RSS

PERPINDAHAN IBU KOTA KERAJAAN SUNDA

05 Des
Konon menurut salah satu versi, antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat sering diramaikan oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat. Salah satu peristiwa kepindahan ini diabadikan oleh Kai Raga, dari gunung Srimaganti (Cikuray), didalam Carita Ratu Pakuan. Cuplikan kisah ini digambar, sebagai berikut :
Dicarita Ngabetkasih
Kadeungeun sakamaruna
Bur payung agung nagawah tugu
Nu sahur manuk sabda tunggal
Nu deuk mulih ka Pakuan
Saundur ti dalem timur
Kadaton wetan buruhan
Si mahut putih gede manik
Maya datar ngaranna
Sunijalaya ngaranna
Dalem Sri Kencana Manik
Bumi ringit cipta ririyak
Di Sanghyang Pandan Larang
Dalem si Pawindu Hurip
Keyakinan dalam menetapkan kedudukan ibukota pemerintahan tidak terlepas dari masalah keamaman negara dan kesejahteraan rakyatnya. Didalam paradigma masyarakat tradisional dapat pula dipengaruhi oleh dorongan spiritual. Karena sifatnya yang selalu berpindah-pindah didalam masyarakat modern ditafsirkan sebagai masyarakat nomaden. Hal yang sama pada pasca kemerdekaan dilakukan pula oleh masyarakat yang berada di Sukabumi Selatan, atau masyarakat Cipta Gelar, namun yang perlu dipahami adalah latar belakang kepindahannya, bukan hanya melihat sifatnya yang kerap berpindah-pindah.
Ibukota di timur
Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali yang berlokasi di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV Galuh dan Sunda kerap disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).
Gejala peralihan pusat pemerintahan sudah nampak pada masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297 – 1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan, karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja Saunggalah menggantikan ayahnya. Tetapi pada ketika digantikan pleh Prabu Citraganda, pemerintahan dipusatkan di Pakuan.
Prabu Darmasiksa menunjuk putera Prabu Ragasuci sebagai calon ahli warisnya yang bernama Citraganda. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa (Puteri Kerajaan Melayu) adik Dara Kencana isteri Kertanegara.
Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama 6 tahun di Pakuan, sedangkan raja Sunda yang dijabat ayahnya berkedudukan Saunggalah. Citraganda dipusarakan di Tanjung. Kemudian digantikan oleh Prabu Lingga Dewata, ia diperkirakan berkedudukan di Kawali, ia disebut-sebut sebagai raja peralihan, karena para penggantinya berkedudukan di Kawali.
Raja-raja di Kawali
Prabu Lingga Dewata digantitkan oleh Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340), menantunnya yang menikah dengan Dewi Uma Lestari atau Ratu Santika. Ajiguna Wisesa diperkirakan sudah berkedudukan di Kawali. Dari pernikahannya ia memiliki dua orang putra, yakni Ragamulya dan Suryadewata. Ragamulya menggantikan posisi Ajiguna Wisesa sebagai raja Sunda, ia bergelar Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, bertahta dari tahun 1340 – 1350 masehi, dalam Carita Parahyangan disebut Sang Aki Kolot, sedangkan Suryadewata disebut-sebut sebagai leluhur kerajaan Talaga, ia menjadi raja daerah disana, namun ia wafat ketika sedang berburu, dan dimakamkan di Wanaraja (Garut), sehingga ia diberi gelar Sang Mokteng Wanaraja.
Aki Kolot mempunyai dua orang putra, yakni Linggabuana dan Bunisora. Kelak keduanya menjadi raja di Kawali dan memiliki nama yang harum bagi sumbangsihnya terhadap perjalanan sejarah di tatar Sunda.
Linggabuana menggantikan Sang Aki Kolot, dengan nama nobat Prabu Lingga Buana (1350 – 1357), ia dikenal pula dengan sebutan Prabu Maharaja. Setelah peristiwa Bubat ia dijuluki Prabu Wangi, sebagai gelar kehornatan atas keberaniannya. Lingga Buana dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka, bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1350 masehi. Sebelum menggantikan posisi ayahnya, ia pernah menjabat sebagai adipati selama tujuh tahun dibawah perintah Sang Ajiguna, kakeknya. Kemudian ia pun menjadi Mahamantri merangkap sebagai putra mahkota selama dua tahun dibawah perintah Aki Kolot, ayahnya.
Prabu Linggabuana mengalami peristiwa di bubat, yang disebut Pasunda Bubat. Ia gugur di Bubat. Sebagai penggantinya (raja panyelang) diteruskan oleh Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora (ada juga yang menyebut Prabu Kuda Lalean). Selain itu ia pun dijuluki Batara Guru di Jampang. Mangkubumi Suradipati dimakamkan di Geger Omas.
Prabu Linggabuana beristrikan Dewi Lara Lisning. Dari pernikahannya memperoleh empat orang putra fan putri. Putri sulungnya diberi nama Citraresmi, oleh kakeknya diberi nama Dyah Pitaloka. Ia dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk, namun didalam Pasunda Bubat ia gugur, dengan cara melakukan belamati. Putra yang kedua dan ketiga Linggabuana meninggal pada usia satu tahun. Putra yang keempat diberi nama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1348 masehi.
Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia adalah satu-satunya ahli waris kerajaan yang hidup karena seluruh kakaknya sudah meninggal. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya, Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun. Permaisurinya yang pertama adalah Lara Sakti puteri Lampung. Wastu Kancana dikenal raja yang adil dan bijaksana, sehingga ia pun diberi gelar Prabu Wangi Sutah.
Niskala Wastu Kencana memiliki dua orang putra, yakni Sang Haliwungan, pasca penobatan bergelar Prabu Susuktunggal. Dari permaisuri yang kedua (Mayangsari), puteri sulung dari Bunisora, ia pun memiliki putra, diberi nama Ningrat Kancana, setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Dewa Niskala.
Tentang Prabu Maharaja, Bunisora dan Niskala Wastu Kancana diterangkan di dalam Carita Parahyangan. Tentunya banyak pujian yang dialamtakan kepada Niskala Wastu Kancana. Isi dari Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :
  • ·         Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.
  • ·        
  • ·         Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.
  • ·        
  • ·         Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.
  • ·        
  • ·         Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati 35). Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. Ngukuhan angger-angger raja 36), ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.
S Setelah Wastu Kancana wafat pada tahun 1475, kerajaan dipecah dua, masing-masing dikuasai oleh Susuktunggal (Sunda) dan Dewa Niskala (Galuh). Kerajaan tersebut hidup sedarajat dan berdampingan. Namun politik kesatuan wilayah kembali membuat jalinan perkawinan diantara putra-putri keduanya, dengan demikian kekuasaan Wastu Kencana bersatu kembali.
Jayadewata, atau sering disebut Prabu Silihwangi, putera Dewa Niskala, mula-mula memperistri Ambetkasih, puteri Ki Gedeng Sindangkasih, kemudian memperistri Subanglarang, puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi Raja Singapura.
Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 – 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.
Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di “Astana Gede ” Kawali. Prasasti tersebut menegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup).
Ibukota kembali ke Pakuan
Kejatuhan Prabu Kertabumi (Bre Wijaya V) Raja Majapahit pada tahun 1478, secara tidak langsung mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi.
Raden Baribin beserta rombongannya diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang istrinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah bertunangan.
Perkawinan dengan pengungsi tersebut didalam Carita Parahiyangan disebutkan “istri larangan ti kaluaran”, karena sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit. Selain itu, menurut “perundang-undangan” seorang wanita yang bertunangan tidak boleh menikah dengan laki-laki lain kecuali bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan. Dalam hal ini Dewa Niskala dianggap telah melanggar dua peraturan sekaligus dan sebagai raja dianggap berdosa besar.
Kehebohan pun tak terelakkan. Susuktunggal, raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala mengancam memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri.
Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada Jayadewata, putranya. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan.
Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan karena ia telah lama tinggal di Pakuan untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan (***).
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in KERAJAAN SUNDA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: