di Kabupaten Ciamis.

Namun demikian, banyak sumber peninggalan sejarah yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja. Perjalanan pertama Prabu Jaya Pakuan (Bujangga Manik) mengelilingi pulau Jawa dilukiskan sebagai berikut: [1] [2]:

Sadatang ka tungtung Sunda (Ketika ku mencapai perbatasan Sunda).
Meuntasing di Cipamali (Aku menyeberangi Cipamali (yang sekarang dinamai kali Brebes)).
Datang ka alas Jawa (dan masuklah aku ke hutan Jawa).

Menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, “Summa Oriental (1513 – 1515)”, dia menuliskan bahwa:

The Sunda kingdom take up half of the whole island of Java; others, to whom more authority is attributed, say that the Sunda kingdom must be a third part of the island and an eight more. It ends at the river chi Manuk. They say that from the earliest times God divided the island of Java from that of Sunda and that of Java by the said river, which has trees from one end to the other, and they say the trees on each side line over to each country with the branches on the ground.

Jadi, jelaslah bahwa perpaduan kedua kerajaan ini hanya disebut dengan nama Kerajaan Sunda.

Keterangan keberadaan kedua kerajaan tersebut juga terdapat pada beberapa sumber sejarah lainnya. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati.

Berdirinya kerajaan Sunda dan Galuh

Pembagian Tarumanagara

Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa, di tahun 669 M menggantikan kedudukan mertuanya yaitu Linggawarman raja Tarumanagara yang terakhir. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh dan masih keluarga kerajaan Tarumanegara, untuk memisahkan diri dari kekuasaan Tarusbawa.

Dengan dukungan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Tarumanagara dipecah dua. Dukungan ini dapat terjadi karena putera mahkota Galuh bernama Mandiminyak, berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Shima dari Kalingga. Dalam posisi lemah dan ingin menghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Di tahun 670 M, wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

Lokasi ibukota Sunda

Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Sungai Cipakancilan.[3] Dalam Carita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cakal-bakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M.

Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian Sungai Cicatih yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak ibukota Tarumanagara.

Keterlibatan Kalingga

Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri ini adalah cicit Wretikandayun bernama Rakeyan Jamri, yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda ke-2. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan setelah menguasai Kerajaan Galuh dikenal dengan nama Sanjaya.

Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Sundapura, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh.

Sanjaya adalah penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat).

Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Sanjaya menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) di tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara.

Prasasti Jayabupati

Isi prasasti

Telah diungkapkan di awal bahwa nama Sunda sebagai kerajaan tersurat pula dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Sungai Cicatih di daerah Cibadak, Sukabumi. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):

D 73 :
//O// Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma-
D 96 :
gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryya baryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyang tapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan i wungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmang sapatha.
D 97 :
sumpah denira prahajyan sunda. lwirnya nihan.

Terjemahan isi prasasti, adalah sebagai berikut:

Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.

Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, I wruhhanta kamung hyang kabeh (ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).

Tanggal prasasti

Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 – 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.

Penyebab perpecahan

Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Tiongkok yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Kaisar Tiongkok dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M.

Sanna dan Purbasora

Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasenawa alis Sena (709 – 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini juga dikenal dengan Sanna, yaitu raja dalam Prasasti Canggal (732 M), sekaligus paman dari Sanjaya. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M. Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).

Sebenarnya Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacat jasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dari Wretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh. Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasora untuk merebut tahta Galuh dari Sena.

Dengan bantuan pasukan dari mertuanya, Raja Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon sekarang, Purbasora melancarkan perebutan tahta Galuh. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa.

Sanjaya dan Balangantrang

Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sena, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa, sahabat Sena. Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.

Sebelum itu ia telah menyiapkan pasukan khusus di daerah Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Pasukan khusus ini langsung dipimpin Sanjaya, sedangkan pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada. Serangan dilakukan malam hari dengan diam-diam dan mendadak. Seluruh keluarga Purbasora gugur. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, yang menjadi Patih Galuh, bersama segelintir pasukan.

Patih itu bernama Bimaraksa yang lebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapati kerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernama Resi Guru Jantaka atau Rahyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayun karena menderita “kemir” atau hernia. Balangantrang bersembunyi di kampung Gègèr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagai pembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena.

Sanjaya mendapat pesan dari Sena, bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukan penyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkan Purbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan meminta beliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi penguasa Galuh. Akan tetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakan muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.

Sanjaya sendiri tidak bisa menghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. Akhirnya Sanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai Raja Sunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan di Galuh ia mengangkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat itu berkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), ia telah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Ia memiliki julukan Bagawat Sajalajaya.

Premana, Pangrenyep dan Tamperan

Penunjukkan Premana oleh Sanjaya cukup beralasan karena ia cucu Purbasora. Selain itu, isterinya, Naganingrum, adalah anak Ki Balangantrang. Jadi suami istri itu mewakili keturunan Sempakwaja dan Jantaka, putera pertama dan kedua Wretikandayun.

Pasangan Premana dan Naganingrum sendiri memiliki putera bernama Surotama alias Manarah (lahir 718 M, jadi ia baru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh). Surotama atau Manarah dikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudian hari, Ki Bimaraksa alias Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akan mengurai kisah sedih yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan pembalasan.

Untuk mengikat kesetiaan Premana Dikusumah terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkan Raja Galuh ini dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Selain itu Sanjaya menunjuk puteranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh sekaligus memimpin “garnizun” Sunda di ibukota Galuh.

Premana Dikusumah menerima kedudukan Raja Galuh karena terpaksa keadaan. Ia tidak berani menolak karena Sanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahan yang setia kepadanya dan sekaligus tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Penolakan Sempakwaja dan Demunawan masih bisa diterima oleh Sanjaya karena mereka tergolong angkatan tua yang harus dihormatinya.

Kedudukan Premana serba sulit, ia sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, maka ia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep. Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligus menjadi “mata dan telinga” Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep, istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M).

Skandal itu terjadi karena beberapa alasan, pertama Pangrenyep pengantin baru berusia 19 tahun dan kemudian ditinggal suami bertapa; kedua keduanya berusia sebaya dan telah berkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Maharaja Tarusbawa; ketiga mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagai orang Sunda di Galuh kurang disenangi.

Untuk menghapus jejak Tamperan mengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnya sehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula. Semua kejadian ini rupanya tercium oleh senapati tua Ki Balangantrang.

Tamperan sebagai raja

Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Demikianlah Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 – 739 M. Sementara itu Manarah alias Ciung Wanara secara diam-diam menyiapkan rencana perebutan tahta Galuh dengan bimbingan buyutnya, Ki Balangantrang, di Geger Sunten. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukan seperti anak sendiri.

Sesuai dengan rencana Balangantrang, penyerbuan ke Galuh dilakukan siang hari bertepatan dengan pesta sabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Manarah bersama anggota pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai penyabung ayam. Balangantrang memimpin pasukan Geger Sunten menyerang keraton.

Kudeta itu berhasil dalam waktu singkat seperti peristiwa tahun 723 ketika Manarah berhasil menguasai Galuh dalam tempo satu malam. Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapat ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malam harinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.

Akan tetapi hal itu diketahui oleh pasukan pengawal yang segera memberitahukannya kepada Manarah. Terjadilah pertarungan antara Banga dan Manarah yang berakhir dengan kekalahan Banga. Sementara itu pasukan yang mengejar raja dan permaisuri melepaskan panah-panahnya di dalam kegelapan sehingga menewaskan Tamperan dan Pangrenyep.

Manarah dan Banga

Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Mataram (Jawa Tengah), yang kemudian dengan pasukan besar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga ia telah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri, dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya.

Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Raja Resi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 – 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah.

Untuk memperteguh perjanjian, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya dan berjodoh dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.

Keturunan Sunda dan Galuh selanjutnya

Naskah tua dari kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut, yang ditulis pada abad ke-13 atau ke-14 memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka. Ia berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagai raja bawahan Galuh. Ia memerintah 27 tahun lamanya (739-766).

Manarah, dengan gelar Prabu Suratama atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana, dikaruniai umur panjang dan memerintah di Galuh antara tahun 739-783.[4] Dalam tahun 783 ia melakukan manurajasuniya, yaitu mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk melakukan tapa sampai akhir hayat. Ia baru wafat tahun 798 dalam usia 80 tahun.

Dalam naskah-naskah babad, posisi Manarah dan Banga ini sering dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, di mana Banga dianggap lebih tua, tapi juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalam naskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga. Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah Carita Waruga Guru, yang ditulis pada pertengahan abad ke-18. Kekeliruan paling menyolok dalam babad ialah kisah Banga yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Padahal, Majapahit baru didirikan Raden Wijaya dalam tahun 1293, 527 tahun setelah Banga wafat.

Keturunan Manarah putus hanya sampai cicitnya yang bernama Prabulinggabumi (813 – 852). Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 – 891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Sejak tahun 852, kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintah oleh keturunan Banga; sebagai akibat perkawinan di antara para kerabat keraton Sunda, Galuh, dan Kuningan (Saunggalah).

Hubungan Sunda Galuh dan Sriwijaya

Sri Jayabupati yang prasastinya telah dibicarakan di muka adalah Raja Sunda yang ke-20. Ia putra Sanghiyang Ageng (1019 – 1030 M). Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri. Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa, raja Kerajaan Medang, dan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, Dharmawangsa. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.

Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Dharmawangsa. Pada puncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus “menyaksikan” Dharmawangsa diserang dan dibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcutta (disimpan di sana) disebut pralaya itu terjadi tahun 1019 M.

Hubungan dengan berdirinya Majapahit

Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu memiliki putra mahkota Rakeyan Jayadarma, dan berkedudukan di Pakuan. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Ateleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari.

Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang dikatakan terlahir di Pakuan. Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke-4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya, Raden Wijaya dan ibunya kembali ke Jawa Timur.

Dalam Babad Tanah Jawi Raden Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pasundan. Sebagai keturunan Jayadarma, ia adalah penerus tahta Kerajaan Sunda-Galuh yang sah, yaitu apabila Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu mangkat. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota, karena Raden Wijaya berada di Jawa Timur dan kemudian menjadi raja pertama Majapahit.

Daftar raja-raja Sunda Galuh

Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati, yang berjumlah 20 orang :

Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati
No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Maharaja Tarusbawa 669723
Sanjaya Harisdarma 723732 cucu-menantu no. 1
3 Tamperan Barmawijaya 732739
4 Rakeyan Banga 739766
5 Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766783
6 Prabu Gilingwesi 783795 menantu no. 5
7 Pucukbumi Darmeswara 795819 menantu no. 6
8 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819891
9 Prabu Darmaraksa 891895 adik-ipar no. 8
10 Windusakti Prabu Dewageng 895913
11 Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi 913916
12 Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa 916942 menantu no. 11
13 Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942954
14 Limbur Kancana 954964 anak no. 11
15 Prabu Munding Ganawirya 964973
16 Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973989
17 Prabu Brajawisesa 9891012
18 Prabu Dewa Sanghyang 10121019
19 Prabu Sanghyang Ageng 10191030
20 Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 10301042

Catatan: Kecuali Tarusbawa (no. 1), Banga (no. 4), dan Darmeswara (no. 7) yang hanya berkuasa di kawasan sebelah barat Sungai Citarum, raja-raja yang lainnya berkuasa di Sunda dan Galuh.

Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon, yang berjumlah 13 orang :

Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon
No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Wretikandayun 670702
2 Rahyang Mandiminyak 702709
3 Rahyang Bratasenawa 709716
4 Rahyang Purbasora 716723 sepupu no. 3
5 Sanjaya Harisdarma 723724 anak no. 3
6 Adimulya Premana Dikusuma 724725 cucu no. 4
7 Tamperan Barmawijaya 725739 anak no. 5
8 Manarah 739783 anak no. 6
9 Guruminda Sang Minisri 783799 menantu no. 8
10 Prabhu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan 799806
11 Sang Walengan 806813
12 Prabu Linggabumi 813852
13 Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819891 ipar no. 12

Catatan: Sanjaya Harisdarma (no. 5) dan Tamperan Barmawijaya (no. 7) sempat berkuasa di Sunda dan Galuh. Penyatukan kembali kedua kerajaan Sunda dan Galuh dilakukan kembali oleh Prabu Gajah Kulon (no. 13).

Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati, yang berjumlah 14 orang :

Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati
No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Darmaraja 10421065
2 Langlangbumi 10651155
3 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 11551157
4 Darmakusuma 11571175
5 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 11751297
6 Ragasuci 12971303
7 Citraganda 13031311
8 Prabu Linggadéwata 13111333
9 Prabu Ajiguna Linggawisésa 13331340 menantu no. 8
10 Prabu Ragamulya Luhurprabawa 13401350
11 Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 13501357 tewas dalam Perang Bubat
12 Prabu Bunisora 13571371 paman no. 13
13 Prabu Niskala Wastu Kancana 13711475 anak no. 11
14 Prabu Susuktunggal 14751482

Penyatuan kembali Sunda-Galuh

Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).

Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.

Garis waktu kerajaan di Jawa Barat dan Banten

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_Galuh

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 21, 2011 in GALUH

 

PRASASTI CIBADAK

Sejarah tentang Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja diketahui setelah Pleyte menemukan prasasti Cibadak. Kemudian Pleyte menulis artikel “Maharaja Cri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak”. (RPMSJB, Buku Ketiga, hal 10).
Sebelum ditemukannya prasasti Cibadak, sejarah ditatar Sunda seakan-akan berhenti tidak diketahui ujungnya, sehingga penemuan prasasti Cibadak menemukan arah yang jelas tentang kekuasaan di tatar Sunda pada masa lalu. Namun siapakah Sri Jayabupati, dan darimanakah leluhurnya ?. Hal ini penting untuk diketahui, mengingat masih ada versi yang berpendapat bahwa Sri Jayabupati berasal dari luar tatar Sunda.
Leluhur Sri Jayabupati
Sepeninggalnya Prabu Darmaraksa dari Galuh yang menjadi Raja Sunda Ke-9, tahta Sunda ke-10 diwariskan kepada Prabu Windu Sakti, putranya, dengan gelar Prabu Dewageung Jayeng Buana (895-913 M). Ia digantikan oleh putranya, yakni Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916). Prabu Pucukwesi hanya memerintah selama tiga tahun, karena ia di kudeta oleh adiknya sendiri, Rakeyan Jayagiri, bergelar Prabu Wanayasa (916 – 942 m).
Raja berikutnya adalah Rakeyan Watuageng, dengan gelar Praburesi Atmayadarma (942–954 m), menantu Prabu Wanayasa. Ia digulingkan oleh Sang Limbur Kancana, putra dari Pucukwesi. Untuk kemudian Sang Limbur Kancana berkuasa pada tahun 954 sampai dengan 964 masehi. Berdasarkan asumsi penulis sejarah RPMSJB, kemungkinan besar ia memerintah Sunda dari Galuh, karena ia beristri salah seorang putri Galuh, keturunan Manarah. Pasca digulingkannya tahta ayahnya oleh Prabu Wanayasa, ia menetap di Galuh. Pada saat meninggal ia bergelar Sang Mokteng Galuh Pakwan (yang wafat di keraton Galuh).
Raja berikutnya adalah putranya, yakni Rakeyan Sunda Sembawa (964–973 M), bergelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayastru (mungkin juga Jagasatru), namun raja ini tidak memiliki keturunan. Ia digantikan oleh suami adiknya, yakni Rakeyan Jayagiri (973- 989 M), bergelar Prabu Wulung Gadung. Stelah dipusarakan di Jayagiri ia digantikan oleh putranya, yakni Rakean Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M). Kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019 M) yang wafat dipertapaan, sehingga disebut Sang Mokteng Patapan. Setelah wafat ia digantikan oleh putranya, yakni Prabu Sanghyang Ageung (1019 – 1030 M), ia dipusarakan di tepi Situ Sanghyang, terletak di Desa Cibalarik – Tasikmalaya. Dan inilah leluhur Sri Jayabupati (1030 – 1042 M).
Sri Jayabupati
Pada masa raja-raja diatas seolah-olah Sunda kehilangan catatan sejarah. Baru diketahui jujutannya kembali pada Masa Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja, raja Sunda ke-20 dari alur Tarusbawa. Keberadaan Sri Jayabupati terungkap setelah Pleyte (1915 M) menemukan prasasti Cibadak– Sukabumi.
Setelah Pleyte menemukan prasasti Cibadak, kemudian Pleyte menulis artikel “Maharaja Cri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak”. (RPMSJB, Buku Ketiga, hal 10).
Prasasti Cibadak terdiri dari 4 buah batu bertulis yang ditemukan dialiran Sungai Citatih. 1 batu ditemukan di kampung Pangcalikan, sedangkan 3 batu ditemukan di Bantar Muncang, Kecamatan Cibadak, Sukabumi. Menurut para ahli sejarah, prasasti tersebut dibuat pada tanggal 11 Oktober 1030.
Dalam menjelaskan Sri Jayabupati, menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 – 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, namun juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa.
Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Datia Maharaja yang berkuasa selama tujuh tahun. Urutan dari sirsilah Sri Jayabupati dari Banga berdasarkan, diuraikan, sebagai berikut :
·         Rahiang Banga lawasna ngadeg ratu tujuh taun, lantaran polahna hanteu didasarkeun kana adat  kabiasaan anu  bener. – Rakean di Medang lilana ngadeg ratu tujuh taun. – Rakeanta Diwus lilana jadi ratu opatlikur taun. – Rakeanta Wuwus lilana jadi ratu tujuhpuluh dua taun. – Nu hilang di Hujung Cariang lilana jadi ratu taun, kaopatna teu cucud, lantaran salah lampah, daek ngala awewe ku  awewe. – Rakean Gendang lilana jadi ratu tilulikur taun. – Dewa Sanghiang lilana jadi ratu tujuh taun. – Prebu Sanghiang lilana jadi ratu sawelas taun. – Prebu Datia Maharaja lilana jadi ratu tujuh taun.
Prasasti Cibadak
Batu tersebut saat ini disimpan di Musium pusat, diberi nomor D-73, D-96, D-97 dan D-98.
D 73 :
//O// ”Swasti shakawarsatita 952
karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-
ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri-
ka diwasha nira prahajyan sunda ma-
haraja shri jayabhupati jayamana-
hen wisnumurtti samarawijaya shaka-
labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-
mottunggadewa, ma-”
D 96 :
gaway tepek i purwa sanghyang tapak
ginaway denira shri jayabhupati prahajyan
sunda. mwang tan hanani baryya baryya cila. I
rikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah.
Makahingan sanghyang tapak wates kapujan
i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak
wates kapujan i wungkalagong kalih
matangyan pinagawayaken pra-
sasti pagepageh. mangmang sapatha.’
D 97 :
sumpah denira prahajyan
sunda. lwirnya nihan.
D 98 :
indah ta kita kamung hyang hara agasti phurbba
daksina paccima uttara agniya neri-
ti bayabya aicanya urddhadah rawi caci patala jala
pawana
hutanasanapah bhayu akaca teja sanghyang mahoratra
saddhya yaksa raksa-
sapicara preta sura garuda graha kinara mahoraga
catwara lokapala
yama baruna kuwera bacawa mwang putra dewata pan-
ca kucika nandiwara mahakala du-
rggadewi ananta surindra anakta hyang kalamrtyu
gana bhuta sang prasidha milu manarira
umasuki sarwwajanma ata regnyaken iking sapatha
samaya sumpah pamangmang na lebu ni pa-
duka haji i sunda irikita kamung hyang kabeh …….
paka-
dya umalapa ikan …….
i sanghyang tapak ya
patyananta ya kamung hyang denta
t patiya siwak kapalanya cucup uteknya belah dada
mya imun rahnya
rantan ususnya wekasaken pranantika ……
…… i sanghyang kabeh
tawathana wwang baribari cila irikang Iwah i
sanghyang tapak apan
iwak pakan parnnahnya kapangguh i sanghyang …
….. maneh kaliliran
paknanya kateke dlaha ning dlaha ….
…. paduka haji sunda umade-
makna kadarman …. ing samangkana wekawet
paduka haji sunda sanggum
nti ring kulit kata karmanah ing kanang …
… i sanghyang tapak makatepa
iwah watesnya i hulu i sanghyang tapak i ….
…… i hilir mahingan i-
Rikang ….. umpi ing wungkal gde kalih. I
Wruhhanta kamung
hyang kabeh ??Q?? (RPMSJB, Jilid Ketiga, hal 12)
Terjemaahan dari prasasti tersebut pada initinya, berintikan tentang :
Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana mandaleswaranindita Haro Gowar dhana Wikramottung gadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak.
Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak sebelah hulu sampai batas daerah kabuyutan sanhyang tapak dibagian hilir pada dua buah batu besar.
Untuk tujuan tersebut telah dibuat piagam yang dikukuhkan dengan seruan, kutuk serta sumpah oleh raja Sunda yang bunyi lengkap demikian :
Sungguh indah kamu sekalian Hiyang Siwa, Agatsya, timur, selatan, barat, utara, tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, zenith, nadir, matahri, bulan, bumi, air, angin, sernja, yaksa, raksasa, pisaca (sebangsa peri), sura, garuda, buaya, Yama, Baruna, Kuwera, Besawa dan putera dewata Pancakusika, lembu tunggangan Siwa, Mahakala, Dewi Durga, Ananta (dewa ular), Surindra, putra Hyang Kalamercu, gana (makhluk setengah dewa), buta (sebangsa raksasa), para arwah semoga ikut, menjelma merasuki semua orang, kalian gerakanlah supata, janji, sumpah dan seruan raja Sunda ini.
Prasasti Cibadak menerangkan bahwa Sri Jayabupati telah membuat tapak disebelah timur kabuyutan sanghyang tapak. Dibagian sungai yang menjadi batas daerah kabuyutan tersebut orang dilarang menangkap ikan. Mungkin pada saat itu penduduk disekitar prasasti sangat taat terhadap keyakinannya dan sangat takut terhadap kekuatan gaib, sebagaimana ciri masyarakat agraris lainnya, sehingga tanpa hukum kerajaan pun mereka akan taat dan mengikuti himbauan tersebut.
Suatu hal yang merupakan ciri umum, prasasti-prasasti di tatar Sunda (sejak masa Tarumangara) pada umumnya ditemukan di bekas lokasi kabuyutan, seperti prasasti Kawali, prasasti Galunggung dan Batutulis, namun tak pula dapat dihindari jika prasastu tersebut banyak pula yang ditemukan di bantara sungai, seperti prasasti ciaruteun dan kebon kopi. Dalam hal ini menandakan bahwa peranan kabuyutan dan sungai memiliki peranan yang sangat vital dimasa lalu.
Keberadaan prasasti di Cibadak pernah menjadi spekulasi bagi para ahli sejarah. Pertama, tentang pusat pemerintahan Sunda waktu itu, tak kurang para ahli yang mensinyalir bahwa ibukota Sunda pernah ada di wilayah tersebut. Namun keberadaan prasasti di kabuyutan tersebut tentunya tidak berarti harus menjadi pusat pemerintahan, karena kabuyutan memiliki peranan yang strategis dalam kehidupan masyarakat Sunda, baik sebagai daerah yang disucikan maupun tempat menuntut ilmu.
Kedua, prasasti yang menggunakan bahasa Jawa Kuna dianggap daerah ini pernah menjadi bawahan Raja Erlangga. Namun jika dilihat dari tanggal pembuatannya, tidak mungkin Erlangga berada diwilayah ini, mengingat ketika itu ia disibukan menundukan kerajaan disekitar Jawa Timur, baru selesai setelah lima tahun ia berkuasa. Keberadaan prasasti Cibadak di sekitar Citatih dianggap tidak lajim jika dibuat oleh raja bawahan.
Perkawinan
Menurut naskah Wangsakerta, tanda tersebut memang dibuat oleh Sri Jayabupati sebagai tanda penobatannya. Sri Jayabhupati dikenal-kenal memerintah Sunda pada tahun 1030 – 1042 masehi, ia putra Sanghyang Ageung yang dipusarakan di Situ Sanghyang. Namun sampai sekarang belum terungkap hubungannya dengan makam keramat yang ada di Situ Sanghyang Cibalanarik, Tasikmalaya.
Penggunaan corak Jawa Timuran didalam prasasti tersebut dapat dipahami, mengingat Sri Jayabhupati adalah menantu Prabu Darmawangsa dari Jawa Timur. Ia memperistri adiknya Dewi Laksmi, istri Erlangga. Antara Erlangga dengan Sri Jayabhupati memiliki mertua yang sama. Sedangkan gelar Sri Jayabhupati adalah hadiah perkawinan dari mertuanya, sama halnya dengan gelar yang diterima Erlangga.
Sri Jayabhupati juga memperistri putri melayu, putra mereka kemudian berjodoh dengan putri Sriwijaya. Selain itu, dua orang putri Sri Jayabhupati juga diperistri oleh menteri dari Bali dan Jawa Timur. Demikian pula kemenakannya, ada pula yang diperistri oleh Raja Wura wuri. Konon raja ini membunuh Darmawangsa, kemudian didalam prasasti Calcutta dikenal dengan itsilah pralaya. Darmawangsa disebut pula Sang Mokteng Kadatwan ( yang gugur di keraton).
Kisah pembunuhan Darmawangsa konon kabar merupakan pemberontakan Sriwijaya yang dilakukan tidak langsung. Hal ini dianggap sebagai balas dendam Sriwijaya, mengingat sejak tahun 900 an Sri Wijaya harus tunduk kepada Darmawangsa setelah menderita kekalahan dalam pertempuran. Untuk itulah Sriwijaya menggunakan tangan Wurawuri.
Tentang kekerabatan ini, diuraikan dalam Pustaka Nusantara I/2, :
Mangkana ta hana pakadangan pantara raja Criwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Jawa Dharmawangsa Tguh mwang raja Bali. Dadekya yudha nira kawalya rumebut yacawiryya mwang ahyun pinuja” (ada pertalian kekerabatan antara Sriwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Jawa Dharmawangsa Teguh dan raja Bali. Jadi, peperangan diantara mereka itu hanyalah perebutan kemashuran dan ingin dipuja).
Ketika peristiwa pembunuhan Darmawangsa, Sri Jayabhupati masih berkedudukan sebagai putra mahkota. Tentu menjadikan posisinya menjadi pelik bagi Sunda. Disisi lain Pustaka Nusantara I/3 menjelaskan, bahwa :
Lawan mangkana Sunda i Bhumi Jawa Kulwan nityacah dumadi wyawahara pantara ning rajaraja Criwijaya, Jawa, Cina, Cola mwang akweh manih rajya lenya. I sedeng raja haneng Bhumi Jawa Kulwan yatiku rajya Sunda lawan rajya Ghaluh tan ahyun ri sewaka ring sira kabeh, tan angga dumadi mandalika nira (Dengan demikian, Sunda di Bumi Jawa Barat selalu menjadi rebutan diantara raja-raja Sriwijaya, Jawa, Cina, Cola, serta negara-negara lain ; sedangkan raja di Bumi Jawa Barat yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh tidak mau tunduk kepada mereka semuanya, tidak ingin menjadi raja bawahan mereka).
Pasca Sri Jayabhupati
Sri Jayabupati wafat pada tahun 1042 M, ia digantikan oleh putranya, yaitu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakala sundabuana, putranya yang dikenal pula dengan sebutan Sang Mokteng Winduraja, karena ia dimakamkan di Winduraja, Kecamatan Kawali, Ciamis. Dari posisi ini disinyalir, bahwa pusat kekuasaan Sunda waktu itu berpusat disebelah timur, tidak di Pakuan.
Posisi Desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis saat ini diyakini menyimpan misteri kepurbakalaan, bahkan dengan dimakamkannya Darmaraja dilokasi ini disinyalir pemerintahan Sunda pernah terletak di kawasan timur, tidak di Pakuan. Data lokasi tersebut didukung pula dengan adanya makam Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) yang dipusarakan di Winduraja.
Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 – 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri – Janggala, yakni Maharaja Jayabuana Kesanananta Wikramo tunggadewa (1102 – 1104 M) atau Prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari,  pelarian dari Kediri sebagaiamana yang diceritakan dalam Babad Galuh.
Para pengganti Sri Jayabupati, menurut Fragmen Carita Parahyangan sampai dengan Prabu Maharaja, di uraikan sebagai berikut :
·         Pengganti Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. – Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapan puluh dua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatangkeun gemah ripah. – Diganti deui ku nu hilang di Winduraja, henteu lila ngadegna ratu ngan dalapanwelas taun. – Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti. – Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. – “Tina naon berkahna?” Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa. – Boga anak nu hilang di Taman, lawasna jadi ratu genep taun. – Boga anak deui nu hilang di Tanjung, lilana jadi ratu dalapan taun. – Boga anak nu hilang di Kikis, lilana jadi ratu dualikur taun. – Nu hilang di Kiding, lilana jadi ratu tujuh taun. – Boga anak Aki Kolot, lilana jadi ratu sapuluh taun. – Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in GALUH

 

PERJANJIAN GALUH

Sanjaya sebelum memenuhi panggilan Sena, ayahnya untuk menjadi raja di Medang, berinisiatif untuk melakukan musyawarah di Purasaba Galuh, dihadiri oleh anggota kerabat kerajaan. Pada saat itu ia dianggap paling berkuasa di Pulau Jawa, sebab Kalingga sudah setengah menjadi bawahannya, sedangkan Demunawan yang memerdekakan dirinya di jamin oleh Sanjaya. Semua ia lakukan untuk menunjukan rasa hormatnya kepada Sena, ayahnya.
Menurut para penulis RPMSJB musyawarah di Galuh terjadi pada tahun 731 M, dan menetapkan :
(1)  daerah sebelah barat Citarum sampai keujung kulon menjadi hak waris keturunan Tarusbawa ;
(2)  daerah sebelah timur Citarum termasuk Jawa Pawatan dibagi dua antara Tamperan yang menguasai bagian selatan dan Demunawan yang menguasai bagian utara, termasuk bekas Galunggung dan Saung Galah ;
(3)  bagian tengah akan tetap diperintah oleh Sanjaya dan menjadi hak waris keturunan Galuh – Kalingga ;
(4)  daerah sebelah timur bagian utara Kali Progo menjadi bagian Prabu Narayana dan keturunan dari keluarga Kalingga. (Jilid 2, Bag. 4 hal. 72).
Semula Galuh diserahkan kepada Premana, namun Premana lebih memilih untuk menjadi pertapa sehingga pada akhirnya dijalankan oleh Tamperan, demikian pula Sunda. Sanjaya sejak 732 M di kerajaan Sunda digantikan oleh Tamperan. Kemudian Premana diceritakan terbunuh di pertapannya.
Riwayat kekuasaan Tamperan di Galuh terganggu oleh masalah Dewi Pangrenyep. Masalah ini menjadi masa kelam bagi hubungan Sunda – Galuh dan keturunan selanjutnya, memicu pula kemarahan Sanjaya untuk kembali menguasai Galuh. (Selanjutnya dalam uraian tentang Galuh).
Membahas raja-raja Sunda tentunya agak sulit dilepaskan dari cerita Galuh. Hal ini bukan hanya awalnya berasal dari Tarumanagara, namun akibat hubungan perkawinan dan pewaris dari kerajaan kembar tersebut maka banyak raja Sunda yang sekaligus bertahta sebagai raja Galuh.
Perbedaan Sunda dengan Galuh disebut-sebut berakhir pada masa Rakean Wuwus. Hal ini akibat dari pencampuran perkawinan antara keturunan Banga dan Manarah. Sunda dengan Galuh benar-benar dianggap bersatu kembali pada abad 13 masehi, bahkan pada abad ke – 14 sebutan untuk Sunda dengan Galuh menjadi tunggal, yakni Sunda.
Kisah Tamperan, pengganti Sanjaya di Sunda dikisahkan pula dalam alur cerita Galuh. Tamperan disebutkan sebagai pemegang tahta Kerajaan Sunda ketiga. Ia putra Sanjaya dari Tejakencana, cucu dari Tarusbawa.
Tamperan menggantikan ayahnya karena Sanjaya dipanggil Sena, untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja Medang di Bumi Mataram. Tamperan disebut-sebut memerintah Sunda sejak tahun 732 M – 739 M, namun ada yang berbendapat bahwa sebenarnya Tamperan tidak pernah menjadi Raja Sunda, karena raja Sunda masih tetap Sanjaya. Tamperan hanya memegang jabatan Duta Patih Sunda di Galuh, berdomisili di Purasaba Galuh.
Tamperan didalam Carita Parahyangan dan berita Nusantara III dianggap memiliki tabiat yang kurang baik. Diberitakan mengganggu Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah, hingga melahirkan Banga. Ia pun disebut-sebut membunuh Permana Dikusumah. Dari akumulasi perbuatannya ia dibunuh Sang Manarah, anak Permana Dikusumah.
Kisah perilaku dan masa kepemimpinan Tamperan diceritakan didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
·         Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala.
·         Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga.
·         Sang manarah males pati.
·         Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.
·         Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.
·         Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.
·         Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge.
Dari carita Parahyangan memang ada perbedaan status Manarah dengan alur yang dikisahkan versi RPMSJB. Manarah disebutkan putra dari Permana Dikusumah, sedangkan Banga memang anak Tamperan.
Tamperan wafat pada tahun 739 M. Posisinya di Galuh digantikan Manarah, sedangkan Banga, anak Tamperan menggantikan posisinya di Sunda, ketika itu Sunda sudah berada dibawah kontrol Manarah dari Galuh. Hal ini sejalan dengan maksud dari buku sejarah Jawa Barat, kerajaan Sunda pernah berada dibawah kontrol Galuh terhitung sejak adanya perjanjian Galuh, yakni tahun 739 M sampai dengan 759 M.
Perjanjian Galuh
Perjanjian Galuh merupakan upaya dari para keturunan Wretikandayun, pendiri Galuh untuk menyudahi perseteruan. Ketika itu pasukan Manarah dengan pasukan Sanjaya sudah saling berhadapan untuk saling berperang. Masalah ini dipicu oleh terbunuhnya Tamperan di Galuh oleh Manarah. Namun berkat peran Resi Demunawan mereka mau berunding di Kraton Galuh.
Didalam Nusantara III/1, dijelaskan, bahwa isi dari perjanjian Galuh tersebut, sebagai berikut :
·         Menyudahi permusuhan (mawusana panyatrawanan) diantara yang sedang berperang
·         Mengadakan perjanjian  persahabatan (mitrasamaya), beker jasama (atuntunan tangan) dan saling membantu (parasparo pakara) diantara mereka
·         Tidak boleh mengadakan pembalasan (paribhaksa) terhadap sesamanya karena mereka itu masih satu keturunan (tunggal kawitan)
·         Semua prajurit yang tertawan harus dibebaskan
·         Bila timbul perselisihan di antara mereka harus diselesaikan diantara mereka harus diselesaikan (telas aken) dengan damai (apakenak) dan bermusyawarah (mapulungrahi) dengan semangat persaudaraan (kaharep paduluran)
·         Hubungan kekerabatan tidak boleh putus dan harus saling mengasihi
·         Tidak boleh saling menyerang dan merebut kota-kota (para pura) masing-masing
·         Menghormati hak ahli waris yang sah (maryada sakeng si tutu), yaitu :
(1)  Negeri Sunda dengan wilayah dari Citarum kebarat dirajai oleh sang Kamarasa alias Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Ajimulya ;
(2)  Negeri Galuh dengan wilayah dari Citarum ke timur dirajai oleh Sang Suratoma alias Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabuan ;
(3)  Resi Guru Demunawan menguasai negeri Saung Galah dan bekas kawasan Kerajaan Galunggung ;
(4)  Sanjaya memerintah di Jawa Tengah.
(RPMSJB, Jilid Kedua, hal. 79)
Untuk mengukuhkan persaudaraan diatas kemudian Resi Demunawan menjodohkan cucunya yakni Kencana Wangi dengan Manarah, sedangkan Kencana Sari dinikahkan dengan Banga. Dari pernikahan ini maka berbaurlah darah Sunda, Galuh dan Saunggalah. Dengan demikian maka dikemudian hari keturunan Wretikandayun bersatu kembali. Kelak perbedaan keturunan ini terhapuskan akibat perkawinan antara keturunan Manarah dan Banga. Hal ini terjadi pada masa Rakean Wuwus.
Sunda Merdeka
Banga menggantikan Tamperan sebagai Raja Sunda keempat sejak tahun 739 M sampai dengan 766 M. Namun ada juga pendapat bahwa Banga raja Kerajaan Sunda yang ketiga karena Tamperan sebenarnya tidak pernah berdomisili di Sunda, ia hanya menjabat sebagai Duta Patih Sunda di Galuh.
Akibat Perjajian Galuh terpaksa kedudukan Banga harus berada dibawah Galuh. Perjanjian ini dirasakan Banga sangat merugikan posisinya. Posisi ini kebalikan ketika Sanjaya dapat merebut tahta Galuh dari Purbasora. Sanjaya sebagai kakeknya Banga tentu merasa kurang senang melihat kedudukan Banga yang dirugikan ini, namun Sanjaya harus mentaati perjanjian tersebut. Kemudian ia secara diam-diam menganjurkan Banga untuk memperkuat kerajaan Sunda.
Banga melaksanakan ide kakeknya, setahap demi setahap ia menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disebelah barat Citarum, hingga iapun menjadi raja Sunda yang kuat. Pada tahun 759 M Bangga melepaskan diri sebagai bawahan Galuh. Dan menyatakan kerajaan Sunda sebagai kerajaan Mahardika.
Tindakan Banga menyulut kemarahan Manarah. Sekali lagi Resi Demunawan, Raja Saunggalah turun tangan untuk membantu menyelesaikan. Demunawan kemudian membujuk Manarah agar menerima posisi ini. Demunawan pun meyakinkan Manarah bahwa sepantasnyalah kedudukan Sunda dan Galuh sejajar, masing-masing berdiri sebagai Negara yang merdeka.
Peristiwa ini menempatkan Resi Demunawan sebagai orang yang bijaksana dan memiliki visi yang baik. Resi Demunawan pada Perjanjian Galuh menempatkan Sunda di bawah Galuh. Hal tersebut merupakan upaya maksimal pada saat itu. Setelah keadaan memungkinkan ia memenuhi janjinya untuk mensejajarkan Sunda dengan Galuh sehingga dapat tercipta kerukunan yang abadi.
Bangga meninggal pada tahun 766 M, berumur masih relatif masih muda, yakni 42 tahun. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, ia dilahirkan pada tahun 724 M, sehingga ketika ia memegang tahta Sunda baru berumur 15 tahun. (***)

DARI:http://akibalangantrang.blogspot.com/2010/04/perjanjian-galuh.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in GALUH

 

TAHTA GALUH

Ketika suasana masih berkabung Sanjaya mengirimkan pasukan Sunda untuk bergabung di Gunung sawal, berjarak + 17 km dengan Galuh. Gerakan tersebut sama sekali tidak diketahui Purbasora. Hingga pada suatu hari, ditengah malam buta tibalah saatnya Sanjaya melakukan penyerangan. Ketika penyerangan di lakukan, Galuh sedang dalam keadaan terlelap, serangan itu pun tidak terdeteksi sebelumnya.
Kisah pengakhiran kekuasaan Purbasora, menurut buku Nusantara diceritakan, bahwa dimalam yang gelap gulita itu Sanjaya langsung berhadapan dengan Raja Galuh yang telah berumur 80 tahun itu, kemudian terdengar teriakan :
  • ·         “Purbacura pinejahan dening Sanjaya yuddhakala” (Purbasora dibinasakan oleh Sanjaya waktu perang).
Kekalahan Purbasora di dalam perang tanding dengan Sanjaya tentunya bukan sesuatu yang aneh, mengingat usia Purbasora saat itu sudah berumur 80 tahun, jauh lebih tua dibandingkan Sanjaya. Dalam cerita ini memang ada yang perlu diteliti lebih jauh, karena Bimaraksa, senapati yang sekaligus patih dari Galuh, bersama sebagian kecil pasukannya berhasil meloloskan diri. Kisah lolosnya Bimaraksa dimungkinkan sesuai dengan maksud dari versi lain, tentang syarat yang diberikan Jantaka (ayah Bimaraksa) kepada Sanjaya untuk tidak mengganggu keluarganya. Hal ini ditaati oleh Sanjaya.
Dalam cerita ini dikisahkan pula, pasca kekalahan Purbasora, Demunawan diminta Sanjaya untuk memegang pemerintahan Galuh namun berada dibawah kontrol Sanjaya, untuk selanjutnya dikuasakan kepada Permana Dikusumah, atau dalam cerita Parahyangan dikenal dengan sebutan Bagawan Sijala-jala. Sedangkan Bimaraksa menetap di Geger Sunten dan menyusun kekuatan baru. Iapun lebih dikenal dengan sebutan Balangantrang, dalam sejarah lisan disebut aki Balangantrang, penyampai benang merah kisah Galuh kepada Ciung Wanara.
Penghancuran Indraprahasta
Sanjaya sangat mengetahui tulang punggung pasukan Purbasora yang berhasil mengusir Sena pada tahun 716 M terdiri dari pasukan Indraprahasta dibawah Senapati Wiratara, salah satu senapati Purbasora, kemudian menjadi raja Indraprahasta. Untuk alasan ini Sanjaya berniat membumi hanguskan Indraprahasta. Memang seolah-olah ada semacam pelampiasan untuk menyalurkan dendamnya kepada Indraprahasta, sedangkan terhadap keluarga Galuh lainnya, ia harus menepati janjinya kepada Demunawan dan ayahnya untuk memperlakukan dengan baik.
Didalam naskah Wangsakerta digambarkan persitiwa pembumi hangusan, tanpa ada belas kasihan, mereka menyebutnya seperti binatang buas. Sejak saat itu maka musnahlah Indrapahasta yang didirikan Sentanu pada tahun 363 M. Semula Indrapahasta sejak jaman Tarumanagara dianggap daerahnya sebagai wilayah yang disucikan, termasuk oleh Purnawarman, bahkan ada sebuah sungai yang dinamakan sungai Gangga.
Naskah tersebut sebagai berikut :
Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira.
Rajya Indraprahsta kabehan nira kaparajaya sapinasuk kadatwannya syuhdarawa pinaka tan hana rajya manih I mandala Carbon Ghirang.
Wadyabala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinakadi, meh sakweh ira pejah nirawaceca.
Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura.
Pasca Purbasora
Sanjaya pasca kemenangannya mengirimkan untusan untuk menghadap Sempakwaja di Galunggung. Ketika itu Sempakwaja telah berumur 103 tahun. Sanjaya berniat menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora. Hal ini ditolak oleh Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora karena takut kelak Demunawan akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Iapun tidak ikhlas putranya berada dibawah perintah Sanjaya, karena ia tahu bagaimana Wretikandayun, ayahnya dahulu membebaskan Galuh di Sunda.
Sebagai resi yang bergelar Danghyang Guru di Galunggung yang bijak ia menawarkan pilihan kepada Sanjaya, Ia akan menganggap pantas memerintah Galuh jika Sanjaya mampu mengalahkan tiga tokoh Pandawa, Wulan dan Tumanggul. Ketiganya masing-masing raja didaerah Kuningan, raja Kajaron dan raja Kalanggara di Balamoha.
Kekuasaan yang dipegang Sanjaya dan Sena dianggap tidak ada apa-apanya jika Sanjaya belum mampu menaklukan raja di Jawa Tengah dan sekitar Galuh. Jika Sanjaya mampu menguasai mereka maka Resiguru Demunawan, putra Sempakwaja, masih ua Sanjaya, pantas mempertuan Sanjaya. Namun jika Sanjaya tidak mampu menundukan mereka maka Sempakwajalah yang akan menentukan penguasa Galuh.
Masalah ini dikisahkan didalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :
Carek Rahiang Sanjaya: “Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna.”
Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: “Na aya pibejaeun naon, patih?”
“Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora.”
Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru.
Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji Tepus jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti.”
Rahiang Sanjaya tuluy perang ka Kuningan. 

Sanjaya tidak mampu mengalahkannya, bahkan sebaliknya Sanjaya dipukul mundur dan dikejar hingga ke Galuh. Peristiwa ini diberitakan didalam Carita Parahyangan.
Eleh Rahiang Sanjaya diubeur, nepi ka walungan Kuningan.
Rahiang Sanjaya undur.
“Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran.”
Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile.
Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?”
“Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan.”
Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.
Karena dikalahkan akhirnya Sanjaya menyerahkan penunjukan penguasa Galuh tersebut kepada Danghyang Guru, Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahan Galuh diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sedangkan putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana. Cucu Purbasora dari Wijayakusuma. Masalah tidak cukup berhenti sampai disini, karena intrik-intrik politik terus berlanjut.
Sempakwaja menunjuk Demunawan sebagai raja Layuwatang. Kemudian pada tahun 723 Demunawan dinobatkan sebagai penguasa kerajaan Saung Galah di Kuningan. Wilayah Galunggung dan kerajaan kecilnya dijadikan wilayah dibawah Saung Galah untuk menandingi Galuh yang dikuasai Sanjaya, namun resminya dipegang Premana Dikusumah.
Karena merasa tertekan, Premana akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama Pangrenyep, seorang putri pembesar Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana dipertapaannya. Maka berakhirlah kekuasaan Premana.
Carita Parahyangan dianggap terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal sebenarnya, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.
Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan. “Rahiang Sanjaya sasauran, ngawulang anakna, Rakean Panaraban, enya eta Rahiang Tamperan: “Ulah arek nurutan agama aing, lantaran eta aing dipikasieun ku jalma rea.”
Dari perkataan tersebut mungkin menarik untuk dibahas adanya perubahan agama keraton di Sunda, namun masalah ini masih kabur dan belum terungkap secara jelas.
Sanjaya bertahta di Galuh sejak 723 sampai 732 M. Ia wafat pada tahun 754 M di Bumi Mataram (***)

DARI:http://akibalangantrang.blogspot.com/2010/04/tahta-galuh.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in GALUH

 

KEKUASAAN SANJAYA

Sanjaya menggantikan posisi Terusbawa, raja Sunda, pada tahun 723 M (645 Saka), bergelar Maharaja Bimaparakarma Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya. Mungkin Sanjaya adalah satu-satunya raja Sunda yang memiliki kekuasan melebihi Purnawarman. Sanjaya sangat pantas jika ia disebutkan sebagai penguasa Pulau Jawa pada masa abad ke 8 M.
Posisi dan kekuasaan Sanjaya di Pulau Jawa didapatkan dari trahnya sebagai keturunan dan perkawinan. Pertama, sebagai raja Sunda ia dapatkan setelah menikah dengan Teja Kencana, Cucu Tarusbawa, putra mahkota Sunda. Teja Kencana kemudian diangkat sebagai penguasa Sunda bersama-sama dengan Sanjaya pada tahun 723 M.
Kedua, Sanjaya pewaris syah tahta Galuh, dapatkan dari ayahnya, yakni Sena (Bratasenawa) putra Mandiminyak (Amara), dan cucu Wretikandayun. Kedudukan di Galuh Ia dapatkan pada tahun yang sama ketika menjadi raja Sunda.
Tentang masa berkuasanya Sanjaya di Sunda dan Galuh disebutkan dalam seri Pararatwan Jawadwipa, yakni di Sunda sejak 645 – 647 Saka, sedangkan menjadi penguasa Sunda dan Galuh sejak 647 – 654 Saka.
Ketiga, Sanjaya adalah cicit Maharani Sima, ratu Kalingga dari pernikahan Bratasenawa, ayahnya dengan Sanna, ibunya, cucu Maharani Sima. Jika dilihat dari garis perkawinan Bratasenawa dan Sanna ia adalah putra Mahkota Mataram.
Keempat, atas persetujuan Parwati (neneknya), Sanjaya berjodoh dengan Sudiwara, putri Dewa Singa dan cucu Prabu Narayana, penguasa Bumi Sambara. Perkawinan ini mengikat kekerabatan yang makin erat, karena mereka sesama keturunan Maharani Sima. Jadi posisi Sanjaya pada masa itu sudah menguasai ¾ pulau jawa. Wajar jika Sanjaya menjandang gelar Penguasa Pulau Jawa.
Hubungan dengan Kalingga
Didalam thesis Prakondisi Terbentuknya Identitas Kebangsaan, oleh Drs. Nana Supriatna, M.Ed, dikemukakan : Eksistensi Sanjaya di jawa barat diperoleh dari prasasti Canggal (732 M). Prasasti tersebut menerangkan mengenai seorang raja bernama Sanjaya yang mendirikan tempat pemujaan untuk dewa Siwa di daerah Wukir. Dia adalah anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Sanjaya adalah pendiri wangsa Sanjaya yang berkuasa atas kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah bagian utara.
Apabila isi prasasti tersebut dihubungkan dengan Carita Parahyangan yang menerangkan mengenai berkuasanya Sanna di Galuh (Ciamis), Sanjaya adalah raja Galuh yang mengganti kan Sanna setelah dia berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora yang memberontak terhadap raja Sanna.
Dalam Carita Parahyangan disebutkan bahwa Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil, yakni Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan yang diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat itu menjadi bagian dari Galuh.
Pada masa Terusbawa di Sunda, hubungan Sunda dengan Kalingga belum sedemikian erat, bahkan Wretikandayun memanfaatkan hubungan Galuh dengan Kalingga sebagai faktor penting untuk memerdekakan Galuh sebagai negara yang merdeka. Hubungan Galuh – Kalingga dipererat dengan pernikahan Parwati, putri Maharani Sima dengan Mandiminyak (Amara), putra Wretikandayun. Pada masa selanjutnya, hubungan Sena, putra Mandiminyak diikat pula dengan tali pernikahan. Kemudian diperkuat pula dengan pernikahan Sanjaya dengan Tejakencana.
Dalam cerita tentang Galuh, Sena adalah pewaris syah atas tahta Galuh. Tahta tersebut ia dapatkan dari Mandiminyak, ayahnya. Sena dikenal sebagai orang yang memiliki budi baik, namun dikarenakan kelahiran Sena hasil smarakarya antara Mandiminyak (Amara) dengan Pwah Rababu (istri Sempakwaja, kakak kandung Mandiminyak), maka ia kurang diterima dilingkungan keluarga Galuh.
Masalah smarakarya tersebut disinyalir pula sebagai pemicu Pisuna Galuh yang dipimpin Purbasora. Akhirnya pada tahun 716 M Purbasora merebut tahta Galuh. Hanya saja Sena berhasil melarikan diri ke Mataram.
Peristiwa ini disebut-sebut sangat menyakitkan keluarga Kalingga Utara. Ratu Parwati menghibur menantunya tersebut dengan cara menyerahkan tahtanya kepada Sanaha, putrinya dan Sena, menantunya. Kemudian Sanaha dan Sena berkuasa selama 16 di Mataram, terhitung sejak 716 – 732 M.
Pada masa terusirnya Sena dari Galuh, usia Sanjaya masih berumur 33 tahun. Pada masa tersebut ia lebih memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa dibeberapa kerajaan, seperti Sunda, Galuh, Mataram dan Kalingga. Sebagai upaya merebut tahta Galuh dari Purbasora, ia pergi ke Denuh menemui Resiguru Wanayasa dan iapun menyiapkan diri di Denuh. Dari Denuh kemudian ia menuju Pakuan untuk menemui Terusbawa, kakek mertuanya. Iapun disarankan untuk lebih berhati-hati, karena pada masa itu Galuh memilki pasukan bayangkara yang berasal dari Indraprahasta, yang dikenal cukup tangguh dan teruji.
RPMSJB menjelaskan, sebagai ujian bagi Sanjaya, kemudian Terusbawa memerintahkan Sanjaya untuk membersihkan perompak diperairan Selat Sunda. Hal ini bukan hanya sekedar membebaskan Sunda dari gangguan bajak laut yang direstui Sriwijaya, melainkan pula bertujuan untuk melatih Sanjaya agar kelak dikemudian hari mampu menggantikan posisinya sebagai penguasa Sunda.
Pada masa lampau peranan bajak laut merupakan musuh yang sulit diberantas. Dewawarman V (252 – 276 m) penguasa Salakanagara kelima harus gugur diperairan ketika melakukan pemberantasan bajak laut. Purnawarman mengalami gangguan yang sama ketika ia memerintah Tarumanagara, namun ia berhasil menumpasnya. Sama halnya dengan Cheng Ho ketika ia harus membersihkan Palembang dari kekuasaan bajak laut pada tahun 1407 M.
Terusbawa memilih bajak laut sebagai sarana latihan Sanjaya, karena bajak laut memiliki sifat yang sangat bengis, mahir berkelahi dan tak pandang bulu dalam memperlakukan musuh-musuhnya. Harapan Terusbawa, jika Sanjaya mampu mengatasi bajak laut maka ia akan mampu membawa ketentraman bagi negara Sunda. Dan ternyata Sanjaya mampu menunaikan tugas ini, bahkan ia mampu mengejar kenagara-negara lain yang melindungi para bajak laut.
Memang ada peranan lainnya yang dilakukan Terusbawa dalam melatih Sanjaya, seperti merekomendasikan ke Gunung Sawal untuk meminjam buku Pustaka Ratuning Bala Sariwu. Buku tersebut digunakan Sanjaya pada saat memberantas bajak laut, serta digunakan sebagai acuan strategi dalam mengembalikan tahta Galuh dari kekuasaan Purbasora.
Tentang Pustaka Ratuning Bala Sariwu, konon kabar pernah digunakan oleh Purnawarman, raja Tarumanagara ketiga yang termasyhur. Selain itu digunakan pula oleh Surawisesa dalam mempertahan Pakuan dari serangan gabungan Demak Cirebon. Mungkin yang dimaksud buku Pustaka tersebut semacam pelajaran ilmu perang peninggalan Purnawarman, namun dalam kisah lainnya buku ini disebut-sebut peninggalan Resi Guru Manikmaya (Kendan).
Sanjaya menggantikan posisi Terusbawa, raja Sunda, pada tahun 723 M. Pada tahun yang sama Sanjaya berhasil merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora. Dan membumi hanguskan kerajaan Indrapahasta, pendukung penting Purbasora, karena salah satu putri Indraprahasta adalah istri Purbasora.
Diplomasi Sanjaya
Sebagaimana cerita sebelumya, Sena adalah pewaris tahta Galuh yang diusir oleh Purbasora. Putra Sena, yaitu Rahyang Sanjaya alias Rakeyan Jambri telah menjadi cucu menantu Terusbawa raja Sunda. Ketika perebutan terjadi Sanjaya sedang berada di Mataram. Dengan kedatangan Sena dan terusirnya dari Galuh, sangat membangkitkan amarah Sanjaya, sehingga ia pun berupaya untuk menuntut balas.
Sena dikenal memiliki budi pekerti yang baik dan dianggap alim, sehingga tidak merespon peristiwa pengusirannya dengan melakukan balas dendam. Untuk mendukung keinginan Sanajaya, Sena menganjurkan Sanjaya agar berhati-hati dan tetap menghormati orang-orang tua di Galuh (Sempakwaja dan Jantaka). Sanjaya hanya diijinkan menyingkirkan Purbasora. Amanah tersebut diikuti oleh Sanjaya, ia perlahan-lahan melakukan infiltrasi dan membentuk pasukan khusus yang akan merebut Galuh kembali.
Sanjaya secara diplomatis menghubungi Jantaka, atau Resiguru Wanayasa. Ia meminta Jantaka secara baik-baik untuk menjadi manggala, mengadili dan menentukan pihak mana yang benar dan salah. Jantaka menyadari akan masalah ini, namun permintaan ini menjadikan posisi Jantaka serba sulit, karena dipihak Purbasora telah berdiri Bimaraksa, anaknya. Iapun kemudian menolak tawaran tersebut, ia berjanji akan bersikap netral dan meminta jaminan dari Sanjaya, bahwa keluarganya tidak akan pernah diganggu dalam masalah ini.
Masalah ini diceritakan dalam Carita Parahyangan :
Carek Rahiangtang Kidul: “Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, – bisi sia kanyahoan ku ti Galuh. – Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, – sarta anak saha sia teh?”.
Carek Rakian Jambri: “Aing anak Sang Sena. Direbut – kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.”
“Lamun kitu aing wajib nulungan. – Ngan ulah henteu digugu jangji aing. – Muga-muga ulah meunang, – lamun sia ngalawan perang ka aing. – Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, – jugjug Tohaan di Sunda.”
Sadatangna ka Tohaan di Sunda, – tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda.
Dalam Carita Parahyangan, peristiwa tersebut terjadi sebelum Sanjaya menjadi suami Tejakencana, bahkan jauh sebelum ia mendudukui tahta Sunda. Kemudian dukungan selanjutnya ia mintakan kepada raja Sunda, Terusbawa. Tentu Terusbawa tidak bisa dengan mudah memberikan dukungan secara riil, mengingat ia telah terikat hubungan persahabatan dengan Purbasora. Ia menyarankan agar Sanjaya bersikap hati-hati.
Terusbawa memberikan rekomendasi pula agar Sanjaya meminjam Pustaka Ratuning Bala Sarewu kepada Rabuyut Sawal. Pustaka itu hasil ciptaan Resiguru Kendan, tentang bagaimana menggunakan pasukan yang banyak.
Kisah perjalanan ini diabadikan dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. – Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal.
Carek Rabuyut sawal: “Sia teh saha?” – “Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. – Eusina teh, ‘retuning bala sarewu’, anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru.”

Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. – Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahiang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.
Pada episode berikutnya memang sulit membuktikan dukungan Terusbawa secara formal, hingga ia meninggal pada tahun 723 M. Sebagai pengganti Raja Sunda maka pada tahun 723 M dilantiklah Sanjaya berserta Tejakencana, istrinya. Kemudian Sanjaya mengangkat Anggada, adik sepupu Tejakencana sebagai patih.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in GALUH

 
 
%d blogger menyukai ini: