RSS

Arsip Kategori: KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

informasi TENTANG KEGIATAN MAHASISWA DI JOGJAKARTA

Jendela Budaya “Urang” Sunda

“Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. Leungit ciri tinggal cara” (Budaya yang kita miliki selama ini agar jangan sampai terdesak oleh budaya lain).

PEPATAH Sunda di atas merupakan suatu imbauan atau ajakan bagi kita semua, untuk senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadat di mana pun kita berada. Ini sejalan dengan timbulnya berbagai kekhawatiran, khususnya di kalangan orang tua terhadap generasi muda kini. Tak jarang kita lihat, banyak kaum muda yang telah terpengaruh

budaya deungeun (bangsa lain), bahkan terjerumus ke dalam jurang kenistaan.

Tak sulit untuk membuktikan pengaruh atas kekhawatiran itu di zaman yang serbacanggih sekarang ini. Sebut saja, tindak kekerasan pada generasi muda, yang senantiasa menghiasi halaman surat kabar atau tayangan di televisi. Tidak sedikit pula anak-anak muda kini telah terbiasa mengonsumsi barang haram alias narkoba.

Entah sebagai pengaruh dari berbagai bahan bacaan, film, ataupun informasi yang dikaji secara salah kaprah, yang jelas, indikasi mental generasi muda kita yang lunak dan mudah terpengaruh tampaknya semakin nyata. Secara tidak sadar mereka telah masuk ke dalam lingkaran setan yang membahayakan hidup kita.

Melihat makin menggejalanya budaya lain merasuk kepada generasi muda, makin tinggi pula kekhawatiran kita terhadap anak-anaknya terperosok ke dalam jurang kenistaan.Terlebih orang tua yang mempunyai anak-anak remaja di perantauan. Karena jangankan jauh dari pengawasan, ketika anak-anak berada satu rumah pun, pengaruh negatif senantiasa menghantui dan mengancam kehidupan.

Kalau segalanya sudah telanjur, kita hanya bisa mengusap dada dan menerima kenyataan pahit. Akankah berbagai pengaruh negatif kita biarkan merasuk dan merusak generasi muda?

Tentunya, kita semua tak ingin hal itu terjadi sehingga segala sesuatunya harus dipersiapkan dan diantisipasi sedini mungkin. Apalagi warga Jawa Barat memiliki budaya Sunda yang mengajarkan etika dan nilai-nilai luhur. Jangan sampai budaya Sunda yang kita junjung, luntur atau bahkan hilang seketika akibat pengaruh luar.

Kekhawatiran itu pula yang senantiasa menghantui atau muncul di benak Ki Demang Wangsafyudin, S.H., pupuhu adat sekaligus sesepuh Paguyuban Warga Jawa Barat (PWJB) di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

Seperti dituturkan Mang Demang–sapaan akrab Ki Demang Wangsafyudin–PWJB kini merangkul tak kurang 37.000 warga Sunda (Jawa Barat) yang tinggal di Yogyakarta. Pendiriannya dijajaki sekitar tahun 1951-an, bermula dari sebuah perkumpulan “kontak biro” yang dibentuk orang-orang Sunda yang tinggal di Yogyakarta. Setahun kemudian (1952) paguyuban yang diprakarsai oleh Prof. Kusnadi Hardjasumantri (alm.) itu pun terbentuk.

**

AWALNYA kontak biro hanya diminati oleh orang-orang yang peduli untuk senantiasa menjunjung tinggi budaya leluhur (asal), yakni Sunda sebagai tempat kelahiran mereka. Waktu pun berlalu, tahun 1964 kontak biro mulai dilirik kalangan muda, umum, mahasiswa, serta pelajar dari Jawa Barat yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Bahkan, kemudian peminatnya tak terbatas pada warga Sunda (Jawa Barat), tetapi juga warga dari daerah lain yang tinggal di Yogyakarta, termasuk orang Yogyakarta sendiri.

Kontak biro pun berubah menjadi paguyuban bernama Paguyuban Warga Jawa Barat dan membentuk enam komisariat, antara lain Komisariat Galuh Rahayu, KPC Cirebon, KPMB Bandung, Jakarta Raya, Suryakancana (terdiri atas warga asal Bogor, Karawang, Cianjur, dan Sukabumi), serta KBY Banten.

Kalangan muda dan pelajar pun makin menampakkan ketertarikannya maka tahun 1972 terbentuk KPM (Keluarga, Pelajar, dan Mahasiswa) Jawa Barat. Ini berbarengan dengan pendirian pemondokan bagi para pelajar dan mahasiswa warga Jawa Barat. Tak heran jika asrama ini diwarnai berbagai kegiatan seni bernapaskan Sunda, yang diprakarsai oleh Sanggar Seni Sunda Paguyuban, antara lain degung, kecapi suling, seni tari, serta perpustakaan Sunda. “Tempat dan berbagai kegiatan di sini bisa dikatakan sebagai jendela budaya Jawa Barat,” tutur Mang Demang.

Kegiatan seni pun pada perkembangannya tak hanya dinikmati oleh orang Sunda, tetapi juga masyarakat Yogyakarta. Tidak jarang mereka (warga Yogya) bahkan kalangan keraton, mengundang seni Sunda ini untuk mentas (gelar kebolehan). Antara lain pada acara ritual peringatan panjang jimat (setiap tanggal 10 Maulud), atau acara silaturahmi/halalbihalal di kalangan orang-orang keraton, serta perayaan pawai budaya.

“Lewat berbagai kegiatan seni ditunjang oleh acara dialog Sunda secara rutin, paguyuban bisa dibilang onjoy (unggul) di antara perkumpulan warga lain yang ada di Yogyakarta,” katanya.

Mang Demang yang beristrikan orang asli Kota Gudeg melihat, saking kompak dan banyaknya kegiatan positif yang ditunjukkan warga Jabar di paguyuban ini, menjadi filter khususnya bagi kaum muda. Dengan menjunjung tinggi budaya sendiri, paling tidak bisa menekan kecenderungan negatif arus budaya lain.

Oleh karena itu, katanya, paguyuban akan terus berusaha untuk merekrut anggota, khususnya warga Jabar sebanyak mungkin, tanpa memandang sebelah mata adanya dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari pemerintahan Jabar sendiri. Biar bagaimanapun, paguyuban telah menjadi wahana atau sarana, dalam rangka mempromosikan budaya dan wisata Jabar.

Masing-masing membentuk wadah sesuai minat dan ketertarikan, seperti Paguyuban Kerupuk yang dihuni oleh para pengusaha kerupuk, Paguyuban Tanaman Hias, Paguyuban Bubur Kacang Ijo, Paguyuban Teralis, Paguyuban Fotografer, serta Paguyuban Istri-istri PWJB.

“Sebagai masyarakat pendatang, sudah seharusnya kami membanggakan sekaligus mempromosikan daerah asal sendiri. Untuk itu, mau nggak mau kami harus nyontoan, dengan berbuat positif dan bermanfaat. Ibaratnya, kami harus punya prinsip teuas peureup, lemah usap (berani tapi mempunyai rasa sayang-red.), atau pageuh keupeul lega aweur (hidup hemat, tetapi tidak pelit-red.),” tambah Mang Demang yang juga menjadi pengacara LBH Armidah.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2011 in KABAR YOGYAKARTA, KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

 

KPM GALUH RAHAYU MENANAM DI MERAPI

Pada hari senin 23 januari 2011 KPM Galuh Rahayu Ciamis Yogyakarta, Mapala APMD, Mapala Respati Bersama organisasi PALM (Penanaman Lereng Merapi)  melakukan penanaman bibit pohon di daerah petungan lereng merapi.

sejak pukul 6.00 kami sudah berrangkat menuju lereng merapi dikarenakan penanaman bibit pohon harus di lakukan sebelum jam sepuluh siang, karena pabila dilakukan lebih dari jam itu di hawtirkan tanaman yang sudah di tanam akan mati sehingga hasl kerjakeras kita sia-sia.

Kami dijemput menggunakan mobil dari pesantren al Qodir bersama sembilan teman dari Asrama Galuh, sekitar pukul tujuh kami sudah sampat di lereng merapi yang sudah siap kami tanami, disana hanya ada warga yang rumahnya hilang terkena libasan wedusgembel mereka mulai menanami lahan mereka dengan bibit-bibit pohon yang ada, tidak membuang waktu kami langsung mengambil cangkul dan dua karung bibit pohon yang sudah siap tanam dan beberapa turus yang akan kami gunakan sebagai tiang yang akan mengokohkan pohon dari ngin yang berhembus tanpa terhalangi pepohonan yang memang pohon-pohonnya sudah kering dan mati, sebelum menanam kami berdoa terlebih dahlu untuk korban-korban merapi dan berharap semuanya akan segera pulih kembali.

sekitar 200 pohon yang diantaranya pohon albasiah, mahoni dan jabon telah kami tanam bersama dengan pemilik tanah di sekitar itu, untuk melakukan hal itu kami hanya butuh waktu dua jam, setelah selsei kami kembali ke tempat pengumpulan bibit disana sudah berkumpul sekitar 70 orang yang siap menanmi lereng merapi mereka yang diantaranya merupakan Mapalaska APMD dan Respati tanpa lama-lama menunggu setelah diberi arahan dan komando bergerak kami langsung berhambur menanami lereng merapi di wiliyah lain, pekerjaan kami berlangsung sampai pukul 12.00 dan barulah kami makan siang bersama setelah bekerja setengah hari itu dan akhirnya saling bercengkrama sebelum kami pulang ke tempat masing-masing.(sm)

 

GELAR SENI RAKYAT JABAR 2010 ; Yogya Aman dan Istimewa

 

YOGYAKARTA sebagai kota budaya tetap kokoh berdiri untuk memberikan kenyamanan. Tidak hanya di bidang akademisi tapi juga ketenangan batin masyarakatnya yang global melalui seni budaya. Bukan kota politik yang haus akan kekuasaan, melainkan kota yang mampu menerima budaya daerah lain untuk saling berdampingan sebagai benteng terhadap globalisasi yang mampu menggerus generasi muda Indonesia pada kesesatan. Itu yang terlihat pada Gelar Seni Rakyat Jawa Barat (Jabar) ‘Kesenian sebagai Media Diplomasi Kebudayaan’, di Sosietet Taman Budaya Yogyakarta, Senin (13/12). Acara ini digelar Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (KPM) Jabar Yogyakarta bersama SKH Pikiran Rakyat didukung SKH Kedaulatan Rakyat. Sekaligus menjadi salah bukti bahwa Yogyakarta aman dan masih tetap berbudaya, bahkan mampu menjadi tujuan wisata utama. Manager Marketing Communications Pikiran Rakyat, Windu Djajadireja mengungkapkan bahwa medianya turut memberitakan Yogyakarta sebagai kota yang aman untuk dikunjungi. Acara ini tidak lepas dari pertunjukan tari dan musik seperti Karinding, tari Keurseus, tari Merak, Kembang Gadung, tari rakyat (Cikeruhan Naek Kangsreng), tari Topeng, Rampak Kendang, tari Jaipongan dan Bajidoran. Selain itu mampu mengundang tawa penonton karena aksi MC dari Rano Sumarno dan Ucup Galuh yang berperan sebagai Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Kedua MC ini tidak sekadar menjadi penyambung satu penampil dengan penampil lainnya, tapi juga sedikit berteater spontan tapi lucu. Bahkan dalam setiap waktu mengungkapkan keberpihakannya pada keistimewaan Yogyakarta. “Budaya merupakan salah satu benteng besar untuk membangun karakter bangsa. Karena itu jika budaya ini tergilas globalisasi maka kita akan kehilangan jati diri. Dengan gerakan jati diri bangsa yang dilakukan pelajar dan mahasiswa yang berada di Yogya ini, menjadi salah satu wujud dari berhasilnya pendidik Yogya. Yogya merupakan daerah istimewa yang kami cintai dan banggakan sebagai salah satu provinsi yang dulunya adalah negara merdeka. Namun mempercayakan pemerintahan dan rakyatnya untuk berada di belakang Indonesia yang baru saja merdeka,” jelas Dr Ikke Dewi Sartika MPd, mewakili Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar. (*-3) -g

Cetak Berita
Kirim ke teman

dari:http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=231407&actmenu=44

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 15, 2010 in KABAR YOGYAKARTA, KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

 

Musyawarah Kerja Pengurus KPM GAluh Rahayu Ciamis Yogyakarta Periode 2010-2011

Dalam rangka mewujudkan serta pembinaan dan pengembangan generasi muda diperlukan adanya suatu institusi yang memadai guna mengarahkan terorganisasinya suatu kegiatan yang terencana, berkesinambungan dan terkontrol sebagai sarana pengembangan kepribadian, kepemimpinan, keterampilan dan kreativitas.

Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (KPM) ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta sebagai bagian dari institusi yang bergerak dalam bidang pembinaan dan pengembangan generasi muda, menganggap perlu untuk melanjutkan, memantapkan dan mengembangakan organisasi melalui regenerasi kepengurusan dengan harapan dapat lebih meningkatkan peran sertanya dalam pembinaan dan pengembangan  generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa  yang berdomisili di Yogyakarta. Dalam perjalanannya, KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta memerlukan program kerja agar dalam kepengurusan lebih terarah dan terorganisir dengan baik.

Musyawarah Kerja merupakan musyawarah semua fungsionaris Pengurus KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta, di mana melalui forum tersebut menyusun, membahas dan menetapkan program kerja Pengurus KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta Periode 2010-2011 satu tahun ke depan dengan anggaran pemasukan dan pengeluaran kegiatannya.

Dari pemikiran-pemikiran yang dimunculkan di atas, Pengurus KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta akan menyelenggarakan Musyawarah Kerja Tahun 2010.

kegiatannya sendi diadakan pada

Hari                  : Sabtu-minggu

Tanggal            : 10-11 juli 2010-08-11

Tempat             : Aula BAPPEDA Kab. Ciamis

dalam acara pembukaan sabutan dari ketua pelaksana dan ketua kpm juga di buka oleh ketua Paguyuban Alumni Galuh Rahayu (PAGAR) yaitu kang ganjar M. Yusuf…beliau memamparkan bahwa galuh rahayu harus kembali merangkai ikatan antara pengurus baru itu sendiri dengan para alumninya sebagai para pendahulu di organisasi.

Dalam acara ini dihadiri oleh 29 peserta musyawarah yang merupakan fungsionaris pengurus KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta dari total keseluruhan 46 orang, keadaan ini di karenakan perbedaan jadwal akademik yang berbeda antara satu Universitas dengan yang lainnya.

Adapun pengambilan temapt di ciamis dimaksudkan agar proses musyawarah dapat diikuti oleh kebanyakan pengurus yang memang sedang dalam waktu liburan di rumah masing masing, oleh sebab itu untuk mempermudah akses dan mengirit biaya yang dikeluarkan maka di setujuilah tempatnya di ciamis.

Dalam kegiatan ini diselipkan pula acara saresehan dengan alumni-alumni yang berada di ciamis, dan alhamdulilah cukup banyak yang bisa hadir dalam acara ini.

 
 

Foto-foto Kegiatan Milangkala VI Sanggar Seni “Simpay”

Para Personil Oratorium Berpose Manis sebelum Acara Pembukaan dimulai.

Para Pemain Musik Oratotium

Nu Geulis Nyandak Lilin.

Nuju Ngaronggeng Gunung.

Ki Demang

Musikalisasi Puisi ku Neng Yussi sareng Kang Gilang.

Penampilan Angklung dari Sanggar Seni “Simpay”.

Wilujeng Milangkala VI … !!!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 5, 2008 in KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

 

Milangkala VI Sanggar Seni ”Simpay”

Simpay Jadi Pamatri Ati Pameungkeut Rasa Dina Raraga Mupusti Budaya Bangsa

Pengetahuan dan kecintaan masyarakat terhadap suatu kebudayaan akan timbul apabila dapat berapresiasi dengan kebudayaan itu sendiri, akan tetapi dalam perjalanan perkembangannya dirasakan banyak mengalami hambatan. Masyarakat sebagai pemilik serta penentu yang mutlak dari perkembangan serta kemajuan seni budaya masih kurang memiliki kesadaran dan kepedulian yang cukup untuk turut serta secara aktif memelihara seni budayanya sendiri.

Jogjakarta merupakan kota Budaya maka upaya yang tepat untuk lebih menggairahkan serta meningkatkan kembali kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memelihara seni dan budaya daerah perlu diadakanya pagelaran seni budaya bersama.

Salah satu cara untuk mempertahankan serta mengangkat kembali budaya tradisional yang semakin lama semakin tergusur, antara lain dengan cara mengadakan pagelaran seni, melalui pagelaran seni ini dapat menambah wawasan dan merangsang keterlibatan emosi masyarakat terhadap kesenian.

Oleh karena itu, demi mengembangkan potensi dan membangkitkan rasa cinta terhadap seni budaya, Sanggar Seni ”Simpay” telah mengadakan pagelaran seni budaya dalam acara Milangkala VI Sanggar Seni ”Simpay” pada Sabtu, 31 Mei 2008 sebagai wujud kepedulian dan rasa tanggung jawab kami akan kelestarian seni tradisi sebagai upaya membangun bangsa.

Besar harapan kami semoga niat baik untuk mempertahankan dan meningkatkan kecintaan terhadap seni budaya akan menjadi titik awal untuk kita semua guna mempertahankan keanekaragaman seni budaya bangsa agar tetap eksis selamanya, Amin.

Foto-foto kegiatan ada di kategori Info + Foto.

 
 

Makrab 2007

dsci0247.jpg“Galuh the galih ulah di gulah geuleuh” kitu gening paribasa urang salaku teureuh Galuh. Salaku wadiabalad anu pituin urang ciamis didieu hiji wadah keur urang riung mungpulung jeng dulur salembur. Alhamdulillah kuring sakulawarga Galuh sadayana rengsa ngagarap hajat jeung malam kaakraban, kangge ngaraketkeun tali duduluran urang sadaya. Eta mah antar warga jeng warga deui tawa antara warga sinareung pengurus KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Jogjakarta periode 2007-2009.

dsci0311.jpg

Kangge nonjolkeun ajen ki sunda di pangumbaraan Galuh Rahayu ngagungan Sangger Kasenian Sunda nyaeta Sanggar Seni Simpay. Anu konsisten dina kasenian sinareng budaya sunda. Salah sawiosna ngagungan gruf calung, sareng gruf longser dadakan.

dsci0342.jpg

Kukituna mangga ka sadya kum wadiabalad teureuh galuh di haturanan linggih di asrama Galuh. Cuang guyon, cuang diajar, ulah salempang di pangumbaraan!

dscn1652.jpg

Agus Lukmanul Hakim

Ketua Panitia

dsci0239.jpg

dsci0208.jpg

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 21, 2008 in KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

 
 
%d blogger menyukai ini: