RSS

TOKOH PENDIRI KERAJAAN GALUH

02 Des

Wretikandayun dikenal sebagai raja Galuh pertama bahkan dianggap pendiri Galuh pasca Kendan. Wretikandayun diangkat menjadi raja Galuh menggantikan ayahnya, Sang Kandiawan. Pelantikan tersebut dilakukan pada tahun 534 Saka atau 612 M, saat ia baru berumur 21 tahun.

Pada masa pengangkatannya Galuh masih berada dibawah kekuasaan Tarumanagara (masa Maharaja Kertawarman, Raja ke-8). Kemudian pada tahun 670 M, Wretikandayun berhasil membawa Galuh menjadi kerajaan yang berdaulat lepas dari kekuasaan Sunda (dhi. Ex Tarumanagara).
Wretikandayun tidak memilih pusat kegiatan pemerintahan di Kendan atau Medang Jati, sebagaimana yang dilakukan para pendahulunya, tetapi memilih suatu daerah baru yang subur, diapit dua hulu sungai, Citanduy dan Ciwulan. Saat ini dikenal dengan sebutan Karang Kamulyan, terletak di Cijeungjing Ciamis. Tempat tersebut kemudian ia namakan Galuh (Permata).
Pada masa Wretikandayun nyaris tidak ada petumpahan darah, baik didalam Galuh maupun dengan Negara lain. Hal ini disebabkan pengalamannya dalam memimpin Galuh yang sangat lama (612 – 702 M), iapun akhli melakukan diplomasi, bahkan ketika memerdekakan Galuh tidak setetes pun darah tertumpah.
Dimasa kepemimpinan Wretikandayun Galuh dapat memerdekakan diri dari Sunda. Ia sendiri mengabdi sejak jaman Kertawarman, raja ke-8 sampai dengan jaman Linggawarman, raja ke-12.
Dalam Carita Parahyangan dijelaskan Wretikandayun berjodoh dengan Pwah Bungatak Mangalele (Manawati) dengan gelar Candraresmi. Dari pernikahannya ia memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (620M), Jantaka (622M) dan Amara (624 M). Namun Sempakwaja dan Jantaka memiliki cacat tubuh. Oleh karena itu yang dianggap layak meneruskan kekuasaan Wretikandayun adalah Amara, dengan gelar Mandiminyak.
Sebenarnya jika sejarah tersebut digali lebih jauh lagi, ada perbedaan sifat dari putra-putra Wretikandayun. Sempakwaja dan Jantaka lebih tekun mempelajari masalah keagamaan, sedangkan Amara lebih senang berpesta dan berpesiar.
Untuk meredam masalah, Wretikandayun menempatkan Sempakwaja sebagai resiguru di Galunggung, kemudian bergelar Danghiyang Guru. Galunggung dalam kisah lainnya disebutkan sebagai nagara ‘Kabataraan” atau negara yang berlandaskan agama. ia menjadi pengimbang penting dari kerajaan Galuh.
Sempakwaja dari perkawinannya dengan Rababu melahirkan Purbasora dan Demunawan. Sedangkan Jantaka dijadikan resiguru di Denuh, dengan gelar Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul karena letak Denuh ada di Galuh Selatan. Ia memiliki putra yang bernama Bimaraksa, senapati Galuh dikenal dengan nama Ki Balangantrang.
Wretikandayun memiliki umur panjang, ia wafat pada tahun 702 M dalam usia 111 tahun. Ia memeritah Galuh sejak usia 21 tahun menggantika ayahnya Sang Kandiawan.
Wretikandayun dikenal sebagai raja Galuh pertama bahkan dianggap pendiri Galuh pasca Kendan. Wretikandayun diangkat menjadi raja Galuh menggantikan ayahnya, Sang Kandiawan. Pelantikan tersebut dilakukan pada tahun 534 Saka atau 612 M, saat ia baru berumur 21 tahun.

Pada masa pengangkatannya Galuh masih berada dibawah kekuasaan Tarumanagara (masa Maharaja Kertawarman, Raja ke-8). Kemudian pada tahun 670 M, Wretikandayun berhasil membawa Galuh menjadi kerajaan yang berdaulat lepas dari kekuasaan Sunda (dhi. Ex Tarumanagara).
Wretikandayun tidak memilih pusat kegiatan pemerintahan di Kendan atau Medang Jati, sebagaimana yang dilakukan para pendahulunya, tetapi memilih suatu daerah baru yang subur, diapit dua hulu sungai, Citanduy dan Ciwulan. Saat ini dikenal dengan sebutan Karang Kamulyan, terletak di Cijeungjing Ciamis. Tempat tersebut kemudian ia namakan Galuh (Permata).
Pada masa Wretikandayun nyaris tidak ada petumpahan darah, baik didalam Galuh maupun dengan Negara lain. Hal ini disebabkan pengalamannya dalam memimpin Galuh yang sangat lama (612 – 702 M), iapun akhli melakukan diplomasi, bahkan ketika memerdekakan Galuh tidak setetes pun darah tertumpah.
Dimasa kepemimpinan Wretikandayun Galuh dapat memerdekakan diri dari Sunda. Ia sendiri mengabdi sejak jaman Kertawarman, raja ke-8 sampai dengan jaman Linggawarman, raja ke-12.
Dalam Carita Parahyangan dijelaskan Wretikandayun berjodoh dengan Pwah Bungatak Mangalele (Manawati) dengan gelar Candraresmi. Dari pernikahannya ia memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (620M), Jantaka (622M) dan Amara (624 M). Namun Sempakwaja dan Jantaka memiliki cacat tubuh. Oleh karena itu yang dianggap layak meneruskan kekuasaan Wretikandayun adalah Amara, dengan gelar Mandiminyak.
Sebenarnya jika sejarah tersebut digali lebih jauh lagi, ada perbedaan sifat dari putra-putra Wretikandayun. Sempakwaja dan Jantaka lebih tekun mempelajari masalah keagamaan, sedangkan Amara lebih senang berpesta dan berpesiar.
Untuk meredam masalah, Wretikandayun menempatkan Sempakwaja sebagai resiguru di Galunggung, kemudian bergelar Danghiyang Guru. Galunggung dalam kisah lainnya disebutkan sebagai nagara ‘Kabataraan” atau negara yang berlandaskan agama. ia menjadi pengimbang penting dari kerajaan Galuh.
Sempakwaja dari perkawinannya dengan Rababu melahirkan Purbasora dan Demunawan. Sedangkan Jantaka dijadikan resiguru di Denuh, dengan gelar Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul karena letak Denuh ada di Galuh Selatan. Ia memiliki putra yang bernama Bimaraksa, senapati Galuh dikenal dengan nama Ki Balangantrang.
Wretikandayun memiliki umur panjang, ia wafat pada tahun 702 M dalam usia 111 tahun. Ia memeritah Galuh sejak usia 21 tahun menggantika ayahnya Sang Kandiawan.http://akibalangantrang.blogspot.com/2008/09/raja-raja-galuh-1.html
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: