RSS

Milangkala VII Sanggar Seni Simpay

11 Feb

Oleh: Luqman nul Hakim, Penikmat kesenian daerah, aktif di Komunitas Pojok Kolonial, tinggal di Yogyakarta.

Bumi Priangan dihampar, melampaui sekat geografis. Yang merasa bukan Sunda atau tak sepenuhnya Sunda terangkat beban-beban kulturalnya.

Pelataran itu dibiarkan gelap, hanya mengandalkan lampu minyak yang berkedipan di beberapa sudut, sementara panggung beton itu dibuat sedemikian terang, dengan kelir serba putih. Tiga pemuda duduk di tengah panggung, memainkan kecapi suling dan melantunkan lagu lawas, Angin Priangan. Dari sudut pintu masuk, panggung putih itu terlihat seperti sebuah pulau di tengah kerlap-kerlip perahu nelayan. Bumi Priangan seakan-akan hadir di hadapan para pengunjung.
Malam itu, Sabtu 30 Mei 2009, adalah malam kesenian untuk Perayaan Milangkala VII Sanggar Seni Simpay, Keluarga Pelajar Mahasiswa (KPM) Galuh Rahayu Ciamis-Yogyakarta—sebuah perkumpulan mahasiswa asal Kabupaten Ciamis di Yogyakarta, yang telah berdiri 44 tahun silam. Kendati sejak tahun 1980-an, komunitas ini sudah sangat solid dalam berkesenian, namun secara formal Sanggar Seni Simpay (simpay: pengikat untuk sapu lidi) baru dibentuk pada Mei 2002.
“Usia tujuh tahun boleh dikatakan masih sangat muda untuk ukuran sebuah sanggar seni, tapi bisa bertahan tujuh tahun adalah sebuah keajaiban di tengah-tengah tuntutan mahasiswa yang cenderung ingin lekas lulus,” tutur Muhtadin, ketua KPM Galuh Rahayu. Memang tak mudah untuk menjaga konsistensi berkesenian, dengan latar belakang mahasiswa yang beragam dan berorientasi cepat lulus. Selain soal regenerasi, pilihan untuk konsisten pada seni tradisi juga sering dihadapkan dengan kecenderungan mahasiswa yang lebih gandrung pada seni modern.

Sentuhan Baru
“Tetapi itulah uniknya di Sanggar Seni Simpay, memang seni tradisi yang diutamakan, tetapi teman-teman juga sangat kreatif untuk membuat sentuhan-sentuhan baru,” kata Risiris, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, mantan ketua Sanggar Seni Simpay. Dan memang seperti itulah yang dapat disaksikan pada malam itu: meskipun tetap menggunakan instrumen gamelan Sunda, tetapi kreasi-kreasi yang dimunculkan amat segar.
Upacara Adat, sebagai pembuka acara, juga tidak seperti umumnya yang terdapat di daerah-daerah Sunda. Meski tetap menggunakan beberapa mamayang (penari), seperti umumnya dalam upacara adat biasa, tetapi Ki Lengser, pemimpin upacara adat yang secara ikonik biasa ditampilkan sebagai seorang tua bijak, dengan bungkuk dan janggut putihnya, justru dimainkan oleh seorang muda yang penuh semangat.
Sentuhan yang segar juga dihembuskan pada penampilan Calung, semacam seni bodor yang tiap pemainnya membawa alat musik bambu. Mereka lebih berani mengambil inovasi—baik warna musik ataupun tema—dan pintar mengkontekstualisasikan dengan publiknya. Cerita-cerita yang diangkat juga lebih familiar dengan isu-isu yang dihadapi dunia mahasiswa: tentang sindiran kuliah tak lulus-lulus, tentang parodi demonstrasi, tentang kisah cinta yang ditolak, bahkan tentang sinisme calon presiden.
Apresiasi penonton semakin memuncak ketika lima orang muda-mudi dengan apik menampilkan akustik dan melantunkan lagu-lagu Sunda yang akrab di telinga sebagian besar pengunjung. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa Ciamis yang belajar Pendidikan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). “Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang keahlian khusus semacam itu, akan semakin mewarnai kreasi di sanggar dan sangat bermanfaat untuk bertukar pengalaman dengan anggota lain yang relatif belum familiar dengan seni,” ungkap Ahmad Mustofa, Ketua Sanggar Seni Simpay Periode 2009-2010.
Yang selalu ditunggu-tunggu para pengunjung dan sudah menjadi trademark Sanggar Seni Simpay adalah pementasan Longser, sebuah sandiwara Sunda yang di Priangan sendiri sudah hampir punah. Dengan tema-tema dan pembawaan para aktor-aktris yang terampil, Longser ini sama sekali tak tampak sebagai kesenian yang jadul. Dengan melibatkan partispasi para penontonnya dalam beberapa dialog, dengan celetukan dan komentar spontan yang tak terduga, maka ikatan antara pemain dan penonton pun menjadi sangat cair.

Etos Sunda
Sanggar Seni Simpay sudah memiliki kalender pementasan yang padat sepanjang tahun. Selain untuk pementasan reguler di Asrama Galuh Rahayu, Jalan Veteran, Warungboto UH IV/756, juga aktif berpartisipasi dalam berbagai pentas bersama, baik di Yogyakarta maupun di luar kota, termasuk Bali, Bandung, dan Bogor.
Selain itu, setiap dua tahun sekali, ketika KPM Galuh Rahayu mengadakan kegiatan Dies Natalis-nya di Kabupaten Ciamis, Sanggar Seni Simpay selalu membuat lomba beberapa cabang kesenian Sunda yang diikuti oleh pelajar-pelajar Sekolah Menengah Atas di lingkungan Kabupaten Ciamis. “Kegiatan ini sudah menjadi agenda tetap, dan SMA-SMA juga selalu menunggu event ini. Selain untuk ajang lomba, kegiatan ini juga ditujukan untuk merangsang siswa-siswa SMA untuk kuliah di Yogyakarta dan berkesenian di Sanggar Seni Simpay. Semacam strategi regenerasi.” Kata Tatang, salah satu pendiri Sanggar Simpay yang sekarang bekerja di salah satu bank di Bandung.
Ada hal yang cukup menarik: yang berkesenian di Sanggar Seni Simpay pada umumnya bukanlah para seniman yang sudah jadi, tapi justru sebaliknya, kebanyakan mereka hanya bermodal semangat dan kemudian digembleng di sanggar. Bahkan ada sebagian orang yang malah belum pernah mendengar nama-nama jenis pementasan sama sekali. Rupa-rupanya Sanggar Seni Simpay cukup berhasil membangkitkan etos Sunda bagi mahasiswa perantau. “Jangankan pernah tahu apa itu Longser, aku bisa bahasa Sunda saja di sini,” seloroh Nurul, mahasiswa STIE-YKPN yang kini menjadi salah satu aktor kawakan Longser di Sanggar Seni Simpay. Maklum, dia berasal dari Kecamatan Lakbok, yang secara geografis lebih dekat dengan perbatasan Jawa Tengah dan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa Cilacap. Sebuah pengakuan yang menggelitik.
Hal serupa juga saya alami. Saya tidak punya darah Sunda sama sekali, meskipun sudah beberapa generasi tinggal di Ciamis. Sehari-hari saya menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia di rumah, meskipun kalau sudah membuka pintu harus berganti bahasa sebab bagaimanapun juga lingkungan itu berbahasa Sunda. Bahkan sejak kecil juga ditanamkan untuk tidak seperti orang Sunda. Memang aneh sekali. Ehm, tapi ketika menempuh studi di Yogyakarta, dan aktif dalam kegiatan Sanggar Seni Simpay, beban-beban kultural itu seolah lenyap. Dengan enteng menyebut diri sebagai orang Sunda.

dari:http://www.gong.tikar.or.id/?mn=lintasbudaya&kd=51

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 11, 2011 in DEP INFOHUM, DEP SENIBUDAYA

 

One response to “Milangkala VII Sanggar Seni Simpay

  1. tatang

    Februari 22, 2011 at 3:33 pm

    Sampurasun…sampurasun…sampurnaning ingsun… “bangga memiliki sesuatu” mangrupikeun “entry point” kana berbudaya. kade sanes mung ukur “ber-kesenian”. teu katalikung ku bentuk sumawona pangaji, tapi justru ruh nu kudu cukcruk. saperkara nu nyelip na wangwangan soal galuh, lamun galuh dibentuk ku perspektif doktrin budaya fanatisme semu tangtu rahayu moal luyu. tapi bukti, nepika kiwari galuh tetep konsisten dina misi budaya nu teu kudu diributkeun tapi ditanjeurken.
    pikeun galih…………”REUEUS”

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: