RSS

Tahta Galuh

28 Nov

Ketika suasana masih berkabung Sanjaya mengirimkan pasukan Sunda untuk bergabung di Gunung sawal, berjarak + 17 km dengan Galuh. Gerakan tersebut sama sekali tidak diketahui Purbasora. Hingga pada suatu hari, ditengah malam buta tibalah saatnya Sanjaya melakukan penyerangan. Ketika penyerangan di lakukan, Galuh sedang dalam keadaan terlelap, serangan itu pun tidak terdeteksi sebelumnya.

Kisah pengakhiran kekuasaan Purbasora, menurut buku Nusantara diceritakan, bahwa dimalam yang gelap gulita itu Sanjaya langsung berhadapan dengan Raja Galuh yang telah berumur 80 tahun itu, kemudian terdengar teriakan :
  • ·         “Purbacura pinejahan dening Sanjaya yuddhakala” (Purbasora dibinasakan oleh Sanjaya waktu perang).
Kekalahan Purbasora di dalam perang tanding dengan Sanjaya tentunya bukan sesuatu yang aneh, mengingat usia Purbasora saat itu sudah berumur 80 tahun, jauh lebih tua dibandingkan Sanjaya. Dalam cerita ini memang ada yang perlu diteliti lebih jauh, karena Bimaraksa, senapati yang sekaligus patih dari Galuh, bersama sebagian kecil pasukannya berhasil meloloskan diri. Kisah lolosnya Bimaraksa dimungkinkan sesuai dengan maksud dari versi lain, tentang syarat yang diberikan Jantaka (ayah Bimaraksa) kepada Sanjaya untuk tidak mengganggu keluarganya. Hal ini ditaati oleh Sanjaya.
Dalam cerita ini dikisahkan pula, pasca kekalahan Purbasora, Demunawan diminta Sanjaya untuk memegang pemerintahan Galuh namun berada dibawah kontrol Sanjaya, untuk selanjutnya dikuasakan kepada Permana Dikusumah, atau dalam cerita Parahyangan dikenal dengan sebutan Bagawan Sijala-jala. Sedangkan Bimaraksa menetap di Geger Sunten dan menyusun kekuatan baru. Iapun lebih dikenal dengan sebutan Balangantrang, dalam sejarah lisan disebut aki Balangantrang, penyampai benang merah kisah Galuh kepada Ciung Wanara.
Penghancuran Indraprahasta
Sanjaya sangat mengetahui tulang punggung pasukan Purbasora yang berhasil mengusir Sena pada tahun 716 M terdiri dari pasukan Indraprahasta dibawah Senapati Wiratara, salah satu senapati Purbasora, kemudian menjadi raja Indraprahasta. Untuk alasan ini Sanjaya berniat membumi hanguskan Indraprahasta. Memang seolah-olah ada semacam pelampiasan untuk menyalurkan dendamnya kepada Indraprahasta, sedangkan terhadap keluarga Galuh lainnya, ia harus menepati janjinya kepada Demunawan dan ayahnya untuk memperlakukan dengan baik.
Didalam naskah Wangsakerta digambarkan persitiwa pembumi hangusan, tanpa ada belas kasihan, mereka menyebutnya seperti binatang buas. Sejak saat itu maka musnahlah Indrapahasta yang didirikan Sentanu pada tahun 363 M. Semula Indrapahasta sejak jaman Tarumanagara dianggap daerahnya sebagai wilayah yang disucikan, termasuk oleh Purnawarman, bahkan ada sebuah sungai yang dinamakan sungai Gangga.
Naskah tersebut sebagai berikut :
Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira.
Rajya Indraprahsta kabehan nira kaparajaya sapinasuk kadatwannya syuhdarawa pinaka tan hana rajya manih I mandala Carbon Ghirang.
Wadyabala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinakadi, meh sakweh ira pejah nirawaceca.
Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura.
Pasca Purbasora
Sanjaya pasca kemenangannya mengirimkan untusan untuk menghadap Sempakwaja di Galunggung. Ketika itu Sempakwaja telah berumur 103 tahun. Sanjaya berniat menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora. Hal ini ditolak oleh Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora karena takut kelak Demunawan akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Iapun tidak ikhlas putranya berada dibawah perintah Sanjaya, karena ia tahu bagaimana Wretikandayun, ayahnya dahulu membebaskan Galuh di Sunda.
Sebagai resi yang bergelar Danghyang Guru di Galunggung yang bijak ia menawarkan pilihan kepada Sanjaya, Ia akan menganggap pantas memerintah Galuh jika Sanjaya mampu mengalahkan tiga tokoh Pandawa, Wulan dan Tumanggul. Ketiganya masing-masing raja didaerah Kuningan, raja Kajaron dan raja Kalanggara di Balamoha.
Kekuasaan yang dipegang Sanjaya dan Sena dianggap tidak ada apa-apanya jika Sanjaya belum mampu menaklukan raja di Jawa Tengah dan sekitar Galuh. Jika Sanjaya mampu menguasai mereka maka Resiguru Demunawan, putra Sempakwaja, masih ua Sanjaya, pantas mempertuan Sanjaya. Namun jika Sanjaya tidak mampu menundukan mereka maka Sempakwajalah yang akan menentukan penguasa Galuh.
Masalah ini dikisahkan didalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :
Carek Rahiang Sanjaya: “Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna.”
Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: “Na aya pibejaeun naon, patih?”
“Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora.”
Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru.
Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji Tepus jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti.”
Rahiang Sanjaya tuluy perang ka Kuningan.

Sanjaya tidak mampu mengalahkannya, bahkan sebaliknya Sanjaya dipukul mundur dan dikejar hingga ke Galuh. Peristiwa ini diberitakan didalam Carita Parahyangan.
Eleh Rahiang Sanjaya diubeur, nepi ka walungan Kuningan.
Rahiang Sanjaya undur.
“Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran.”
Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile.
Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?”
“Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan.”
Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.
Karena dikalahkan akhirnya Sanjaya menyerahkan penunjukan penguasa Galuh tersebut kepada Danghyang Guru, Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahan Galuh diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sedangkan putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana. Cucu Purbasora dari Wijayakusuma. Masalah tidak cukup berhenti sampai disini, karena intrik-intrik politik terus berlanjut.
Sempakwaja menunjuk Demunawan sebagai raja Layuwatang. Kemudian pada tahun 723 Demunawan dinobatkan sebagai penguasa kerajaan Saung Galah di Kuningan. Wilayah Galunggung dan kerajaan kecilnya dijadikan wilayah dibawah Saung Galah untuk menandingi Galuh yang dikuasai Sanjaya, namun resminya dipegang Premana Dikusumah.
Karena merasa tertekan, Premana akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama Pangrenyep, seorang putri pembesar Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana dipertapaannya. Maka berakhirlah kekuasaan Premana.
Carita Parahyangan dianggap terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal sebenarnya, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.
Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan. “Rahiang Sanjaya sasauran, ngawulang anakna, Rakean Panaraban, enya eta Rahiang Tamperan: “Ulah arek nurutan agama aing, lantaran eta aing dipikasieun ku jalma rea.”
Dari perkataan tersebut mungkin menarik untuk dibahas adanya perubahan agama keraton di Sunda, namun masalah ini masih kabur dan belum terungkap secara
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 28, 2010 in SEJARAH, SENI BUDAYA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: