RSS

Arsip Kategori: DEP SENIBUDAYA

LPJ SANGGAR SENI SIMPAY Periode 09-10

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

SANGGAR SENI SIMPAY

KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA

PERIODE 2009-2010

 

 

I.   PENDAHULUAN

Puji dan syukur pertama-tama kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nya kita dapat berkumpul dalam kesempatan yang baik ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad S.A.W beserta, keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.

Sanggar Seni “Simpay” yang merupakan lembaga semi otonom yang berada di bawah naungan Departemen Seni dan Budaya KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta senantiasa berusaha berkarya dan berkreasi dibidang seni budaya  sebagai upaya optimalisasi minat dan bakat warga dibidang seni budaya. Pada kesempatan ini yang merupakan batas akhir kepengurusan kami, kami akan menyampaikan usaha kami dalam mengemban tugas yang diamanatkan kepada kami melalui rembug sanggar ke 5 satu tahun yang lalu.

 

II. KONDISI OBJEKTIF

A. Kelembagaan

Dalam aktivitasnya Sanggar seni “Simpay” mengacu kepada program kerja Departemen Seni Budaya KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2010-2011 dan tentunya berdasarkan inisiatif dan kepentingan dari Sanggar Seni ”Simpay” itu sendiri yang telah dikonsultasikan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan Sanggar Seni “Simpay”.

Sejumlah agenda kegiatan yang telah dilaksanakan Sanggar Seni “Simpay” dalam periode ini diantaranya mengadakan:

1.      Pagelaran Milangkala Sanggar Seni “Simpay” ke-7 & ke-8.

2.      Pagelaran Hajat Warga periode 2009-2010 dan periode 2010-2011.

3.      Pagelaran pelantikan pengurus KPM Galuh rahayu Ciamis-Yogyakarta periode 2010-2011

4.       Mengikuti Festival Drama Basa Sunda XI tanggal 22 Maret 2010 di Bandung.

5.      Pagelaran dalam rangka dies natalis KPM galuh rahayu Ciamis-Yogyakarta ke-44 di Ciamis dank ke-45 di Yogyakarta.

6.      Karnaval dalam rangka HUT kota Yogyakarta.

7.      Pagelaran ronggeng gunung dalam rangka hari sumpah pemuda tahun 2010 di aula RRI Yogyakarta.

8.      Pagelaran ronggeng gunung dalam rangka panggilan professional Ujian Akhir S2 kang Rano sumarno S.Sn.

9.      Undangan mengisi upacara adat dalam setiap undangan pernikahan, diantaranya di perumahan mewah “casa grande”, di gedung multi purpose UIN Sunan Kalijaga dan ditempat-tempat yang lain.

10.  Karnaval dan panggung nusantara dalam rangka malioboro carnaval 2010.

11.  Penampilan dalam acara “syndrome batik” di 0 Km Malioboro.

12.  Mengirimkan delegasi kesenian dalam acara-acara seni di Komunitas-komunitas dan lembaga-lembaga (KPM Kujang, KPMT, KAPMI, Lkis, ISI).

13.  Latihan gamelan dan angklung.

14.  Kerjasama dengan pihak luar dalam pementasan seni budaya secara professional (Seni musik UNY, ISI, Sanggar seni rengganis, Gentra Parahiyangan)

15.  Mimbar ekspresi.

 

Dalam perekrutan dan optimalisasi minat dan bakat warga dalam bidang seni budaya Sanggar seni “Simpay” melakukan pendataan dengan berbagai cara dan selanjutnya melibatkan mereka (warga dan non warga) dalam kegiatan seni budaya baik di lingkungan Galuh Rahayu maupun di luar Galuh Rahayu. Kendala yang dihadapi dalam perekrutan warga adalah minimnya waktu yang diporsikan untuk mengidentifikasi minat dan bakat warga di bidang seni budaya sehingga potensi yang terdeteksi jauh dari harapan.

Pengembangan kualitas sanggar seni simpay dalam pagelaran dilakukan dengan konsultasi dan latihan dengan pihak-pihak yang kompeten di bidang seni budaya. Selain itu dalam perjalanan kami  menjalin kerja sama  dengan sejumlah komunitas seni  dan pakar-pakar seni dan budaya. Dalam Kepengurusan kami, perawatan inventaris belum optimal, hal ini ditandai dengan masih belum tertibnya penyimpanan inventaris Sanggar Seni “Simpay” dan berakibat adanya sejumlah inventaris yang rusak dan hilang. Hal tersebut terjadi karena minimnya rasa memiliki terhadap inventaris sanggar.

B. Kepengurusan

Kepengurusan merupakan perangkat vital yang menjadi police, subyek pemeliharaan dan pengembangan organisasi.

Pengangkatan pengurusan sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2009-2010 merupakan pengejawantahan dari ketetapan ugeran sanggar ke-5 tanggal 16 Mei 2009, yaitu dengan diawali pengangkatan formatur  yang sekaligus menjadi pupuhu sanggar seni “simpay” KPM “ Galuh Rahayu” Ciamis-yogyakarta periode 2009-2010. Perumusan kepengurusan secara utuh didelegasikan pada formatur dan mid-formatur ugeran sanggar ke-5. Rumusan dan personalia kepengurusan secara lengkap tertuang dalam Surat Keputusan Formatur-Mid Formatur sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta tahun 2009 Nomor: 01/KPTS/F-MF/SIMPAY/V/2009 tentang pengangkatan Pengurusan sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta Periode 2009-2010.

Struktur kepengurusan dibentuk dan dibangun oleh tiga bagian inti (Presidium) yang terdiri dari:

1.      Pupuhu-Wakil Pupuhu

2.      Sekretaris

3.      Bendahara

Empat bidang yang terdiri dari:

1.      Bidang seni modern

2.      Bidang seni tradisional

3.      Bidang pembinaan warga

4.      Bidang perlengkapan dan peralatan

Daftar personil kepengurusan sanggar seni “Simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta:

NO JABATAN NAMA PT ANGKT ALAMAT
1 KETUA Ahmad Mustofa S UIN 2007 Cihaurbeuti
2 WAKIL KETUA Asep Zery Kusmaya UNY 2008 Lakbok
3 SEKRETARIS Riesa Alfiera UIN 2008 Pangandaran
4 BENDAHARA Sofia Tresnasari UNY 2008 Lumbung
5 BIDANG SENI MODERN Yusi Nisfi Faridan UNY 2007 Lumbung
6   Ayu Dewi N UMY 2008 Parigi
7   Salim Firdaus UNY 2007 Cijulang
8 BIDANG SENI TRADISIONAL Andri Tardiansyah AMPTA 2008 Banjar
9   Siska Inalisa UIN 2008 Pangandaran
10   Deni Sunarya UAD 2008 Banjarsari
11 BIDANG PEMBINAAN WARGA Didit Adi Darmawan UNY 2007 Ciamis
12   Avid Firmansyah UAD 2008 Lakbok
13   Andi Pujianto UAD 2008 Purwadadi
14 BIDANG PERALATAN&PERLENGKAPAN Agil  Anandayu UMBY 2007 Sukadana
15   Samsul Muarip UIN 2007 Ciamaragas
16   Bayu M. Wardana UTY 2008 Ciamis

 

C. Keuangan

Keuangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah sanggar seni. Kesuksesan dalam merealisasikan program-program kerja sangat tergantung kepada kondisi finansial yang ada. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang menjadi tugas dan tanggungjawab bendahara harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dan professional dari mulai pencarian sumber dana sampai pengalokasian dana untuk kebutuhan organisasi, baik berupa kegiatan-kegiatan yang diprogramkan maupun operasional lain di setiap perangkat organisasi. Pengurus sanggar seni “simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta periode 2009-2010 telah berupaya untuk mengelola keuangan agar proposional, efektif dan efisien, baik dalam usaha pencarian, pengalokasian dan penggunaan dana.

Sebagian sumber pokok dana Sanggar, kami mendapatkan subsidi dari sebagian dana KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta yang berasal dari PEMDA Kabupaten Ciamis sebagaimana yang telah ditetapkan dalam APBD kabupaten Ciamis. Kemudian sumber dana lain adalah usaha pencarian dana dalam berbagai bidang, pementasan kesenian, juga dengan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu dalam setiap kegiatan. Kemudian disamping silaturrahim kepada alumni, kami juga menawarkan kepada alumni dan pini sepuh untuk memberikan sumbangan dalam pelaksanaan kegiatan.

 

III. Hambatan

Hambatan yang dihadapi adalah minimnya konsolidasi antar pengurus Sanggar, dana yang masih jauh dari cukup, minimnya loyalitas pengurus dan kesibukan akademik para pengurus.

 

IV. Penutup

Kami sadari usaha yang kami lakukan masih jauh dari ideal, walaupun demikian semoga dedikasi dan pengabdian murni kami menjadi sebuah persembahan kecil yang manis bagi Sanggar Seni “Simpay” dan KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta. Pada akhir perjalanan ini kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang tulus kepada :

 

 

1.      Pendiri KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

2.      Pendiri Sanggar Seni “Simpay”

3.      Para Pupuhu Sanggar Seni “Simpay” sebelumnya (Kang Tatang, Kang Meden, Kang Kaerul dan Kang Risris)

4.      Padmanagara XXI KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta Periode 2009-2010 Samsul muarip.

5.      Pengurus KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis- Yogyakarta Periode 2009-2010

6.      Ibu Ela dan Kang Asep.

7.      Kang Rano Sumarno, S.Sn

8.      Mang Demang, Irman Firmansah (pa sekda), kang buyung.

9.      Seluruh Warga KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis- Yogyakarta.

 

Dan semua pihak yang telah berjasa kepada Sanggar Seni “Simpay” yang tidak  bisa kami sebutkan semuanya.

 

 

Yogyakarta, 22 Maret 2011

Pengurus Sanggar Seni ”Simpay”

KPM  ”Galauh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

Periode 2009-2010

 

 

 

 

Ahmad Mustofa Salim

Ketua Sanggar

Riesa Alfiera

Sekretaris

 

 

 

 

 

 

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 22, 2011 in SANGGAR SENI SIMPAY

 

Musyawarah Sanggar Seni Simpay

pada tanggal 20 maret 2011 di asrama galuh telah diadakan musyawarah Sanggar Seni Simpay Ke 6 dengan agenda pemilihan ketua baru dan laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya.

diawali dengan Up greding Dari mang demang yang memaparkan tentang cikal bakal berdirinya Sanggar seni simpai dilanjutkan dengan harapan-haran sanggar seni simpai bukan hanya sebagai sanggar yang hanya bergelut dalam bidang seni tetapi harus pula mewadahi pengetahuan terhadap sejarah dan kebudayaan. dan sebagai tambahannya masukan dari Kang Rano Sumarno S. Sn. beliau menyampaikan bahwa ada dua tipe sanggar.

1. sanggar yang sudah Punya Angaran Dana (dpat Subsidi dari pemerintah dll)

2. sanggar yang takpunya dana rutin

keduaduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, sanggar yang punya dana rutin biasanya akan cenderung kurang menggigit dalam membuat karya, sedangkan yang tak punya anggaran bisanya lebih kreatif dalam membuat karya tapi biasanya terbentur dimasalah dana. sanggar seni simpay harus bisa membaca dimana posisinya berada.dimanapun posinya berada peluang pasti ada dan sanggar seni simpay harus lebih propesional dikepengurusan yang baru ini dengan mengoptimalkan promosi dan pembentukan produk yang bisa dinikamati.

agenda dilanjutkan dengan pembahasan dan review terhadap ugeran sanggar Seni Simpay dan tidak terlau banyak yang berubah dengan ugeran sanggar yang sebelumnya cuma perubahan pada struktur pengurus yang di buat menjadi dua pokus menjadi tem menejemen dan tem seni yang keduaduanya dipimpin oleh pupuhu, dan dibantu oleh sekretaris dan bendahara.

agenda selanjuttnya adalah LPJ pengurus yang lama, namun dalam agenda ini tidak bisa disampaikan LPJ secara tertulis pada saat itu dikarenakan persiapan pengurus sebelumnya sehingga anggota sidang yang berjumlah 35 orang memberikan deadlin 2 minggu untuk menyelsaikan LPJ nya dan meng Uplodkannya ke websait resmi galuh rahayu yang akan di bahas dan dianalisis oleh anggota Simpay di forum dunia maya tersebut.

agenda selanjuttnya yang paling ditunggu tunggu adalah pemilihan pupuhu sanggar seni simpay yang ke-6 diawali dengan pemilihan balon dan didapatkan sejumlah nama :dede darwan, Avid Firmansah, Permana, Purqon, Asep Jeri, Eka lusiana, dan diambil tiga besar yakni Avid firmansah, Dede darwan dan Permana. pada pemmilihan Pupuhu dari ketiga calon tersebut anggota musyawarah memilih APID FIRMANSYAH sebagai pupuhu sanggar Seni Simpay yang ke-6.

Semoga  di kepengurusan yang akan dipimnpin oleh Apid sanggar seni simpay bisa menjadi sanggar yang propesional dan dapat memberikan manfaat seluas-luasnya khususnya warga galuh rahayu dan umumnya seluruh umat manusia.(PadamXXI)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 22, 2011 in DEP SENIBUDAYA, KEGIATAN-KEGIATAN

 

Milangkala VII Sanggar Seni Simpay

Oleh: Luqman nul Hakim, Penikmat kesenian daerah, aktif di Komunitas Pojok Kolonial, tinggal di Yogyakarta.

Bumi Priangan dihampar, melampaui sekat geografis. Yang merasa bukan Sunda atau tak sepenuhnya Sunda terangkat beban-beban kulturalnya.

Pelataran itu dibiarkan gelap, hanya mengandalkan lampu minyak yang berkedipan di beberapa sudut, sementara panggung beton itu dibuat sedemikian terang, dengan kelir serba putih. Tiga pemuda duduk di tengah panggung, memainkan kecapi suling dan melantunkan lagu lawas, Angin Priangan. Dari sudut pintu masuk, panggung putih itu terlihat seperti sebuah pulau di tengah kerlap-kerlip perahu nelayan. Bumi Priangan seakan-akan hadir di hadapan para pengunjung.
Malam itu, Sabtu 30 Mei 2009, adalah malam kesenian untuk Perayaan Milangkala VII Sanggar Seni Simpay, Keluarga Pelajar Mahasiswa (KPM) Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta—sebuah perkumpulan mahasiswa asal Kabupaten Ciamis di Yogyakarta, yang telah berdiri 44 tahun silam. Kendati sejak tahun 1980-an, komunitas ini sudah sangat solid dalam berkesenian, namun secara formal Sanggar Seni Simpay (simpay: pengikat untuk sapu lidi) baru dibentuk pada Mei 2002.
“Usia tujuh tahun boleh dikatakan masih sangat muda untuk ukuran sebuah sanggar seni, tapi bisa bertahan tujuh tahun adalah sebuah keajaiban di tengah-tengah tuntutan mahasiswa yang cenderung ingin lekas lulus,” tutur Muhtadin, ketua KPM Galuh Rahayu. Memang tak mudah untuk menjaga konsistensi berkesenian, dengan latar belakang mahasiswa yang beragam dan berorientasi cepat lulus. Selain soal regenerasi, pilihan untuk konsisten pada seni tradisi juga sering dihadapkan dengan kecenderungan mahasiswa yang lebih gandrung pada seni modern.

Sentuhan Baru
“Tetapi itulah uniknya di Sanggar Seni Simpay, memang seni tradisi yang diutamakan, tetapi teman-teman juga sangat kreatif untuk membuat sentuhan-sentuhan baru,” kata Risiris, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, mantan ketua Sanggar Seni Simpay. Dan memang seperti itulah yang dapat disaksikan pada malam itu: meskipun tetap menggunakan instrumen gamelan Sunda, tetapi kreasi-kreasi yang dimunculkan amat segar.
Upacara Adat, sebagai pembuka acara, juga tidak seperti umumnya yang terdapat di daerah-daerah Sunda. Meski tetap menggunakan beberapa mamayang (penari), seperti umumnya dalam upacara adat biasa, tetapi Ki Lengser, pemimpin upacara adat yang secara ikonik biasa ditampilkan sebagai seorang tua bijak, dengan bungkuk dan janggut putihnya, justru dimainkan oleh seorang muda yang penuh semangat.
Sentuhan yang segar juga dihembuskan pada penampilan Calung, semacam seni bodor yang tiap pemainnya membawa alat musik bambu. Mereka lebih berani mengambil inovasi—baik warna musik ataupun tema—dan pintar mengkontekstualisasikan dengan publiknya. Cerita-cerita yang diangkat juga lebih familiar dengan isu-isu yang dihadapi dunia mahasiswa: tentang sindiran kuliah tak lulus-lulus, tentang parodi demonstrasi, tentang kisah cinta yang ditolak, bahkan tentang sinisme calon presiden.
Apresiasi penonton semakin memuncak ketika lima orang muda-mudi dengan apik menampilkan akustik dan melantunkan lagu-lagu Sunda yang akrab di telinga sebagian besar pengunjung. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa Ciamis yang belajar Pendidikan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang keahlian khusus semacam itu, akan semakin mewarnai kreasi di sanggar dan sangat bermanfaat untuk bertukar pengalaman dengan anggota lain yang relatif belum familiar dengan seni,” ungkap Ahmad Mustofa, Ketua Sanggar Seni Simpay Periode 2009-2010.
Yang selalu ditunggu-tunggu para pengunjung dan sudah menjadi trademark Sanggar Seni Simpay adalah pementasan Longser, sebuah sandiwara Sunda yang di Priangan sendiri sudah hampir punah. Dengan tema-tema dan pembawaan para aktor-aktris yang terampil, Longser ini sama sekali tak tampak sebagai kesenian yang jadul. Dengan melibatkan partispasi para penontonnya dalam beberapa dialog, dengan celetukan dan komentar spontan yang tak terduga, maka ikatan antara pemain dan penonton pun menjadi sangat cair.

Etos Sunda
Sanggar Seni Simpay sudah memiliki kalender pementasan yang padat sepanjang tahun. Selain untuk pementasan reguler di Asrama Galuh Rahayu, Jalan Veteran, Warungboto UH IV/756, juga aktif berpartisipasi dalam berbagai pentas bersama, baik di Yogyakarta maupun di luar kota, termasuk Bali, Bandung, dan Bogor.
Selain itu, setiap dua tahun sekali, ketika KPM Galuh Rahayu mengadakan kegiatan Dies Natalis-nya di Kabupaten Ciamis, Sanggar Seni Simpay selalu membuat lomba beberapa cabang kesenian Sunda yang diikuti oleh pelajar-pelajar Sekolah Menengah Atas di lingkungan Kabupaten Ciamis. “Kegiatan ini sudah menjadi agenda tetap, dan SMA-SMA juga selalu menunggu event ini. Selain untuk ajang lomba, kegiatan ini juga ditujukan untuk merangsang siswa-siswa SMA untuk kuliah di Yogyakarta dan berkesenian di Sanggar Seni Simpay. Semacam strategi regenerasi.” Kata Tatang, salah satu pendiri Sanggar Simpay yang sekarang bekerja di salah satu bank di Bandung.
Ada hal yang cukup menarik: yang berkesenian di Sanggar Seni Simpay pada umumnya bukanlah para seniman yang sudah jadi, tapi justru sebaliknya, kebanyakan mereka hanya bermodal semangat dan kemudian digembleng di sanggar. Bahkan ada sebagian orang yang malah belum pernah mendengar nama-nama jenis pementasan sama sekali. Rupa-rupanya Sanggar Seni Simpay cukup berhasil membangkitkan etos Sunda bagi mahasiswa perantau. “Jangankan pernah tahu apa itu Longser, aku bisa bahasa Sunda saja di sini,” seloroh Nurul, mahasiswa STIE-YKPN yang kini menjadi salah satu aktor kawakan Longser di Sanggar Seni Simpay. Maklum, dia berasal dari Kecamatan Lakbok, yang secara geografis lebih dekat dengan perbatasan Jawa Tengah dan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa Cilacap. Sebuah pengakuan yang menggelitik.
Hal serupa juga saya alami. Saya tidak punya darah Sunda sama sekali, meskipun sudah beberapa generasi tinggal di Ciamis. Sehari-hari saya menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia di rumah, meskipun kalau sudah membuka pintu harus berganti bahasa sebab bagaimanapun juga lingkungan itu berbahasa Sunda. Bahkan sejak kecil juga ditanamkan untuk tidak seperti orang Sunda. Memang aneh sekali. Ehm, tapi ketika menempuh studi di Yogyakarta, dan aktif dalam kegiatan Sanggar Seni Simpay, beban-beban kultural itu seolah lenyap. Dengan enteng menyebut diri sebagai orang Sunda.

dari:http://www.gong.tikar.or.id/?mn=lintasbudaya&kd=51

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2011 in DEP INFOHUM, DEP SENIBUDAYA

 

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PAGELARAN

 

PANITIA PELAKSANA KEGIATAN

PAGELARAN NUSANTARA

Dalam rangka:

HARI PAHLAWAN DAN MILANGKALA VIIII SANGGAR SENI “SIMPAY”

KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA

PERIODE 2010-2011

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan ridho-Nya kita dapat melaksanakan kegiatan ini. Serta shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad S.A.W, keluarganya, para  sahabatnya serta kita semua sebagai umatnya. Amin.

Pada kesempatan ini kami sebagai panitia pelaksana kegiatan PAGELARAN NUSANTARA Dalam rangka: HARI PAHLAWAN DAN MILANGKALA VIIII SANGGAR SENI “SIMPAY” KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA PERIODE 2010-2011, akan menyampaikan laporan hasil kegiatan sebagai perwujudan rasa tanggungjawab kami selaku pelaksana dari kegiatan tersebut. Hal ini dipandang sangat penting sebagai bahan evaluasi dan barometer bagi kegiatan yang akan datang.

Dengan demikian, hal ini dapat menjadi motivasi pada kepanitiaan yang akan datang supaya lebih baik lagi dan dapat mengambil langkah-langkah yang lebih inovatif, efektif, efisien dan konstruktif dalam kegiatan selanjutnya.

Kami selaku panitia merasa banyak sekali kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini, oleh karena itu kami mohon maaf kepada semua pihak atas segala kekurangan dan kealfaannya. Dan tak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu atas terselenggaranya kegiatan ini. Semoga Allah SWT membalas amal baik kepada kita semua. Amin.

  Harapan kami semoga laporan ini dapat berguna bagi semua pihak dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Akhir kata, semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua dan mudah-mudahan kegiatan yang akan datang dapat terlaksana dengan lancar dan lebih baik lagi.

Yogyakarta, 15 Desember 2010

Panitia Pagelaran Nusantara

Dalam rangka:

Hari Pahlawan dan Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay”

KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

Periode 2010-2011 

 

 

 

NURDIANAKetua         AZIZ ABDILLAH Sekretaris

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

PANITIA PELAKSANA KEGIATAN

PAGELARAN NUSANTARA

Dalam rangka:

HARI PAHLAWAN DAN MILANGKALA VIIII SANGGAR SENI “SIMPAY”

KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA

PERIODE 2010-2011

 

A. PENDAHULUAN

            Negara Indonesia terdiri dari beragam seni dan budaya yang masing-masing mempunyai karakter dan ciri khas masing-masing dari berbagai suku bangsanya yang perlu kita jaga kelestariannya. Pengetahuan dan kecintaan masyarakat terhadap suatu kesenian dan kebudayaan akan timbul apabila dapat berapresiasi dengan kesenian dan kebudayaan itu sendiri, meskipun dalam perjalannya sering menemui hambatan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai para pahlawannya. Akhir-akhir ini bangsa kita sedang mengalami krisis multidimensi termasuk krisis karakter sebagai bangsa indonesia. Penghargaan pada pahlawan pun sangat memprihatinkan. Dengan keadaan ini sanggar seni Simpay sebagai garda depan pelestari budaya bangsa tergugah untuk melakukan sesuatu. Dengan seni tradisi Sanggar Seni ”Simpay” ingin menggugah kesadaran bangsa ini.

             Demi terjaganya kelestarian kesenian dan kebudayaan bangsa yang semakin lama semakin tergusur oleh budaya global, maka kami sebagai generasi muda penerus bangsa punya tanggungjawab besar untuk mempertahankan serta mengangkat kembali seni budaya tradisional. Oleh karena itu, Sanggar Seni “Simpay” KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta akan mengadakan sebuah pagelaran seni budaya dalam acara Pagelaran Nusantara dalam rangka Hari Pahlawan, Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay” dan Malam Puncak Dies Natalis Ke-45 KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta. Dengan pagelaran seni ini diharapkan dapat menambah wawasan dan merangsang keterlibatan emosi dan kecintaan masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan bangsa Indonesia.

             Besar harapan kami semoga niat baik untuk mempertahankan dan meningkatkan   kecintaan masyarakat terhadap seni budayanya sendiri, akan menjadi modal besar untuk kita semua guna mempertahankan  kesenian dan kebudayaan bangsa khususnya seni budaya sunda agar tetap eksis selamanya. Amin

B. KONDISI OBJEKTIF

            Adapun kondisi objektif dalam pelaksanaan kegiatan ini terbagi kedalam dua kondisi yaitu:

  1. Kondisi Internal

Kegiatan Pagelaran Nusantara dalam rangka Hari Pahlawan, Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay” dan Malam Puncak Dies Natalis Ke-45 KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta ini dilaksanakan oleh seluruh Pengurus dan Warga KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta yang tergabung dalam kepanitiaan Panitia Pagelaran Nusantara dalam rangka Hari Pahlawan, Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay” dan Malam Puncak Dies Natalis Ke-45 KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta pada hari sabtu pukul 19.30 WIB tanggal 6 November 2010 di Asrama “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta.

Permasalahan yang dihadapi dalam kepanitiaan ini adalah masih kurangnya koordinasi antar panitia yang dikarenakan oleh kebutuhan akademik dari panitia yang berbeda-beda, jadi semua tanggungjawab dipikul oleh segelintir orang saja dari kepanitiaan yang memang tercantum sebagai koordinator di bidangnya masing-masing. Akan tetapi dengan segala permasalahan yang melanda tubuh panitia akhirnya kegiatan ini dapat terlaksana dengan lancar berkat bantuan semua pihak yang peduli dan komitmen terhadap kegiatan ini meskipun tidak tergabung dalam kepanitiaan. Kegiatan ini menampilkan pagelaran diantaranya Oratorium, Karinding, Angklung and Big Band, Kolaborasi Musik Tradisional dan Modern, Calung, Tari Jaipong, Pompom Boy,

  1. 2.      Kondisi Eksternal

                        Faktor biaya untuk mendukung acara ini masih jauh dari harapan. Minimnya minat sponsorship untuk menanamkan investasinya pada kegiatan ini menjadi faktor utama dari minimnya dana yang diperoleh, selain itu juga kepedulian pemerintah dalam upaya kami melestarikan budaya bangsa dalam bentuk materil masih jauh dari harapan mungkin disebabkan adanya kepentingan lain yang sama-sama perlu mendapatkan alokasi dana. Untuk memenuhi anggaran dana yang diperlukan untuk kegiatan, kami menggunakan dana dari KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta diluar anggaran yang telah ditetapkan. Dan semoga saja sikap yang kami ambil ini tidak mengakibatkan terhambatnya kegiatan lain yang telah ditetapkan dalam program kerja KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta. Akan tetapi dari berbagai persoalan yang kami hadapi dari sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan sesudah pelaksanaan kegiatan tersebut kami rasakan tidak ada yang sia-sia. Selain menambah pengalaman kita dalam dunia pementasan, manajemen organisasi dan menambah persaudaraan kita juga memperoleh respon yang positif dari berbagai kalangan.

C. PENUTUP

 Demikian laporan Panitia Pelaksana Kegiatan Pagelaran Nusantara dalam rangka Hari Pahlawan, Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay” dan Malam Puncak Dies Natalis Ke-45 KPM ”Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta ini untuk diketahui oleh seluruh pihak yang terkait. Harapan kami semoga laporan kegiatan ini dapat bermanfaat, dan kami segenap panitia pelaksana kegiatan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung atas terselenggaranya kegiatan ini dan kami memohon maaf atas segala kekurangannya.

Yogyakarta, 15 Desember 2010

                                                                                               Panitia Pagelaran Nusantara

Dalam rangka:

Hari Pahlawan dan Milangkala VIII Sanggar Seni “Simpay”

KPM “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta

Periode 2010-2011 

 

 

 

 

NURDIANAKetua         AZIZ ABDILLAH Sekretaris

 

   Mengetahui,

Pengurus

KPM “Galuh Rahayu” Ciamis –Yogyakarta

Periode 2010-2011

 

 

 

SAMSUL MUARIP

Ketua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN FOTO-FOTO KEGIATAN

a. Pembukaan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis

 

b. Pembagian Hadiah Perlombaan rangkaian Dies Natalis ke-45 KPM “Galuh Rahayu”

  

 

c. Musik Karinding

  

 

d. Angklung and Big Band

e. Musik Kolaborasi

f. Tari Jaipongan

g. Calung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2011 in DEP SENIBUDAYA

 

RONGGENG GUNUNG BERAKSI DI MALIOBORO STRET CARNIVAL dan PANGGUNG NUSANTARA



Galuh rahayu sebagai organisasi kedaerahan yang terus menerus konsen terhadap seni dan kebudayaan daerahnya berusaha untuk terus mengapresiasi dan menampilakan kebudayaan khas daerahnya, dengan sanggar Seni Simpy-nya galuh rahayu terus berkarya di bidang seni tari dan musik tradisi dan tak heran apabila di beberapa event besar di yogyakarta galuh rahayu seingkali di undang untuk menamplkan kreasinya.

Dalam acara Malioboro Stret arnival yang diadakan oleh dinas pariwisata yogyakarta yang diharakan acara ini mampu menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke yogyakarta. kegiatan yang dilakukan rutin ini dimeriahkan dengan arak arakan dari berbagai kumpulan  daerah yang menyuguhkan keseian dan kehasan daerahnya masing-masing. kegiatan ini dilakukan disepanjang jalan malioboro sampai titik no jogja, galuh rahayu yang juga menjadi salah satu pesertanya tampil layaknya orang sunda dengan pakaian sederhana hitam-hitang menggunakan ikat kepala khas sunda dengan menggunakan alat usik calung yang terbuat dari bambu galuhrahayu mampu memberikan suasana yang unik pada acara tersebut ditambah pula maskot yang ditampilkan yakni seorang kakek kakek tua yang janggu putih sera badannya yang sudah bungkuk yang lebih dikenal dengan nama Wa Lengser dan Boneka Cepot yang menyebabkan orang banyak bergerombol untuk berpoto bersama.



Pada malam harinya galuh rahayu menampilakan kesenian khas dari daerah pesisir kabupaten ciamis yakni Tari Ronggeng gunung, Tari ini dilakukan oleh sepuluh orang laki-laki yang berperan sebagai bajo dan dua orang wanita sebagai penarinya para penari laki-laki menari berkelling, gerakan yang yang tidak terlalu sulit membuat para penontn ikut bergoyang mengikuti aluan musik khas ronggeng gunug tida terkecuali para wisatawan asing yang turut hadir dalam kesematan tersebut.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2011 in DEP SENIBUDAYA

 

JATI DIRI KI SUNDA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

I. PENDAHULUAN

Tema seminar “Ngaguar Budaya Sunda Pikeun Mulangkeun Jati Diri Ki Sunda” (“Mengungkap Budaya Sunda Untuk Mengembalikan Jati Diri Ki Sunda”), sangatlah tepat. Tema itu mengandung makna, bahwa kini jati diri Ki Sunda cenderung luntur. Memang sekarang budaya Sunda seolah-olah terserabut dari akarnya oleh pengaruh budaya lain (budaya deungeun). Banyak orang Sunda yang seolah-olah kehilangan atau lupa akan jati dirinya. Hal itu menyebabkan kondisi Ki Sunda saat ini sering dibahas, baik dalam forum diskusi dan seminar, maupun dalam mass media.

Berbicara mengenai jati diri Ki Sunda dengan tujuan untuk mengembalikan ke asalnya, berarti harus membicarakan masa awal eksistensi Ki Sunda, karena jatidiri Ki Sunda dapat diketahui dengan memahami eksistensi Ki Sunda di masa lampau. Sumber-sumber yang relevan menunjukkan – secara tersurat atau tersirat –, jati diri itu tercermin dalam budaya kekuasaan, budaya kepemimpinan, dan budaya hidup pribadi dan bermasyarakat. Budaya itu mencerminkan pula sifat dan sikap Ki Sunda. Dalam budaya-budaya itulah adanya unsur-unsur jati diri Ki Sunda. Dengan kata lain, berbicara jati diri Ki Sunda berarti harus ngaguar sejarah Sunda. Perlu dikemukakan, bahwa tradisi (penulisan) sejarah di Indonesia sampai dengan pertengahan abad ke-20, berorientasi kepada sejarah orang besar (tokoh pemerintahan dan politik). Kiprah rakyat (orang kecil/wong cilik) tidak terekam dalam sejarah secara eksplisit. Oleh karena itu, Ki Sunda dalam pembicaraan ini punterutama diwakili oleh kaum elit (golongan ménak), khususnya elit politik (elitbirokrasi).

II. GAMBARAN JATI DIRI KI SUNDA

2.1 Akar Jati Diri Ki Sunda

Secara historis, akar jati diri Ki Sunda berada pada masa kerajaan. Sejumlah sumber sejarah menunjukkan, bahwa Ki Sunda mulai muncul dalam panggung sejarah ditandai oleh berdirinya kerajaan pertama di Tatar Sunda, yaitu Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan itu didirikan oleh Jayasingawarman alias Maharesi Rajadirajaguru pada pertengahan abad ke-4. Ia memerintah tahun 358 – 382 M.).

Eksistensi Kerajaan Tarumanagara berlangsung selama lebih-kurang tiga setengah abad (pertengahan abad ke-4 s.d. akhir abad ke-7), diperintah oleh 13 orang raja secara berkesinambungan. Raja yang paling terkenal adalah Purnawarman, raja Tarumanagara ketiga (395 – 434 M.). Ketika Kerajaan Tarumanagara diperintah oleh Maharaja Tarusbawa, raja ke- 13 atau raja Tarumanagara terakhir (669 – 723 M.), pamor Tarumanagara sudah menurun. Untuk meningkatkan kembali citra dan kebesaran kerajaan seperti pada jaman Purnawarman, Maharaja Tarusbawa mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Sunda (tahun 670 M.). Informasi itu setidaknya mengandung dua arti.

Pertama, raja-raja Tarumanagara boleh jadi keturunan orang Sunda. Kedua, Maharaja Tarusbawa adalah pendiri Kerajaan Sunda, tetapi kerajaan itu merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran, karena Maharaja Tarusbawa memindahkan pusat pemerintahan dari daerah pantai ke Pakuan (Pakuan Pajajaran) di daerah pedalaman. Hampir seiring dengan kemunculan Kerajaan Sunda, di Tatar Sunda berdiri pula Kerajaan Galuh yang diproklamasikan oleh Wretikandayun. Tahun 612 M.

Wretikandayun mewarisi tahta Kerajaan Kendan (Kerajaan Kendan berlokasi di daerah Nagreg sekarang. Wretikandayun menggantikan ayahnya, yaitu Sang Kandiawan (Rajaresi Dewaraja), raja Kendan yang ketiga) bawahan Tarumanagara. Akan tetapi, Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan. Ia mendirikan ibukota baru dengan nama Galuh (tempat itu sekarang bernama Karangkamulyan). Lemahnya pamor Tarumanagara mendorong Wretikandayun untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut, Hal itu disebabkan Wretikandayun memiliki hubungan keluarga dengan raja-raja Tarumanagara, khususnya keturunan Maharaja Kertawarman, raja Tarumanagara ke-8 (561 – 628 M.). Selain karena faktor hubungan keluarga, hal itu terjadi pula karena Maharaja Tarusbawa miliki sifat suka berdamai.

Hubungan antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Galuh terus berlangsung dengan baik, bahkan untuk beberapa waktu lamanya, kedua kerajaan itu bersatu menjadi Kerajaan Sunda-Galuh. Hal itu terjadi mulai tahun 723 M. ketika Kerajaan Sunda/Pajajaran diperintah oleh Maharaja Tarusbawa, dan Kerajaan Galuh diperintah oleh Sanjaya (723 – 732 M.). Maharaja Tarusbawa mewariskan tahta Kerajaan Sunda kepada Sanjaya selaku menantunya. Perpaduan Kerajaan Sunda-Galuh setidaknya berlangsung sampai dengan akhir abad ke-15.

Pusat kerajaan itu berpindah-pindah, dari Pakuan Pajajaran ke Galuh, dari Galuh ke Kawali, kemudian pindah lagi ke Pakuan Pajajaran (ketika pusat kerajaan berada di Pakuan Pajajaran, pemerintahan di Galuh terus berlangsung. Hal itu berarti terjadi dualisme pemerintahan, yaitu adanya pemerintahan Kerajaan Sunda-

Pajajaran dan pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh). Pusat kerajaan berada di Galuh diduga berlangsung hingga tahun 739 M., akhir masa pemerintahan Rahiyang Tamperan, putra Sanjaya. Pada masa pemerintahan putra Tamperan, yaitu Rahiyang Banga (739 – 766 M.), pusat pemerintahan pindah lagi ke Pakuan Pajajaran. Sejak pemerintahan Linggadewata (1311 –1333 M.) sampai dengan awal pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482 M.), Kerajaan Sunda-Galuh dikendalikan dari Keraton Surawisesa di Kawali.

Selama pusat kerajaan berada di Kawali, kerajaan tersebut mengalami kejayaan, diperintah oleh 7 orang raja secara berkesinambungan. Raja-raja yang terkenal antara lain Prabu Maharaja (Ia adalah raja Sunda yang gugur dalam “Perang Bubat” tahun1357 M) alias Linggabuana (1350 – 1357), Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475) (Waktu itu penyebaran agama Islam dari Cirebon mulai masuk ke daerah Galuh), dan Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521 M.). Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, pusat pemerintahan pindah lagi ke Pakuan Pajajaran. Hal itu berlangsung sampai pemerintahan Nusiya Mulya (1567 – 1579).

Tahun 1579 pemerintahan Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh akibat gerakan pasukan Banten dalam rangka penyebaran agama Islam. Setelah kejadian itu, Kerajaan Galuh berdiri sendiri dan berlangsung hingga akhir abad ke-16 (Batas-batas wilayah Kerajaan Galuh waktu itu adalah : Sumedang batas sebelah utara). Mulai kira-kira tahun 1580, Kerajaan Galuh diperintah oleh Prabu Sanghiyang Cipta di Galuh, putra Prabu Haurkuning7), dilanjutkan oleh Prabu Galuh Cipta Permana sampai akhir abad ke-16. Ia berkedudukan di Gara Tengah (Cineam).

Sampai dengan akhir abad ke-16, boleh jadi jati diri Ki Sunda mengakar cukup kuat, karena belum terpengaruh atau terganggu oleh budaya luar. Pengaruh dari luar baru terjadi sejak Mataram menguasai Galuh. Tahun 1595 Galuh jatuh ke dalam kekuasaan Mataram di bawah pemerintahan Senopati (1586 – 1601). Pemerintahan di Galuh dijalankan oleh Adipati Panaekan yang diangkat oleh penguasa Mataram menjadi Bupati Wedana Galuh. Berdasarkan jabatan dan gelar adipati pada diri Adipati Panaekan, diduga sejak itulah Galuh menjadi sebuah kabupaten, yaitu sebagai kabupaten vassal Mataram.

Perubahan status Galuh dari kerajaan menjadi kabupaten merupakan salah satu pengaruh Mataram (Jawa) terhadap kehidupan Ki Sunda. Pengaruh budaya Mataram yang cukup kuat terhadap Ki Sunda adalah feodalisme. Pengaruh itu terutama terjadi melalui bahasa, sehingga dalam bahasa Sunda terjadi undak-usuk (tingkatan) bahasa Huruf Jawa (Cacarakan) disosialisasikan dengan efektip dalam kehidupan di Tatar Sunda, sehingga sampai sekarang pun masih ada orang Sunda yang menganggap, bahwa Cacarakan adalah huruf Sunda). Dalam eksistensi Ki Sunda masa selanjutnya, perpaduan budaya Sunda dan budaya Jawa, disadari atau pun tidak, menjadi jati diri Ki Sunda.

2.2 Unsur-Unsur Jati Diri Ki Sunda
Telah disebutkan (pada uraian pendahuluan), bahwa jati diri Ki Sunda dapat dipahami melalui budaya kekuasaan dan kepemimpinan Ki Sunda di masa kerajaan, yang menunjukkan karakter pemiliknya. Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara (Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, dan Prasasti Cidangiang) menginformasikan tentang keagungan Purnawarman. Ia memiliki kekuasaan besar dan gagah berani. Oleh karena itu ia memiliki kharisma dan wibawa sangat besar, sehingga pemerintahannya berlangsung berdasarkan konsep otoritas-kharismatik.

Meskipun kekuasaan raja bersifat absolut, tetapi dalam menjalankan kepemimpinannya, ia adalah raja yang memiliki sifat-sifat baik, yait u bijaksana, jujur, kesatria, dermawan, dan hormat kepada para pangeran (pejabat tinggi kerajaan). Kebesaran, wibawa, dan kekuasaan Purnawarman dinyatakan dalam Prasasti Tugu dan Cidangiang, bahwa Purnawarman adalah “panji sekalian raja”. Sifat-sifat tersebut merupakan “akar” dari unsur-unsur jati diri Ki Sunda, karena sifat-sifat itu diwarisi oleh raja-raja Sunda berikutnya, termasuk raja-raja Galuh. Para pejabat tinggi bawahan raja pun kiranya menyerap sifat dan sikap raja melalui hubungan “kawula-gusti”.

Sumber-sumber sejarah yang akurat, antara lain prasasti, menyatakan bahwa Kerajaan Sunda dan Galuh dalam eksistensinya mengalami kejayaan. Kehidupan kerajaan dan masyarakatnya mengalami kesejahteraan. Hal itu terjadi berkat kepemimpinan yang baik dari raja-raja pada umumnya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, baik dalam menjalankan pemerintahan maupun dalam mengayomi masyarakat. Kekuasaan raja banyak ditujukan untuk kepentingan rakyat. Oleh karena itu, raja disenangi oleh rakyat dan menjadi panutan. Raja-raja Sunda yang memerintah silih berganti, meninggalkan nama yang wangi (citra yang baik), sehingga muncul julukan “siliwangi” bagi raja-raja Sunda.

Meskipun raja-raja Sunda memiliki kekuasaan absolut, tetapi mereka pun memiliki dan menerapkan sikap demokratis. Misalnya, Indrawarman, raja Tarumanagara kelima (455 – 515 M.) dan Sanjaya, raja Sunda-Galuh (723 – 732 M.), tidak mengharuskan (memaksa) rakyatnya untuk memluk agama/ajaran yang dianut oleh raja/keluarga kerajaan. Dalam menentukan batas wilayah kerajaan, Sanjaya melakukannya melalui musyawarah. Candrawarman, raja Tarumanagara keenam (515 – 535 M.), menyerahkan kembali pemerintahan beberapa daerah kekuasaannya kepada keturunan raja-raja daerah yang bersangkutan.

Bahwa sifat demokratis telah terdapat dalam budaya kekuasaan dan kepemimpinan Sunda masa kerajaan, ditunjukkan dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Naskah itu antara lain berisi ajaran kesusilaan (moral) dan gambaran birokrasi Kerajaan Sunda. Bagian awal naskah itu memuat dasar ajaran “Sanghyang Sasanakreta” (cara mencapai kesejahteraan), yaitu ajaran untuk melangsungkan pemerintahan. Dalam ajaran itu antara lain disebutkan bahwa “Siapa (penguasa) yang hendak menegakkan Sasanakreta, agar dapat lama hidup, lama berjaya, ternak berkembang biak, tanaman subur, selalu unggul dalam perang, sumbernya terletak pada orang banyak (rakyat)”. Disebutkan pula, bahwa apabila raja teguh dalam tugasnya sebagai penguasa, maka akan sejahteralah kerajaannya.

Ajaran tersebut rupanya dilaksanakan oleh raja-raja Sunda. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh Prasasti Kawali – yang bertuliskan huruf Sunda — peninggalan Prabu Wastukancana atau Prabu Raja Wastu (1371 – 1475). Dalam Prasasti Kawali I antara lain dinyatakan “….. parebu raja wastu mangadeg di kuta kawali ….. nu najur sagala desa …..” (“….. Prabu Raja Wastu bertahta di kota Kawali ….. yang mensejahterakan seluruh negeri …..”). Melalui prasasti itu, ia juga berwasiat kepada para penerusnya agar “membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia” (“pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana”). Dalam Prasasti Kawali II, Prabu Wastukancana juga berwasiat agar “membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang” (“pakena kereta bener pakeun nanjeur na juritan”).

Data tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan raja-raja Sunda pada umumnya termasuk ke dalam tipe pemimpin ideal, seperti disebutkan dalam naskah Carita Parahiyangan. Secara garis besar, tipe raja yang ideal menurut naskah itu adalah raja yang taat menjalankan ajaran agama, memelihara tradisi leluhur,menghormati pemimpin agama, memakmurkan negeri, mensejahterakan dan menenteramkan kehidupan rakyat.

Sifat dan sikap raja-raja Sunda tersebut, pada dasarnya terus terpelihara, paling tidak sampai dengan abad ke-19. Meskipun sejak akhir abad ke-16 kehidupan di Tatar Sunda mendapat pengaruh budaya luar (pengaruh Mataram, Belanda, dan pengaruh budaya asing lainnya), tetapi jati diri Ki Sunda pada masa kerajaan padasarnya diwarisi oleh para bupati Sunda umumnya pada masa kolonial. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah sumber sejarah yang cukup akurat, baik secara tersurat maupun secara tersirat.

Itulah gambaran jati diri Ki Sunda yang pada hakekatnya mengacu pada sifat dan sikap yang baik. Sifat dan sikap itu pula yang menjadi pandangan hidup Ki Sunda, seperti tercermin dalam sejumlah ungkapan tradisional. Ungkapan itu menunjukan pandangan hidup Ki Sunda tentang sikap manusia :
a) Manusia secara pribadi.
b) Hubungan pribadi dengan masyarakat (kehidupan bermasyarakat).
c) Sikap manusia yang mengacu pada alam.
d) Hubungan manusia dengan Tuhan.
e) Sikap manusia dalam mengejar kemajuan.

Contoh ungkapan-ungkapan dimaksud antara lain sebagai berikut :
a) Pandangan hidup manusia secara pribadi.
• Kudu hadé gogog hadé tagog (Harus baik budi bahasa dan tingkah laku)
• Teu busik bulu salambar (Pendirian yang kuat)

b) Pandangan hidup mengenai hubungan pribadi dengan masyarakat.
• Silih asih, silih asah, silih asuh
(Saling mengasihi, saling bantu, saling jaga untuk kebaikan)
• Ulah nyieun pucuk ti girang (Jangan mencari-cari bibit permusuhan)

c) Sikap manusia yang mengacu pada alam
• Manuk hiber ku jangjangna, jalma hirup ku akalna
(Setiap mahluk memiliki cara untuk melangsungkan kehidupannya)

d) Pandangan hidup mengenai hubungan manusia dengan Tuhan.
• Mulih ka jati mulang ka asal (Kematian itu bermakna berasal dari Tuhan,
kembali kepada Tuhan).

e) Sikap manusia dalam mengejar kemajuan.
• Ulah puraga tamba kadenda (Melakukan suatu pekerjaan harus sungguhsungguh,
jangan asal-asalan).
• Kudu tungkul ka jukut, tanggah ka sadapan (Dalam menghadapi suatu
urusan/pekerjaan harus konsentrasi, jangan tergoda oleh hal lain).

Ungkapan-ungkapan tersebut berasal dari masa lampau, kemudian diserap secara turun-temurun. Oleh karena itu, makna ungkapan-ungkapan itu pun merupakan unsur atau bagian dari jati diri Ki Sunda.

III. PENUTUP
Secara historis, jati diri Ki Sunda berakar dari masa lampau yang bertitik tolak dari masa kerajaan. Jati diri itu ditunjukkan oleh karakter yang tercermin dalam budaya kekuasaan, budaya kepemimpinan, dan budaya hidup pribadi dan bermasyarakat.

Masa kerajaan di Tatar Sunda berlangsung sangat lama, lebih-kurang 13 abad (pertengahan abad ke-4 s.d. akhir abad ke-16). Oleh karena itu, jati diri Ki Sunda mengakar dengan kuat. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah Ki Sunda, jati diri itu cenderung berangsur-angsur luntur, bahkan sekarang banyak orang Sunda yang terkesan kehilangan jati diri.

Kondisi tersebut kiranya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, akibat pengaruh budaya lain (budaya deungeun). Unsur-unsur budaya lain, khususnya budaya barat, makin lama makin masuk dan meresap dalam kehidupan Ki Sunda, akibat perkembangan teknologi, antara lain media elektronik (televisi dan lain-lain). Dampaknya, “tontonan menjadi tuntunan”.

Kedua, dari contoh-contoh kasus yang terjadi, terkesan adanya sikap yang cenderung kebablasan dalam mengartikan kemerdekaan dan reformasi. Kemerdekaan
diartikan sebagai kebebasan, dan reformasi diterapkan pula terhadap jati diri
(reformasi jati diri).

Ketiga, secara umum, sekarang ini hampir tidak ada pemimpin yang benarbenar
dapat menjadi panutan. Sejak Indonesia merdeka, lepas dari belenggu penjajahan sampai sekarang, Ki Sunda belum memiliki pemimpin yang menduduki jabatan tertinggi di tingkat nasional. Pemimpin Ki Sunda di tingkat daerah, terkesan kurang memelihara jati diri Ki Sunda khususnya dan budaya Sunda umumnya.

Keempat, bangsa kita, termasuk Ki Sunda, umumnya kurang memiliki kesadaran sejarah. Padahal sejarah berisi akumulasi pengalaman penting manusia, yang maknanya baik untuk dipetik sebagai bahan pelajaran. Oleh karena itu, pikeun mulangkeun deui (untuk mengembalikan lagi) jati diri Ki Sunda, maka Ki Sunda harus mau belajar dari sejarah, dalam arti belajar dari pengalaman dan memahami makna kejadian/peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan Ki Sunda khususnya dan kehidupan bangsa Indonesia umumnya.

SUMBER ACUAN
Alisjahbana, Samiati. 1954. A Preliminary Study of Class Structure Among the Sundanese in the Priangan. Master Thesis. Cornell University.

Atja. 1981. Carita Parahiyangan; Transkripsi, Terjemahan dan Komentar. Bandung :
Poyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

——–. 1981. Sanghiang Siksa Kanda Ng Karesian. Bandung : Poyek Pengembangan
Permuseuman Jawa Barat.

Berg, L.W.C. van den. 1902. De Inlandsche Rangen en Titels op Java en Madoera. ‘s-Gravenhage : Martinus Nijhoff.

Danasasmita, Saleh et al. 1983/1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Jilid ke-2 dan ke-3. Bandung : Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat.

——–. 1985. Siliwangi Sebagai Pangkal Silsilah Kebangsawanan. Makalah pada Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Siliwangi. Bandung.

——–. 1987. Sewaka Dharma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat dari Galunggung. Bandung : Proyek Sundanologi.

Deenik, A.C. 1929. Aanvulingen op Babad Pasoendan Djeung Ringkesan Babad Hindia Belanda. Groningen : Wolters.

Ekadjati, Edi S. 1997. Wawacan Sajarah Galuh. Bandung : EFEO. Hardjasaputra, A. Sobana. 1985.

Bupati-Bupati Priangan; Kedudukan dan Peranannya Pada Abad Ke-19. Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

——–. 2003 Budaya Kekuasaan Sunda; Analisis Historis. Makalah dalam seminar dengan tema “Sunda dan Budaya Kekuasaan”. Bandung : IAIN Sunan Gunung Jati.
Jawa Barat. Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I. 1993. Sejarah Pemerintahan di Jawa Barat. Bandung.

Lubis, Nina H. 1998. Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1800 – 1942. Bandung : Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

Mayer, L.Th. 1889. Soerat Kandoengan Boeat Goenanja Segala Prijajie-Prijajie jang Memegang Pekerdjaan di Tanah Gouvernemennan di Poelo Djawa dan Madoera. I.
Semarang : Van Dorp.

Rusyana, Yus. 1985. Carita Pantun tentang Prabu Siliwangi dan Tedak Pakuan. Makalah pada Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Siliwangi. Bandung.

Sutaarga, Moh. Amir. 1984. Prabu Siliwangi. Jakarta :Pustaka Jaya.

Warnaen, Suwarsi et al. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin Dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung : Depdikbud. Dirjen Kebudayaan. Bagian Proyek Sundanologi.

Sumber Tulisan:

Gentra Galuh, Edisi III/Oktober/2007
*) Penulis Sobana Hardjasaputra adalah sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Makalah disampaikan dalam seminar bertema ‘Ngaguar Budaya Sunda Pikeun Mulangkeun Jati Diri Ki Sunda”. Seminar diselenggarakan oleh Yayasan Wawangi Sunda bekerjasama dengan Pamanahan (Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan, KPM Galuh Rahayu Yogyakarta, tanggal 25 September 2003 di Kampus UGM)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2011 in DEP SENIBUDAYA

 
 
%d blogger menyukai ini: