RSS

Arsip Kategori: SENI BUDAYA

Sejarah Ciamis

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh”, berasal dari kata “sakaloh” berarti “dari sungai asalnya”, dan dalam lidah Banyumas menjadi “segaluh”. Dalam Bahasa Sansekerta, kata “galu” menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:

  • Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
  • Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
  • Galuh Pakuan beribukota di Kawali;
  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan;
  • Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
  • Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  • Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara; dan
  • Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama “Galuh”, meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa “kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh”.

Read the rest of this entry »

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SEJARAH

 

SMA Se-Bandung Pentaskan Ciung Wanara

RETNO HY/"PRLM"

RETNO HY/”PRLM”
SALAH satu adegan Teater Musikal Kolosal The Legend of West Java “Ciung Wanara” diikuti tujuh puluh lebi siswa siswi SMU Se Kota Bandung bertempat di gedung Kesenian Rumentangsiang Jalan Baranangsiang, Kosambi Bandung, direncanakan akan digelar selama tiga puluh hari berturut-turut.*

BANDUNG,(PRLM).- Sebanyak 75 siswa sejumlah SMU di Kota Bandung bergabung mementaskan Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”. Pegelaran yang direncanakan selama tiga puluh hari berturut-turut akan digelar di Gedung Kesenian Rumentangsiang dan Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

“Terus terang, pegelaran yang diprakarsai AAP (Anka Adika Production) ini bukan untuk mengulangi sukses ‘Surabi Bandung’ (Namaku Bukan Juliet) yang juga dipentaskan selama dua puluh hari dan ditonton lebih dari 30.000 orang.

Pegelaran kali ini murni sebagai bentuk apresiasi, kreasi serta ekspresi anak-anak sekolah yang ingin mengembangkan kemampuan mereka dalam berkesenian,” ujar Anton Justian Jr, seusai pegelaran perdana Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, bertempat di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jalan Baranangsiang 1, Kosambi, Bandung.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, setiap harinya digelar setiap pukul 15.00 WIB. Di GK Rumentangsiang, Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tampil mulai tanggal 2 hingga 20 Maret dan disambung pada tanggal 9 hingga 14 Mei, kemudian di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, akan dipegelarkan pada 24 hingga 27 Mei mendatang.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tidak jauh berbeda dengan cerita legenda sebenarnya. Hanya dialog dan cara membawakan yang rada ngepop layaknya teater anak muda.

Diceritakan, Prabu Barma Wijaya Kusuma, Raja Galuh memiliki permaisuri bernama Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep yang tengah mengandung. Dewi Pangrenyep melahirkan lebih awal seorang putra dan diberi nama Hariang Banga.

Saat Hariang Banga berusia 3 bulan, Dewi Pangtenyep khawatir rasa Cinta Prabu Barna Wijaya Kusuma berpaling ke putra Dewi Pohaci. Karenanya begitu Dewi Pohaci melahirkan bayinya diganti dengan anak seekor a***g, sementara bayi aslinya dimasukan dalam kandaga emas berikut sebutir telur dan dihanyutkan ke Sungai Citandui, dan sang bayi dipelihara hingga dewasa oleh Aki dan Nini Balangantrang di Desa Geger Sunten.

Anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ciung Wanara senantiasa membawa ayam jantannya untuk diadukan. Akhir cerita terkuak siapa sebenarnya Ciung Wanara, saat ayam jantan milik Ciung Wanara mengalahkan ayam jantan Raja Galuh. (A-87/A-26).***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/137

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

Seniman Priangan tidak Bisa Nyanyikan Laras Pelog Secara Benar

RETNO HERIYANTO/"PRLM"

RETNO HERIYANTO/”PRLM”
SENIMAN karawitan Sunda Atang Warsita saat memaparkan titi laras karawitan Sunda pada Seminar Titi Laras Karawitan Sunda, bertempat di Ruang Rapat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Senin (18/4).*

BANDUNG, (PRLM).- Semua seniman priangan tidak bisa menyanyikan atau mengumandangkan laras pelog secara benar, kalau tanpa dibarengi dengan gamelan pelog yang masih asli dari Jawa. Pada kenyataannya yang mereka laras bukanlah laras pelog yang sama dengan gamelan pelog, akan tetapi yang mereka laras tersebut adalah laras degung.

Demikian diungkapkan seniman karawitan, Atang Warsita, dalam “Seminar Titi Laras Karawitan Sunda kegiatan Pembinaan Apresiasi Seni di Jawa Barat”, di ruang rapat lantai 3 kantor Disparbud Jabar, Jl. RE. Martadinata Kota Bandung, Senin (18/4). “Laras pelog itu bukan milik karawitan sunda atau priangan, keberadaan laras pelog dalam karawitan sunda priangan mungkin karena pertama laras pelog tersebut enak di dengar dan yang kedua ada kemiripan dengan laras degung,” ujar Atang, dalam Seminar yang dihadiri sejumlah seniman sunda, staf pengajar musik, mahasiswa dan pelajar.

Dalam sambutanya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ir. H. Herdiwan, Iing Suranta, M.M., mengatakan acara seminar ini digelar berawal dari kegelisahan Wakil Gubernur Dede Yusuf, bahwa penggalian, pembaharuan, hal-hal baru tentang seni dan budaya Jawa Barat masih kurang. “Selama ini, hanya pagelaran kesenian yang ditampilkan. Sedangkan, penggalian hal-hal baru tentang seni dan budaya masih jarang dilaksanakan. Ini salah satu tujuan kita agar seni dan budaya ini digali lebih luas lagi,” ujar Herdiwan.

Dikatakan Herdiwan, bahwa Atang Warsita sebagai seniman karawitan beranggapan bahwa ada yang belum sempurna dalam Titi Laras Karawitan Sunda ini. Oleh karenanya, diperlukan penyempurnaan agar supaya Titi Laras ini bisa menjadi lebih lengkap. “Sebelum digelar seminar ini Pak Atang melontarkan gagasan tentang kurang lengkapnya titi laras sunda. Mendengar hal tersebut, Disparbud mencoba untuk mengakomodir dan memfasilitasi. Baru sekarang seminar ini bisa terlaksana,” ujar Herdiwan.

Hal seperti ini, lanjut Herdiwan, akan kita coba terus laksanakan. Jika ada gagasan atau ide tentang pembaharuan tentang seni dan budaya, akan kita coba fasilitasi. “Siapapun itu, jika itu memang untuk keberlangsungan atau kepedulian tentang seni dan budaya akan kita coba akomodir,” ujar Herdiwan. (A-87/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/142084

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

Dipusatkan di Alun-alun Kab. Garut Disparbud Akan Gelar “Kirab Seni Budaya”

Senin, 18/04/2011 – 13:56

BANDUNG, (PRLM).- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat akan menggelar “Kirab Seni Budaya” di Zona Budaya Priangan I. Kegiatan yang dipusatkan di Alun-alun Kabupaten Garut diselenggarakan pada tanggal 20-21 April 2011.

Kirab Seni Budaya yang rencananya akan dibuka Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, melibatkan seniman, budayawan dan pekerja seni dari Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasik, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Ir. H. Herdiwan Iing Suranta, MM., mengatakan Kirab Seni Budaya ini, merupakan kegiatan yang dianggap mampu menjadi transformasi budaya dari 3 zona beda budaya, yaitu Zona Cirebon, Zona Priangan dan Zona Melayu Betawi.

“Kegiatan ini tidak lagi memandang sebagai peristiwa transformasi budaya. Tapi juga sebagai sumber inspirasi ragam etnik dalam satu rumpun budaya sehingga akan memberikan warna yang lain bagi creator seni,” ujar Herdiwan, didampingi Kepala Bidang Kesenian dan Perfilman Drs. H. Jaenudin.

Provinsi Jawa Barat, menurut Herdiwan, dipetakan dalam 3 zona beda budaya. Ini merupakan asset budaya yang menguntungkan karena didalamnya memiliki aneka ragam etnik yang sarat dengan kreasi dan filosofi struktur berbeda di masing-masing zona. “Karen itu, diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan motivasi dan rangsangan kreatifitas seni dalam upaya mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan pelaku seni tradisional,” ujar Herdiwan.

Dikatakan Herdiwan, Kirab Seni Budaya ini dibuat dalam format pagelaran, helaran seni tradisional yang berada di wilayah zona budaya Cirebon, Priangan dan Melayu Betawi serta pameran seni rupa, kerajinan, Kriya dan kuliner. “Format karya seni hasil olahan atau murni yang berakar seni tradisional Jawa Barat, yang berada dan tumbuh di 3 zona beda budaya,” ujar Herdiwan.

Secara umum, menurut Herdiwan, pengertian pemeliharaan kesenian tidak sekedar pelestarian, revitalisasi, rekonstruksi seni tetapi lebih jauh kesenian harus pula mempunyai kesempatan untuk diperkenalkan kepada masyarakat agar kesenian tersebut menjadi bagian dari kelompok masyarakat serta mampu memberikan pencitraan bagi masyarakat pendukungnya.

“Dari beberapa jenis kesenian, Karawitan Teater, Padalangan, Musik, Tari, Sastra, Rupa dan film semuanya harus memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat secara seimbang,” ujar Herdiwan. (A-87/A-147)**

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

GALUH DAN CIAMIS

Proses berdirinya Kabupaten Ciamis diawali dengan penyusunan Sejarah Galuh,dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji Sejarah Galuh secara menyeluruh. Ada 2 pendapat tentang proses tersebut yaitu:

  1. Berdasarkan Titimangsa Rahyangta di Medangjati,.. yaitu berdirinyaKerajaan Galuh oleh Wretikkandayun tanggal 23 Maret 612 Masehi atau zaman Rakean Zamri yang juga disebut Raiyang Sanjaya sebelumSang Manarah berkuasa.
  2. Berdasarkan Tanggal dan tahun dari beberapa peristiwa berikut: (a). Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Raden Tumenggung Sastra Winata pada Tahun 1916 (b).Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Raden AA.Wiradikusumah pada tanggal 15 Januari 1815 (c).Berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah yang letaknya disekitar Cineam (Tasikmalaya) ke Barunay (Imbanagara) pada tanggal 12 Juni 1642.

Dan hasil akhirnya menyimpulkan bahwa Kabupaten Ciamis berdiri pada tanggal 12 Juni 1642, yang kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 17 Mei 1972 Nomor:22/V/KPTS/DPRD/1972. Dengan Keputusan DPRD tersebut diharapkan seluruh masyarakat mengetahui, sehingga akan lebih bersemangat untuk membangun Tatar Galuh ini sejalan dengan Moto Juang Kabupaten Ciamis: “Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya Dibuana, Mahayunan Ayuna Kadatuan” artinya apa ya?..hehehe. Kata Galuh berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti Batu Permata. Kerajaan Galuh berarti Kerajaan Batu Permata yang indah gemerlap, subur makmur, Gemah Ripah loh Jinawi Aman Tentreum Kertaraharja…Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15thn (597-612M) yang kemudian menjadi Pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang LayungwatangWretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karang Kamulyan sekarang). Ia dinobatkan pada tanggal 14 Suklapaksa bulan Caitra Tahun 134 Caka (kira-kira 23 Maret 612 Masehi). Tanggal tersebut dipilihnya benar-benar menurut tradisi Tarumanagara,karena tidak saja dilakukan pada hari purnama melainkan juga pada tanggal itu matahari terbit tepat di titik timur. Tujuan Wretikkandayun membangun pusat pemerintahan di daerah Karang Kamulyan (sekarang) adalah untuk membebaskan diri dari Tarumanagara, yang selama itu menjadi Negara “Adikuasa” (kalau sekarang mah kaya Amerika nu Presiden na Mang Jos Bus). Oleh karena itu demi mewujudkan obsesinya ia menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, bahkan putra bungsunya Mandi Minyak di jodohkan dengan Parwati putri sulungMaharanissima. Kesempatan untuk menjadi negara yang berdaulat penuh terjadi pada tahun 669 ketika Linggawarman (666-669M) Raja Tarumanagara yang ke-12 wafat. Ia digantikan oleh menantunya (suami Dewi Manasih) bernama Terus Bawa berasal dari Kerajaan Sunda Sumbawa. Terus Bawa inilah yang pada saat penobatannya tanggal 9 Suklapaksa Bulan Yosta Tahun 951 Caka (kira-kira 17 Mei 669 Masehi)mengubah Kerajaan Tarumanagara menjadi Negara Sunda. Masa Kerajaan Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 Masehi ketika Raja Ajiguna Lingga Wisesa atau Sang Dumahing Kending (1333-1340M) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakaknyaPrabu Citra Gada atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.Lingga Wisesa adalah kakek Maharaja Lingga Buana yang gugur pada “Perang Bubat” tahun 1357 yang kemudian diberi gelar Prabu Wangi. Ia gugur bersama putri sulungnya Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Diah Pitaloka mempunyai adik laki-laki yang bernama Wastu Kancana. Ketika Perang Bubat berlangsung Wastu Kancana baru berusia 9 tahun dibawah bimbingan pamannya yaitu Mangkubumi Suradipati aliasSang Bumi Sora atau Batara Guru di Jampang. Wastu Kancana berkembang menjadi seorang calon Raja yang seimbang keluhuran budi pekerti lahir bathin, seperti tersebut pada wasiatnya yang tertulis pada Prasasti Kawali yaitu: diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Negara akan jaya dan unggul perang bila rakyat berada dalam kesejahteraan~kareta beber, Raja (pemimpin) harus selalu berbuat kebajikan~Pakena Gawe Rahayu“...Itulah syarat yang menurut wasiatnya untuk dapat Pakeun Heubeul Jaya Dina Buana, Pakeuna Nanjeur Najuritan untuk menuju Mahayunan Ayuna Kadatuan…

Pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana negara dan rakyatnya berada dalam keadaan Aman Tentreum Kertaraharja, para Abdi Dalem patuh dan taat terhadap peraturan Ratu yang dilandasi oleh Purbatisti dan Purbajati. Wastu Kancana mempunyai 2 orang istri, yaitu: Larasati (putri Resi Susuk Lampung) dan Mayangsari.Putra sulung dari Larasati yang bernama Sang Halimun diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada tahun 1382. Dari Mayangsari, Wastu Kancana mempunyai 4 orang putra, yaitu: (1) Ningrat Kencana (2) Surawijaya (3) Gedeng Sindangkasih (4) Gedeng Tapa. Ningrat Kencana diangkat menjadi Mangkubumi di Kawali dengan gelar Surawisesa. Wastu Kancana wafat pada tahun 1475 Masehi dan digantikan oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskalaberkedudukan di Kawali yang hanya menguasai Kerajaan Galuh, karena Kerajaan Sunda dikuasai oleh kakaknya yaitu Sang Halimun yang bergelar Prabu Susuk Tunggal.Dengan wafatnya Wastu Kancana, maka berakhirlah periode Kawali yang berlangsung selama 142 tahun (1333-1475M). Dalam periode tersebut Kawali menjadi pusat pemerintahan dan keraton Surawisesa menjadi persemayaman Raja-rajanya terlebih lagi Sribaduga Maharatu Haji sebagai pewaris terakhir tahta kerajaan Galuh dari ayahnya Dewa Niskala yang pusat kerajaannya di keraton Surawisesa pindah kePakuan Pajajaran (kalau sekarang mah jadi Kota Hujan-Bogor tea…) untuk merangkap jabatan menjadi Raja Sunda yang dianugerahkan dari mertuanya, maka sejak itu Galuh Sunda bersatu kembali menjadi Pakuan Pajajaran di bawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata yang kini lazim disebut Prabu Siliwangi. Penanggalan pada zaman Kerajaan Galuh Biharinampaknya kurang tepat bila dijadikan penanggalan Hari Jadi Kabupaten Ciamis, karena luas teritorialnya sangat jauh berbeda dengan keadaan Kabupaten Ciamis sekarang. Nama Kerajaan Galuh baru muncul tahun 1595 Masehi, yang sejak itu mulai masuk kekuasaan Mataram. Adapun batas-batas kekuasaanya sebagai berikut:

# Di sebelah Timur: Sungai Citanduy.

# Di sebelah Barat: Galunggung Sukapura.

# Di sebelah Utara: Sumedang & Cirebon.

# Di sebelah Selatan: Samudera Hindia.

Prasasti Kawali

Daerah-daerah Majenang, Dayeuh Luhur dan Pagadingan termasuk juga daerah Galuh masa itu (menurut: Dr.F.Dehaan) dan ternyata dari segi adat istiadat dan bahasa masih banyak kesamaan dengan Tatar Pasundan terutama sekali di daerah pegunungan. Kerajaan Galuh itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan. Kerajaan Galuh pada saat itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan yang dipimpin oleh Raja-raja kecil (Kandaga Lante), yang kemudian dianggap sederajata dengan Bupati yang diantara satu dengan yang lainnya masih mempunyai hubungan darah mempunyai perkawinan. Pusat-pusat kekuasaan tersebut berada di wilayah Cibatu, Gara Tengah, Imbanagara, Panjalu, Kawali,Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojong Lopang) dan Kawasen (Desa Banjarsari). Pengaruh kekuasaan Mataram sedikit banyak mewarnai tata cara pemerintahan dan budaya Kerajaan Galuh dari tata cara Buhun sebelumnya pada zaman itu mulai ada pergeseran antara Bupati yang satu dengan Buapti yang lainnya. Seperti Adipati Panaekan putra Prabu Galuh Cipta Pertamana diangkat menjadi Bupati (Wedana-semacam Gubernur) di Galuh oleh Sultan Agung.Pengangkatan itu menyulut perselisihan faham antara Adipati Panaekan dengan Adipati Kertabumi yang berakhir dengan tewasnya Adipati Panaekan. Jenazahnya dihanyutkan ke sungai Citanduy dan dimakamkan di Pasarean Karangkamulyan. Sebagai penggantinya ditunjuk Adipati Imbanagara yang pada waktu itu berkedudukan di Gara Tengah (Cineam-Tasikmalaya). Usaha Sultan Agung untuk melenyapkan kekuasaan VOC di Batavia pada penyerangan pertama mendapat dukungan penuh dariAdipati Ukur (sekarang nama beliau digunakan nama jalan di Kota Kembang Jl.Dipati Ukur Unpad gitu lochhh…) walaupun pada penyerangan itu gagal. Pada penyerangan kedua ke Batavia, Adipati Ukur mempergunkan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah Ukur dan sekitarnya dari pengaruh kekuasaan Mataram. Politik Adipati Ukur tersebut harus dibayar mahal, yaitu dengan terbunuhnya Adipati Imbanagara (yang dianggap tidak setia lagi kepada Mataram) oleh utusan Mataram yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke Mataram sebagai barang bukti. Sedangkan badannya dimakamkan di Bolenglang (Kertasari). Tetapi kepala Adipati Imbanagar dapat direbut oleh para pengikutnya walaupun terjatuh di sungai Citanduy, yang kemudian tempat jatuhnya disebut Leuwi Panten. Kedudukan Adipati Imbanagara selanjutnya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Bongsar atau Raden Yogaswara dan atas jasa-jasanya dianugerahi gelar Raden Adipati Panji Jayanegara. Pada masa pemerintahan beliau, pusat kekuasaan pemerintahan dipindahkan dari Gara Tengah ke Calingging yang kemudian dipindahkan lagi keBarunay (Imbanagara sekarang), pada tanggal 14 Maulud atau 12 Juni 1642 Masehi.Perpindahan pusat Kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Imbanagara mempunyai arti penting dan makna yang sangat dalam bagi perkembangan Kabupaten Galuh berikutnya merupaka era baru pemerintahan Galuh menuju terwujudnya Kabupaten Ciamis di kemudian hari, karena:

  1. Peristiwa tersebut membawa dampak yang positif terhadap perkembangan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat Kabupaten Galuh yang mempunyai batas teritorial yang pasti dan terbentuknya sentralisasi pemerintahan.
  2. Perubahan tersebut mempunyai unsur perjuangan dari pemegang pimpinan kekuasaan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya dan adanya usaha memerdekakan kebebasan rakyatnya dari kekuasaan penjajah.
  3. Kabupaten Galuh dibawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Arya Panji Jayanegara mampu menyatukan wilayah Galuh yang merdeka dan berdaulat tanpa kekerasan.
  4. Adanya pengakuan terhadap kekuasaan Mataram dari Kabupaten Galuh semata-mata dalam upaya memerangi VOC dan hidup berdampingan secara damai.
  5. Sejarah perkembangan Kabupaten Galuh tidak dapat dipisahkan dari Sejarh terbentuknya Kabupaten Ciamis itu sendiri. Dirubahnya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada tahun 1916 oleh Bupati Raden Tumenggung Sastrawinata (sampai sekarang belum terungkap alasannya merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari).

dari: http://ahmedt.wordpress.com/2008/08/02/galuh-is-ciamis/

 

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

LAMBANG KRATON GALUH PAKUAN

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2011 in GALUH

 

Kujang, Warisan Leluhur Tatar Pasundan

(diambil dari http://www.bogor.net)

Kujang adalah sebuah senjata unik, yang pada > mulanya berasal dari daerah Jawa Barat, tepatnya di Pasundan (Sunda). Senjata ini dikenal dengan namaKujang. Tak adanya kata yang pantas di dalam bahasa Inggris, sehingga Kujang dianggap sama dengan “sickle” (arit/sabit), sekalipun wujudnya menyimpang dari bentuk asli sebuah arit/sabit. Tidak sama juga dengan “scimitar” yang bentuknya cembung. Dan di Indonesia disebut “chelurit” (celurit).

Kehidupan orang-orang Jawa di sebelah Timur Pulau Jawa menyebut Kujang sebagai “kudi”. Bagi mereka yang tidak mengetahui, penduduk asli Pulai Jawa tidak semuanya asli orang Jawa. Sementara di bagian Barat Pulau Jawa mayoritas diduduki oleh etnik Sunda.

Selama ini senjata Kujang telah di abadikan dalam sebuah monumen di pusat kota bekas kerajaan tatar sunda, Kerajaan Pajajaran, yakni di Kota Bogor. Bahkan keberadaan Tugu Kujang ini dapat pula disebut sebagai tuju satu-satunya yang ada di Indonesia.

Kujang penuh dengan misteri. Pasalnya, menurut cerita di dalam senjata Kujang itu memiliki sebuah kekuatan magis dengan maksud yang penuh rahasia (gaib). Menambahkan di dalam figur Kujang yang sesungguhnya, terletak/terdapat suatu filosofi Warisan Hindu. Adalah jelas sekali dari sebelumnya bahwa “pedang” mistik ini telah diciptakan lebih sebagai azimat, a symbolical object d’art, daripada sebagai sebuah senjata.

Selanjutnya, ciptaan asli dari Kujang sebenarnya terinspirasi dari sebuah alat kebutuhan pertanian. Alat ini telah dipergunakan secara luas pada abad ke-4 sampai dengan abad ke-7 Masehi. Kujang terbaru dibuat sedikit berbeda from the tilling implements fashioned by the pandai besi terkenal, Mpu Windu Sarpo, Mpu Ramayadi, dan Mpu Mercukundo, sebagaimana yang dapat kita lihat di museum lokal. Hanya saja pada abad ke-9 sampai abad ke-12 Masehi wujud dari Kujang berbentuk seperti yang dikenal sekarang ini.

Pada tahun 1170 terjadi perubahan pada Kujang. Nilai Kujang sebagai sebuah jimat atau azimat telah diakui secara berangsur-angsur oleh raja dan bangsawan dari Kerajaan Pajajaran Makukuhan, khususnya pada masa pemerintahan Prabu Kudo Lalean. Pada waktu di salah satu tempat bertapanya, Kudo Lalean mendapat ilham untuk mendesain ulang bentuk dari Kujang dengan menyesuaikan bentuknya dengan bentuk dari Pulau “Djawa Dwipa”, yang dikenal sebagai jawa pada saat itu. Dengan segera raja menugaskan keluarga kerajaan pandai besi, Mpu Windu Supo, untuk membuat mata pisau (Kujang) yang ada di dalam pikirannya. Ini telah menaruh sifat-sifat mistik dan filosofi spiritual, sebuah objek bertenaga gaib, unik di dalam desainnya, sesuatu yang pada generasi mendatang akan selalu berasosiasi dengan Kerajaan Pajajaran Makukuhan.

Setelah masa meditasinya, Mpu Windu Supo menetapkan bayangan dari Kudo Lalean (visualisasi) dan memulainya dengan membuat sebuah prototype (bentuk dasar/purwa rupa) Kujang tersebut. Kujang ini memiliki 2 buah karateristik yang mencolok bentuknya yang menyerupai Pulau Jawa dan terdapat 3 lubang di suatu tempat pada mata pisaunya.

Membuat pisau Kujang yang menyerupai bentuk Pulau Jawa mengartikan cita-cita akan penyatuan kerajaan-kerajaan kecil Jawa menjadi satu Kerajaan Makukuhan. Tiga lubang pada pisaunya untuk melambangkan Trimutri, atau tiga aspek Ketuhanan dari agama Hindu, yang juga ditaati oleh Kudo Lalean. Tiga aspek Ketuhanan menunjuk kepada Brahama, Wishnu dan Shiva, Trinitas Hindu (Trimurti) juga digambarkan/diwakilkan dengan 3 kerajaan utama pada masanya, secara berturut-turut, Kerajaan Pengging Wiraradja, berlokasi di bagian Timur Jawa Kerajaan Kambang Putih, berlokasi di north-east of island dan Kerajaan Pajajaran Makukuhan berlokasi di Barat.

Bentuk Kujang berkembang lebih jauh pada generasi mendatang. Model-model yang berbeda bermunculan. Ketika pengaruh Islam tumbuh di masyarakat, Kujang telah dibentuk ulang menyerupai hurus Arab “Syin”. Ini sebagian muslihat dari wilayah Pasundan, Prabu Kian Santang, yang merasa khawatir untuk merubah rakyat menjadi Islam.

Mengetahui bahwa Kujang menyimpan filosofi Hindu dan agama dari kultur yang ada, para raja muslim, imam, sajak (kalimat) syahadat dalam setiap manusia bersaksi akan Tuhan Yang Esa dan Nabi Muhamad sebagai utusan-Nya. Dengan mengucapkan kalimat syahadat, ia (tiap manusia) secara otomastis masuk Islam. Modifikasi Kujang memperluas area mata pisau dimana secara geografis sesuai kepada Pasundan atau Jawa bagian Barat untuk menyesuaikan diri dengan bentuk dari huruf Syin. Kujang model terbaru seharusnya dapat mengingatkan si pemiliknya dengan kesetiannya kepada Islam dan ajaranya 5 lubang ini melambangkan 5 tiang dalam Islam (rukun Islam).

Dengan pengaruh agama Islam, beberapa model Kujang melukiskan inter-blending penghapusan paduan akan 2 style/gaya dasar dari Kujang yang didesain oleh Prabu Kudo Lalean dan Prabu Kian Santang.

Seiring berkembangnya zaman, saat ini Kujang biasa dipajang untuk mendekorasi rumah yang diyakini bisa membawa semacam keberuntungan, memberi perlindungan, kehormatan, dll. Kujang biasanya dipajang berpasangan di dinding mata pisau yang tajam sebelah dalam saling berhadapan. Ini merupakan tabu. Larangan, bagaimanapun, tidak seorangpun boleh mengambil fotonya sedang berdiri diantara 2 kujang tersebut, ini akan menyebabkan kematian terhadap orang tersebut didalam waktu 1 tahun tidak lebih tapi bisa kurang. Saya telah diyakinkan oleh seorang praktisioner senior Kejawen mengenai kebenaran hal ini, sebagaimana beliau telah menyaksikan sendiri.

Kenapa kejadian ini tidak diketahui secara pasti, kita mungkin menganggap ini sebagai takhayul, suatu kebetulan atau synchronicity tetapi di balik setiap fenomena hukum alam dan intelejensi/ kecerdasan > bekerja kita hanya perlu mencaritahu apakah hukum tersebut dan kesiapan fikir/pemikiran tentang kecerdasan metafisika mengarah pada hukum tersebut untuk mengetahui alasan atas keganjilan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2011 in PENINGGALAN

 
 
%d blogger menyukai ini: