RSS

Jendela Budaya “Urang” Sunda

23 Feb

“Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. Leungit ciri tinggal cara” (Budaya yang kita miliki selama ini agar jangan sampai terdesak oleh budaya lain).

PEPATAH Sunda di atas merupakan suatu imbauan atau ajakan bagi kita semua, untuk senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadat di mana pun kita berada. Ini sejalan dengan timbulnya berbagai kekhawatiran, khususnya di kalangan orang tua terhadap generasi muda kini. Tak jarang kita lihat, banyak kaum muda yang telah terpengaruh

budaya deungeun (bangsa lain), bahkan terjerumus ke dalam jurang kenistaan.

Tak sulit untuk membuktikan pengaruh atas kekhawatiran itu di zaman yang serbacanggih sekarang ini. Sebut saja, tindak kekerasan pada generasi muda, yang senantiasa menghiasi halaman surat kabar atau tayangan di televisi. Tidak sedikit pula anak-anak muda kini telah terbiasa mengonsumsi barang haram alias narkoba.

Entah sebagai pengaruh dari berbagai bahan bacaan, film, ataupun informasi yang dikaji secara salah kaprah, yang jelas, indikasi mental generasi muda kita yang lunak dan mudah terpengaruh tampaknya semakin nyata. Secara tidak sadar mereka telah masuk ke dalam lingkaran setan yang membahayakan hidup kita.

Melihat makin menggejalanya budaya lain merasuk kepada generasi muda, makin tinggi pula kekhawatiran kita terhadap anak-anaknya terperosok ke dalam jurang kenistaan.Terlebih orang tua yang mempunyai anak-anak remaja di perantauan. Karena jangankan jauh dari pengawasan, ketika anak-anak berada satu rumah pun, pengaruh negatif senantiasa menghantui dan mengancam kehidupan.

Kalau segalanya sudah telanjur, kita hanya bisa mengusap dada dan menerima kenyataan pahit. Akankah berbagai pengaruh negatif kita biarkan merasuk dan merusak generasi muda?

Tentunya, kita semua tak ingin hal itu terjadi sehingga segala sesuatunya harus dipersiapkan dan diantisipasi sedini mungkin. Apalagi warga Jawa Barat memiliki budaya Sunda yang mengajarkan etika dan nilai-nilai luhur. Jangan sampai budaya Sunda yang kita junjung, luntur atau bahkan hilang seketika akibat pengaruh luar.

Kekhawatiran itu pula yang senantiasa menghantui atau muncul di benak Ki Demang Wangsafyudin, S.H., pupuhu adat sekaligus sesepuh Paguyuban Warga Jawa Barat (PWJB) di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

Seperti dituturkan Mang Demang–sapaan akrab Ki Demang Wangsafyudin–PWJB kini merangkul tak kurang 37.000 warga Sunda (Jawa Barat) yang tinggal di Yogyakarta. Pendiriannya dijajaki sekitar tahun 1951-an, bermula dari sebuah perkumpulan “kontak biro” yang dibentuk orang-orang Sunda yang tinggal di Yogyakarta. Setahun kemudian (1952) paguyuban yang diprakarsai oleh Prof. Kusnadi Hardjasumantri (alm.) itu pun terbentuk.

**

AWALNYA kontak biro hanya diminati oleh orang-orang yang peduli untuk senantiasa menjunjung tinggi budaya leluhur (asal), yakni Sunda sebagai tempat kelahiran mereka. Waktu pun berlalu, tahun 1964 kontak biro mulai dilirik kalangan muda, umum, mahasiswa, serta pelajar dari Jawa Barat yang menuntut ilmu di Yogyakarta. Bahkan, kemudian peminatnya tak terbatas pada warga Sunda (Jawa Barat), tetapi juga warga dari daerah lain yang tinggal di Yogyakarta, termasuk orang Yogyakarta sendiri.

Kontak biro pun berubah menjadi paguyuban bernama Paguyuban Warga Jawa Barat dan membentuk enam komisariat, antara lain Komisariat Galuh Rahayu, KPC Cirebon, KPMB Bandung, Jakarta Raya, Suryakancana (terdiri atas warga asal Bogor, Karawang, Cianjur, dan Sukabumi), serta KBY Banten.

Kalangan muda dan pelajar pun makin menampakkan ketertarikannya maka tahun 1972 terbentuk KPM (Keluarga, Pelajar, dan Mahasiswa) Jawa Barat. Ini berbarengan dengan pendirian pemondokan bagi para pelajar dan mahasiswa warga Jawa Barat. Tak heran jika asrama ini diwarnai berbagai kegiatan seni bernapaskan Sunda, yang diprakarsai oleh Sanggar Seni Sunda Paguyuban, antara lain degung, kecapi suling, seni tari, serta perpustakaan Sunda. “Tempat dan berbagai kegiatan di sini bisa dikatakan sebagai jendela budaya Jawa Barat,” tutur Mang Demang.

Kegiatan seni pun pada perkembangannya tak hanya dinikmati oleh orang Sunda, tetapi juga masyarakat Yogyakarta. Tidak jarang mereka (warga Yogya) bahkan kalangan keraton, mengundang seni Sunda ini untuk mentas (gelar kebolehan). Antara lain pada acara ritual peringatan panjang jimat (setiap tanggal 10 Maulud), atau acara silaturahmi/halalbihalal di kalangan orang-orang keraton, serta perayaan pawai budaya.

“Lewat berbagai kegiatan seni ditunjang oleh acara dialog Sunda secara rutin, paguyuban bisa dibilang onjoy (unggul) di antara perkumpulan warga lain yang ada di Yogyakarta,” katanya.

Mang Demang yang beristrikan orang asli Kota Gudeg melihat, saking kompak dan banyaknya kegiatan positif yang ditunjukkan warga Jabar di paguyuban ini, menjadi filter khususnya bagi kaum muda. Dengan menjunjung tinggi budaya sendiri, paling tidak bisa menekan kecenderungan negatif arus budaya lain.

Oleh karena itu, katanya, paguyuban akan terus berusaha untuk merekrut anggota, khususnya warga Jabar sebanyak mungkin, tanpa memandang sebelah mata adanya dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari pemerintahan Jabar sendiri. Biar bagaimanapun, paguyuban telah menjadi wahana atau sarana, dalam rangka mempromosikan budaya dan wisata Jabar.

Masing-masing membentuk wadah sesuai minat dan ketertarikan, seperti Paguyuban Kerupuk yang dihuni oleh para pengusaha kerupuk, Paguyuban Tanaman Hias, Paguyuban Bubur Kacang Ijo, Paguyuban Teralis, Paguyuban Fotografer, serta Paguyuban Istri-istri PWJB.

“Sebagai masyarakat pendatang, sudah seharusnya kami membanggakan sekaligus mempromosikan daerah asal sendiri. Untuk itu, mau nggak mau kami harus nyontoan, dengan berbuat positif dan bermanfaat. Ibaratnya, kami harus punya prinsip teuas peureup, lemah usap (berani tapi mempunyai rasa sayang-red.), atau pageuh keupeul lega aweur (hidup hemat, tetapi tidak pelit-red.),” tambah Mang Demang yang juga menjadi pengacara LBH Armidah.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2011 in KABAR YOGYAKARTA, KEGIATAN MAHASISWA DJOGJA

 

One response to “Jendela Budaya “Urang” Sunda

  1. Ratih PurwaningtyasA (@raaraatih)

    Juni 27, 2012 at 2:53 pm

    makasih ya, artikelnya bermanfaat bgt🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: