RSS

SMA Se-Bandung Pentaskan Ciung Wanara

18 Apr
RETNO HY/"PRLM"

RETNO HY/”PRLM”
SALAH satu adegan Teater Musikal Kolosal The Legend of West Java “Ciung Wanara” diikuti tujuh puluh lebi siswa siswi SMU Se Kota Bandung bertempat di gedung Kesenian Rumentangsiang Jalan Baranangsiang, Kosambi Bandung, direncanakan akan digelar selama tiga puluh hari berturut-turut.*

BANDUNG,(PRLM).- Sebanyak 75 siswa sejumlah SMU di Kota Bandung bergabung mementaskan Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”. Pegelaran yang direncanakan selama tiga puluh hari berturut-turut akan digelar di Gedung Kesenian Rumentangsiang dan Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

“Terus terang, pegelaran yang diprakarsai AAP (Anka Adika Production) ini bukan untuk mengulangi sukses ‘Surabi Bandung’ (Namaku Bukan Juliet) yang juga dipentaskan selama dua puluh hari dan ditonton lebih dari 30.000 orang.

Pegelaran kali ini murni sebagai bentuk apresiasi, kreasi serta ekspresi anak-anak sekolah yang ingin mengembangkan kemampuan mereka dalam berkesenian,” ujar Anton Justian Jr, seusai pegelaran perdana Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, bertempat di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jalan Baranangsiang 1, Kosambi, Bandung.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, setiap harinya digelar setiap pukul 15.00 WIB. Di GK Rumentangsiang, Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tampil mulai tanggal 2 hingga 20 Maret dan disambung pada tanggal 9 hingga 14 Mei, kemudian di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, akan dipegelarkan pada 24 hingga 27 Mei mendatang.

Teater Musikal The Legend of West Java “Ciung Wanara”, tidak jauh berbeda dengan cerita legenda sebenarnya. Hanya dialog dan cara membawakan yang rada ngepop layaknya teater anak muda.

Diceritakan, Prabu Barma Wijaya Kusuma, Raja Galuh memiliki permaisuri bernama Pohaci Naganingrum dan Dewi Pangrenyep yang tengah mengandung. Dewi Pangrenyep melahirkan lebih awal seorang putra dan diberi nama Hariang Banga.

Saat Hariang Banga berusia 3 bulan, Dewi Pangtenyep khawatir rasa Cinta Prabu Barna Wijaya Kusuma berpaling ke putra Dewi Pohaci. Karenanya begitu Dewi Pohaci melahirkan bayinya diganti dengan anak seekor a***g, sementara bayi aslinya dimasukan dalam kandaga emas berikut sebutir telur dan dihanyutkan ke Sungai Citandui, dan sang bayi dipelihara hingga dewasa oleh Aki dan Nini Balangantrang di Desa Geger Sunten.

Anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ciung Wanara senantiasa membawa ayam jantannya untuk diadukan. Akhir cerita terkuak siapa sebenarnya Ciung Wanara, saat ayam jantan milik Ciung Wanara mengalahkan ayam jantan Raja Galuh. (A-87/A-26).***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/137

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SENI BUDAYA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: