RSS

Ayo ke Jogja!

05 Des

20101205232206_jogja_aman_ilustrasi.jpg JOGJA: Belasan ribu orang memenuhi sepanjang Jalan Malioboro hingga Tugu Jogja, Minggu pagi, memeriahkan Kenduri Jogja sekaligus untuk menyuarakan ajakan Ayo ke Jogja.

Bertempat di perempatan kantor pos besar, Minggu (5/12), acara yang digelar  Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bersama Pemerintah Provinsi  DIY itu, menggelar acara potong tumpeng massal.

Pada kegiatan itu, selain diramaikan dengan acara nyanyi bersama lagu-lagu tradisional dan meneriakkan yel-yel Jogja kembali, dijejerkan pula ratusan tumpeng berurutan di sepanjang Jalan Malioboro, Jalan Ahmad Yani hingga ke Titik Nol Kilometer Jogja.

“Kita tidak perlu menyesali apa yang telah lalu, yang penting sekarang adalah bagaimana kita bangkit dengan membangun kebersamaan untuk Jogja,” ujar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB)  X saat memberikan sambutan pada acara tersebut.

HB X mengatakan, proses kebangkitan tersebut menjadi lebih mudah dijalani bila didasari dengan kebersamaan diantara sesama warga masyarakat, untuk saling bahu membahu dan bergotongroyong mewujudkan situasi dan kondisi lebih baik.

“Rasa kebersamaan, satu nasib, satu harapan dengan kebersamaan dan keikhlasan berbagi menjadi modal besar untuk bangkit. Dan sekarang Jogja aman, nyaman dan layak dikunjungi, selamat datang di di Jogja,” kata Sultan di atas panggung.

Walikota Jogja, Herry Zudianto menyampaikan Jogja sebagai kota budaya, pendidikan dan pariwisata merupakan miniatur Indonesia. Warga dari berbagai daerah berkumpul bersama di Jogja  merayakan kebersamaan dan juga belajar menimba berbagai macam ilmu pengetahuan yang bisa dikembangkan secara optimal.

Masyarakat yang datang ke Kenduri Jogja tersebut juga membawa serta tumpeng yang menjadi simbol utama dari acara kenduri, serta ada sebuah tumpeng besar dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibawa bregada (prajurit) keraton.

Ratusan tumpeng yang dijejer di sepanjang Maliboro. Satu tumpeng nampak lebih besar dengan setinggi satu meter berdiameter 120 cm, dengan tujuh (pitu) macam sayuran, nasi putih, gudangan megono, bayem, lembayung kacang panjang, wortel, gori, ayam bacem, serta telur pindang.

Tujuh  macam sayur merupakan simbolisasi dari pituduh pitulungan yang dimaknai agar masyarakat DIY selalu diberi pertolongan dan petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelum digelar acara kenduri, juga digelar sejumlah kegiatan seperti senam bersama yang diikuti ribuan masyarakat di sepanjang Jalan Malioboro karena setiap Minggu, jalan tersebut digunakan sebagai lokasi untuk senam bersama oleh masyarakat.

Sultan HB X kemudian melakukan pemotongan tumpeng besar dan diserahkan ke sejumlah elemen masyarakat seperti walikota, Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY), agen perjalanan wisata, komunitas Malioboro dan juga tukang becak.

Sultan kemudian melakukan aba-aba mengajak masyarakat datang ke Jogja dengan yel-yel Ayo ke Jogja yang diikuti warga dengan melambai-lambaikan bendera kecil segitiga.  Masyarakat kemudian bersama-sama menikmati ratusan tumpeng kecil yang dibawa berbagai elemen masyarakat.

 

DARI:http://www.harianjogja.com/beritas/detailberita/HarjoBerita/19715/ayo-ke-jogja—view.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2010 in KABAR YOGYAKARTA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: