RSS

KEUTUHAN KERAJAAN SUNDA

05 Des
Didalam bab terdahulu telah diuraikan tentang Prabu Darmasiksa dan kaitannya dengan Amanat Galunggung. Ia memiliki visi penting tentang peranan Kabuyutan dan spirit atas nilai-nilai Galunggung yang perlu dipertahankan oleh anak cucunya. Namun siapakah Prabu Darmasiksa ? dan sebesar apakah peranannya terhadap ajegna Kerajaan Sunda ?.
Prabu Darmasiksa didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).
Carita Parahyangan menceritakan Darmasiksa sebagai titisan Dewa Wisnu yang mengikuti Sanghyang Rama dan mengamalkan Sanghyang Siksa. Fragmen tersebut, sebagai berikut :
  • · Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti.
  • · Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. “Tina naon berkahna?” Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa.
Pustaka Nusantara II menerangkan bahwa permaisuri Darmasiksa keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari pernikahannya melahirkan dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.
Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawarmadewa, dari Melayu. Sedangkan Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara, raja Singosari.
Darmasiksa mencoba memperbaiki hubungan antara Melayu dengan Singosari melalui tali perkawinan putra-putranya. Dengan posisi demikian ia mampu menempatkan Sunda menjadi negara yang netral diantara dua kekuatan yang berseteru.
Perjanjian Sriwijaya – Kediri
Pada masa Darmasiksa memang Sunda tidak memiliki angkatan laut yang kuat, sebagaimana yang dimiliki Sriwijaya dan Jawa Timur. Hal ini terjadi pula pada masa ia memindahkan wilayahnya ke Saunggalah II, sehingga menyebabkan pantai utara Jawa Barat menjadi sarang bajak laut, dan berangsur-angsur pelabuhan bagian utara Cimanuk secara de facto menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya.
Di Jawa Timur sejak masa Jayabaya (1135 – 1159 M), Kediri mulai berkembang, ia memiliki angkatan laut sebanyak tiga laksa (+ 30.000) prajurit. Kediri makin berkembang pesat setelah dipegang oleh cucunya, yakni Sri Maharaja Aryeswara (1171 – 1181 M), sering juga dipanggil Prabu Angling Darma. Namun ia tidak berhasilkan mengalahkan Sriwijaya dilaut.
Setelah wafat ia diganti oleh putranya, yakni Sri Ganda (1181 – 1185 M) dengan gelar Prabu Ajipanasa Sri Kroncaryadipa. Sri Ganda melanjutkan keinginan ayahnya untuk mengalahkan Sriwijaya. Pertempuran tersebut terjadi di perairan Sunda, kedua belah pihak menderita kekalahan dan mundur ke basis masing-masing. Akhirnya kedua pihak tersebut memintakan bantuan Maharaja Cina untuk memberikan perlindungan.
Pada tahun 1182, Maharaja Cina mengabulkan permohonan bantuan tersebut dengan menyarankan agar keduanya berdamai, kemudian menyepakati untuk mengadakan perdamaian. Perjanjian dimaksud dilakukan di Sundapura.
Perundingan damai dipimpin langsung oleh Duta Cina, disaksikan oleh negara-negara sahabat kedua belah pihak, termasuk raja Sunda. Hasil perundingan disepakati, bahwa Sriwijaya dan Kediri hanya boleh bergerak di wilayahnya masing-masing, yakni Sriwijaya bergerak dikawasan Nusantara sebelah barat sedangkan Kediri disebelah timur Nusantara.
Posisi dari hasil perundingan ini menggugah pula Darmasiksa, untuk memindahkan Sunda kewilayah yang dekat dengan pantai. Maka pada tahun 1187 ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan, Keraton yang semula didirikan oleh Maharaja Tarusbawa.
Ekspansi Singasari ke Sriwijaya (Pamalayu)
Pada tahun 1182 M terjadi babak baru perubahan perpolitikan di Jawa Timur. Ken Angrok berhasil membunuh Tunggul Ametung dan menjadi Akuwu Tumapel. Cucu dari Ken Angrok dari Ken Umang, yakni Mahisa Campaka disebut-sebut lebih akrab berhubungan Sunda, sehingga terjadi persahabatan diantara Sunda dengan Tumapel.
Pada masa Jayawisnuwardana, raja Tumapel yang berkuasa dari tahun 1250 – 1268 M, cucu Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini berbesanan dengan raja Melayu. Dengan posisi ini Darmasiksa memiliki posisi yang strategis dari pertalian perkawinannya. Ia berbesanan dengan raja Melayu dan raja Tumapel, ia pun merupakan kerabat Sriwijaya dari trah istrinya.
Pada masa-masa itu Sriwijaya sedang mengalami penurunan pamor, namun mendapat perlindungan Maharaja Cina. Di Jambi telah berdiri kembali kerajaan Melayu, bernama Melayu Darmasraya. Peristiwa lainnya dalam tahun 1128 M telah berdiri kerajaan Islam pertama di Pasai, diperintah oleh Sultan Abdul Al-Kamil. Selain itu pada tahun 1151 M di Perelak berdiri pula negara Islam dibawah Sultan Alaidin Syaj (1151 – 1186 M). Negara Islam kecil tersebut mendapat dukungan dari Mesir, Gujarat dan Singasari, sehingga berani menentang Sriwijaya.
Pada tahun 1275 M Sultan Makhdum Abdul Malik Syah menyatakan bahwa Perlak tidak lagi dibawah Sriwijaya. Sebelum mengeluarkan statement tersebut terlebih dahulu meminta bantuan Kertanagara, penguasa Singasari sahabat Melayu. Karena bantuan Singasari belum tiba maka Perlak dapat ditundukan Sriwijaya dan Sultan Makhdum gugur.
Kertanegara serta merta mengirimkan pasukannya yang besar, dibawah pimpinan Mahisa Anabrang. Pasukan ini pun singgah selama dua hari di Sunda, sekaligus untuk mengetahui informasi tentang kekuatan Sriwijaya. Kemudian pada tahun 1275 Sriwijaya dapat ditundukan Singasari.
Kekalahan Sriwijaya disebabkan baru saja menyerang Melayu, sehingga semua sumber daya sudah terkuras. Kedua Cina sebagai pelindung Sriwijaya pada saat itu memang sedang disibukan dengan melakukan penyerangan ke wilayah perbatasannya, dibawah pimpinan Kublai Khan.
Jaka Susuruh atau Raden Wijaya
Rakeyan Jayadarma sebagaimana kisah diatas dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Raden Wijaya. Namun Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.
Raden Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.
Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kublay Khan dari Jawa Timur. Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :
Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.
Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.
(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya. – Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).
Dari uraian diatas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi. Kiranya keindahan leadership Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Penerus Darmasiksa
Darmasiksa wafat tahun 1297 M. Sebelumnya ia telah menunjuk Citraganda (1303 – 1311 M), cucunya putra Prabu Ragasuci untuk memerintah di Pakuan. Ia sejaman dengan Raden Wijaya (1293 – 1309) dan Jayanegara (1309 – 1311 M) di Majapahit. Sedangkan sebelum perpindahan lokasi pemerintahan ke Pakuan, di Saunggalah masih dipegang oleh Ragasuci. Untuk kemudian Ragasuci meninggal dan dikuburkan di Taman (Tasik). Mungkin ini juga akhirnya Ragasuci disebut Sang Lumahing Taman.
Pada masa Citraganda pakuan dianggap sudah mulai redup, karena di timur sudah muncul kota baru yaitu Kawali. Sehingga putranya, Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M) menjalankan pemerintahannya yang berkedudukan di Kawali, sedangkan Pakuan sempat menjadi raja daerah. Pakuan baru berfungsi kembali sebagai ibukota Sunda pada tahu 1482 M. Pada masa itu dikenal sebagai periode awal kejayaan Pajajaran (***)
Didalam bab terdahulu telah diuraikan tentang Prabu Darmasiksa dan kaitannya dengan Amanat Galunggung. Ia memiliki visi penting tentang peranan Kabuyutan dan spirit atas nilai-nilai Galunggung yang perlu dipertahankan oleh anak cucunya. Namun siapakah Prabu Darmasiksa ? dan sebesar apakah peranannya terhadap ajegna Kerajaan Sunda ?.
Prabu Darmasiksa didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).
Carita Parahyangan menceritakan Darmasiksa sebagai titisan Dewa Wisnu yang mengikuti Sanghyang Rama dan mengamalkan Sanghyang Siksa. Fragmen tersebut, sebagai berikut :
  • · Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti.
  • · Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan. “Tina naon berkahna?” Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa.
Pustaka Nusantara II menerangkan bahwa permaisuri Darmasiksa keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari pernikahannya melahirkan dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.
Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawarmadewa, dari Melayu. Sedangkan Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara, raja Singosari.
Darmasiksa mencoba memperbaiki hubungan antara Melayu dengan Singosari melalui tali perkawinan putra-putranya. Dengan posisi demikian ia mampu menempatkan Sunda menjadi negara yang netral diantara dua kekuatan yang berseteru.
Perjanjian Sriwijaya – Kediri
Pada masa Darmasiksa memang Sunda tidak memiliki angkatan laut yang kuat, sebagaimana yang dimiliki Sriwijaya dan Jawa Timur. Hal ini terjadi pula pada masa ia memindahkan wilayahnya ke Saunggalah II, sehingga menyebabkan pantai utara Jawa Barat menjadi sarang bajak laut, dan berangsur-angsur pelabuhan bagian utara Cimanuk secara de facto menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya.
Di Jawa Timur sejak masa Jayabaya (1135 – 1159 M), Kediri mulai berkembang, ia memiliki angkatan laut sebanyak tiga laksa (+ 30.000) prajurit. Kediri makin berkembang pesat setelah dipegang oleh cucunya, yakni Sri Maharaja Aryeswara (1171 – 1181 M), sering juga dipanggil Prabu Angling Darma. Namun ia tidak berhasilkan mengalahkan Sriwijaya dilaut.
Setelah wafat ia diganti oleh putranya, yakni Sri Ganda (1181 – 1185 M) dengan gelar Prabu Ajipanasa Sri Kroncaryadipa. Sri Ganda melanjutkan keinginan ayahnya untuk mengalahkan Sriwijaya. Pertempuran tersebut terjadi di perairan Sunda, kedua belah pihak menderita kekalahan dan mundur ke basis masing-masing. Akhirnya kedua pihak tersebut memintakan bantuan Maharaja Cina untuk memberikan perlindungan.
Pada tahun 1182, Maharaja Cina mengabulkan permohonan bantuan tersebut dengan menyarankan agar keduanya berdamai, kemudian menyepakati untuk mengadakan perdamaian. Perjanjian dimaksud dilakukan di Sundapura.
Perundingan damai dipimpin langsung oleh Duta Cina, disaksikan oleh negara-negara sahabat kedua belah pihak, termasuk raja Sunda. Hasil perundingan disepakati, bahwa Sriwijaya dan Kediri hanya boleh bergerak di wilayahnya masing-masing, yakni Sriwijaya bergerak dikawasan Nusantara sebelah barat sedangkan Kediri disebelah timur Nusantara.
Posisi dari hasil perundingan ini menggugah pula Darmasiksa, untuk memindahkan Sunda kewilayah yang dekat dengan pantai. Maka pada tahun 1187 ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan, Keraton yang semula didirikan oleh Maharaja Tarusbawa.
Ekspansi Singasari ke Sriwijaya (Pamalayu)
Pada tahun 1182 M terjadi babak baru perubahan perpolitikan di Jawa Timur. Ken Angrok berhasil membunuh Tunggul Ametung dan menjadi Akuwu Tumapel. Cucu dari Ken Angrok dari Ken Umang, yakni Mahisa Campaka disebut-sebut lebih akrab berhubungan Sunda, sehingga terjadi persahabatan diantara Sunda dengan Tumapel.
Pada masa Jayawisnuwardana, raja Tumapel yang berkuasa dari tahun 1250 – 1268 M, cucu Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini berbesanan dengan raja Melayu. Dengan posisi ini Darmasiksa memiliki posisi yang strategis dari pertalian perkawinannya. Ia berbesanan dengan raja Melayu dan raja Tumapel, ia pun merupakan kerabat Sriwijaya dari trah istrinya.
Pada masa-masa itu Sriwijaya sedang mengalami penurunan pamor, namun mendapat perlindungan Maharaja Cina. Di Jambi telah berdiri kembali kerajaan Melayu, bernama Melayu Darmasraya. Peristiwa lainnya dalam tahun 1128 M telah berdiri kerajaan Islam pertama di Pasai, diperintah oleh Sultan Abdul Al-Kamil. Selain itu pada tahun 1151 M di Perelak berdiri pula negara Islam dibawah Sultan Alaidin Syaj (1151 – 1186 M). Negara Islam kecil tersebut mendapat dukungan dari Mesir, Gujarat dan Singasari, sehingga berani menentang Sriwijaya.
Pada tahun 1275 M Sultan Makhdum Abdul Malik Syah menyatakan bahwa Perlak tidak lagi dibawah Sriwijaya. Sebelum mengeluarkan statement tersebut terlebih dahulu meminta bantuan Kertanagara, penguasa Singasari sahabat Melayu. Karena bantuan Singasari belum tiba maka Perlak dapat ditundukan Sriwijaya dan Sultan Makhdum gugur.
Kertanegara serta merta mengirimkan pasukannya yang besar, dibawah pimpinan Mahisa Anabrang. Pasukan ini pun singgah selama dua hari di Sunda, sekaligus untuk mengetahui informasi tentang kekuatan Sriwijaya. Kemudian pada tahun 1275 Sriwijaya dapat ditundukan Singasari.
Kekalahan Sriwijaya disebabkan baru saja menyerang Melayu, sehingga semua sumber daya sudah terkuras. Kedua Cina sebagai pelindung Sriwijaya pada saat itu memang sedang disibukan dengan melakukan penyerangan ke wilayah perbatasannya, dibawah pimpinan Kublai Khan.
Jaka Susuruh atau Raden Wijaya
Rakeyan Jayadarma sebagaimana kisah diatas dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Raden Wijaya. Namun Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.
Raden Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.
Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kublay Khan dari Jawa Timur. Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :
Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.
Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.
(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya. – Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).
Dari uraian diatas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi. Kiranya keindahan leadership Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Penerus Darmasiksa
Darmasiksa wafat tahun 1297 M. Sebelumnya ia telah menunjuk Citraganda (1303 – 1311 M), cucunya putra Prabu Ragasuci untuk memerintah di Pakuan. Ia sejaman dengan Raden Wijaya (1293 – 1309) dan Jayanegara (1309 – 1311 M) di Majapahit. Sedangkan sebelum perpindahan lokasi pemerintahan ke Pakuan, di Saunggalah masih dipegang oleh Ragasuci. Untuk kemudian Ragasuci meninggal dan dikuburkan di Taman (Tasik). Mungkin ini juga akhirnya Ragasuci disebut Sang Lumahing Taman.
Pada masa Citraganda pakuan dianggap sudah mulai redup, karena di timur sudah muncul kota baru yaitu Kawali. Sehingga putranya, Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M) menjalankan pemerintahannya yang berkedudukan di Kawali, sedangkan Pakuan sempat menjadi raja daerah. Pakuan baru berfungsi kembali sebagai ibukota Sunda pada tahu 1482 M. Pada masa itu dikenal sebagai periode awal kejayaan Pajajaran (***)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in KERAJAAN SUNDA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: