RSS

Arsip Kategori: Karya Warga

Berisi Karya Warga dalam bentuk tulisan

GALUH RAHAYU HARI INI

Oleh: Samsul Muarip

KPM Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta dalam hal ini sebagai sebuah organisasi yang secra eastafeta kepengurusan berupaya untuk mewujudkan KPM Galuh Rahayu Yang solid dan bermanfaat bagi warganya. Galuh Rahayu dengan anggota mencapai 800 orang dari berbagai universitas yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tugas dan pungsi sebagai wadah bagi warganya untuknmengembangkan sumberdaya warga agar nantinya ketika terjun kembali kemasyarakat, mereka dapat menjadi motor penggerak dan inspirasi bagai masyarakat di sekitarnya bukan malah jadi beban dan tak menjadi apa-apa.

Perkembangan pola studi yang cenderung cepat  di kampus memerlukan perhatian yang cukup serius bagi para pengurus Galuh Rahayu untuk membuat suatu kegiatan yang bisa dilakukan tanpa harus mengganggu studi sehingga setiap warga dapat mengikuti kegiatan itu dengan tenang. keadaan studi yang cepat ini juga sangat berpengaruh terhadap kepengurusan KPM Galuh Rahayu, sehingga dalam AD/ART nya kepengurusan ditetapkan hanya satu tahun saja berbeda dengan dulu dimana kepengurusan ditetapkan selama dua tahun. dengan waktu yang singkat itu setiap periode kepengurusan harus pandai-pandai mengelola waktu, didalam satu tahun itu semua pengurus dituntut untuk ber adaptasi dengan kultur kepengurusan di Galuh Rahayu,   seluruh pengurus dituntut untuk cepat menyolidkan diri dalam kepengurusan, pengurus dituntut untuk menyiapkan semua rancangan kegiatannya lebih awal agar tidak gerasa-gerusu dalam menjalankannya, pengurus harus cepatdin pintar pintar mencari jaringan dan koneksi baik itu ke pemerintah ciamis, DIY, oganisasi komda lainnya. Dengan waktu yang singkat pengurus dituntut untuk bekerja cepat dan tepat.

Setiap ketua KPM Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta dimana setiap ketuanya diberi gelar PADMANAGARA, dengan kondisi seperti ini harus pintar dan memntukan strategi-strategi jitu dalam periode kepengurusannya agar dalam satu tahun kepengurusannya ia dan rengrengan pengurus laionnya dapat membawa Galuh Rahayu menuju Organisasi yang bermanfaat bagi warganay, warga ciamis, dan masyarkat pada umumnya.

Dalam pemilihan ketua KPM Galuh Rahayu dewasa ini tidak harus melulu harus tua, lama berkiprah di kpm, pernah menjabat di kpm. tapi sosok ketua saat ini yang dibutuhkan adalah sosok yang berpikiran maju, kaum muda yang masih banayk semangat belum repot memikirkan skripsi dll. sekarang bukan eranya lagi belajar lama-lama perlu yang cepat tanggap semisal diadakan pelatihan kepemimpinan dan kegaluh rahayuan, selain memberi bekal ilmu dan praktek kepemingpinan perlujuga di suplai nurani untuk memiliki dan mencintai kpm galuh rahayu ini ya dengan kegaluh rahayuannya selain iyu diadakan sering pengalaman dengan alumni-alimni insyaalah sebelum bertempur di medan laga sudah punya amunisi, cadangan ilmu dan cadangan pengalaman.

semoga galuh rahayu hari ini dan masa yang akan datang tetap berkibar, menjadi wadah dan tempat yang bermanfaaat bagi semua orang….AMIN

 

)*penulis adalah ketua KPM Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta periode 2010-2011 (PADMANAGARA XXI)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 1, 2011 in Opini

 

AJIMANTRA DAN JANGJAWOKAN SEBGAI SASTRA

Seureuh seuri  

Pinang nanggeng
Apuna galugaet angen
Gambirna pamuket angen
Bakona galuge sari
Coh nyay, parupat nyay, loeko lenyay
Cucunduking aing taruk harendong
Cucunduking aing taruk paku hurang
Keuna asihan awaking
Asihan si leuget teureup

Kalimat diatas merupakan jangjawokan yang biasa digunakan urang sunda buhun ketika hendak nyepah (nyeupah), digerenteskeun atau di ucapkan dalam hati. Jangjawokan digunakan pada setiap kali kegiatan, bahkan menjadi tertib hidup. Misalnya untuk bergaul, bekerja sehari-hari, dan berdoa. Laku demikian dimungkinkan karena faktor masyarakat Sunda yang agraris selalu menjaga harmonisasi dengan alam. Konon pula seluruh nu kumelendang dialam dunya dianggap memiliki jiwa.
Tertib dan krama hidup misalnya berhubungan dengan padi (beras). Ada jangjawokan yang digunakan sejak menanam bibit, ngaseuk, tandur, panen, nyiuk beas, nyangu, mawa beas ticai, ngisikan, seperti salah satu contoh dibawah ini :
  • Jampe Nyimpen Beas
  • Mangga Nyi Pohaci
  • Nyimas Alame Nyimas Mulang
  • Geura ngalih ka gedong manik ratna inten
  • Abdi ngiringan
  • Ashadu sahadat panata, panetep gama
  • Iku kang jumeneng lohelapi
  • Kang ana teleking ati
  • Kang ana lojering Allah
  • Kang ana madep maring Allah
  • Iku wuju salamaet ing dunya
  • Salamet ing akherat
  • Asahadu anla ila haileloh
  • Wa ashadu anna Muhammaddarrasolullah
  • Abdi seja babakti kanu sakti, agung tapa
  • Nyanggakeun sangu putih sapulukan
  • Kukus kuning purba herang
  • Tuduh kang seseda tuhu
  • Datang ka sang seda herang
  • Tepi ka kang seda sakti
  • Nu sakti neda kasakten
  • Neda deugdeugan tanjeuran
Contoh lainnya,
  • Jampe Ngisikan (mencuci beras) :
  • Mangga Nyimas Alene Nyimas Maulene
  • Geura siram dibanyu mu’min
  • Di Talaga Kalkaosar
  • Abdi ngiringan
  • Nyi Pohaci Budugul Wulung
  • Ulang jail babawaan kaula
  • Heug
  • Nyi Pohaci Barengan Jati
  • Ulah jail kaniaya
  • Ka Nyi Pohaci Sukma Jati
  • heug
Inilah contoh tertib hidup masyarakat agraris yang menciptakan harmonisasi adapt dengan alam. 

Para Sastrawan Sunda pada umumnya, seperti Wahyu Wibisana, Rus Rusyana, Ajip Rosidi menggolongkan Jangjawokan sebagai bentuk puisi sunda. Yus Rusyana menuangkannya dalam buku Bagbagan Puisi Mantra Sunda (1970), sedangkan Ajip Rosidi dalam Jangjawokan (1970). Tentunya lepas dari benar atau salah tentang pemahaman masing-masing terhadap jangjawokan, namun dengan cara katagorisasi menjadi cabang dari puisi, paling tidak dapat terkabarkan kegenarasi berikutnya, bahwa di tatar ini pernah ada bagian dari budaya Sunda yang disebut Jangjawokan.

Menurut Wahyu Wibisana : jangjawokan sejalan dengan maksud puisi magis yang dikemukakan Yus Rusyana dan pendapat Rachmat Subagya pada Agama Asli Indonesia. Dengan mantra orang berangsur-angsur memulangkan kuasa-kuasa imajiner yang dianggap melanggar atas wewenangnya yang imajiner kepada tempat asal wajar mereka yang imajiner juga.

Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Dengan demikian, hal ini ada pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Cara itulah dengan menggunakan mantra serta segala ketentuannya.

Mengapa Istilah Jangjawokan ?

Wahyu Wibisana dalam SASTRA LAGU : Mencari Hubungan Larik dan Lirik menjelaskan :

Dua buah bentuk puisi sunda yang dapat dikatakan bersifat arkais ialah ajimantra dan bentuk puisi pada cerita pantun. Istilah ajimantra diambil dari naskah kuno Siksa Kandang Karesyan. Sedangkan puisi pada pantuan ada tahun 1518, sama artinya dengan istilah mantra sekarang. Sedangkan puisi pada cerita pantun ada dua yakni rajah dan nataan”.

Jangjawokan suatu arti kata lain dari ajimantra. Istilah ajimantra digunakan dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesyan, ditulis pada tahun 1518 M. Tapi istilah Jangjawokan tidak diketahui sejak kapan. Namun Urang Sunda Tradisional lebih banyak menggunakan istilah Jangjawokan atau ajian ketimbang ajimantra. Mungkin kedua sebutan yang memiliki kesaman makna ini menandakan adanya adaptasi pemahaman, menganggap Jangjawokan (Sunda Buhun) eufimisme dari ajimantra (Sanksekerta).

Ajip Rosidi dalam buku Jangjawokan lebih menekankan pada istilah ini ketimbang mengguna kan kalimat ajimantra, dengan alasan : Istilah ajimantra berasal dari India dan dalam bahasa Sunda tidak pernah digunakan. Dilihat dari segi isinya, Jangjawokan itu berupa permintaan atau perintah agar keinginan sipengguna jangjawokan dilaksanakan oleh nu gaib “makhluk gaib”.

Tapi tanpa mengoreksi paradigma diatas, timbul pertanyaan, apakah benar Jangjawokan itu ajimantra yang dimintakan kepada Makhluk Gaib ?.

Adaptasi bahasa atau keyakinan ?
Sebenarnya untuk mentraslate makna tujuan permohonan dari pelaku jangjawokan mungkin dapat juga ditelusuri melalui penelusuran pemahaman tentang Hyang Tunggal ; Hyang Keresa atau Ketuhanan Yang Maha Esa serta sejarah diri dalam Paradigma Sunda. Karena pemahaman istilah nu gaib tidak selamanya berkonotasi pada makhluk gaib, seperti jin atau makhluk halus, akan tetapi ada juga semacam cara membangkitkan spiritulitas dalam dirinya, seperti paradigma tentang raga ; bathin dan kuring.
Negasi terhadap paradigma diatas dapat dicontohkan, sebagai berikut :.
Ka Indung nu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Ka Indung nu teu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Pangnepikeun ieu hate
Ka Indungna anu nagnadung
Ka Ramana anu ngayuga
Ka Indungna nu teu ngandung
Ka Ramana nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Kalawan kanu ngurus jeung ngaluis si …. (anu) ……
Dst … dst …….
Saya tidak melihat adanya eksistensi nu gaib dari luar dirinya. Dalam kasus lain, bisa jadi ditujukan untuk memperkuat bathinnya, atau semacam ada perintah ingsun kepada bathinnya untuk berkomunikasi dengan ingsun orang lain.

Jika saja yang dimaksud dalam kandungan jangjawokan sama dengan yang dimaksud dalam Pantun Sunda, mengingat keduanya juga dikatarogikan sebagai puisi arkais, hemat saya dapat pula diperbandingkan dengan referensi dari Buku Jakob Sumardjo tentang ‘Khasanah Pantun Sunda’, terutama tentang ‘arkeologi pemkiran’ Urang Sunda Buhun terhadap ‘Trias Politik Sunda’. Tanpa pemahaman yang jelas niscaya “Urang Sunda” akan kehilangan sejarah pemikirannya yang hakiki.

Signal dari paradigma dan muara pernmohonan bisa pula dikaitkan dengan strata pengabdian dalam hirarki pemerintahannya. Misalnya Wado tunduk kepada Mantri ; Mantri tunduk kepada nangganan ; nangganan tunduk kepada mangkubumi ; mangkubumi, tunduk kepada ratu ; ratu tunduk kepada dewata ; dewata tunduk kepada Hyang. Dengan demikian Hyang lah yang tertinggi.

Menurut Edi S Ekajati, dalam Kebudayaan Sunda – Agama dan kepercayaan :

Kekuasaan tertinggi berada pada Sahyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia disebut Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasda Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Jadi dalam pemahaman saya, yang membedakan masalah Keesaan Tuhan dalam Paradigma Urang Sunda Wiwitan dengan yang berikutnya terletak pada Syariatnya. Hal ini wajar, mengingat masing-masing ageman memiliki sejarah dan perkembangannya sendiri.

Dalam tradisi Jangjawokan selanjutnya ditemukan ada sebutan Allah kepada yang dimohonkan. Urang sunda biasanya membaca dengan Alloh. Konsonan “O” nya mani lekoh – khas. Bahkan ada jangjawokan dari Urang Baduy yang menggunakan istilah yang digunakan para pemeluk agama islam, seperti dibawah ini.

Sawer Panganten :

Bismillahirohmanirohim.  

Panggpunten kasadaya,
Kau nu tua ka nu anom,
Sumawon kanu sepuh mah,
Kaula bade nyembahkeun,
Nyi panganten sareng ki panganten.
Atau dalam Sadat Islam :
Sadat Islam aya dua,
Ngislamkeun badan kalawan nyawa,
Dat hirup tangkal iman,
Ngimankeun badan sakujur,
Hudang subuh banyu wulu,
Parentah Kangjeng Gusti,
Nabi Adam pangyampurnakeun badan awaking,
Sir suci,
Sir adam,
Sir Muhammad,
Muhammad Jaka lalana,
Nu aya di saluhuring alam.

Istilah dalam jangjawokan yang banyak disebut-sebut urang sunda Buhun, seperti Allah – Adam dan Muhammad tentunya tidak bisa dilepaskan dari paradigma tentang Dzat – Sifat – dan Manusia itu sendiri. Mungkin juga menandakan adanya unsur kesatuan yang hakiki antara raga, bathin dan kuring-na manusa. Memang menjadi sulit bagi saya membedakan jika masih ada istilah : Jangjawokan itu suatu permohonan (hanya) kepada Makhluk Gaib, bukan kepada Yang Maha Gaib. Tapi syah-syah saja jika digunakan dalam rangka katagorisasi puisi arkais.

Contoh lainnya do’a untuk belajar, atau agar dicerahkan pikiran. Contoh ini saya dapatkan dari Almarhum Bapak Nunung Setiya, demikian :

Allahuma hujud bungbang

Nu hurung dina jajantung
Nu ruhay dina kalilipa
Remet meteng dina angen
Bray padang ….. Alllah.
Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula
Bray padang,
Brya caang,
Caangna salalawasna
Lawasna Saumur kula.

Setelah Bapak Nunung meninggal kemudian saya coba telusuri dari mana asal jangjawokan itu, dan bagaimana pula bahasa aslinya. Pada akhirnya saya menemukan dari salah satu sumber, konon dahulunya berisi, demikian :

Hujud bungbang  

Nu hurung dina jajantung
Nu ruhay dina kalilipa
Remet meteng dina angen
Bray padang,
Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula
Bray padang,
Brya caang,
Caangna salalawasna
Lawasna Saumur kula.

Jika saja yang kedua diatas diyakini bersumber dari jangjawokan yang pertama dan tidak ditemukan kalimat Tauhid, namun dalam bentuk dibawah pun tidak ditemukan adanya unsur yang memintakan kepada makhluk gaib dalam arti diluar (kekuatan) dirinya. Kecuali jika indung mu ngandung dan nu teu ngandung ; bapak nu nungayuga kalawan nu teu ngayuga ; dulur opat kalima pancer dianggap makhluk gaib ?.

Saya justru menafsirkan, dengan dicantumkannya kalimat Tauhid didalam jangjawokan tersebut, justru dikembangkan oleh urang sunda berikutnya, bertujuan memintakan legitimasi dan ijin dari yang Maha Gaib. Setidak-tidaknya bertujuan untuk mengurangi tudingan menduakan Tuhan. Tapi ada benarnya jika urang tua dulu berujar “antara Gusti jeung makhlukna euweuh watesna, leuwih deukeut jeung naon wae, malah masih jauh antara hate jeung urat beuheung”.

Ciri-ciri Jangjawokan

Jangjawokan didalam koridor satra puisi arkais didefinisikan, sebagai : permintaan atau perintah agar keinginan (orang yang menggunakan jangjawokan) dilaksanakan oleh nu gaib “makhluk gaib” sebatas ini mudah dipahami, yakni para pengguna jangjawokan menggunakan makhluk gaib untuk mencapai keinginannya. Namun tidak dapat dipungkiri jika ditemukan pula jangjawokan yang menggunakan bacaan sebagaimana lajimnya digunakan oleh urang sunda yang beragama islam (lihat Sadat Buhun), dikatagorikan do’a, bukan jangjawokan. Namun apakah tidak ada jangjawokan bukan do’a ?.

Pemilahan jangjawokan dengan do’a dimungkinkan terjadi jika jangjawokan dikatagorikan sebagai bagian dari puisi sunda (arkais), serta dibahas dalam kacamata sastra. Indikator jangjawokan ditentukan berdasarkan kacamata sastra. Namun boleh saja jika jangjawokan dilihat dari kacamata lainnya. Karena ketika seseorang mengucapkan jangjawokan tentu tujuannya bukan untuk membaca puisi.

Jangjawokan diyakini memiliki kekuatan magis. Kemungkinan kekuatan dari kandungan magis yang dirasakan nyaman menyebabkan jangjawokan ditularkan secara turun temurun. Jangjawokan tidak mungkin bisa bertahan dan terkabarkan hingga sekarang jika tidak dirasakan manfaatnya dan diyakini kekuatannya. Yang jelas ada harmoni manusia dengan alamnya ketika jangjawokan itu dibacakan.

Peran jangjawokan bisa diasumsikan keberadaanya sebelum kemudian diserahkan kepada para penyembuh modern, seperti dokter ; psikolog ; atau profesi apapun yang terkait dengan masalah penyembuhan fisik dan psikis. Jangjawokan digunakan pula dalam keseharian, sebagai bagian dari tertib hidup, seperti pada kegiatan sebelum buang air dan kegiatan lainnya.

Jangjawokan dalam jenis ini bisa ditemukan dalam Jampe Kahampangan (Jampi hendak buang air kecil) ; Jampe Kabeuratan (hendak buang air besar) ; Jampe Neda (Jampi sebelum makan) ; Jampe Masamon (Jampi bertamu) dll. Konon kabar, kekuatan dari magisnya terletak pada kebersihan hati si pelafalnya dan kesungguhan bagi para penggunannya. Namun saya tidak bisa terlalu jauh masuk untuk mengetahui pengaruhnya, biarlah ini merupakan bagian dari bidang l.ainnya.
Wahyu Wibisana, mengkatagorikan: ”ajimantra (baca : Jangjawokan) merupakan sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda kuno. Dikatakan ’pernah digunakan’ dan ’pernah muncul’, karena memang saat ini kebanyakan orang sunda sudah tidak menggunakan dan sekaligus tidak mempercayai ajimantra. Hanya saja, sebagai karya sastra (yang umumnya berbentuk lisan) tetap merupakan genre tersendiri dalam sastra Sunda seperti juga pada sastra daerah lainnya di Nusantara.”.
Dari pernyataan diatas, saya yakin Kang Wahyu masih menganggap bahwa masih ada masyarakat Sunda yang menggunakan jangjawokan. Kitapun lantas tidak bisa menafsirkan masyarakat pengguna jangjawokan sebagai masyarakat ketinggalan jaman, karena realitasnya masih nyaman untuk digunakan. Dengan dimasukannya ajimantra sebagai bagian dari puisi maka masih bisa ditelusuri dan terkabarkan beritanya kepada generasi berikutnya. Setidak-tidaknya katagorisasi ini dapat menyelamatkan jangjawokan sebagai asset budaya bangsa, sekalipun hanya dinikmati sebagai karya seni, tidak pada unsur magisnya.

Ciri-ciri Jangjawokan.
Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana memiliki ciri-ciri, yakni :

  1. menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti : Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari dll.
  2. dalam kalimat atau frase yang menyatakan si pengucap janjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, otomatis berhadapan dengan pihak yang lemah.
  3. berhubungan dengan konsvensi puisi, merupakan kelanjutan dari gaya Sastra Sunda Buhun dan cerita Pantun, yakni adanya desakan atau perintah, disamping himbauan, tegasnya bersifat imperative dan persuasif.
  4. masih berhubungan dengan konvensi puisi, adanya rima-rima dalam jangjawokan. Rima-rima dimaksud memiliki fungsi estetis ; membangun irama ; fungsi magis ; fungsi membuat ingatan orang yang mengucapkan.
  5. adanya lintas kode bahasa pada ajimantra yang hidup di Priangan dan Baduy. Bahasa jangjawokan tersebut diserap seutuhnya atau disesuaikan dengan lidah pengucapnya.
  6. terkesan sebagai sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda.
Ciri-ciri diatas tentunya dilihat dari katagori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais sunda. Jadi wajar jika ada tekanan tujuan dari materi jangjawokan ; gaya sastra dan gaya bahasa ; rima-rima ; dan kelahirannya paska sastra sunda.
Penyebutan Kuasa Imajiner
Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya, sebagaimana dalam Jangjawokan.
Nama-nama kuasa imajiner yang dimaksudkan tentunya sangat terkait dengan istilah-istilah yang digunakan urang Sunda Buhun. Seperti Pohaci Sanghyang Asri ; Batara dan Batari ; Sri Tunggal Sampurna ; Malaikat Incer Putih ; Raden Angga Keling ; Ratu Teluh ti Galunggung ; Sang Ratu Babut Buana. Penyebutan kuasa imajiner tersebut, seperti contoh dibawah ini :

Jampe Masamoan
Nu ngariung jiga lutung
Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandahna !
Maung pundung datang turu
Badak galak datang depa
Galudra di tengah imah
Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.

Jampe masamoan diatas bertujuan agar memiliki kekuatan yang tersinari pohaci yang ada didalam dirinya. Bahkan ada semacam perintah bathin kepada siapapun yang ada ditempat pasamoan tersebut untuk tunduk dan menerima kehadirannya. Mungkin juga dapat ditafsirkan adanya perintah bathin orang yang hendak bertamu kepada bathin pihak”nu dipasamoan’.
Contoh perintah bathin ini dapat dilihat dari asihan asihan seperti dibawah ini, sebagai berikut :

Ka Indung anu ngandung
Ka Rama anu ngayuga
Ka Indung nu teu ngandung
Ka Rama anu teu ngayuga
kadulur opat kalima pancer
Pang nepikeun ieu hate
Ka Indung na anu ngandung
Ka Rama na anu ngayuga
Ka Indung na nu teu ngandung
Ka Rama na anu teu ngayuga
Kadulur na opat kalima pancer
Kalawan kanu ngurus ngaluis hirup jeung huripna… (sianu) …….
Pamugi sing ……….

Jangjawokan diatas terasakan adanya perintah bathin (rasa) dari pembaca jangjawokan kepada bathin (rasa) orang yang dituju untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Perintah dan urusan koridor bathin ini sangat nampak ketika pemohon memerintahkan bathinnya untuk menyampaikan kepada bathin tujuannya. Seperti ada eksistensi indung dan bapak anu ngandung kalawan nu teu ngandung. Kemudian disebut pula eksistensi dari saudara yang empat dan pancernya.
Dalam konteks yang sama ditemukan pula istilah-istilah spiritual yang lajim digunakan orang sunda penganut agama islam. Sehingga kuasa imajiner jika ditafsirkan sebagai sesuatu yang gaib atau makhluk terasa menjadi rancu jika kita membaca jangjawokan seperti dibawah ini.

Jampe Unggah
Ashadu sahadat bumi
Ma ayu malebetan
Bumi rangsak tanpa werat
Lan tatapakan ing Muhammad
Birahmatika ya arohmana rohomin

Jampe Turun
Allohuma ibu bumi
Medal tapak tatapakan
Turun wawayanging ing Muhamad
Birahmatika ya arohma rohimin.

Jika saja ditelaah lebih lanjut dari kedua jangjawokan terakhir, saya sendiri menjadi maklum, bahwa permohonan bathin kepada sesuatu ”Yang Gaib” dimintakan ijin terlebih dahulu kepada ”Yang Maha Gaib”, atau dapat juga disimpulkan bahwa atas kehendak yang Maha Gaib maka Yang Gaib itu bisa diperintahkan.
Istilah ”Nu Gaib” disini tentunya menimbulkan pertanyaan, Nu Gaib anu mana ?. Mungkin alangkah lebih bijaknya jika mendefinisikan jangjawokan dengan cara menggunakan paradigma dari para penggunanya, yakni masyarakat Sunda Buhun. Dalam paradigma masyarakat Sunda Buhun, terutama ketika mengkaji dan menemukan sejarah diri akan terungkap ada tiga unsur yang menyebabkan manusa hirup jeung hurip, yakni unsur lahir (raga) ; bathin (hidup) dan kuring (aku). Kuring atau aku bertindak sebagai driver bagi lahir dan bathin, bagi raga jeung hirupna. Aku pula yang memanaje raga dan bathin.
Dari paradigma tersebut tentunya dapat disimpulkan, bahwa nu gaib itu bukan sesosok makhluk yang ada diluar dirinya, melainkan nu ngancik dina dirina.
Pemberi perintah

Dalam jangjawokan, si pengguna bertindak sebagai pemberi perintah bathin, paling tidak sebagai pihak yang ‘menginginkan’ sesuatu. Oleh para sastrawan diposisikan sebagai pihak yang lebih kuat terhadap penerima perintah. Misalnya :

Nu ngariung jiga lutung

Nu ngarendeng jiga monyet
Nya aing mandahna
…………..
kakeureut ka sieup ku pohaci awaking

Atau : 

Curuk aing curuk angkuh

Bisa ngangkuh putra ratu
……
mangka reret soreang
soreang ka badan awaking

Sipemberi perintah hemat saya tidak selamanya memposisikan diri sebagai pihak yang lebih kuat, karena ada juga kecenderungan kalimat yang dapat ditafsirkan sebagai permohonan atau himbauan, bukan perintah. Jika perhadapkan dengan yang kuat dan yang lemah, maka sangat tepat jika ia sebagai pihak yang lebih rendah dan sedang menginginkan sesuatu.

Tipe jangjawokan semacam diatas, seperti dibawah ini :

Jampe nyimpen Beas

Mangga Nyi Pohaci
Nyimas Alane Nyimas Mulane
Geura ngalih ka gedong manik ratna inten
Abdi ngiringan …………….

Dari kalimat tersebut lebih jauh dari unsure memerintah. Sekalipun menaruh harapan besar untuk melakukan. Namun lebih tepay jika dikatagorikan membujuk untuk melakukan. Contoh lainnya, seperti dalam Jampe ngisikan : Mangga Nyimas Alene Nyimas Mulane – Geura siram dibanyu mu’min – Di Talaga Kalkaosar – Abdi ngiringan ……dst”.

Saya menemukan beberapa kasus. Untuk jenis jangjawokan tertentu, seperti pangabaran atau asihan, penyatuan bathin dan kandungan jangjawokan dilakukan melalui proses ‘kuru cileuh kentel peujit’. Mungkin ini untuk menumbuhkan kesungguhan dan keteguhan hati serta keyakinan agar tujuan tersebut bisa dicapai. Dalam temuan saya (mungkin suatu kebetulan), dilakukan pula oleh masyarakat yang bukan penganut ajaran Sunda Buhun.

Cara-cara dan budaya demikian bukan hanya dilakukan oleh ‘urang sunda buhun’ bahkan sampai sekarang masih ada yang melakukannya. Misalnya melakukan dengan cara berpuasa dalam jumlah hari tertentu ; melakukan wirid ; atau melakukan shalat malam. Sedangkan ukuran keberhasilannya tidak sama dengan peta pengalaman seperti makan rawit, langsung terasa pedasnya, atau bisa dinikmati.

Penekanan perintah
Dalam jangjawokan sering ditemukan pengulangan perintah atau semacam ‘penegasan perintah untuk dilaksanakan’. Perintah ini bersifat imperatif atau persuasif, misalnya :

Bray padang, Bray caang
Caangna salalawasna,
lawasna Saumur kula
……………………………
mangka langgeng mangka tetep
mangka hurip kajayaan

Kalimat ini tentunya bukan sekedar penegasan, namun dapat juga diartikan sebagai kesungguhan untuk mencapai apa yang dikehendakinya.

Penutup
Sebenarnya sangat sulit mendifinisikan jangjawokan, kecuali dari kandungan keinginan yang termaktub didalam jangjawokan itu sendiri. Jika dinyatakan meminta kepada makhluk gaib, namun yang ditemukan adalah upaya menguatkan bathin, bahkan ada negasi tentang eksistensi Tuhan. Kemudian, jika saja dinyatakan sebagai perintah, itupun sulit diderfinisikan, mengingat ada pula jangjawokan yang isinya memohon atau menghimbau.

Jangjawokan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia Sunda. Memiliki akar kesejarahan yang mandiri. Sejalan dengan perkembangan dan sejarah pemahaman tentang keyakinan dan sejarah diri, bahkan pernah dirasakan manfaatnya. Jangjawokan bukan sekedar puisi yang dapat dinikmati kata-katanya, namun sebagai sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan. Biarlah jangjawokan ‘diampihan’ sebagai puisi, agar tidak hilang dan dapat terkabarkan dikemudian hari.

Mun seug tea mah aya nu nyungsi rusiah jangjawokan, dipaluruh nepi ka wates wangenna. Tinangtu bakal panggih jeung sajatining hirup jeung huripna. Nu gaib lain makhluk nu misah tina ingsunna. Nu ngulon, ngaler, ngetan jeung ngidul, lain nu nyengkal tina pancerna. Sakabehna aya na hate jeung rasana, aya dina uteuk jeung pikiranana. Ibarat gula jeung amisna, uyah jeung asinna, ngajirim ngajadi hiji, kalawan tinekenan bakal kabuka rusiah, saha ari urang ? timana ari urang ? jeung rek kamana ari urang ?. Sabab mun manusa geus wawuh jeung dirina tinangtu bakal wawuh ka Gusti na.(Cag)

DARI:http://tuturussangrakean.blogspot.com/2008/10/ajimantra-jangjawokan.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in Sastra

 

CIAMIS PULANGKEUN DEUI KA GALUH

Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A.*

Balaréa di Tatar Sunda umumna pada apal, yén daérah jeung pamaréntahan
Ciamis, baheulana disebut Galuh. Dina mangsa awal gelarna, Galuh téh ngaran hiji
karajaan di Tatar Sunda. Leungit gelar karajaan, ganti jadi kabupatén. Sanggeus jadi
kabupatén, ngaran Galuh diganti jadi Ciamis (1915).
Karajaan Galuh diadegkeun ku Wretikandayun dina awal abad ka-7 M.
Puseur dayeuhna ogé sarua disebut Galuh (tempat anu ayeuna disebut
Karangkamulyan, sakiduleun puseur dayeuh Ciamis). Karajaan jeung puseur
dayeuhna dingaranan Galuh, dumasar kana kecap “galuh” anu ngandung harti
permata.
Galuh sabagé karajaan lumangsung dina waktu kacida lilana, nyaéta nepi ka
akhir abad ka-16 M. Dina tahun 1595 Galuh kaeréh ku Mataram. Kadudukanana
robah tina karajaan jadi kabupatén vassal (patalukan) Mataram. Antara tahun 1705
nepi ka akhir abad ka-18 M., Kabupatén Galuh aya dina kakawasaan Kompeni
(VOC). Ti mimiti awal abad ka-19 M., Kabupatén Galuh ku Pamaréntah Hindia
Walanda diasupkeun ka wilayah Karesidénan Cirebon nepi ka taun 1915.
Waktu Kabupatén Galuh diparéntah ku Bupati R.T.A. Sastrawinata (1914 –
1935), éta kabupatén dikaluarkeun deui ti wilayah Karesidénan Cirebon sarta
diasupkeun ka wilayah Karesidénan Priangan. Nya harita pisan (taun 1915) sacara
resmi, Galuh sabagé ngaran daérah jeung pamaréntahanana diganti jadi Ciamis.
Sanajan kitu, ngaran Galuh tetep nyantél dina ati sanubari urang Galuh tug
nepi ka kiwari. Dina kahirupan masyarakat, kecap “Galuh” dipaké ngaran mangruparupa
widang kagiatan. Contona, jadi ngaran paguron luhur nyaéta Universitas
Galuh); ngaran organisasi atawa pakumpulan, kayaning Wargi Galuh, Yayasan
Galuh Taruna, Asrama Mahasiswa Galuh (di Yogyakarta), jeung réa-réa deui. Hal
+) Dimuat dina Mingguan GALURA, Nov. 2003 & Majalah CUPUMANIK, No. 8 Th. I, Maret 2004.
2
éta ngébréhkeun yén urang Galuh leuwih reueus ngagunakeun ngaran Galuh batan
Ciamis. Pikeun urang Galuh mah, éta kareueus téh beunang disebutkeun natrat
sapanjang zaman, lain pédah kiwari loba urang Sunda anu ngadurenyomkeun deui
masalah jati diri.
Naon sababna urang Galuh leuwih reueus ngagunakeun ngaran Galuh batan
Ciamis? Sikep masyarakat anu ngébréhkeun kapengkuhan kana jati dirina, sakuduna
meunang panowéksa (perhatian) ti pamaréntah daérah, luyu jeung kawajiban
pamaréntah, nyaéta ngayomi jeung merhatikeun aspirasi masyarakat. Pamikiran éta
pisan anu ngahudang ayana pameredih anu jadi judul ieu tulisan.
Pikeun ngajawab éta pananya, tinangtu kudu dipaluruh kasang tukangna.
Kecap Galuh jeung Ciamis kudu dikanyahokeun asal-usul jeung hartina, sarta ajén
anu tumerap dina éta kecap (ngaran).
Asal-usul Kecap Galuh jeung Ciamis
Dina basa Sansakerta, kecap “galu (h)” miboga dua harti. Kahiji, sabangsa
batu permata. Kadua, putri raja anu masih kénéh lajang, tapi geus nyekel
pamaréntahan. Aya ogé anu nyebutkeun yén kecap “galuh” hartina sarua jeung
“galeuh”, nyaéta bagian tengah (inti) tangkal kai anu pangteuasna. Pamanggih séjén
nyebutkeun yén kecap “galuh” babandinganana jeung “galih”, nyaéta jeroning pikir.
“Galih” téh “galeuhna” kalbu (ati sanubari). Ari W.J. van der Meulen (sajarawan
Walanda) nyebutkeun yén kecap “galuh” asalna tina kecap “sakaloh”, anu hatina “ti
walungan asalna”. Harti “galuh” nu mana anu bener? Gumantung kana dilarapkeunana
éta kecap.
Kumaha ari kecap Ciamis? Ti mana asal-usulna jeung naon hartina? Ciamis
asalna tina dua kecap, nyaeta “ci” jeung “amis”. Kecap “ci” nuduhkeun cai. Éta
kecap memang ilahar dijadikeun bagian awal ngaran tempat anu ngabogaan loba
sumber cai (walungan jeung sajabana). Di daérah Ciamis ogé loba walungan jeung
sumber cai séjénna. Kecap “amis” dina basa Sunda nuduhkeun rasa, saperti rasa gula
atawa madu. Tapi dina basa Jawa mah, kecap “amis” téh nuduhkeun bau hanyir,
saperti hanyir getih, hanyir lauk atawa daging, jsté.
3
Pikeun muguhkeun naha kecap “galuh” jeung “ciamis” ngabogaan ajén dina
kahirupan masyarakat Galuh (Ciamis), tinangtu kudu dicukruk galurna dipapay
raratan sajarah digunakeunana éta kecap (ngaran) dina kahirupan urang Galuh
(Ciamis), ti bihari tug nepi ka kiwari.
Numutkeun Wawacan Sajarah Galuh, di tatar Sunda, kecap (sebutan)
“galuh” geus dipaké ti mimiti zaman méméh sajarah (prasejarah). Mimitina éta
kecap dipaké ngaran ratu, nyaéta Ratu Galuh. Sanggeus ngéléhkeun bangsa siluman,
Ratu Galuh ngadegkeun nagara di Lakbok. Saterusna, kecap “galuh” digunakeun
dina ngaran nagara anu diadegkeun ku Ratu Galuh, nyaéta Bojonggaluh, minangka
gaganti nagara Lakbok. Éta nagara pernahna di daérah patimuan walungan Cimuntur
jeung walungan Citanduy, tegesna di Karangkamulyan ayeuna (tempat di sakiduleun
puseur dayeuh Ciamis).
Carita Ratu Galuh lain sajarah, tapi dongéng, sabab Ratu Galuh lain tokoh
dina sajarah, tapi tokoh dina mitos. Ku sabab éta mitos sumebar di masyarakat sacara
turun-tumurun, teu karasa éta mitos téh jadi “sajarah” anu ditarima ku masyarakat
(accepted history dina istilah basa Inggrisna mah).
Ajén Galuh jeung Ciamis dina Sajarah
Galuh sabagé ngaran resmi daérah jeung pamaréntahanana, mibanda ajén
sajarah anu luhur, pangpangna Galuh dina zaman karajaan. Ari sababna, Galuh ti
mimiti jadi karajaan nepi ka jadi kabupatén, ngawengku waktu anu kacida lilana
(awal abad ka-7 nepi ka akhir abad ka-16 M.). Dina mangsa éta, Galuh beunang
disebutkeun aya dina zaman kajayaan. Kajayaan Galuh anu kacida punjulna nyaéta
waktu puseur karajaan aya di Kawali, pangpangna dina mangsa pamaréntahan Prabu
Niskala Wastu Kancana. Hal éta diébréhkeun dina Prasasti Kawali I. Dina éta
prasasti aya kalimat anu unina kieu :
“….. nu siya mulia tanpa bhagya parebu raja wastu mangadeg di kuta kawali, nu
mahayu na kadatuan surawisesa ….. nu najur sagala desa …..“. Hartina : “….. nu
mulya pertapa nu bagja Prabu Raja Wastu, nu maréntah karaton Surawisésa ….. nu
ngawalgrikeun sanagara …..”.
4
Kalimah anu dijadikeun motto ku Pemda Kabupaten Ciamis ayeuna, nyaéta
“Pakena gawe rahhayu pakeun heubeul jaya di buana”, taya lian kalimah panutup
dina Prasasti Kawali I. Éta kalimah téh bagian tina falsafah kagaluhan anu mangrupa
amanah, sabab harti éta kalimah téh “kudu ngabiasakeun migawé (milampah)
kahadéan sangkan lila jaya di dunya”.
Sajaba ti kitu, Galuh ogé ngabogaan ajén falsafah, nyaéta “Falsafah
Kagaluhan”. Éta falsafah dumasar kana pamadegan Prabu Haurkuning. Kusabab
kitu, éta falsafah disebut ogé “Élmu Kagaluhan Haurkuning”. Inti Falsafah/Élmu
Kagaluhan nya éta pamadegan, di antarana pamadegan yén “hirup kumbuh téh kudu
didasaran ku silih asih. Ananging hirup téh teu cukup ku asih baé, tapi kudu dipirig
ku budi pekerti anu hadé. Kudu aya pamilih antara hadé jeung goréng. Ari nu sok
kaseungitkeun téh taya lian anging anu berbudi”.
Sajaba ti ngandung ajén falsafah, kecap “galuh” bangun miboga daya magis.
Bisa jadi hal éta balukar tina sumebarna mitos Ratu Galuh di masyarakat. Sanggeus
Galuh jadi kabupaten, Galuh tetep ngabogaan ajén, tapi henteu luhur saperti keur
zaman karajaan. Kituna téh kaharti, sabab harita Galuh jadi daerah jajahan. Tapi
Kabupaten Galuh kungsi némbongkeun kamekaran, nyaéta dina mangsa pamaréntahan
Bupati R.A.A. Kusumadiningrat (1839 – 1886), anu katelah Kangjeng Prebu.
Dina mangsa éta pamor Galuh cukup luhur.
Kumaha ari Ciamis? Kecap atawa ngaran Ciamis ogé ngabogaan ajén, sabab
éta kecap atawa ngaran téh milu mangung di sajarah. Ana pon kitu, lamun
dibandingkeun jeung Galuh, ajén anu dipiboga ku kecap/ngaran Ciamis leuwih
handap batan Galuh. Aya sababaraha faktor anu matak ngurangan ajén Ciamis.
Kahiji, asal-usul kecap Ciamis basajan pisan. Kadua, kecap Ciamis henteu
ngabogaan harti anu jero sarta henteu ngandung ajén falsafah saperti kecap “galuh”.
Katilu, kecap/ngaran Ciamis dipaké ngaganti Galuh, nepi ka kiwari tacan kakoréh,
naon alesanana jeung tujuanana. Lamun kecap Ciamis jolna ti urang Galuh, tangtu
“amis” anu dimaksud nyaéta harti “amis” dina basa Sunda. Kana hal naon éta kecap
“amis’ téh dilarapkeunana? Sanajan di Galuh aya daérah-daérah anu ngahasilkeun
gula kawung, tapi Galuh henteu disebut daérah produsen gula. Lamun kecap “amis’
dina harti kiasan, kiasan tina naon?
5
Sakumaha geus disebutkeun, kecap “amis” dina basa Jawa nuduhkeun bau
hanyir. Loba nu nyebutkeun, yén kecap Ciamis dilarapkeun jadi ngaran daérah anu
asalna Galuh, cenah mimitina mah diucapkeun ku urang Jawa (Mataram). Urang
Mataram nyebut kitu dumasar kana kayaan di Galuh. Dina hiji waktu di puseur
Galuh kaambeu bau hanyir getih. Éta getih téh getih manusa. Mémang di daérah
Galuh kungsi aya kajadian anu ngabalukarkeun ambayabahna getih manusa anu
bobor karahayuan dina adu jurit atawa dihukum mati ku pihak Mataram. Kajadian
anu ngabalukarkeun di Galuh bajir getih, di antarana nyaéta tragedi di Ciancang
(Utama) taun 1739 anu katelah “Bedah Ciancang”. Harita Ciancang dirurug ku
mangréwu-réwu barandal ti Banyumas. Mangratus-ratus barandal akhirna tiwas ku
prajurit Ciancang anu dibantuan ku pasukan ti Sukapura, Limbangan, Parakanmuncang
jeung Sumedang.
Lamun seug bener yén sebutan Ciamis anu jolna ti urang Mataram téh
dumasar kana banjir getih anu kungsi kajadian di Galuh, hartina sebutan Ciamis téh
ngandung panghina. Naha urang Galuh narima kitu baé kana éta panghina?
Dumasar kana hal-hal anu geus disebutkeun, kecap Galuh leuwih loyog,
leuwih merenah dipaké deui ngaran daérah jeung pamaréntahan anu ayeuna disebut
Ciamis. Cindekna mah, ngaran Ciamis ganti deui ku Galuh! Éta pamikiran asana
henteu kaleuleuwihi, sabab luyu jeung ajén Galuh anu nepi ka kiwari dipikareueus ku
urang Galuh.
Hapunten, sanés “goong nabeuh maneh” sareng “agul ku payung butut”, eta
pamikiran kungsi dikedalkeun ku sim kuring dina pasamoan Wargi Galuh tanggal 19
Januari 2003 anu diayakeun di Aula Unpad Jalan Dipati Ukur 35 Bandung.
Kabeneran éta pasamoan diluuhan ku gegedén ti Pemda Ciamis, nyaéta Bapa Bupati
sareng Bapa Sekda. Mugia baé aranjeuna masihan perhatosan, sabab sabagian Wargi
Galuh anu hadir dina éta pasamoan, narima kalayan daria kana pamikiran sim kuring.
Teu mustahil, anu boga pamikiran kitu téh sanés sim kuring wungkul.
Lamun wargi Galuh reueus kana ngaran Galuh, lain ngandung harti yén urang
Galuh ngabogaan sikep sukuisme. Éta sikep téh wajar tapi luhung, sabab
ngébréhkeun sikep ngamumulé jati diri, teu lali ka purwadaksina. Urang Galuh kudu
miboga tabéat anu loyog jeung falsafah kagaluhan.
6
Dumasar kana kecap “galuh” anu miboga harti nu jero — iwal ti harti anu
disodorkeun ku van der Meulen — jeung ajén nu luhur, sacara teori, ngaran Galuh
bisa jadi pameungkeut pageuhna “kaduluran”, khususna di antara sasama urang
Galuh. Eta potensi téh cukup penting hartina pikeun otonomi daérah (otda), sabab
otda ngandung harti kudu ngamangpaatkeun sagala daya nu aya di daérah, kaasup
sdm (sumber daya manusa).
Mugia asal ngaran Galuh balik deui ka Galuh, tinekanan.
Bandung, 8 November 2003
*Sajarawan Fakultas Sastra Unpad asal Galuh/
Anggota Pangurus Pusat Studi Sunda
7
Numutkeun galur sajarah, Galuh mimitina hiji daerah bawahan Karajaan
Tarumanagara anu ngadeg dina abad ka-5 Maséhi. Saterusna, Galuh jadi hiji
karajaan. Sakumaha anu geus disebutkeun, Karajaan Galuh diadegkeun ku
Wretikandayun awal abad ka-7 M. Mimiti taun 670, Galuh jadi karajaan mandiri,
leupas tina kakawasaan Karajaan Tarumanagara, anu harita geus jadi Karajaan
Sunda. Wilayah Karajaan Galuh harita ngawengku daerah anu aya di wetaneun
walungan Citarum.
Sanggeus mandiri, Karajaan Galuh boga hubungan jeung Karajaan Kalingga
di JawaTengah. Eta hubungan didasaran ku tali jodo (perkawinan) antara putra
mahkota Galuh jeung putri mahkota Kalingga. Dumasar kana eta kajadian, naha
make aya nu nyebutkeun, lalaki Sunda teu meunang (pamali) kawin ka awewe Jawa?
Hubungan antara Galuh jeung Kalingga ngabalukarkeun kauntungan pikeun Galuh.
Tempat-tempat anu make ngaran Galuh, nyaeta Rajagaluh (Majalengka), Galuh
(Purbalingga), Sirah Galuh (Cilacap), Galuh Timur (Buniayu), Segaluh jeung
walungan Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), jeung Ujung (Hujung) Galuh
di Jawa Timur, bisa jadi eta tempat-tempat teh kungsi aya dina kakawasaan Galuh.
Waktu Galuh diparentah ku Rahiyang Sanjaya (723 – 732), Karajaan Galuh
dihijikeun jeung Karajaan Sunda. Kituna teh ku sabab Sanjaya jadi minantu Raja
Sunda Maharaja Tarusbawa tur dipasrahan pamarentahan. Nepi ka mangsa
pamarentahan Rahiyang Tamperan, anak Sanjaya, puseur dayeuh Galuh aya di Galuh
(Karangkamulyan ayeuna). Dina mangsa pamarentahan Rahiyang Banga, anak
Tamperan, puseur karajaan pindah ka Pakuan Pajajaran (kira-kira dayeuh Bogor
8
ayeuna). Ku saba kitu, eta karajaan biasa disebut Karajaan Pajajaran. Harita di Galuh
tetep aya pamarentahan karajaan.
Dina abad ka-14 nepi ka akhir abad ka-15 M., puseur dayeuh Karajaan
Sunda-Galuh aya di Kawali (Astana Gede Kawali ayeuna). Di eta tempat diadegkeun
karaton anu dingaranan Surawisesa. Salila puseur karajaan aya di Kawali, Karajaan
Sunda-Galuh diparentah ku tujuh raja sacara turun-tumurun, mimiti Linggadewata
(1311 – 1333) nepi ka Dewa Niskala (1475 – 1482). Waktu puseur karajaan aya di
Galuh jeung di Kawali, Karajaan Sunda-Galuh aya dina mangsa kajayaan. Pamor
Galuh waktu harita kacida luhurna, sabab karajaan ngawengku wilayah kakawasaan
anu lega. Beunang disebutkeun, nya harita Galuh jadi “galeuh” na Tatar Sunda.
Dina mangsa pamarentahan Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), puseur
karajaan pindah deui ka Pakuan Pajajaran. Ti harita, beunang disebutkeun Karajaan
Galuh pisah deui jeung Karajaan Sunda (Sunda-Pajajaran). Puseur Karajaan Galuh
balik deui ka Galuh. Karajaan Sunda-Pajajaran runtag dina taun 1579 ku pangrurug
pasukan Banten dina raraga nyebarkeun agama Islam. Ari Karajaan Galuh tetep
ngadeg, diparentah ku Prabu Sanghiyang Cipta di Galuh (1580 – 1595), anak Prabu
Haurkuning. Ngeunaan Prabu Haurkuning masih keneh poekeun, sabab katerangan
ngeunaan eta raja karek saeutik pisan anu kapanggih. Bisa jadi Prabu Haurkuning
marentah Galuh sazaman jeung pamarentahan Nusiya Mulya (1567 – 1579), raja
Sunda-Pajajaran anu panutup.
Ti mimiti kaereh ku Mataram, pamor Galuh turun, tina karajaan jadi
kabupaten. Ti harita Galuh jadi daerah jajahan, nyaeta jajahan Mataram (1595 –
1705) diteruskeun ku Kompeni (1705 – 1799). Saterusna Galuh aya dina kakawasaan
9
Pamarentah Hindia Walanda nepi ka awal taun 1942 jeung pendudukan Jepang (1942
– 1945).
Sanggeus Galuh jadi kabupaten, pamarentahan lumangsung di Garatengah
(daerah Cineam ayeuna) anu dijadikeun dayeuh (ibukota) kabupaten. Saterusna
dayeuh kabupaten pundah-pindah. Ti Garatengah pindah ka Calingcing (samentara
waktu), terus ka Bendanegara (Panyingkiran). Waktu Adipati Jayanagara (Mas
Bongsar) jadi Bupati Galuh, tanggal 12 Juni 1642 puseur kabupaten dipindahkeun
deui ka Barunay (daerah Imbanagara ayeuna). Tanggal ieu pisan anu ayeuna dipake
titimangsa (hari jadi) Kabuapten Ciamis.
Numutkeun sim kuring, tanggal 12 Juni 1642 henteu merenah dijadikeun
titimangsa ngadegna Kabupaten Ciamis. Alasanana jelas pisan. Tanggal eta mah
kapan tanggal pindahna ibukota kabupaten ti Panyingkiran ka Imbanagara. Ari
Kabupaten Ciamis anu asalna Kabupaten Galuh, kapan ngadegna teh jauh samemeh
tanggal eta. Sakuduna hari jadi eta kabupaten diganti ku tanggal anu loyog jeung
kajadianana. Lamun henteu diganti, hartina urang mere warisan ka generasi panerus,
sajarah anu salah.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2010 in Opini

 

Ronggeng Gunung Seni Buhun Kab Ciamis

Ronggeng Gunung, sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya, dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utama, seorang perempuan, dilengkapi sebuah selendang. Fungsi selendang, kadang untuk kelengkapan dalam menari. Tapi juga bisa untuk “menggaet” lawan–biasanya laki-laki–untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke leher sang lawan.

Untuk pola gerak Ronggeng Gunung, dipandang menjadi akar ronggeng pakidulan, nayaga yang mengiringinya (penabuh gamelan) cukup tiga orang. Hanya dengan bonang, gong, dan kendang, dan sejumlah lelaki yang mengelilingi penari, Ronggeng Gunung sudah bisa digelar. Biasanya, lelaki yang mengelilingi penari itu punya ciri khas, bagian kepala ditutup menggunakan sarung. Sehingga yang terlihat hanya bagian muka saja.
Lagu yang dilantunkan penari ronggeng pun sangat unik dan khas. Para pengamat seni menilai alunan suaranya sangat spesifik. Dan tidak ditemukan dalam kawih atau tembang Sunda lain.
Awalnya Ronggeng Gunung berbau maut. Kesenian tradisional Ciamis Selatan itu, merupakan seni bertempur yang cerdik. Konon, orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan.
Siasat itu, konon diilhami dendam Dewi Rengganis. Pasalnya suami tercinta, Raden Anggalarang tewas dibunuh kaum perompak (bajo) di tengah perjalanan menuju Pananjung, Pangandaran. Beruntung Dewi Rengganis selamat, dan bersembunyi di kaki gunung.
DALAM cerita rakyat masyarakat Ciamis, Dewi Siti Samboja dikenal sebagai wanita cantik jelita yang diperistri Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh. Walaupun tidak direstui ayahnya, pasangan itu kemudian mendirikan kerajaan di Pananjung, daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Ketika itu, sekitar perairan daerah tersebut sering didatangi kaum perompak.
Mengetahui ada kerajaan baru, para perompak kemudian menyerang. Karena pertempuran tidak seimbang, Pangeran Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja berhasil menyelamatkan diri. Dalam pengembaraan Sang Dewi yang penuh penderitaan sampai akhirnya menerima wangsit.
Ia dianjurkan mengubah namanya menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya tersayang, Nyi Ronggeng berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung didaki dan lembah-lembah dituruni. Di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh kaum bajo dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke laut Samudera Hindia.
Kepedihan hatinya itu kemudian diungkapkan dalam syair lagu Manangis berikut ini:
Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui”.
Irama lagunya yang mendayu-dayu, naik turun dalam irama yang mengalun, seolah menghanyut pendengarnya dalam ikatan suasana yang sulit dilepaskan. Kemampuan tersebut sekaligus merupa-kan kekuatan seorang peronggeng. Karena itu, pantas jika kini Bi Raspi kesulitan melakukan regenerasi, walaupun anaknya yang semata wayang, Nani Nurhayati, telah berusaha keras mengikuti jejak ibunya.
***
BAGI masyarakat Ciamis selatan, kesenian ronggeng gunung pada masa jayanya bukan hanya merupakan hiburan. Kesenian tersebut sekaligus menjadi pengantar upacara adat.
Dalam mitologi Sunda, Dewi Siti Samboja atau Dewi Rengganis hampir sama dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Karena itu, tarian dalam ronggeng gunung melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam. Yakni, sejak turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai kahirnya syukuran karena panen telah berhasil.
Bahkan, pada saat petani mengharapkan turun hujan, ronggeng gunung dipanggil sebagai mediator. Dalam karya tugas akhir di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (1985), Nesri Kusmayadi mengungkapkan, Nyi Ronggeng berkeliling kampung seraya membawa kucing. Jika menemukan sumur atau sungai yang masih ada airnya, binatang peliharaan itu kemudian dimandikan.
Oleh karena fungsi tersebut, ronggeng gunung bisa digelar di halaman rumah atau bahkan di huma (ladang), misalnya ketika dibutuhkan untuk upacara membajak atau menanam padi. Selain itu, sebagai salah satu kesenian yang akrab dengan penontonnya, ronggeng gunung merupakan hiburan. Baik untuk resepsi upacara perkawinan, khitanan atau upacara adat yang ada hubungannya dengan kelahiran.
Sayang, seperti kesenian tradisional lainnya, ronggeng gunung kini mulai tersisih kesenian lainnya dan bahkan ronggeng kaler. Disebut ronggeng kaler karena asal dan daerah penyebarannya di wilayah bagian utara Kabupaten Ciamis atau Kuningan yang perpaduannya menghasilkan Ronggeng Amen/Kidul yang lebih “laku” dimasyarakat mungkin karena lebih meriah sebab sudah menggunakan gamelan kliningan dan lagu-lagu Rancagan.
Berbeda dengan ronggeng gunung, dalam ronggeng kaler, penyanyi tidak merangkap sebagai penari. Penyanyinya biasa disebut pesinden sehingga bentuknya hampir mirip dengan kliningan di daerah utara Jabar yang menggunakan perangkat gamelan secara lengkap.
Saat ini, keberlangsungan ronggeng gunung berada di ujung tanduk. Namun, Lingkung Seni Puspa Manggulrasa yang digelorakan Bi Raspi (54) yang sudah 38 tahun menggeluti profesi sebagai penari Ronggeng Gunung seperti tak kenal menyerah. Meski pun diakuinya, seni pituin Banjarsari itu tumbuh seperti kerakap di batu.
Kegelisan ibu satu anak itu, didorong oleh kenyataan kian menurunnya minat anak muda mengembangkan kesenian “ronggeng gunung”. Lumrah, jika Bi Raspi gundah. Pasalnya, kesenian yang diusung dirinya lebih separuh usia itu kian pudar. Kalangan muda, tampaknya, tidak tertarik menggauli kesenian langka itu. 

Sumber: http://bhudaya.site90.net/ind/index.php?isi=news&id=00001

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2010 in Opini

 

Jangan Takut Menjadi kabupaten Galuh

Ketua Komisi 4 Ciamis Hendra S. Marcusi menegaskan, kembalinya nama kabupaten Ciamis ke Galuh tak akan terbendung. Hal itu karena Ciamis tidak mempunyai akar sejarah yang jelas. “Kita ini hanya ingin mengembalikan nama Ciamis ke asalanya Kabupaten Galuh, bukan merubah nama,” tegas Hendra. Mengenai ketakutan biaya pergantian nama, kata hendra, itu terlalu dibesar-besarkan, setiap tahun juga pemerintah selalu menganggarkan untuk pembuatan alat tulis kantor (ATK) dan sering sekali perubahan nama kantor dalam setiap sistem Organisasi perangkat Daerah (OPD) di ciamis, tidak mengeluhkan biaya perubahan papan nama. “Mulai dari kop surat, plang dan sebagainya, setiap tahun juga pemerintah selalu menganggarkan tidak akan menambah beban biaya. Itu terlalu di besar-besarkan dan tanpa visi yang jelas, Banjar saja berberubah jadi kota, Irian Jaya berubah jadi Papua biasa saja, kenapa takut,” ungkapnya.

dari : http://kabarciamis.wordpress.com/author/kabarciamis/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2010 in Opini

 

UP-GRADING KEGALUH RAHAYUAN

Oleh: Endin Lidinillah

Disampaikan pada Upgrading Pengurus KPM Galuh Rahayu Ciamis Yogyakarta

Bappeda Ciamis, 10 Juli 2010

Lima tanggapan terhadap konflik

  1. Menang / kalah
  • Konfrontatif, menuntut dan agresif, harus menang dengan cara apapun.
  • Yang kuat menang, harus membuktikan superioritas, paling benar secara etis dan profesi.
  1. Kompromi
  • Mementingkan pencapaian sasaran utama sebagai pihak serta memelihara hubungan baik, agresif namun kooperatif.
  • Tidak ada ide perorangan yang sempurna. Seharusnya ada lebih satu cara yang baik dalam melakukan sesuatu. Anda harus berkorban untuk dapat menerima
  1. Penyelesaian masalah (kolaborasi win-win)
  • Kebutuhan kedua belah pihak adalah sah dan penting. Penghargaan yang tinggi terhadap sikap saling mendukung, tegas dan kooperatif.
  • Ketika pihak-pihak yang terlibat mau membicarakan secara terbuka pokok permasalahan, selusi yang paling menguntungkan  dapat ditemukan tanpa satu pihak dirugikan.

Pendanaan Organisasi KPM

Unsur-unsur organisasi, yaitu 4 M:

  • Man (anggota dan pengurus)
  • Material (sekretariat beserta kelengkapannya)
  • Method (aturan main, struktur), dan

Money (dana)

  1. Menyangkut dana organisasi, KPM GR harus mengadakan intentifikasi dan ekstentifikasi sumber dana.
  2. Intentifikasi artinya meningkatkan sumber pendanaan yang selama ini berjalan.
  3. Ekstentifikasi
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 11, 2010 in KEGIATAN-KEGIATAN, Opini

 

Marhaban ya Ramadhan

Kami Keluarga Besar

Keluarga Pelajar & Mahasiswa (KPM) “Galuh Rahayu” Ciamis-Jogjakarta

Mengucapkan:

Selamat Memnunaikan Ibadah Puasa 1429 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2008 in Info Galuh, Religy

 
 
%d blogger menyukai ini: