RSS

“Si Penjaga Alam dari Ciamis Jawa Barat”

24 Nov

Wujud topeng pada seni tradisi ini menyeramkan. Sepintas lalu, mirip ondel-ondel betawi, reog ponorogo, leak bali, hudoq kalimantan, bahkan makhluk peminum darah, jenglot. Tapi, justru topeng dan segala pernak-pernik yang menghiasinya menjadi daya tarik, serta hiburan menyenangkan bagi para penikmatnya.

Seni tradisi ini bernama bebegig. Namun, jangan pernah membayangkan bahwa bebegig yang ini sama dengan bebegig yang biasa kita temukan di sawah. Jika bebegig yang lazim digunakan petani untuk mengusir burung-burung hama padi di sawah bentuknya berupa boneka berbahan dasar pohon padi atau sejenisnya dan dibungkus dengan pakaian manusia, bebegig yang satu ini berbeda. Pelakunya adalah manusia yang mengenakan topeng berbentuk buta ijo, kepalanya besar, giginya taring, rambutnya gimbal, tubuhnya berwarna hitam, hidung lancip, matanya melotot, dan berwarna macam-macam. Sepintas mirip hudoq dari Kalimantan, ondel-ondel dari Betawi, atau leak dari Bali. Bedanya, bebegig memiliki ciri khas, seperti rambut gimbal terbuat dari susunan bunga bubuai (bungan rotan), seluruh tubuhnya dibungkus ijuk, mengenakan sarung tangan hitam, dan sepatu hitam. Meskipun bentuk bebegig terlihat mirip, namun masing-masing memiliki nama. seperti Gandawisesa, Pancasita, Panjigoma, dan lain sebagainya.

Spektakuler

Bebegig merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Media utamanya adalah manusia yang memakai topeng besar dilengkapi rambut gimbal. Musik pengiringnya terdiri dari dogdog dan angklung yang berjalan di depan bebegig. Jika sedang mengadakan pertunjukan atau arak-arakan, orang-orang di sekitar pertunjukan boleh ikut menari bersama bebegig mengikuti irama dogdog dan angklung tadi. Dan, orang-orang pun larut dalam kegembiraan menari bersama bebegig yang punya wajah menyeramkan. Tak ada rasa takut. Semua ikut menari.

Seni yang termasuk dalam kategori helaran (karnaval) ini biasa digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI, khitanan, menyambut tamu, even-even tertentu, serta kerap dilombakan pada festival-festival di luar daerah. Seni tradisi khas Kabupaten Ciamis ini pernah mengikuti festival seni dan budaya di Jakarta, Bandung, dan Ciamis. Bahkan dalam festival budaya di Bali, bebegig sukamantri pernah menyabet gelar juara ke-2. Bebegig sendiri mulai dipopulerkan oleh para seniman Ciamis dan masyarakat Sukamantri sekitar 1950-an.

Menurut saya, seni tradisi ini terbilang spektakuler, sebab melibatkan banyak orang di dalamnya. “Di acara tertentu kami cuma membawa beberapa orang saja. Kalau di daerahnya mah bisa sampai 40-an orang lebih. Belum lagi yang mau ikut menari,” kata Fauzan, salah seorang anggota grup bebegig, Baladewa Sukamantri (10/10/2010). Yang lebih mencengangkan lagi, bobot rambut gimbal dan topeng bebegig ini tidak sembarangan. Beratnya bisa mencapai 30 kilogram, dengan tinggi mencapai 5 meter lebih.

Penjaga alam

Menurut masyarakat Sukamantri, bebegig adalah lambang kemenangan. Konon, pembuatannya terinspirasi wajah Prabu Sampulur, seorang raja yang berhasil menang melawan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Jawa. Kemudian, kemenangannya tadi dikenang oleh masyarakat berupa topeng mirip wajahnya. Lalu, apakah benar wajah sang prabu mirip dengan topeng bebegig saat ini? Jika iya, kenapa justru tampil “menyeramkan”? Entahlah.

Tapi yang pasti, sebagian besar seni tradisi Sunda ditujukkan untuk menghargai alam. Lihat saja angklung, rengkong, dan cikeruhan yang ditujukkan sebagai wujud penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci, Dewi Kesuburan. Ini wajar, sebab Tatar Sunda memang terkenal sebagai daerah yang agraris. Jadi, bisa dimengerti mengapa sebagian besar seni tradisinya berhubungan dengan alam. Begitu pula dengan bebegig. Layaknya karakter bebegig penunggu sawah, fungsi kesenian bebegig, yaitu sebagai penjaga pada prosesi pembersihan alam untuk bercocok tanam. Ini terlansir dari arak-arakan pada upacara memelihara alam yang merupakan tradisi masyarakat Sukamantri. Aneka tanaman yang menghiasi kepalanya sendiri merupakan personifikasi dari isyarat untuk mencintai alam sekitar.

Bebegig meskipun seram, rambut gimbalnya yang tersusun dari bunga rotan yang disebut bubuai itu menyiratkan kecintaan pada alam semesta. Dalam bunga-bunga itu masih tersimpan ribuan benih rotan. Jika pemilik wajahnya berjalan dan menggerak-gerakkan rambutnya, ia bagaikan kupu-kupu yang mengisap sari bunga dan menebarkannya ke daerah lain.

Itu sebabnya, rambut lelaki seram itu tak pernah diganti ijuk atau benda lain karena dari rambut itulah ia menyimpan rahasianya menjaga alam.

Wajah seram itu adalah bebegig milik masyarakat Desa Cempaka, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Hingga kini masyarakat di bagian utara Ciamis masih menggunakan bebegig untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Para pembuat kedok atau topeng bebegig pergi ke makam untuk menemukan suasana seram. Pengguna akan menyimpan kedok bebegig di makam hingga tiga hari. Dari pemakaman umum itu ratusan orang keluar dan berarak-arak keliling desa. Bebegig akan ditinggalkan di makam khusus setelah acara selesai.

Racmayati mengatakan seni baru ngarumat merupakan berbagai seni tradisi di Ciamis yang kemudian dirangkai dan dipertontonkan. Dalam seni musik, metode itu disebut medley.

Masyarakat Desa Cempaka meyakini bebegig merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah Prabu Sampulur. Ia memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Pulau Jawa. Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok seperti wajahnya.

Rachmayati mengatakan seni bebegig kemudian diambil untuk melengkapi penciptaan seni baru Ciamis, yaitu ngarumat atau memelihara. Dalam seni ngarumat yang diciptakan selama delapan bulan pada tahun 2006 tersebut seni bebegig yang hanya diiringi musik kelotok, aksesori yang dikalungkan pada kerbau dan sapi, kemudian ditambah beduk marung dari Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, Ciamis, sehingga kemudian disebut dugig atau beduk dan bebegig.

Kreasi dengan bebegig ditempatkan di akhir pementasan. Bebegig merepresentasikan penjaga lingkungan. Karena itulah masyarakat Ciamis yang agraris bisa menunjukkan kepada masyarakat lain hasil taninya yang melimpah, seperti ketupat dan galendo dari kelapa.

Sebelumnya, dalam rangkaian ngarumat juga ditunjukkan cara masyarakat memelihara alam dengan menebarkan benih. Penebaran benih diawali dengan parukuyan terbuat dari pelepah bunga kelapa kering yang dibakar dengan kemenyan. Pemegangnya mengibas-kibaskan parukuyan ke sekitar tempat penanaman benih. Dalam upacara ini juga dipertunjukkan Tari Sintung.

Penanaman benih diikuti upacara ritual nyangku dari Panjalu, Ciamis. Upacara ini dilakukan untuk mengambil air bersih dari sumber air.

Untuk menjaga yang sudah ditanam dan disiram, upacara dilengkapi tanjidor dari Buniseuri, Ciamis, sebagai kesenian untuk menjaga situasi. Kesenian karawitan ini menggunakan tabuh beduk, kendang, calung renteng, genjring, rebab, dan sinden. Mulanya seni ini dipakai orangtua yang sedang berjaga malam pada masa pendudukan Jepang. Untuk menghela rasa bosan dan mengantuk, dimainkan tanjidor.

=======================================================================

Sumber: Fandy Hutari,penulis lepas dan penyuka seni. Tinggal di Bandung

http://www.indonesiaseni.com/peristiwa/bebegig-si-penjaga-alam-2

http://www.wisataciamis.com/2009/08/kesenian-daerah-atraksi-wisata-2.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in SENI BUDAYA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: