RSS

Arsip Harian: Desember 2, 2010

KPM ‘GALUH RAHAYU’ CIAMIS-YOGYAKARTA & PIKIRAN RAKYAT BERBAGI UNTUK MERAPI

poto: avidco.

Keluarga pelajar dan Mahasiswa “Galuh Rahayu” Ciamis-Yogyakarta beserta Harian Umum Pikiran Rakyat  pada hari rabu 1 Desember 2010 menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana Merapi di wilayah dusun Tumbreb Magelang dan Plagrak Umbulharjo Sleman. Dalam bentuk sembako dan keperluan sehari-hari  berupa alat mandi, baju layak pakai, perlengkapan ibadah.

Seperti diceritakan oleh ketua KPM “Galuh Rahayu” Ciamis­-Yogyakarta Samsul Muarip bersama Koordinator penggalangan bantuan untuk korban merapi Bayu Munawair Wardana di Asrama Galuh menyatakan bahwa bantuan yang di dapat dari penggalangan yang dilakukan di jogjakarta pada saat acara pentas seni  dan penggalangan dana untuk merapi serta penggalangan yang dilakukan di ciamis dengan dana yang terkumpul sebesar Rp.2.470.000,- yang di salurkan dalam bentuk sembako dan alat alat keperluan sehari-hari, Bayu menjelaskan bahwa semoga bantuan itu sedikit dapat meringankan beban mereka yang tertimpa musibah. ” Ieu teh katineung urang Galuh hususna umumna mah urang Ciamis pikeun dulur-dulur korban musibah merapi” demikian Mang Demang juga menuturkan.

Dalam kesempatan tersebut juga turut serta  Bapak Bowo selaku  kepala kantor cabang Pikiran Rakyat Jateng –Yogyakarta. Bowo menjelaskan bantuan tersebut dihimpun dari pembaca  Harian umum Pikiran Rakyat yang disalurkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan.

Masyarakat setempat menjelaskan selama ini mereka merasa sulit mendapat bantuan karena wilayah Dusun mereka tidak termasuk zona dampak merapi langsung,walaupun dalam kenyataannyaa, lahan pertanian dan sumber pencarian mereka rusak akibat abu Vulkanik Merapi. Secara otomatis dalam satu bulan terakhir mereka  kehilangan penghasilan, sementara bantuan sangat minim.

Dengan adanya bantuan ini masyarakat setempat merasa mendapat perhatian dan mengharapkan ada pihak lain yang juga bisa membantu mereka. (am/be**)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in Info Galuh, KEGIATAN-KEGIATAN

 

KABUPATEN PANGANDARAN BELUM JUGA TERBENTUK

PARIGI – Pertemuan untuk membahas pembentukan Kabupaten Pangandaran, mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat, sudah mencapai puluhan kali. Hal itu tentu saja membuat warga Ciamis Selatan tidak bisa sabar lagi.
Tak heran, ketika pengurus Presidium Pembentukan Kabupaten Pangandaran, kades, BPD dan tokoh masyarakat dari 10 kecamatan calon Kabupaten Pangandaran, bertemu dengan Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, kemarin, terlontar pernyataan yang menohok.
“Kami tidak mengharapkan banyak pertemuan. Kami menginginkan kejelasan kapan Kabupaten Pangandaran terbentuk? Saya harap pertemuan ini (dengan DPD, red) yang terakhir. Kami ingin dalam pertemuan selanjutnya Pangandaran sudah jadi (kabupaten),” tutur Sadili, salah seorang anggota BPD Kecamatan Cimerak saat berdialog dengan angggota DPD kemarin.
Saat ini, sambung dia, warga Ciamis Selatan berharap Kabupaten Pangandaran segera terbentuk. Karena itu, dia berharap pertemuan dengan DPD bisa membuahkan hasil. “Saya harap kunjungan DPD bisa mempercepat Pangandaran menjadi kabupaten,” tegasnya.
Hal senada diungkapkan Anwar Nasihin, kepala Desa Ciakar Kecamatan Cijulang. Selama ini, kata dia, aparat desa selalu dicecar pertanyaan oleh warga terkait waktu pasti Pangandaran menjadi kabupaten. “Oleh karena itu, saat ini kami tekankan kepada DPD untuk segera mendorong Kabupaten Pangandaran terbentuk,” pintanya.
Mewakili tokoh mayarakat, Atang Abdul Halim juga melontarkan pernyataan hampir sama. Ia berharap DPD bisa merekomendasikan agar Pangandaran segera memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis.
Menanggapi aspirasi masyarakat, Ketua Komite I DPD RI Wasis Siswoyo SH mengatakan DPD akan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Selain menjalankan fungsinya di bidang pengawasan, DPD berperan aktif dalam mengusulkan dan membahas undang-undang berkaitan dengan otonomi daerah.
“Tujuan kami datang ke sini (calon Kabupaten Pangandaran) merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan, dengan meninjau langsung kami mendapatkan informasi yang sebenarnya,” tutur dia.
Terkait kapan Pangandaran terwujud? Wasis mengatakan DPD tidak mempunyai kewenangan. Dia menegaskan setelah melakukan kunjungan kerja ke Pangandaran, DPD akan memberikan penilaian.
“Tentunya, kami mempunyai kewajiban untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Setalah kami datang ke sini, melihat secara langsung dari semua aspek memang Pangandaran sudah layak dimekarkan, mudah-mudahan rekan-rekan DPD lain juga berpandangan sama,” tuturnya.
Saat ini, kata dia, Pangandaran masuk dalam 13 calon daerah kabupaten baru yang diprioritaskan. Karena itu, ia optimis setelah masa jeda moratorium berakhir, Kabupaten Pangandaran bisa terbentuk. “Kami juga berharap kunjungan selanjutnya Pangandaran sudah jadi kabupaten,” tuturnya.
Anggota DPD lainnya, Abdrucahman menambahkan peran pemerintah induk dalam hal ini Kabupaten Ciamis juga dibutuhkan, yakni dalam pengurusan aset daerah dan koordinasi dengan DPR terkait aspirasi masyarakat. “Kami berharap masalah aset daerah tidak menjadi masalah di kemudian hari seperti yang saat ini terjadi di daerah lain,” tuturnya.
Sebelumn bertemu dengan warga, DPD terlebih dulu meninjau beberapa lokasi seperti Bandara Nusawiru, Kantor Kecamatan Cijulang dan kawasan calon pusat pemerintahan di Desa Cintaratu. Usai melakukan lawatannya, rombongan DPD melanjutkan perjalanannya menuju Ciamis untuk bertemu dengan Pemkab Ciamis. (nay)

DARI:http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8023:warga-sudah-tak-sabar&catid=85:pangandaran&Itemid=265

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in KABAR CIAMIS

 

PERJANJIAN GALUH

Cita-cita raja yang mulia adalah memerintah negara dengan adil dan bijaksana sehingga dapat mencapai keadilan dan kemakmuran negara dam rakyatnya. Sebelum pergi bertapa, ra harus dapat mempersiapkan generasi penggantinya dan menyelesaikan semua permasalahan kenegaraan. Mungkin inilah yang diinginkan Sena, ayah dari Sanjaya.
Sanjaya sebelum memenuhi panggilan Sena untuk menggantikannya sebagai raja di Medang, berinisiatif untuk melakukan musyawarah di Purasaba Galuh, dihadiri oleh anggota kerabat kerajaan. Pada saat itu ia dianggap paling berkuasa di Pulau Jawa, sebab Kalingga sudah setengah menjadi bawahannya, sedangkan Demunawan yang memerdekakan dirinya di jamin oleh Sanjaya.
Menurut Carita Parahyangan, keinginan Sanjaya tersebut untuk menjalin silaturahmi, dia mengingkan dan ia pun berjanji untuk tidak lagi memerangi saudaranya dari Galuh. Penulis Carita Parahyangan mengutip, sebagai berikut :
·        Carek Rahiang Sanjaya: “Na naon nu jadi karempan teh ? Ayeuna aing hayang runtut raut. Aing jeung bapa, Rahiang Kuku, Sang Seuweukarma. Ayeuna aing moal ngalawan.
Musyawarah Galuh
Penulis Carita Parahyangan mengisahkan, bahwa hasil musyawarah Galuh adalah ketetapan yang disampaikan oleh Sanjaya, termasuk batas wilayah yang harus ditaati bersama. Kisah tersebut, sebagai berikut :
·        Dah Rahiyang Sanjaya: “Naha tu karémpan? Aing ayeuna kreta, aing deung bapangku, Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma. Hanteu ngalancan aing ayeuna. Ajeuna nu tangkarah : “Alas Dangiyang Guru di tengah, alas Rahiyang Isora di wétan paralor Paraga deung Cilotiran, ti kulon Tarum, ka kulon alas Tohaan di Sunda.”
·
·        [Ujar Sanjaya : apa yang menjadi kekhawatiran ? Aku sekarang ingin hidup bahagia, aku dengan orang tuaku, Rahiangta Kuku, Sang Seuweukarma. Sekarang aku tidak akan lancang. Sekarang kita tetapkan : tanah bagian Dangiang Guru di tengah, bagian Rangiang Isora di sebelah Timur ; jauhnya sampai sebelah Utara Progo dan Cilotiran, dari sebelah barat Citarum, kearah barat bagian keluarga kerajaan Sunda”
Menurut para penulis RPMSJB musyawarah di Galuh terjadi pada tahun 731 M, dan menetapkan :
·        daerah sebelah barat Citarum sampai keujung kulon menjadi hak waris keturunan Tarusbawa ; (2) daerah sebelah timur Citarum termasuk Jawa Pawatan dibagi dua antara Tamperan yang menguasai bagian selatan dan Demunawan yang menguasai bagian utara, termasuk bekas Galunggung dan Saung Galah ; (3) bagian tengah akan tetap diperintah oleh Sanjaya dan menjadi hak waris keturunan Galuh – Kalingga ; (4) daerah sebelah timur bagian utara Kali Progo menjadi bagian Prabu Narayana dan keturunan dari keluarga Kalingga. (Jilid 2, Bag. 4 hal. 72).
Semula Galuh diserahkan kepada Premana, namun Premana lebih memilih untuk menjadi pertapa. Kemudian Premana terbunuh di pertapannya. Pemerintahan di Galuh kemudian dijalankan oleh Tamperan.
Epos Ciung Wanara
Tamperan atau Barmawijaya didalam buku rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat (1983-1984) disebutkan menduduki takhta Galuh sejak tahun 732 – 739 dan berkdedudukan di Purasaba Sunda, menggantikan posisi Sanjaya. Peristiwa ini terjadi setelah Sanjaya menjadi raja di Mataram. Kemudian wilayah Sunda dan Galuh dijadikan satu di bawah pemerintahan Tamperan.
Kisah pembunuhan Premana Dikusumah didalam versi lain terjadi akibat persekongkolan yang dilakukan Tamperan. Hal ini sangat terkait dengan kisah asmara anatara Tamperan dengan Dewi Pangrenyep, istri Premana Dikusumah. Dari hubungan ini melahirkan Banga.
Kisah Balangantrang dan Ciung Wanara diriwayatkan, setelah suruhan Tamperan berhasil membunuh Permana Di Kusumah iapun membunuh suruhannya itu. Premana Dikusumah didalam carita pantun disebut Ajar Sukaresi atau Bagawat Sajalajala, sedangkan nama pertapaanya di mungkin terletak di Gunung Padang. Berdasarkan Naskah Carita Parahyangan wilayah pertapaan itu terletak di ‘pamana Sunda’ (perbatasan sunda).
Kisah pembunuhan Premana Dikusumah ditulis didalam Nusantara III/1 h. 70 :
·        Sang Prabhuresi Sajalajal cakti, yatiku swami ning Dewi Pangrenyep i sedeng iratapa haneng tapowana i bang wetan ing Tarumanadi ikang sapinasuk Ghaluh pradeca bang kulwan [Sang Praburesi Sajala-jala Sakti yaitu suami Pangrenyep sedang bertapa di hutan pertapaan sebelah Citarum yang termasuk Galuh bagian barat]. [RPMSJB, buku kedua, hal.73].
Kisah ini diuraikan pula didalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala. / Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga. (Atja, 1968). [Diperbatasan Sunda ada pendeta Sakti, dibunuh tanpa dosa, namanya Bagawal Sajalajala / Roh pendeta itu menitis, menjadi Sang Manarah. Anaknya Rahiang Tamperan berdua dan saudaranya Rahiang Banga].
Dari carita Parahyangan memang ada perbedaan status Manarah dengan alur yang dikisahkan versi RPMSJB. Manarah disebutkan putra dari Permana Dikusumah, sedangkan Banga memang anak Tamperan.
Setelah terbunuhnya Premana Dikusumah, kemudian Tamperan menikahi sekaligus kedua istri Premana, yakni Pangranyep dan Naganingrum.
Tamperan didalam memperlakukan Manarah, putra Premana dari Naganingrum seperti anaknya sendiri. Peristiwa ini akhirnya banyak ditafsirkan, bahwa  Manarah dan Banga adalah kakak beradik dari satu ayah. Bahkan dalam cerita rakyat nama ayah keduanya disebut-sebut Prabu Brama Wijayakusumah, hampir sama dengan nama Tamperan Barmawijaya.
Skandal Tamperan sebelumnya menjadi rahasia yang sangat tertutup rapat pada akhirnya tercium luas di lingkungan Galuh, terdengar pula oleh Bimaraksa, di Geger Sunten, mantan mahapatih Galuh pada jaman Purbasora, pada waktu itu sedang aktif menghimpun kekuatan dengan nama samaran Balangantrang.
Didalam mempersiapkan perlawanannya Balangantrang mendapat dukungan dari raja-raja sekitar Galuh taklukan Sanjaya namun memihak Demunawan. Tugas ini tidak begitu sulit dilakukan, karena ia dikenal sebagai senapati dan Patih Galuh yang tangguh, serta masih terhitung cucu dari Wretikandayun. Kondisi yang menunjang, disebabkan ada kesetiaan pengikut Sempakwaja, ayah dari Purbasora yang teguh tidak mau diatur raja Sunda.
Kekuatan Sempakwaja semula hanya nampak dari Saunggalah, melebar kebatas wilayah lainnya disekitar Galuh, untuk kemudian berubah wujud menjadi kerajaan Galunggung dibawah pemimpin Demunawan, putra Sempakwaja. Konon pada masa itu kerajaan Galunggung bersifat ‘kabataraan’ atau semacam kerajaan agama.
Untuk mematangkan soliditas perlawanan, Balangantrang merasa perlu menarik Manarah kepihaknya. Memang agak sulit, karena Tamperan mengakui dan memperlakukan Manarah sebagai anaknya sendiri, berakibat Manarah agak sulit didekati. Bagi gerakan Balangantrang, Manarah adalah simbol perlawanan Galuh, karena ia anak Permana Dikusumah yang dibunuh Tamperan. Pada akhirnya Manarah dapat diyakinkan, hingga sering secara diam-diam menemui kakeknya di Geger Sunten.
Penyerbuan Manarah dan pasukan Balangantrang untuk menguasai Galuh diatur dengan seksama. Bagi mereka masalah penguasaan teritorial kota Galuh tidak sulit dilakukan, mengingat kesehariannya Ia hidup dilingkungan Galuh. Balangantrang merencanakan untuk melakukan penyerbuan pada siang hari, dengan cara langsung menguasai istana, sedangkan Manarah melakukannya ditempat sabung ayam, ia akan terlibat sebagai peserta sabung ayam.
Acara sabung ayam pada masa itu dianggap acara resmi dan diijinkan oleh negara, biasanya pada acara itu di hadiri para pembesar istana, termasuk Tamperan. Sehingga dengan taktik ini Balangantrang akan sangat mudah menguasai istana. Namun dalam sejarah lisan, masyarakat Galuh lebih banyak menceritakan kisah yang terjadi di tempat sabung ayam, ketimbang penguasaan keraton oleh pasukan Balangantrang.
Upaya merebut tahta Galuh itu dilakukan pada tahun 723, dan berhasil dengan gemilang. Jika Sanjaya dahulu merebut tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pada malam hari, sebaliknya Manarah dengan Balangantrang melakukannya pada siang hari.
Persitiwa ini diceritakan didalam Carita Parahyangan, cuplikannya sebagai berikut :
Sang manarah males pati. / Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, / ku Sang Manarah. / Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh. / Rahiang Banga datang bari ceurik, / sarta mawa sangu kana panjara beusi tea.
Kanyahoan ku Sang Manarah, / tuluy gelut jeung Rahiang Banga. / Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah. / Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, / mangrupa persembahan.
Nurutkeun carita Jawa, / Rahiang Tamperan / lilana ngadeg raja tujuh taun, / lantaran polahna resep / ngarusak nu tapa, / mana teu lana nyekel kakawasaanana oge. / Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh  / taun, lantaran tabeatna hade.
Tamperan wafat pada tahun 739 M. Posisinya di Galuh digantikan Manarah, sedangkan Banga, anak Tamperan menggantikan posisinya di Sunda, ketika itu Sunda sudah berada dibawah kontrol Manarah dari Galuh. Hal ini sejalan dengan maksud dari buku sejarah Jawa Barat, kerajaan Sunda pernah berada dibawah kontrol Galuh terhitung sejak adanya perjanjian Galuh, yakni tahun 739 M sampai dengan 759 M.
Manarah – Surotama
Manarah menjadi penguasa Galuh sejak tahun 739 – 783 M, bergelar Prabu Jayaperkosa Mandelaswara Salakabuana. Gelar ini diperoleh dalam Musayawarah di Galuh. Sedangkan Banga menjadi raja dibawah kerajaan Galuh, sama dengan posisi Premana terhadap Sanjaya.
Manarah menikah dengan Kencana Wangi. Dari pernikahannya memperoleh putri, antara lain Puspasari. Tokon Puspasari diduga adalah Purbasari yang dikisahkan dalam cerita Lutung Kasarung. Sedang tokoh Lutung Kasarung adalah Manisri, suami Puspasari. Dalam kisah tersebut Manisri bernama Guru Minda. Dikarenakan Manisri tidak diketahui muasalnya, maka ia di sebutkan sebagai putra Sunan Ambu. Manisri kemudian mewarisi tahta manarah, dengan Gelar Prabu Darmasakti Wirajayeswara, berkuasa pada tahun 783 – 199 M.
Pada masa Manarah banyak meninggalkan kisah dan legenda, seperti cerita Ciung Wanara dan Ki Balangantrang. Cerita dan Kisah ini sering dijadikan sumber rujukan oleh para petutur lisan, seperti untuk mengetahui batas etnis dan acuan tentang budi pekerti.
Perjanjian Galuh
Sanjaya di Keraton Medang Bumi Mataram mendengar berita kematian Tamperan, anaknya, iapun bergegas membawa pasukan besarnya menuju Galuh. Berita ini diketahui oleh para telik sandi Galuh, kemudian melaporkan kepada Manarah. Oleh  karena itu Manarah mempersiapkan pasukan Galuh untuk menyambut Sanjaya di luar kota Galuh.
Mereka pun saling berhadap-hadapan siap bitotama. Diduga, jika saja pertempuran (Gotrayudha) sesama keturunan Wretikandayun itu terjadi, diniscayakan seluruh keturunan Wretikandayun tak akan ada sisanya.
Dalam kepanikan itu muncul Resiguru Demunawan diiringi para resi lainnya dari Saung Galah. Ia langsung menuju palagan Galuh, menghampir kedua belah pihak. Resi Demuwan dengan wibawanya yang kuat ia menghentikan pertempuran itu. Kemudian ia meyakinkan tentang akan hancurnya keturunan Wretikandayun jika perang ini tidak dihentikan. Ia pun menjelaskan, bahwa :
·        Galuh dibangun para leluhur untuk kesejahtraan anak cucunya, bukan untuk dihancurkan kembali, Alangkah sakit hatinya roh leluhur jika menyaksikan pertumpahan darah ini. Hentikan peperangan ini, mari kita berunding di Galuh, ditempat nenek moyangnya dahulu melakukan perundingan.
Ajakan yang sangat menyejukan ini disambut gembira oleh para pihak yang bersetru. Pada akhirnya mereka membuat perjanjian, intinya antara sebagaimana yang ditulis dalam Nusantara III/1, dijelaskan, sebagai berikut :
·        Menyudahi permusuhan (mawusana panyatrawanan) diantara yang sedang berperang
·        Mengadakan perjanjian  persahabatan (mitrasamaya), beker jasama (atuntunan tangan) dan saling membantu (parasparo pakara) diantara mereka
·        Tidak boleh mengadakan pembalasan (paribhaksa) terhadap sesamanya karena mereka itu masih satu keturunan (tunggal kawitan)
·        Semua prajurit yang tertawan harus dibebaskan
·        Bila timbul perselisihan di antara mereka harus diselesaikan diantara mereka harus diselesaikan (telas aken) dengan damai (apakenak) dan bermusyawarah (mapulungrahi) dengan semangat persaudaraan (kaharep paduluran)
·        Hubungan kekerabatan tidak boleh putus dan harus saling mengasihi
·        Tidak boleh saling menyerang dan merebut kota-kota (para pura) masing-masing
·         Menghormati hak ahli waris yang sah (maryada sakeng si tutu), yaitu : (1) Negeri Sunda dengan wilayah dari Citarum kebarat dirajai oleh sang Kamarasa alias Banga dengan gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Ajimulya ; (2) Negeri Galuh dengan wilayah dari Citarum ke timur dirajai oleh Sang Suratoma alias Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabuan ; (3) Resi Guru Demunawan menguasai negeri Saung Galah dan bekas kawasan Kerajaan Galunggung (4) Sanjaya memerintah di Jawa Tengah. (RPMSJB, Jilid Kedua, hal. 79)
Untuk mengukuhkan persaudaraan diatas kemudian Resi Demunawan menjodohkan cucunya yakni Kencana Wangi dengan Manarah, sedangkan Kencana Sari dinikahkan dengan Banga. Dari pernikahan ini maka berbaurlah darah Sunda, Galuh dan Saunggalah. Dengan demikian maka dikemudian hari keturunan Wretikandayun bersatu kembali. Kelak perbedaan keturunan ini terhapuskan akibat perkawinan antara keturunan Manarah dan Banga. Hal ini terjadi pada masa Rakean Wuwus.
Sunda Melepaskan Diri
Banga menggantikan Tamperan sebagai Raja Sunda keempat sejak tahun 739 M sampai dengan 766 M. Namun ada juga pendapat bahwa Banga raja Kerajaan Sunda yang ketiga karena Tamperan sebenarnya tidak pernah berdomisili di Sunda, ia hanya menjabat sebagai Duta Patih Sunda di Galuh.
Akibat Perjajian Galuh terpaksa kedudukan Banga harus berada dibawah Galuh. Perjanjian ini dirasakan Banga sangat merugikan posisinya. Posisi ini kebalikan ketika Sanjaya dapat merebut tahta Galuh dari Purbasora. Sanjaya sebagai kakeknya Banga tentu merasa kurang senang melihat kedudukan Banga yang dirugikan ini, namun Sanjaya harus mentaati perjanjian tersebut. Kemudian ia secara diam-diam menganjurkan Banga untuk memperkuat kerajaan Sunda.
Banga melaksanakan ide kakeknya, setahap demi setahap ia menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada disebelah barat Citarum, hingga iapun menjadi raja Sunda yang kuat. Pada tahun 759 M Bangga melepaskan diri sebagai bawahan Galuh. Dan menyatakan kerajaan Sunda sebagai kerajaan Mahardika.
Tindakan Banga menyulut kemarahan Manarah. Sekali lagi Resi Demunawan, Raja Saunggalah turun tangan untuk membantu menyelesaikan. Demunawan kemudian membujuk Manarah agar menerima posisi ini. Demunawan pun meyakinkan Manarah bahwa sepantasnyalah kedudukan Sunda dan Galuh sejajar, masing-masing berdiri sebagai Negara yang merdeka.
Peristiwa ini menempatkan Resi Demunawan sebagai orang yang bijaksana dan memiliki visi yang baik. Resi Demunawan pada Perjanjian Galuh menempatkan Sunda di bawah Galuh. Hal tersebut merupakan upaya maksimal pada saat itu. Setelah keadaan memungkinkan ia memenuhi janjinya untuk mensejajarkan Sunda dengan Galuh sehingga dapat tercipta kerukunan yang abadi.
Bangga meninggal pada tahun 766 M, berumur masih relatif masih muda, yakni 42 tahun. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, ia dilahirkan pada tahun 724 M, sehingga ketika ia memegang tahta Sunda baru berumur 15 tahun. (***)
Sumber bacaan :
·        Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
·        Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung – 2005
·        Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

·        wikipedia.org / wiki/ Kerajaan Galuh

dari:http://akibalangantrang.blogspot.com/2008/09/raja-raja-galuh-3.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 

PERPADUAN KERAJAAN SUNDA DAN KERAJAAN GALUH

Manarah bergelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara yang ia dapatkan pada saat dilangsungkannya Musyawarah Galuh. Ia penguasa Galuh terhitung sejak tahun 739 – 783 M, untuk kemudian mengundurkan diri dan memilih jalan bertapa sampai ia meninggal dunia (manurajasunya).
Sejak masa Manarah berkuasa di Galuh tidak ada gejolak yang menggoyahkan tahta Galuh. Mungkin karena sebelumnya Banga berhasil menaklukan raja-raja disekitar Citarum, kemudian melepaskan dari Galuh dan menjadi negara merdeka.
Memang proses permintaan Banga untuk melepaskan Sunda dari Galuh hampir menimbulkan kemarahan Manarah. Namun berkat jasa perantara Demunawan, yang mengemukakan alasan perlunya ada kesedarajatan antar keturunan Wretikandayun maka Manarah mau melepaskan Sunda sebagai Negara yang merdeka.
Bagi para kritikus sejarah memang ada anggapan yang mustahil tentang eksitstensi Demunawan yang telah memiliki cerita sejak masa pemberontakan Purbasora. Namun dalam Naskah Wangsakerta diceritakan, Demunawan wafat pada umur 128 tahun. Lebih tua dari umur Sempakwaja, ayahnya yang wafat pada umur 109 tahun dan Wreitikandayun, kakeknya yang wafat pada usia 109 tahun.
Penerus Galuh
Manarah sebelum mengundurkan diri menyerahkan kekuasaanya kepada Manisri, suami Puspasari, salah seorang putri Manarah, disebabkan ia tidak memiliki putra laki-laki. Manisri berkuasa sejak tahun 783 sampai dengan 799 M, bergelar Prabu Darmasakti Wirajayeswara.
Manarah didalam cerita Lisan dikenal sebagai tokoh Ciung Wanara, sedangkan Manisri dan Puspasari dikenal sebagai tokoh cerita Lutung Kasarung. Manisri dikenal dengan nama Guruminda, sedangkan Puspasari dikenal dengan sebutan Purbasari. Mungkin karena asal usul Guruminda tidak diketahui maka masyarakat tardisional dan para juru pantun menganggapnya sebagai Putra Sunan Ambu.
Sebagaimana dalam cerita lain, seperti cerita bawang merah dan bawang putih, atau cerita dari luar tentang Cinderela, status Purbasari dikonotasikan sebagai putri bungsu raja yang dianiayai kakak-kakak perempuannya. Disini pun ada semacam cerita yang menyangkut sentimen terhadap saudara tiri.
Misalnya Purbalarang sebagai kakak tiri ditempatkan sebagai si jahat yang mengucilkan Purbasari dari kehidupan istana. Hingga akhirnya datang Sang Lutung yang Kasarung menemukannya. Singkat cerita Purbasari mendapatkan takhtanya dan bersanding dengan lutung yang ternyata seorang kesatria (Guruminda).
Manisri kemudian digantikan oleh putranya, Sang Triwulan (799 – 806 M) digantikan lagi oleh Sang Welengan (806 – 813 M) dengan gelar Prabu Brajanagara Jayabuana. Sepeninggalnya tahta Galuh diserahkan kepada Prabu Linggabumi (813 – 852 M).
Rupanya Manarah dan keturunannya sangat sulit memperoleh anak laki-laki, karena Linggabumi cicit dari Manarah, terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada Rakeyan Wuwus, raja sunda keturunan Banga, suami adiknya.
Demikian pula sebaliknya, setelah Rakeyan Wuwus (Keturunan Banga) wafat pada tahun 891 M digantikan oleh Prabu Darmaraksa, adik Prabu Langlangbumi dari Galuh. Darmaraksa menikahi adik Raketan Wuwus, sebaliknya Rakeyan Wuwus menikahi kakak Darmaraksa.
Intrik keraton memang belum sedemikian reda, karena masih ada kerabat istnan Sunda yang tidak mau diperintah Urang Galuh. Pada tahun 895 M Peristiwa ini mengakibatkan di bunuhnya Darmaraksa oleh salah seorang Mantri.
Tahta Sunda – Galuh kemudian diserahkan kepada Windusakti atau Prabu Dewageung, putra Darmaraksa. Sejak saat itu kisah Galuh hampir kehilangan rekam jejak dan baru diberitakan kembali pada keturunan Sunda yang Ke – 20. Hal ini diungkapkan Pleyte (1915) dalam artikelnya tentang Sri Jaya Bupati, dalam buku “Maharaja Cri Jayabhupati Soenda’s Ouds Bekende Vorst”, yang mengulas mengenai prasasti Cibadak – Sukabumi.
Para akhli sejarah Sunda mensinyalir, hubungan dan perpaduan budaya Sunda – Galuh baru mencair pada abad ke 13, sebagaimana dengan penyebutan masyarakat Sunda untuk kedua penduduk ini. Kemudian pada abad 14 berita-berita luar sudah menggunakan istilah Sunda untuk masyarakat Sunda – Galuh. Perpaduan nama demikian terjadi secara alamiah, dimungkinkan akibat para tokoh dari daerah Sunda lebih terkenal di masa silam.
Demikian rundayan Carita Galuh masa silam. Jika memang ada salahnya, mudah-mudahan carita ini ada yang mau melakukan koreksi. Hana nguni hana mangke – Tan hana nguni tan hana mangke – Aya ma baheula hanteu teu ayeuna – Henteu ma baheula henteu teu ayeuna – Hana tunggak hana watang Hana ma tunggulna aya tu catangna. Cag Heula. (***)
Sumber bacaan :
1. rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat (1983-1984).
3. Tjarita Parahyangan – Drs. Atja – Jajasan Kebudayaan Nusalarang (Bandung1968)

4. Sumber lain.

 

DARI:http://akibalangantrang.blogspot.com/2008/09/raja-raja-terakhir.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 

MASA MAHARAJA SANJAYA

Sanjaya menjadi penguasa Galuh setelah ia mampu menyingkirkan Purbasora dari kedudukannya sebagai raja Galuh. Namun masih sulit menetapkan tahun kekuasaannya di Galuh. Dalam seri Nusantara dan Kretabhumi disebutkan, Sanjaya berkuasa pada tahun 645 – 654 Saka. Tetapi didalan Kitab Pararatwan Jawadwipa disebutkan dari tahun 645 – 647 menjadi penguasa Sunda sedangkan di Galuh ditulis sejak tahun 647 – 654 menjadi penguasa Sunda dan Galuh.
Didalam thesisnya tentang Prakondisi Terbentuknya Identitas Kebangsaan, Nana Supriatna, mengemukakan : Eksistensi Sanjaya di jawa barat diperoleh dari prasasti Canggal (732 M), menerangkan mengenai seorang raja bernama Sanjaya yang mendirikan tempat pemujaan untuk dewa Siwa di daerah Wukir. Dia adalah anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Sanjaya adalah pendiri wangsa Sanjaya yang berkuasa atas kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah bagian utara. Jika dihubungkan dengan kekuasaan di Sunda dan Galuh, maka ia menguasai sebagai besar Pulau Jaya.
Akan tetapi apabila isi prasasti tersebut dihubungkan dengan isi Carita Parahyangan yang menerangkan tentang berkuasanya Sanna di Galuh, Sanjaya adalah raja Galuh yang menggantikan Sanna setelah dia berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora yang merebut tahta raja Sanna.
Dalam Carita Parahyangan juga disebutkan bahwa Raja Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil, yakni Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan yang diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat itu menjadi bagian dari kerajaan Galuh.
Sanjaya menggantikan Tarusbawa, sebagai raja Sunda pada tahun 723 M. Ia menikahi Teja Kencana, Cucu Tarusbawa. Pada tahun yang sama Sanjaya berhasil merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora. Hak sebagai penguasa Galuh didapatkan dari garis keturunan Sena – Sanna, ayahnya. Dengan demikian di Jawa Barat, Sanjaya berhasul menyatukan kembali wilayah Tarumanaraga (Sunda – Galuh). Ia pun berkedudukan di Pakuan.
Dalam rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, Sanjaya dianggap mampu menaklukan Indrawarman, raja Sriwijaya, yang menutut sebagaian Tarumanagara, sebagai sesama keturunan Linggawarman dari Tarumanagara.
Selain menguasai Kerajaan Sunda, Galuh dan Medang, Sanjaya memilki kekuasaan yang telah diakui oleh Prabu Narayana (Iswara) di Kalingga Selatan. Kalingga memiliki wilayah yang meliputi sebagai besar Jawa Timur. Hal ini dilakukan melalui cara menaklukan raja-raja kecil sebelum melakukan ekspansi ke Sumatera. Sedangkan PrabuIswara memiliki wilayah sebelah timur dari Progo Utara.
JIka dilihat dari peta Pulau Jawa, praktis Sanjaya menguasa sebagai besar Pulau Jawa sehingga ia berhak menyandang gelar sebagai penguasa Pulau Jawa.
Konsolidasi Galuh
Pasca perebutan tahta yang akhirnya menewaskan Purbasora, Sanjaya mengirimkan untusan (patih) untuk menghadap Danghiyang Guru Sempakwaja, ayahnya Purbasora di Galunggung. Ketika itu Sempakwaja telah berumur 103 tahun. Sanjaya meminta agar Demunawan, putra Sempakwaja mau dijadikan ‘piparentaheun’ – wakil Sanjaya yang bertugas menjalankan roda pemerintahan di Galuh.
Permintaan Sanjaya tersebut bertujuan agar perselisihan diantara keturunan Sempakwaja dan Mandiminyak dapat terselesaikan dengan baik, karena keduanya masih tunggal keturunan Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh. Alasan lainnya dapat ditemukan didalam naskah Nusantara III/1, hal 158, sebagai berikut :
·        ….. Sanjaya menjadi raja Galuh Pakuan pada tanggal 4 bagian gelap Caitra tahun 645 saka. Sejak waktu itu Sanjaya menjadi raja Sunda dan Galuh. Tetapi kaum kerabatnya tidak senang melihat Sanjaya menguasai raja-raja daerah di Galuh. Terutama Sang Resiguru Sempakwaja dan Sang Demunawan paling tidak senang melihat Sanjaya menjadi penguasa di daerah-daerah sekitar Galuh dan melihat Galih menjadi bawahan (mandalika) Kerajaan Sunda. [RPMSJB, Jilid kedua, hal 66]
Sempakwaja mengkhawatirkan permintaan ini sebagai jebakan agar Demunawan turun ke Galuh untuk kemudian dibunuh. Alasan lainnya terkait dengan keteguhan hatinya, ia tidak rela anaknya diperintah raja Sunda. Dahulu Wretikandayun, ayah Sempakwaja sudah bersusah payah memerdekakan Galuh dari Sunda, dengan dijadikannya Demunawan sebagai piparentaheun di Galuh sama halnya dengan mengulang kembali kekuasaan Sunda di Galuh.
Dari kekhawatiran itu pada akhirnya Sempakwaja menolak secara halus. Sempakwaja mengemukakan, : Jika Sanjaya ingin dianggap pantas memerintah Galuh, maka Sanjaya harus terlebih dahulu mengalahkan (nyandoge) tiga tokoh kepercayaan Sempakwaja, yakni Pandawa, Wulan dan Tumanggul.
Ketiganya masing-masing raja didaerah Kuningan, raja Kajaron dan raja Kalanggara di Balamoha. Kekuasaan yang dipegang Sanjaya dianggap tidak ada apa-apanya jika Sanjaya belum mampu menaklukan raja di Jawa Tengah dan sekitar Galuh. Jika Sanjaya mampu menguasai mereka maka Resiguru Demunawan, putra Sempakwaja, masih ua Sanjaya, pantas mempertuan Sanjaya. Namun jika Sanjaya tidak mampu menundukan mereka maka Sempakwajalah yang akan menentukan penguasa Galuh.
Dialog dan persyaratan tersebut di tulis di dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
·        Carek Rahiang Sanjaya: “Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna.” Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: “Na aya pibejaeun naon, patih?” / “Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora.”
·       
·        Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru. / Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. / Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji / Teprs jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang / Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti.”
Menurut penulis Carita Parahyangan tersebut, Sanjaya tidak mampu mengalahkannya, bahkan sebaliknya Sanjaya dipukul mundur dan dikejar hingga kembali ke Galuh. Rupa-rupanya Sempakwaja sudah dapat mengukur kemampuan Sanjaya, sehingga permintaan itu pun ditolak dengan cara yang disyaratkannya.
Peristiwa tentang kekalahan Sanjaya dikisahkan pula dalam naskah ini, sebagai berikut :
Eleh Rahiang Sanjaya diubeuber, nepi ka walungan  Kuningan. / Rahiang Sanjaya undur. / “Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran.”  / Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, / Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile. / Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, / Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?” / “Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan.”  / Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.
Sanjaya pasca kekalahannya tersebut dilaporkan langsung kepada Danghyang Guru Sempakwaja. Pada akhirnya Sanjaya menyerahkan penunjukan penguasa Galuh tersebut kepada Danghyang Guru. Untuk itu Sempakwaja menunjuk Premana Dikusumah, cucu Purbasora dari putranya yakni putra Patih Wijayakusumah. Dengan demikian Sanjaya pun menerima usul tersebut. Sedangkan putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana Dikusumah.
Saung Galah
Sempakwaja sebagai penguasa Galunggung ia berniat untuk mengimbangi kekuatas Sanjaya di Galuh, resminya dijalankan oleh Permana Dikusumah. Untuk keperluan tersebut ia menunjuk Demunawan, putranya sebagai raja Layuwatang, sedangkan Sang Pandawa dimintakan sebagai guruhaji [rajaguru] di Layuwatang dan menyerahkan Kuningan kepada Demunawan, menantunya.
Demunawan dikenal juga sebagai Sang Seuweukarma atau Rahiyangtang Kuku. Sebagai seorang resiguru ia memiliki cakupan wilaha yang luas, maka pada pada tahun 723 Demunawan dinobatkan sebagai penguasa kerajaan Saung Galah di Kuningan. Wilayah Galunggung dan kerajaan kecilnya dijadikan wilayah dibawah Saung Galah, terletak di lereng Gunung Ciremai sebelah selatan. Sekarang dikenal dengan sebutan Kampung Salia, Desa Ciherang, Kecamatan Kadu Gede Kuningan, sebelah utara Waduk Darma.
Pada saat itu daerah kekuasaanya meliputi 13 wilayah, yakni Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdon, Pagergunung, Muladarma dan Batutihang. Empat daerah tersebut dikepalai oleh seorang Guru Haji, sedangkan wilayah lainnya dikepalai oleh Buyut Haden, didalam naskah Wangsakerta disebutkan Kyagheng atau Kiageng, Kigede,
Sanjaya harus teguh pada janjinya kepada Sempakwaja, ia tidak mengganggu adanya perluasan wilayah tersebut, terutama dengan diproklamirkannya Saung Galah. Dengan kekalahannya pada waktu Nyandoge maka ia harus tetap menerima syaratnya, bahkan ia dianggap belum layak untuk diakui kelebihannya oleh Demunawan.
Menurut Nusantara III/1 : Sanjaya telah berhasil menaklukan daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur pada tahun 724 M. Daerah tersebut kebanyakan pendukung Demunawan yang memusuhi Sena yang sedang berkuasa di Bumi Mataram. Sanjaya kemudian secara ekspansif menyapu daerah pinggirian kekuasaan Demunawan. Pada kesempatan itu pula ia melunasi hutangnya untuk mengalahkan Sang Wiragati dan kawan-kawan yang pernah mengalahkannya di Kuningan.
Serangan Sanjaya tersebut sebenarnya hanya bertujuan menebus kekalahan, bukan untuk menguasai. Untuk kemudian ia kembali ke ibukota Galuh. Demunawan melihat adanya penambahan kekuatan Sanjaya dibanding pada masa lalu, sehingga daerah manapun yang ia inginkan diniscayakan dapat ditaklukan. Namun Sanjaya masih tetap berupaya untuk bersikap baik kepada Demunawan.
Alasan Sanjaya ini dikemukakan di dalam Kretabhumi I/2, sebagai berikut :
·        Rasika tanana katakut ring Sang Demunawan ing Saung galah, tathayan mangkana sira tatan angga malurug ring kadatwan uwa nira. Hetunya ayayah nira ya ta Sang Prabhu Senna haneng Medang ri Bhumi Mataram ri Jawa Wetan kumonaken ajna nihangta : kinon ta sarika dibyaguna ring santana pratisantana nira. Haywa ta sira lumage wwang sanak ya ta Sang Demunawan. Rumataketta muwang hatut madulur parasparopasarpana.
·        Gorawa ning wwang atuha.
·
Naskah tersebut menjelaskan, bahwa sebenmarnya Sanjaya tidak merasa takut terhadap Demunawan, namun ia tidak berniat menyerang Saung Galah. Hal ini disebabkan adanya perintah dari Prabu Sena, ayahnya, agar ia bersikap mulia kepada sanak kekuarganya dan tidak boleh memerangi kerabatnya, yakni Demunawan.
Memang dalam beberapa, naskah Wangsakerta selalu menggambarkan adanya rasa hormat Sanjaya kepada orang tuanya. Hal ini yang selalu dijadikan alasan untuk tidak melakukan penyerangan terhadap Galuh. Padahal ia dikenal sebagai raja yang paling ekspansif dan pemberani.
Hikmah dari sikapnya ini membuahkan hasil, pada tahun 674 saka atau 725 M, Demunawan mengakui kekuasaan Sanjaya di Galuh, bahkan dikisahkan pula kedatangan Demunawan ke Galuh yang disambut diperbatasan oleh Sanjaya. Para penulis menjadikan peristiwa ini sebagai titik awal berkuasanya Sanjaya di Galuh.
Penulis carita Parahyangan menggambarkan peristiwa pertemuan tersebut, sebagai berikut :
·
·        Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma di Arile, ngagayakeun gempungan jeung para patih ; raja dicaritakeun hal pangajaran kaparamartaan. / “Nam urang rek marek, mawa kiriman ka Rahiang Sanjaya. Cokot emas sakati, lima boehna, bawaeun urang ka Rahiang Sanjaya.” / Dina danget eta, oge di Galuh ngayakeun kumpulan jeung para patih sakabeh. / “Nam urang nyieun labur di jalan gede pakeun ngabageakeun Sang Seuweukarma, lantaran enya eta Rahiang Kuku.” / “Barang datang ka sisimpangan ka Galuh jeung ka Galunggung, dipapag, dihormat disayagian cai pikeun sibanyo.”
Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.
Didalam Carita Parahyangan dituliskan tentang pesan Sanjaya kepada Tamperan, putranya :
·        Mojar Rahiyang Sanjaya, ngawarah anaknira Rakéan Panaraban, inya Rahiyang Tamperan: “Haywa dék nurutan agama aing, kena aing mretakutna urang réya.”
·
·        [Rahiang Sanjaya menasehati putranya, Rakean Panaraban, Rahiang Tamperan : ‘Jangan mengikuti agama ku, karena itulah yang menyebabkan aku ditakui orang banyak’]
Cag Heula (***)
Sumber bacaan :
·        Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
·
·        Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
·
·       Tjarita Parahyangan – Drs. Atja – Jajasan Kebudayaan Nusalarang (Bandung1968)

:nced_view=1

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 

PISUNA KERAJAAN GALUH

Pisuna Galuh pada dasarnya dipicu oleh dua masalah. Pertama disebabkan Wretikandayun memilih Mandiminyak, putra bungsunya untuk meneruskan tahtanya. Hal ini disebabkan alasan, Sempakwaja dan Jantaka dianggap tidak layak memiliki cacat tubuh. Kedua adanya penolakan keluarga Galuh terhadap Sena, pengganti Mandiminyak, yang kelahirannya merupakan hasil smarakarya Mandiminyak dengan Rabbabu, istri Sempakwaja pada pesta bulan purnama di Keraton Galuh. Hal ini sekaligus menyebabkan dendam anak-anak Rabbabu dari Sempakwaja, yakni Purbasora dan Demunawan.

Perilaku sebagaimana yang dilakukan Mandiminyak dianggap menyimpang. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan didalam naskah Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyian. Naskah tersebut menetapkan adanya 3 katagori wanita (istri) yang dilarang untuk dinikahi, yakni (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196).
Jika dilihat dari sejarah keluarnya kedua naskah tersebut tentunya mengadopsi nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh. Hal ini dapat dipahami, mengingat Sang Manikmaya, leluhur raja-raja Galuh, dianggap sebagai cikal bakal yang mengajarkan tetekon hidup dan etika-etika yang menyangkut moral, sehingga jika masyarakat Galuh mewajibkan para penguasanya mentaati etika yang berlaku maka harus dianggap kewajaran, karena keberadaan Galuh tidak lepas dari masalah tersebut.
Sena sebenarnya sangat berlainan dengan Mandiminyak, ayahnya. Ia terkenal sebagai orang alim dan sangat dihormati para tokoh agama, namun hanya karena alasan diatas ia kurang mendapat sambutan dilingkungan keluarga Galuh, sehingga terjadi pemberontakan Purbasora.
Purbasora dalam melakukan pemberontakan tentunya tidak dapat dipisahkan dari peranan Demunawan dan Bimaraksa, keduanya putra Jantaka. Secara gagah berani Bimaraksa memimpin pasukan bhayangkara yang berasal dari kerajaan Indraprahasta. Bimaraksa ahli memainkan berbagai jenis senjata dan ahli strategi perang. Peranan yang begitu besar dalam penggulingan Sena maka Purbasora mengangkatnya sebagai Senapati sekaligus Mahapatih Galuh.
Keberpihakan Bimaraksa dan Demunawan terhadap Purbasora memberikan legitimatasi pada gerakan pemberontakan Purbasora, bahwa sedang terjadi pemberontakan dari tiga orang keturunan Wretikandayun terhadap keturunan Wretikandayun lainnya yang dianggap tidak syah tetapi menguasai tahta Galuh.
Purbasora pada saat menggulingkan Sena mendapat dukungan dari pasukan Indraprahasta, kerajaan yang terletak di Cirebon Girang. Pasukan ini secara turun temurun menjadi bhayangkara pengawal raja-raja Tarumanagara. Hal ini dimulai  sejak masa Maharaja Wisnuwarman, Raja Tarumanagara ke-4. Mereka sangat mahir menggunakan senjata, telah teruji keberaniannya dan ulet serta setia kepada raja.
Kedekatan Purbasora terhadap Indraprahasta dikarenakan ada pertalian perkawinan. Purbasora menikahi Citra Kirana, putri sulung Padmahariwangsa, raja Indraprahasta. Dari perkawinan ini menglahirkan seorang putra yang bernama Wijayakusuma. Dikelak kemudian hari setelah berhasil merebut Galuh, Purbasora mengangkatnya sebagai putra mahkota Galuh.
Sena sebenarnya sudah mengetahui akan ada pemberontakan ini. Untuk melakukan antisipasi ia pun telah meminta bantuan Terusbawa, raja Sunda agar mengirimkan balabantuan. Sayanya balabantuan tersebut belum tiba ketika pemberontakan Purbasora terjadi, sehingga Sena terpaksa melarikan diri ke Merapi, untuk kemudian tiba di Kalingga Utara.
Penulis Carita Parahyangan mengisahkan peristiwa ini, sebagai berikut :
·        Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.
Gerakan politis lain yang digunakan Purbasora adalah menjaga hubungannya dengan Terusbawa, raja sunda, mertua dari anak Sena, yaitu Senjaya. Dalam kasus ini Purbasora menganggap tidak perlu berhadapan dengan raja sunda, karena ia hanya ingin menyingkirkan Sena, sehingga perlu membuka jalur diplomasi melalui Duta Sunda yang ada di Galuh.
Pasukan Sunda yang akan membantu Sena saat itu sedang menuju Purasaba Galuh, tidak mengetahui bahwa Sena telah digulingkan. Hal ini telah diketahui Purbasora. Ia memutuskan untuk bersama duta besar Sunda menyambut pasukan Sunda. Sekalipun demikian ia sudah mempersiapkan jika diplomasi ini menemui jalan buntu.
Purbasora menawarkan pasukan Sunda untuk tetap menjadi sahabat dan menjamu di Galuh. Pada akhirnya Duta Besar Sunda berhasil membujuk pasukan Sunda, dengan pertimbangan untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar, serta alasan keselamatan keluarga Duta Besar itu sendiri, pada saat itu menjadi sandera di keraton Galuh dengan alasan dianggap sebagai tamu kehormatan Galuh.
Purbasora meminta Duta Sunda untuk mengantarkan surat kepada Raja Sunda, isinya mengajak untuk bersahabat dan menganggap masalah Galuh adalah urusan intern keluarga yang harus diselesaikan oleh orang-orang Galuh. Terusbawa menerima ajakan tersebut, karena selain tidak mau memulai perseteruan baru, ia telah mengetahui bahwa Sena selamat. Disisi lain, ia pun sedang sibuk menghadapi bajak laut yang semakin merajalela. Konon kabar para bajak laut tersebut didalangi Sriwijaya.
Purbasora Pejah
Sanjaya, putra Sena dan keluarga Kalingga merasa sakit hati atas peristiwa penggulingan Sena di Galuh. Sanjaya yang sangat temperamental dikabarkan segera mempersiapkan pembalasan dan secara diam-diam menggalang diplomasi dengan kekuatan lainnya. Pada masa terusirnya Sena dari Galuh, usia Sanjaya masih berumur 33 tahun.
Upaya untuk merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pertama-tama dengan cara menghimpun kekuatan dan membuka jalur diplomatik dengan pihak-pihak yang dianggap berpengaruh terhadap Galuh.
Secara diam-diam Sanjaya pergi ke Denuh menemui Resiguru Wanayasa (Jantaka) dan meminta agar Resiguru mau menjadi manggala dan bertindak sebagai pelaksana keadilan. Permintaan ini menjadikan Resiguru berada pada posisi yang sulit, karena putranya, yakni Bimaraksa (Balangantrang) ada di pihak Purbasora, dilain pihak ia mengetahui bahwa Sanjaya adalah pewaris yang syah dari Mandiminyak, sehingga ia memutuskan untuk bersikap netral dan memintakan agar keluarganya yang ada di galuh tidak diganggu. Resiguru menyarankan agar Sanjaya meminta bantuan raja Sunda. Sanjaya kemudian berjanji untuk mentaati saran itu, namun meminta syarat agar Resiguru mau bersikap netral.
Dialog pertemuan ini dikisahkan oleh Penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :
·         Carek Rakian Jambri: “Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.”
·        
·         “Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda.”
·        
·        Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda.
Sanjaya dari Denuh menuju Pakuan untuk menemui Terusbawa, dan meminta bantuannya. Terusbawa sebagai raja Sunda dihadapkan pada posisi yang serba sulit. Disatu sisi Sanjaya adalah anak Sena dan cucu Mandiminyak, sahabat dalitnya, namun disisi lain ia telah memiliki hubungan baik dengan Purbasora.
Jika dianalisa dari alasan yang menyangkut posisi Terusbawa tersebut sebenarnya kurang lengkap, mengingat ada peristiwa di Sunda yang harus diperhatikan, yakni munculnya gangguan dari para bajak laut yang disponsori Sriwijaya. Mungkin masalah inilah yang paling strategis untuk dijadikan alasan yang tepat. Karena pemberantasan bajak laut pada masa itu membutuhkan sumberdaya dan kekuatan yang tidak sedikit. Disisi lain pada masa itu Galuh telah memiliki pasukan bhayangkara yang tangguh. Jika pasukan Sunda dikirimkan ke Galuh untuk membantu Sanjaya maka kekuatan di Sundapura menjadi sangat terancam. Terusbawa akhirnya hanya menyarankan agar Sanjaya lebih berhati-hati dalam melakukan tindakannya.
Kemungkinan lainnya adalah, pada masa itu Sanjaya belum menikah dengan Tejakencana, cucu dari Terusbawa, sehingga ia belum menjadi Prabu Anom Sunda. Pernikahan tersebut terjadi pasca Sanjaya membantu Terusbawa memberantas bajak laut diperairan Sunda. Hal ini terjadi sebelum Sanjaya pergi ke Galuh.
Memang di dalam RPMSJB juga terdapat beberapa keterangan tentang masalah waktu Sanjaya pada saat memberantas para bajak laut yang ada diperairan Sunda. Disatu sisi buku RPMSJB menyebutkan adanya saran Terusbawa agar Sanjaya mempelajari buku bala sarewu, untuk kemudian dijadikan petunjuk pokok di dalam cara memberantas para bajak laut. Peristiwa pemberantasan bajak laut dianggap cara melatih dan mempersiapkan Sanjaya sebelum menyerang Galuh. Namun disisi lainnya Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari kitab bala sarewu sebagai buku pelajaran yang mengandung pelajaran strategi perang, untuk kemudian langsung menyerang Galuh, tanpa terlebih dahulu memberantas bajak laut.
Menurut salah satu versi, buku tersebut buah karya Resiguru Manikmaya, leluhur dari Sanjaya, sehingga sangat tepat jika Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari buku yang dibuat oleh leluhur Sanjaya, untuk kemudian dijadikan sebagai ajaran pokok di dalam cara memberantas bajak laut. Dari keberhasilan inilah maka Sanjaya dijodohkan dengan Teja Kencana, putri Mahkota Sunda atau cucu Terusbawa.
Tentang adanya buku ‘ratuning bala sarewu’ dituliskan di dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
·        Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal. Carek Rabuyut sawal: “Sia teh saha?” / “Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, ‘retuning bala sarewu’, anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru.” / Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. (Atja, 1968).
Pada masa selanjutnya diketahui, di tengah malam buta, ketika Galuh terlelap tidur, tiba tiba Sanjaya datang menyerang dan membumi hanguskan Galuh. Ditengah kobaran api, konon kabar Sanjaya sendiri yang menghadapi Purbasora, ketika itu Purbasora sudah berumur 80 tahun. Menurut naskah Nusantara III/1 diberitakan ditengah hingar bingar pertempuran terdengar teriakan : “Purbacura Pinejahan dening Sanjaya yudhakala” [Purbasora dibinisakan oleh Sanjaya waktu perang].
Didalam kemelut tersebut Sanjaya menepati janjinya. Ia tidak menghabisi keluarga lainnya, termasuk Bimaraksa, kecuali Purbasora. Selanjutnya Bimaraksa lari ke Geger Sunten, iapun membentuk kekuatan dengan cara mengumpulkan para partisan untuk merebut Galuh kembali. Dalam cerita Pantun ia kisahkan sebagai Aki Balangantrang, kakek dari Ciun Wanara.
Ketika Purbasora wafat, ia telah berumur 80 tahun. Purbasora memimpin Galuh sejak 716 sampai dengan 723 M. Dalam naskah carita parahyangan dikisahkan :
·        Ti inya pulang ka Galuh Rakéyan Jambri. Tuluy diprang deung Rahiyang Purbasora. / Paéh Rahiyang Purbasora. / Lawasniya ratu tujuh tahun. Disilihan ku Rakéyan Jambri, inya Rahiyang Sanjaya. [Atja, 1968].

 

Sumber bacaan :
·        Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.
·
·        Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
·
·        Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
·
·        Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
·

·        wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

DARI:http://akibalangantrang.blogspot.com/2009/06/4-pewaris-tahta-galuh.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 

PEWRIS TAHTA KERAJAAN GALUH

Wretikandayun telah mengang kat Amara, putra bungsunya sebagai putra Mahkota, dengan gelar Mandiminyak, kemudian naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 702 M. Mandiminyak bertahta di Galuh pada tahun 702 M sampai dengan 709 M.
Tradisi pengangkatan putra bungsu sebagai putra mahkota di Galuh bukan hal baru, karena Sang Kadiawan pun mengangkat Wretikandayun, putra bungsunya. Pengangkatan Mandiminyak tentunya memiliki alasan, karena Sempakwaja, putra pertama tanggal giginya, sedangkan Jantaka, putra kedua menderita hernia maka putra bungsunya ini dianggkat untuk menggantikannya.
Mandiminyak dikenal tampan dan cakap. Ia paling disayang oleh Wretikandayun. Ditunjang dengan perkembangan Galuh yang makin pesat, Mandiminyak dikenal sering berpesta dan pesiar. Sedangkan kedua kakaknya memiliki keadaan yang sebaliknya, mereka memiliki cacad tubuh, lebih senang mendalami ilmu keagamaan. Latar belakang dari perbedaan ini di kemudian hari merubah perjalanan hidup para keturunan Wretikandayun, terutama yang ada hubungannya dengan perjalanan kesejarahan Galuh.
Penulis carita Parahyangan mulai mencatat sejarah kelam ketiga keturunan Wretikandayun pada peristiwa pesta ‘bulan purnama’ di keraton Galuh. Saat itu Rabbabu, istri Sempakwaja datang di keraton untuk menghadiri pesta, namun tidak disertai Sempakwaja, karena diberitakan sakit, sementara kedua putranya, yakni Purbasora dan Demunawan bertugas mengurus ayahnya.
Rababu didalam cerita Parahyangan dilukiskan berparas elok, putri sang pertapa, sedangkan Mandiminyak dilukiskan berparas tampan. Keadaan ini yang mendorong keduanya saling jatuh cinta dan melakukan Smarakarya, hingga berhari-hari. Hubungan Mandiminyak dengan Rababu membuahkan seorang putra, kelak diberi nama Sena atau Bratasenawa.
Sempakwaja sangat menyayangi Rabbabu namun tidak mencintai anak Rabbabu hasil perbuatannya dengan Mandiminyak. Peristiwa demikian dilukiskan dengan apik di dalam Cerita Parahyangan, dan akan disamopaikan dalam bahasa Sunda Kiwari, sebagaimana yang diterjemaahkan Atja (1968), sebagai berikut :

·        Carek Rahiang Sempakwaja : “Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah.”
·        Rababu tuluy leumpang ka Galuh. “Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea.”
·        Carek Rahiangtang Mandiminyak: “Anak aing maneh teh, Sang Salah ?”. Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: “Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan! ”

·        Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak. “Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!”  Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.
Peristiwa Smarakarya di ‘pesta bulan purnama” tersebut tentu mendapat respon yang negatif dari kerabat keraton, dan membuahkan pergunjingan yang tidak baik bagi kalangan istana. Untuk meredakan masalah ini Wretikandayun menjodohkan Mandiminyak dengan Parwati, putri Kalingga. Konon Mandiminyak dikabarkan pindah ke kalinnga. Lain halnya dengan Purbasora dan Demunawan, putra Rababu dari Sempakwaja, mereka menaruh dendam, kelak antara putra Rabbau dari Mandiminyak dengan Purbasora terjadi perebutan tahta.
Sebelum memerintah Galuh, Mandiminyak tinggal bersama istrinya untuk memerintah Kalingga. Pengalaman memerintah ini sangat kelak sangat membantu tugasnya, terutama dalam menyelesaikan masalah diplomatik dengan Negara lain. Ketika Wretikandayun mangkat maka Ia kembali dan tinggal di Galuh untuk menggantikannya, namun Parwati, istrinya masih tetep memerintah di Bumi Mataram (Kuna), pecahan dari Kalingga.
Mandiminyak kemudian berupaya memperbaiki hubungan Galuh dengan Sunda yang sempat pecah ketika Galuh menyatakan memisahkan diri dari Sunda, bahkan Terusbawa, raja Sunda menyatakan ketidak setujuannya kepada penguasa Sriwijaya berniat menyerang Kalingga. Disamping itu, Mandiminyak menjodohkan Sanjaya, cucunya, putra Sena dengan Teja Kencana, cucu Terusbawa.
Posisi perkawinan ini menempatkan posisi Galuh sebagai kerajaan yang kuat, bahkan lebih kuat lagi ketika Sanjaya diangkat menbjadi raja Sunda menggantikan Terusbawa. Namun karena masalah alasan pengangkatan Mandiminyak dan buntut peristiwa pesta bulan purnama masih meninggalkan bekas dihati para putra Sempakwaja, maka maka Mandiminyak tidak sepenuhnya mendapat simpati dari kerabat Galuh. Kondisi ini pula yang menjadi sekam, kelak menyulut pemberontakan yang dilakukan Purbasora.
Sena atau Bratasenawa
Mandiminyak wafat pada tahun 709 M. Sepeninggalnya tahta Galuh dilanjutkan oleh Sena, putra dari hasil hubungannya dengan Rababu. Sena dikenal memiliki perangai yang berbeda dengan ayahnya. Sena dikenal taat beragama, ramah dan dihormati kaum agamawan. Sekalipun demikian, masih memiliki ganjalan, hal ini disebabkan peristiwa masa lalu masih tetap berbekas dihati kerabat Galuh.
Diriwayatkan pula Sena sangat menghormati Purbasora dan Demunawan sebagai kakak dari satu ibu. Namun sebaliknya Purbasora dan Demunawan sudah terlanjur sangat membenci. Sena bersahabat dengan Terusbawa, raja Sunda. Mungkin juga karena Terusbawa sahabat ayahnya dan kakek mertua Senjaya, anaknya. Bahkan ketika Sanjaya merebut Galuh, Sena berpesan agar Sanjaya tetap menghormati orang-orang tua di Galuh.
Sena mengetahui akan terjadi pemberontakan yang dipimpin Purbasora. Secara diam-diam ia mengirimkan utusan ke Sunda untuk meminta bantuan Terusbawa. Sayang, pasukan Sunda terlambat tiba di Galuh. sehingga Purbasora sudah mendahulu merebut Galuh.
Ketika Sena mengetahui Galuh telah dilumpuhkan Purbasora dan Demuwan, ia meloloskan diri ke Jawa tengah. Sebagai putra Mahkota Kalingga Utara, iapun kembali ke Kalingga Utara yang waktu itu diperintah oleh Parwati, ibunya. Dengan terusirnya Sena dari Galuh maka hubungan baik antara Kalingga dengan Galuh yang telah dirintis oleh Wretikandayun menjadi terpecah bahkan bermusuhan.
Sena memerintah Galuh selama 7 tahun dan berakhir pada tahun 716 M. Dengan terpaksa ia pun meletakan jabatannya sebagai penguasa Galuh dan membiarkannya dikuasai Purbasora.
Masa Sena di Galuh dilukiskan dalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :

·        Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun(***)
Sumber bacaan :
·        Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.
·        Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
·        Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

·        Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

 

DARI:http://akibalangantrang.blogspot.com/2009/06/4-pewaris-tahta-galuh.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in GALUH

 
 
%d blogger menyukai ini: