RSS

Ronggeng Gunung Seni Buhun Kab Ciamis

23 Nov

Ronggeng Gunung, sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya, dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utama, seorang perempuan, dilengkapi sebuah selendang. Fungsi selendang, kadang untuk kelengkapan dalam menari. Tapi juga bisa untuk “menggaet” lawan–biasanya laki-laki–untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke leher sang lawan.

Untuk pola gerak Ronggeng Gunung, dipandang menjadi akar ronggeng pakidulan, nayaga yang mengiringinya (penabuh gamelan) cukup tiga orang. Hanya dengan bonang, gong, dan kendang, dan sejumlah lelaki yang mengelilingi penari, Ronggeng Gunung sudah bisa digelar. Biasanya, lelaki yang mengelilingi penari itu punya ciri khas, bagian kepala ditutup menggunakan sarung. Sehingga yang terlihat hanya bagian muka saja.
Lagu yang dilantunkan penari ronggeng pun sangat unik dan khas. Para pengamat seni menilai alunan suaranya sangat spesifik. Dan tidak ditemukan dalam kawih atau tembang Sunda lain.
Awalnya Ronggeng Gunung berbau maut. Kesenian tradisional Ciamis Selatan itu, merupakan seni bertempur yang cerdik. Konon, orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan.
Siasat itu, konon diilhami dendam Dewi Rengganis. Pasalnya suami tercinta, Raden Anggalarang tewas dibunuh kaum perompak (bajo) di tengah perjalanan menuju Pananjung, Pangandaran. Beruntung Dewi Rengganis selamat, dan bersembunyi di kaki gunung.
DALAM cerita rakyat masyarakat Ciamis, Dewi Siti Samboja dikenal sebagai wanita cantik jelita yang diperistri Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh. Walaupun tidak direstui ayahnya, pasangan itu kemudian mendirikan kerajaan di Pananjung, daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Ketika itu, sekitar perairan daerah tersebut sering didatangi kaum perompak.
Mengetahui ada kerajaan baru, para perompak kemudian menyerang. Karena pertempuran tidak seimbang, Pangeran Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja berhasil menyelamatkan diri. Dalam pengembaraan Sang Dewi yang penuh penderitaan sampai akhirnya menerima wangsit.
Ia dianjurkan mengubah namanya menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya tersayang, Nyi Ronggeng berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung didaki dan lembah-lembah dituruni. Di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh kaum bajo dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke laut Samudera Hindia.
Kepedihan hatinya itu kemudian diungkapkan dalam syair lagu Manangis berikut ini:
Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui”.
Irama lagunya yang mendayu-dayu, naik turun dalam irama yang mengalun, seolah menghanyut pendengarnya dalam ikatan suasana yang sulit dilepaskan. Kemampuan tersebut sekaligus merupa-kan kekuatan seorang peronggeng. Karena itu, pantas jika kini Bi Raspi kesulitan melakukan regenerasi, walaupun anaknya yang semata wayang, Nani Nurhayati, telah berusaha keras mengikuti jejak ibunya.
***
BAGI masyarakat Ciamis selatan, kesenian ronggeng gunung pada masa jayanya bukan hanya merupakan hiburan. Kesenian tersebut sekaligus menjadi pengantar upacara adat.
Dalam mitologi Sunda, Dewi Siti Samboja atau Dewi Rengganis hampir sama dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Karena itu, tarian dalam ronggeng gunung melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam. Yakni, sejak turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai kahirnya syukuran karena panen telah berhasil.
Bahkan, pada saat petani mengharapkan turun hujan, ronggeng gunung dipanggil sebagai mediator. Dalam karya tugas akhir di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (1985), Nesri Kusmayadi mengungkapkan, Nyi Ronggeng berkeliling kampung seraya membawa kucing. Jika menemukan sumur atau sungai yang masih ada airnya, binatang peliharaan itu kemudian dimandikan.
Oleh karena fungsi tersebut, ronggeng gunung bisa digelar di halaman rumah atau bahkan di huma (ladang), misalnya ketika dibutuhkan untuk upacara membajak atau menanam padi. Selain itu, sebagai salah satu kesenian yang akrab dengan penontonnya, ronggeng gunung merupakan hiburan. Baik untuk resepsi upacara perkawinan, khitanan atau upacara adat yang ada hubungannya dengan kelahiran.
Sayang, seperti kesenian tradisional lainnya, ronggeng gunung kini mulai tersisih kesenian lainnya dan bahkan ronggeng kaler. Disebut ronggeng kaler karena asal dan daerah penyebarannya di wilayah bagian utara Kabupaten Ciamis atau Kuningan yang perpaduannya menghasilkan Ronggeng Amen/Kidul yang lebih “laku” dimasyarakat mungkin karena lebih meriah sebab sudah menggunakan gamelan kliningan dan lagu-lagu Rancagan.
Berbeda dengan ronggeng gunung, dalam ronggeng kaler, penyanyi tidak merangkap sebagai penari. Penyanyinya biasa disebut pesinden sehingga bentuknya hampir mirip dengan kliningan di daerah utara Jabar yang menggunakan perangkat gamelan secara lengkap.
Saat ini, keberlangsungan ronggeng gunung berada di ujung tanduk. Namun, Lingkung Seni Puspa Manggulrasa yang digelorakan Bi Raspi (54) yang sudah 38 tahun menggeluti profesi sebagai penari Ronggeng Gunung seperti tak kenal menyerah. Meski pun diakuinya, seni pituin Banjarsari itu tumbuh seperti kerakap di batu.
Kegelisan ibu satu anak itu, didorong oleh kenyataan kian menurunnya minat anak muda mengembangkan kesenian “ronggeng gunung”. Lumrah, jika Bi Raspi gundah. Pasalnya, kesenian yang diusung dirinya lebih separuh usia itu kian pudar. Kalangan muda, tampaknya, tidak tertarik menggauli kesenian langka itu. 

Sumber: http://bhudaya.site90.net/ind/index.php?isi=news&id=00001

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2010 in Opini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: