RSS

Pemekaran Wilayah di Ciamis ( kab.Pangandaran )??

07 Mei

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum ka Warga Galuh sadaya..

‘Merupakan karya pertama dari Departemen Keilmuan dan Litbang’

Ciamis Selatan Merupakan Sebuah Harapan ??

Fenomena keinginan berpisahnya satu daerah untuk membentuk daerah otonomi sendiri melalui mekanisme pemekaran wilayah yang sudah di rencanakan secara top down maupun melalui usulan warganya saat ini menunjukkan keinginan masyarakat wilayah tersebut untuk memperoleh benefit yang lebih besar dari proses pembangunan disamping kendala-kendala yang tejadi secara administrasi karena jauhnya letak geografis wilayah tersebut dari pusat kekuasaan provinsi/kabupaten, kurangnya pelayanan publik dll.

Hal terrsebut cukup membuat kita miris karena akan berimplikasi pada berbagai hal disamping dampak yang nyata bagi provinsi/kabupaten yang ditinggalkan seperti berkurangnya PAD (pendapatan asli daerah) , ruwetnya inventarisasi asset Pemda, biaya tambahan saat proses peralihan juga masalah tata kepegawaian yang harus disolusikan. Hal yang cukup membuat miris dari pemekaran wilayah adalah kurangnya SDM yang berkualitas dari daerah yang baru dimekarkan karena adanya keinginan dari setiap daerah tersebut agar putra daerahnyalah yang memimpin dan mengelola roda pemerintahan, hal tersebut selain berdampak tersendat-sendatnya laju pembangunan yang diharapkan juga dikhawatirkan akan memperlemah pengawasan administratif sehingga tidakan tercela seperti mark up, korupsi dan aktivitas fiktif makin merajalela yang berdampak makin besarnya kebocoran uang negara yang pernah di kalkulasikan oleh Prof Sumitro saat itu sekitar 30% dari anggaran negara.

Banyak pendapat mengenai pemekaran, dari yang sangat mendambakan, dukungan terbaik, ataupun berdasarkan geografisnya serta potensi-potensi yang ada. Banyak juga pertimbangan dari para inohong serta pejabat terkait lainnya. Tentunya, hal itu tidak lepas dari perhitungan untung-ruginya bagi masyarakat ataupun dari segi PAD (pendapatan asli daerah) jika pindah ke daerah pemekaran baru (otonom).

Namun dengan gambaran-gambaran tersebut, saya selaku salah satu anggota masyarakat yang lahir di daerah Ciamis Selatan , secara pribadi sangat setuju dengan adanya pemekaran tersebut. Kenapa demikian? Hal itu pertanda, pola pikir putra-putra daerah sudah sangat maju dan tingkat kepeduliannya sudah tinggi, dalam mempertimbangkan, menganalisis situasi kondisi daerahnya (leres teu)??

Kita pun punya contoh, Banjar Patroman sudah bisa mengurus sendiri pemerintahan kota yang dipimpin oleh seorang dokter yang sangat supel dan bijaksana dalam mengelola pemerintahannya. Siapa yang tak kenal pada H. Herman Sutrisno? Di samping mengelola pemerintahan, juga mengurus masyarakatnya dari segala macam penyakit.

Keinginan percepatan pemekaran Pangandaran menjadi kabupaten baru ini, putra daerahnya/masyarakatnya sudah siap segalanya, termasuk risiko apa pun yang terjadi dalam mengelola setelah menjadi kabupaten. Atas dasar penelitian-penelitian, aspek geografisnya, atau seni budayanya, merupakan potensi-potensi yang kuat, yang sangat diandalkan atau dijagokan.

Pembangunan di Kabupaten Ciamis yang memiliki 36 kecamatan dinilai belum merata akibat wilayah yang terlalu luas dan anggaran yang terbatas. Potensi ekonomi pun belum tergali optimal. Aspirasi 10 kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Ciamis untuk memisahkan diri dari Ciamis bukan didasarkan pada buruknya infrastruktur. Keinginan membentuk daerah otonom itu lebih disebabkan keinginan masyarakat setempat untuk mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik dan cepat.Keinginan Pangandaran atau daerah Ciamis bagian Selatan , untuk memisahkan diri dari kabupaten Ciamis , sebenarnya sudah menjadi wacana sejak tahun 2002.

Ketua DPRD Ciamis Jeje Wiradinata mengungkapkan kesimpulan hasil kajian tim kecil yang secara khusus meneliti persoalan perkembangan perekonomian di wilayah yang sebelumnya menghendaki pemekaran. Kajian yang dilakukan tim tersebut, juga berpegang pada PP 78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.

“Ini merupakan harapan baru untuk merajut harapan masyarakat Ciamis selatan menjadi daerah otonom. Jadi perkiraan kita sudah benar, dengan data yang baru, maka memang layak adanya pemekaran Ciamis selatan,” katanya, kepada wartawan, Kamis (11/12).

Waktu itu, ada semacam forum Paguyuban Masyarakat Pakidulan (PMP) yang juga menyuarakan Pangandaran ingin pisah dari Ciamis. Keinginan itu mengemuka karena potensi Pangandaran dianggap tidak diolah secara maksimal. Pangandaran merasa telah banyak memberikan kontribusi ke Ciamis lewat pendapatan wisata, pajak hotel, restoran dan lainnya. Tetapi, imbal balik yang diterima Pangandaran dinilai kecil. Penataan Pangandaran waktu itu juga dirasakan tidak berjalan dengan baik. Projek pembangunan pelabuhan, juga mengalami kemandekan. Artinya, ada segudang masalah hingga akhirnya membuat masyarakat Pangandaran dan sekitarnya, berkeinginan memisahkan diri dari Ciamis. Selama ini, warga Pangandaran memiliki percaya diri cukup tinggi, karena merasa menjadi lumbung pendapatan. Selain itu, nama daerah ini sudah dikenal luas ke berbagai daerah. Namun, wacana pemekaran itu, secara perlahan tenggelam. Baru, setelah Pangandaran diterjang tsunami tahun 2006 lalu, wacana untuk memisahkan diri dari Ciamis kembali muncul.

Keinginan memisahkan diri dari kabupaten induk, waktu itu muncul, karena adanya kekecewaan dalam penanganan pembangunan di Pangandaran. Lalu, infrastruktur yang banyak terbengkalai, serta jarak antara daerah ini ke pusat ibu kota kabupaten terlalu jauh, yaitu lebih dari 100 km. Daerah Kab. Ciamis dinilai terlalu luas, sehingga proses pembangunan tidak bisa secepat yang diharapkan. Lambatnya pembangunan pelayanan dasar, seperti dalam bidang kesehatan untuk berobat atau rawat harus ke Rumah Sakit Banjar, dengan jarak kurang lebih 90 km.

Sehingga, untuk mendekatkan dan memaksimalkan pelayanan ke masyarakat, perlu dibentuk daerah otonom baru yang lebih mendekatkan diri ke masyarakat. Daerah otonom ini, yaitu di Ciamis Selatan atau Kab. Pangandaran dengan meliputi beberapa kecamatan. Agar keinginan itu terwujud, 35 tokoh Pangandaran pada tanggal 25 Februari 2007 melakukan pertemuan khusus di Hotel Mustika Ratu Pangandaran. Pertemuan itu menghasilkan pembentukan panitia kecil untuk menjaring aspirasi warga di 11 kecamatan yang ada di bagian selatan. Mulai dari Kec. Banjarsari, Mangunjaya, Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Sidamulih, Parigi, Cimerak, Cijulang, Cigugur, dan Langkaplancar.

Anggota DPR RI Eka Santosa, mengatakan, daerah Ciamis bagian selatan sudah layak menjadi daerah otonom. Hal itu didukung dengan sumber daya alam (SDA) dari Pangandaran dan sekitarnya yang cukup potensial, termasuk bisa menjadi daerah wisata andalan. Selain itu, SDM dari daerah selatan ini sudah memadai, sehingga mesti didukung untuk pembentukan sebuah kabupaten.
Sungguh suatu hal yang sangat indah apabila tatanan Ciamis Selatan yang baru dapat terbentuk dengan iklim yang sangat Agamis, antar umatnya rukun dan kesejahteraan yang dapat dirasakan bersama sehingga dapat memberikan contoh dan menjadi pola bagi daerah lain untuk memajukan negara ini. Satu kunci yang tidak boleh keliru dilakukan adalah ketepatan dalam memilih pimpinan pertama yang akan meletakkan pondasi serta dasar-dasar hukum yang mengatur tata laksana Kabupaten Ciamis Selatan yang Makmur dan Sejahtera, amieen.

Dengan demikian, induk Ciamis seyogianya jangan pesimistis akan kehilangan daerah yang ingin maju. Mudah-mudahan dengan adanya pemekaran ini, nama tatar Galuh Kabupaten Ciamis akan lebih harum dan terkenal di mancanegara. Ciamis, Kota Manis, Dinamis, jeung Gareulis. Amin.

Alhamdulillah…parantos rengse geuning..

Salam pejuangan ka warga Galuh sadaya,,khususnya Galuh Rahayu..tetep pada semangadh yaa..

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 7, 2009 in KEGIATAN-KEGIATAN

 

10 responses to “Pemekaran Wilayah di Ciamis ( kab.Pangandaran )??

  1. risris garut

    Mei 13, 2009 at 3:03 pm

    ngawitan ….. selamat ka dept Litbang dan keilmuan.. wilujeng berkarya nu sanesna.
    salajengna kabar terakhir pemekaran eta teh aya dina surat kabar PR hari ini rabu, tanggal 13 mei 2009, perkawis acan aya deui obrolan nu serius kana pancen eta ti dprd provinsi. jd asa digantung wae…korana aya di kontrakan/ sekretariat IKADA.
    masyarakat ciamis selatan hoyong pisan aya kapastian dina raraga majukeun daerah dina sagal rupina, nya,,,, harapan urang sadaya ge mudh2n pami jnten ditinggalkeun tetep tiasa hirup…. nyman dina ngawangun ciamis….

     
    • galuhrahayujogja

      Mei 18, 2009 at 7:35 am

      muhun,,haturnuhun pak wakil sekretaris..muhun haturnuhun pisan informasinya,,insyaalllah di tingali ka sekretariat IKADA…hayuu urang sasarengan ngawangun ciamis..

       
  2. Mustafid

    Mei 21, 2009 at 11:09 am

    Meskipun saat ini Pemekaran Kabupaten Pangandaran masih dalam proses dan rencananya akan diresmikan pada tahun 2011, tentunya Kabupaten Ciamis yang merupakan induk dari Kabupaten Pangandaran harus mulai mempersiapkan langkah-langkah ke depan untuk melirik alternaif pendapatan daerah yang lain selain dari Pangandaran. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Pangandaran merupakan sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari potensi wisata Kabupaten Ciamis yang terbesar disamping potensi-potensi daerah lainnya yang dimiliki oleh Kabupaten Ciamis. Tiap tahun Pangandaran dikunjungi sekitar 300.000 orang, dua persen di antaranya adalah wisatawan asing dan Pangandaran menyumbangkan sekitar Rp 1 miliar terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Ciamis. Dalam tiga tahun terakhir, PAD Pangandaran mencapai 3 persen per tahun. Tak mengherankan, kawasan ini menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang cukup diperhitungkan. Sumbangan PAD itu terancam hilang bila Kabupaten Pangandaran resmi berdiri.

    Kabupaten Ciamis selama ini memiliki beberapa obyek wisata unggulan, antara lain Pantai Pangandaran, Batu Hiu, Batu Karas, dan Cukang Taneuh (Green Canyon) di kawasan Pangandaran. Dua lainnya adalah Karangkamulyan, yakni tempat peninggalan Kerajaan Galuh, dan Situ Lengong di Panjalu. Tentunya apabila Kabupaten Pangandaran nanti resmi berdiri, Kabupaten Ciamis hanya memiliki dua unggulan obyek wisata yaitu Karangkamulyan dan situ Lengkong Panjalu. Oleh karena itu, mau tidak mau pemerintah daerah Kabupaten Ciamis harus mengupayakan obyek wisata alternatif lainnya yang ada di Kabupaten Ciamis pasca Kabupaten Pangandaran terbentuk.

    Selain dari sektor Pariwisata, Kabupaten Ciamis pasti akan kehilangan potensi hasil lautnya. Mengingat Pangandaran dan daerah di pesisir lainnya seperti Cimerak, Parigi, dan Cijulang merupakan daerah teritorial Kabupaten Ciamis yang berada di wilayah pantai. Otomatis pasca Kabupaten pangandaran terbentuk, Kabupaten Ciamis tidak akan memiliki wilayah pantai lagi. Tiap tahun diperkirakan tak kurang dari 1.560 ton ikan dengan nilai 18 Miliar diperoleh dari para Nelayan di Pangandaran.

    Wilayah Kab. Pangandaran yang meliputi sembilan puluh desa yang terdiri dari sepuluh kecamatan, yakni Kecamatan Padaherang, Kecamatan Mangunjaya, Kecamatan. Kalipucang, Kecamatan Pangandaran, Kecamatan Sidamulih, Kecamatan Parigi, Kecamatan Cigugur, Kecamatan Cijulang, Kecamatan Cimerak, dan Kecamatan Langkaplancar merupakan kecamatan-kecamatan yang mempunyai potensi alam yang meyakinkan. Misalnya di Kecamatan Langkap Lancar, potensi hasil hutan yang dimiliki Kecamatan ini sangat melimpah dengan wilayahnya yang rata-rata pegunungan, dan juga kecamatan ini merupakan komoditas pertanian dan perkebunan, selanjutnya di Kecamatan Mangunjaya yang merupakan daerah lumbung padi, dan kecamatan-kecamatan lainnya yang mempunyai potensi hasil alam tersendiri sesuai dengan karakter daerahnya.

    Tentunya setelah Kabupaten Pangandaran terbentuk Ciamis tidak hanya kehilangan PAD dari sector pariwisata, pertanian, dan perikanan saja, akan tetapi dari sektor peternakan, budaya, dan sebagainya. Oleh karena itu hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis yaitu mempunyai suatu strategi yang jitu untuk mencari alternatif PAD yang lain yang dimiliki oleh Kabupaten Ciamis dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki oleh kabupaten Ciamis dan mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi penduduk.

     
    • padma17+

      Juni 1, 2009 at 12:42 pm

      plus-minus sebuah pemekaran

      di sakaol, pemekaran mangrupikeun kasempetan kanggo daerah nu salami ieu ka-anak tiri-keun margi ayana distribusi source-sink antawis daerah potensial sareng daerah “benalu”, tapi memang teu aya awona subsidi silang salami proporsional sareng prinsip “keadilan bagi seliruh rakyat indonesia”, egois kasebatna pami teu ngimani hal eta.

      di sisi sapalih, pemekaran seolah nyitak “Raja-Raja Kecil” ku sistem nu teu mungguhing langkung tartib ti sistem nu ngawanguna, margi political cost kanggo proses eta sanes harga nu murah.

      tapi ampun paralun sanes ngalitkeun manah tur sumanget baraya sakumna ngeunaan pemekaran (dimanapun itu) nanging fungsi akademisi salaku kontrol sosial kedah langkung iatna…..

      cag…

       
  3. deni

    Juni 7, 2009 at 6:47 am

    Saya kira Pangandaran punya modal pariwisata yang bisa dimaksimalkan sebagai sumber PAD, tetapi itu saja tentu tidak cukup, perlu menggali potensi lain yang dapat mengiringinya seperti pertanian dan perikanan, hasil hutan dsb. Mudah-mudan keinginan pemekaran ini tidak semata-mata untuk memuaskan keinginan beberapa elit yang berkepentingan mengambil manpaat dari adanya pemekaran tersebut tetapi lebih dari itu merupakan upaya memajukan ciamis selatan secara lebih substantif agar dapat lebih mengangkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Mudah-mudahan upaya pemekaran ini berbuah kemajuan. amin….

     
  4. MUKHLISH YOGYAKARTA

    Februari 21, 2011 at 2:59 am

    Pangandaran mekar, hidung koruptor makin lebar….

     
    • kpm_gr

      Februari 22, 2011 at 3:28 am

      ya kita lihat aja…..akan sampai dimana hal itu kan t5erjadi….

       
  5. orang pangandaran

    April 6, 2011 at 5:00 am

    Ironis memang, kalau saya lihat di kota Ciamis sendiri, jalanannya bagus, lebar dan tertata dengan rapih, tapi sebaliknya, jalanan menuju pangandaran dan sekitarnya sudah berlubang, sempit dan tidak tertata rapih, ibarat bumi dan langit. Ini saja sebenarnya merupakan sebuah sinyal bagi pemerintah pusat untuk segera meresmikan pembentukan Kab. Pangandaran agar nantinya pembangunan di wilayah selatan semakin optimal, terutama infrastruktur yang mendukung kegiatan potensi pariwisata, perikanan dan pertanian.

     
  6. 0zie jkt

    April 10, 2011 at 2:53 pm

    up: orang pangandaran
    memang kelihatan nya pangandaran menjadi sapi perasan kab. ciamis
    coba tolong di sikapi oleh pemerintah daerah!

     
  7. JACK JANG

    Oktober 30, 2012 at 3:35 pm

    Ditingal tipalih tonggoh(lp.lancar) raraosan teh kecamatan abi mah pang kababayutna we sagala rupa teh, “hayang mah hayang ngan leuleus” ngingu lauk hade, ngajualna ripuh da jalana rajet sa umur-umur, dijual di lembur kagok hargana, sugan we atuh kapayun ari insfratruknurna sae mah(kab.pangandaran) balong lega teh teu kapiran teuing. kumejot

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: