RSS

Arsip Kategori: KERAJAAN KENDAN

PERUBAHAN KENDAN MENJADI GALUH

Dalam paradigma sejarawan lokal nama Kendan tidak dapat dipisahkan dari Galuh, namun untuk membedakan rincian kesejarahannya digunakan kata Galuh Kendan disamping Galuh Kawali, untuk menyebut Galuh sejak Wretikandayun memisah kan diri dari Sundapura.
Kisah Kendan lebih banyak diriwayatkan dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta, Jika saja dikaji lebih jauh dan teliti, Carita Parahyangan dapat secara runtut menjelaskan sejarah yang sebelumya gelap, seperti kisah Sanjaya, yang prasastinya ditemukan di Canggal, Carita Parahyangan justru dapat menjelaskan muasalnya. Carita Parahyangan memiliki uraian yang hampir sama dengan Naskah-naskah Wangsakerta. Konon kabar, kedua naskah ini hampir mirip dengan naskah Pararatwan Parahyangan yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
Sejarah Sunda lebih hidup dari cerita yang disampaikan secara lisan, banyak sejarah yang dianggap tabu untuk diceritakan dengan alasan pamali, teu wasa atau tabu. Mungkin alasan para karuhun bermasud agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang kebetulan terceritakan. Tetapi hukum dan realitas pemenuhan data kesejarahan resmi seolah-olah menganggap tidak mau tahu dengan urusan ini, sehingga sering menyatakan Urang Sunda kurang bersejarah.
Di dalam cerita Parahyangan menguraikan pula kisah Kendan serta hubungannya dengan Galuh. Carita Parahyangan menjelaskan Sang Resiguru beranak Rajaputra, Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi rajaresi ia menamakan dirinya Rahyang ta di Medang Jati, yaitu Sang Layuwatang.Itulah kisah para pendahulu Galuh.
Memisahkan diri dari Tarumanagara
Pemisahan Galuh terjadi sejak jaman Wretikandayun yang berkuasa pada 534 Saka (612 M) sampai dengan 702 M, pada saat itu di Tarumanagara sudah mendekati akhir hayatnyam dan malih rupa menjadi kerajaan Sunda (pura) yang diperintah oleh Terusbawa.
Wretikandayun menggantikan posisi Sang Kandiawan, ayahnya. Kemudian Wretikandayun memindahkan pusat pemerintahannya kedaerah baru yang terletak di Karang Kamulyaan Ciamis. Lokasi tersebut berada ditengah-tengah dua sungai, yakni Citanduy dan Cilumur, yang ia beri nama Galuh (permata).
Sangat sulit dianalisa tentang alasan Galuh Kendan memisahkan diri, apakah karena Kendan sudah merasa besar dan memiliki kekuatan yang seimbang dengan Tarumanagara, atau karena menganggap tidak ada lagi ikatan emosional antara Tarumanagara yang berubah menjadi Sundapura dengan Galuh. Namun alasan yang terakhir banyak disebut-sebut sebagai trigger-nya, sedangkan alasan pertama hanya dijadikan premis  pelengkap.
Kondisi Tarumanagara ketika itu memang sedang menurun dan sudah kurang berwibawa dimata raja-raja daerah, disinyalir terjadi pada masa Sudawarman, Pertama, pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh leluhurnya tidak dijaga hubungan baik. Mungkin juga karena ia tidak menguasai persoalan Tarumanagara, Karena sejak kecil tinggal dan dibesarkan di Kanci, kawasan Palawa.
Kalaupun mampu menyelesaiakan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta. Pasukan ini sangat setiap terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir: bagaimana menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik.
Kedua, pada jaman Sudawarman telah muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang pamornya sedang menaik. Seperti Galuh, ditenggara Jawa Barat, merupakan daerah bawahan. Selain Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai ada didalam masa keemasannya. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan besar, yakni Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali.
Kemerosotan pamor Tarumanagara tidak akan berakibat parah jika para penggantinya dapat bertindak arif dan mampu menikan pamor kerajaan kembali. Hingga pada setelah wafatnya Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Kemudian digantikan menantunya, yakni Tarusbawa, dengan gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sunda sembawa.
Tarusbawa memerintah sejak tahun 591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M), sebelum menjadi penguasa Tarumanagara ia menjadi raja Sundapura, raja daerah dibawah Tarumanagara.
Tarusbawa sangat menginginkan untuk mengangkat Tarumanagara kembali kemasa kejayaannya. Ia pun memimpinkan kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (Sundapura atau Sundasembawa). Namun tentunya sangat berbeda dengan Purnawarman, selain ia menguasai strategi peperangan dan pemerintahan, ia pun dikenal sebagai raja Tarumanagara yang full Power.
Penggantian nama kerajaan yang ia lakukan tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan dengan raja-raja bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda berakibat raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan seorang menantu dan bekas raja Sundapura.
Mengenai penggantian nama Tarumanagara, dimungkinkan sebagai akibat pindahnya ibukota Tarumanagara ke Sundapura, sehingga iapun mengikuti nama Ibukotanya, bukan asal kerajaannya. Karena Purnawarman pun dahulu berkedudukan di Sundapura dengan nama kerajaannya Tarumanagara.

Jika diurut sejarah raja-raja Galuh maupun Sunda keduanya masih keturunan raja Tarumanagara. Dimungkinkan Tarusbawa masih keturunan Purnawarman, karena ia raja di Sundapura, pada masa Purnawarman menjadi ibukota Tarumanagara. Namun ada juga spekulasi yang berpendapat, Tarusbawa dan leluhurnya menjadi raja Sundapura karena adanya pemberian otonomi kepada raja-raja daerah yang ditaklukan Tarumanagara pasca Purnawarman. Sedangkan Wretikandayun, raja Galuh adalah cucu dari Tirtakancana, putri raja Tarumanagara.

Tentang letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti di Kampung Muara Cibungbulang dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, bahwa perpindahan ibukota Tarumanagara dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Selain itu, posisi letak prasasti Muara dahulu termasuk berada diwilayah kerajaan Pasir Muara. Bisa saja Sundapura diduga berada di wilayah Bogor, mengingat kerajaan Pajajaran, kerajaan yang terkait dduga keras terletak di Bogor, sedangkan Tarumanagara diduga keras terletak di Bekasi.
Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, :
·        “telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda
tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma.
Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura.
Iti ngaran purwaprastawa saking Bratanagari”.
[dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Naman ini berasal dari negeri Bharata].
Keinginan melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, penguasa Galuh bukan seuatu yang muskil untuk dilaksanakan, mengingat Galuh telah merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena memiliki hubungan sangat baik dengan Kalingga, dari cara menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat.

Isi surat dimaksud intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada di sebelah Timur Citarum tidak lagi tunduk kepada Tarumanagara dan tidak lagi mengakui raja Tarumanagara sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab. Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Tarumanagara janganlah menyerang Galuh Pakuan, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari angakatan perang Tarumanagara, dan memilki senjata yang lengkap. Selain itu Galuh juga memiliki bersahabat baik dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang siap memberikan bantuan kepada Galuh kapan saja.

Permintaan untuk memisahkan diri tersebut tidak akan dikabulkan jika jaman Purnawarman. Berdasarkan perhitungan Tarusbawa pasukan Tarumanagara yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, sehingga sulit untuk memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.

Pada kisah berikutnya, : Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Ia merelakan kerajaan terpecah menjadi dua. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negara.
Dalam tahun 670 M, berakhirlah kisah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut dimasa berikutnya disebut juga Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh. Cag heula.(***)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in KERAJAAN KENDAN

 

PENDIRI KERAJAAN KENDAN

Kendan didirikan oleh Sang Manikmaya, ia berasal dari keluarga Calankayana, India yang menetap di Kendan sebagai resi. Karena memiliki agama yang sama dengan raja Tarumanagara dan penyembah Wisnu, Manikmaya kemudian dinikahkan dengan Dewi Tirtakancana, putri Suryawarman, raja Tarumanagara.
Istilah atau sebutan Manikmaya dalam kehidupan masyarakat sunda sangat familir dan dikenal dari nama tokoh dewa didalam cerita Mahabarata. Sehingga banyak runtutan Kisah yang menghubungkan sejarah para leluhurnya dengan tokoh pewayangan.

Sebelum Sang Manikmaya tiba di Kendan, dipastikan daerah tersebut sudah ada kehidupan, sebagaimana ditemukannya gerabah yang diketahui berumur pada era sebelum tarikh masehi. Hal ini menjadi sangat masuk akal mengingat perkenalan Sang Manikmaya, pendiri Kendan dengan penguasa Tarumanara terjadi setelah ia berada di Kendan, dalam kapasitasnya sebagai resi.

Sang Manikmaya berkuasa di Kendan sejak 458 Saka (536 M) sampai dengan 490 Saka (568 M). Pada waktu itu Kendan masih mendapat proteksi dari Tarumanagara, karena dianggap wilayah Tarumanagara. Pendirian Kendan jika diurut kesejarahannya, bermula sebagai hadiah dari Suryawarman, raja Tarumanagara kepada Sang Resi. Pada saat Kendan didirikan, Tarumanagara ikut menyebarkan keberadaan Sang Manikmaya keseluruh negara daerah yang ada diwilayah tersebut. Hal ini bertujuan agar diketahui bawahannya.
Pembentukan Kendan hampir sama halnya dengan kisah Tarumanagara, semula berada di Wilayah Salakanagara, kemudian pendiri Tarumanagara, Sang Rajadirajaguru (Jayasingawarman) menikahi Minawati Iswati Tunggal Pertiwi, putri Dewawarman VIII. Dalam proses selanjutnya, disebut-sebut bahwa Salakanagara menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara, namun masih belum dapat diketahui, namun memang Tarumanagara pada akhirnya maju lebih pesat dibandibandingkan Salakanagara.
Mungkin juga jika Aki Tirem pada waktu itu jabatannya seorang raja, jalan cerita Salakanagara pun akan sama dengan cerita Tarumanagara dan Kendan. Karena Dewawarman I menikahi Dewi Pohaci, putri Aki Tirem, kemudian menjadi Raja dan Rajaresi di Wilayah yang ia terima sebagai hadiah dari raja yang sekaligus memproteksinya dari gangguan luar.
Suatu hal yang sulit dipahami jika pada periode selanjutnya Kendan melepaskan diri dari Tarumanagara. Karena Kendan tidak mungkin menjadi kerajaan yang utuh jika Suryawarman tidak menghadiahi Sang Manikmaya suatu daerah (Kendan) lengkap dengan rakyat dan tentaranya.
Pemberian hadiah ini bukan hanya sekedar warisan mertua kepada menantunya, melainkan suatu bentuk hadiah dari seorang sahabat kepada orang yang dianggap berjasa menyebarkan agama di Tarumanagara.  Suryawarman juga menganggap Sang Manikmaya adalah Brahmana ulung dan berjasa terhadap agama.
Para penerus Manikmaya
Setelah Sang Manikmaya meninggal, ia digantikan Sang Suralim, putranya pada tahun 490 Saka (568 M). Sang Suralim, lebih mahir berperang dan banyak waktunya diabdikan sebagai Senapati dan Panglima Tarumanagara, sehingga ia bergelar Baladhika ning widyabala. Sang Suralim berkuasa selama 29 tahun. Kemudian digantikan Sang Kandiawan, putranya.
Lain halnya dengan ayahnya, Sang Kandiawan lebih dikenal karena hidupnya minandita, ia bergelar Rajaresi Dewaraja. Sebelum menggantikan ayahnya ia menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana, sehingga ia bergelar Rahyangta ri Medang Jati. Namun sebagai raja Kendan ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan tetap di Medang Jati, mengingat di Kendan sudah dianggap terpengaruh oleh Siwaisme, sedangkan ia penyembah Wisnu, sehingga ia pun bergelar Batara Wisnu di Medang Jati.
Sang Kandiawan mempunyai lima orang putra, dan menjadikannya sebagai penguasa daerah yang berada diwilayah Kendan, yakni Mangukuhan di kuli-kuli ; Karungkalah di Surawulan ; Katungmaralah di Peles Awi ; Sandangreba di Rawunglangit ; dan Wretikandayun didaerah Menir.
Berbeda dengan kisah tersebut, didalam Naskah Carita Parahyangan, kelima anak Sang Kandiawan dibedakan karena profesinya, bukan karena diberikan daerah kekuasaan, yakni Mangukuhan menjadi peladang ; Karungkalah menjadi pemburu (panggerek) ; Katungmaralah menjadi penyadap ; Sandangreba menjadi pedagang ; sedangkan Wretikandayun menggantikan Sang Kandiawan menjadi penguasa Kendan. Menurut salah satu versi, pemberian nama profesi tersebut bukan yang sebenarnya, namun sebagai simbol.
Sang Kandiawan menduduki tahta Kendan selama 15 tahun, sejak tahun 597 Saka (612 M), kemudian ia mengundurkan diri untuk bertapa di Layuwatang (Kuningan), kemudian ia digantikan Wretikandayun, putra bungsunya.
Pertimbangan Sang Kandiawan menyerahkan kekuasaan Kendan kepada Wretikandayun tentunya membuahkan pertanyaan besar, karena ia bukan anak pertama, dalam tradisi raja-raja dahulu dianggap pihak yang paling berhak mewarisi tahta ayahnya. Pewarisan demikian sebenarnya tidak bias “digebyah uyah”, mengingat setiap orang ataupun komunitas memiliki ciri khas yang mandiri dan berbeda dengan yang lainnya.
Bisa saja pemilihan Wretikandayun berdasarkan pada tradisi Kendan karena ia lebih minandita dibandingkan dengan saudara-sudaranya lainnya yang lebih banyak memprioritaskan urusan yang bersifat keduniaan, atau kepanditaannya tersebut pada masa itu dianggap sebagai suatu bentuk keahlian yang cocok untuk memimpin Kendan.  Alasan ini dapat juga ditenggarai dari sejarah keberadaan Kendan, yakni suatu wilayah Karesian yang dihadiahkan Suryawarman, raja Tarumanagara kepada Sangresi Manikmaya. Namun untuk sekedar alasan, mungkin jawabannya dapat diketahui dari Carita Parahyangan, tentang lomba menombak Kebowulan.
Kisah penguasa Kendan pasca Wretikandayun sengaja tidak diuraikan lebih lanjut, mengigat masa tersebut Kendan sudah malih rupa menjadi Galuh dan sudah tidak berada lagi diposisinya semula. Selain hal tersebut, dalam perkembangannya Galuh memiliki jalan sejarah yang khas dan hingar bingar dari perpaduan masalah politik kekuasaan dan pentaatan terhadap keyakinan raja-rajanya.
Tradisi penurunan tahta kepada anak bungsu bukan sesuatu yang dilarang didalam tradisi Kendan, karena Wretikandayun didalam episode Galuh mewariskan tahtanya kepada Amara (Mandiminyak), putra bungsunya. Namun memang timbul peristiwa Purbasora dan Sanjaya generasi pasca Wretikandayun. Peristiwa inipun tidak berhenti hanya pada satu generasi, karena jika ditelaah berbuntut pada peristiwa Manarah, yang dikenal dalam sejarah lisan sebagai Ciung Wanara.
Penyerahan tahta kepada anak bungsu raja terjadi pula pasca Manarah, yakni dalam peristiwa Manistri, atau dikenal dalam cerita Lutung Kasarung. Manarah menyerahkan kekuasaannya kepada Purbasari, sedang Purbasari masih memiliki kakak perempuan lainnya, antara lain Purbalarang. Ceritapun berbuntut pada kisah rebutan kekuasaan. Berkat bantuan Sang Lutung (Manistri) akhirnya Purbasari dapat memperoleh kekuasaannya.
Kisah para penguasa Kendan didalam carita Parahyangan, disebut sebagai berikut :
·        Ndéh nihan Carita Parahiyangan. / Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra. / Rajaputra miseuweukeun [1] Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan manéh Rahiyangta Déwaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan manéh Rahiyangta ri Medangjati, inya Sang Layuwatang, nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung. /Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, nu miseuweukeun pancaputra; Sang Apatiyan Sang Kusika, Sang Garga Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Putanjala inya Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katung maralah [3], Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun. /Hana paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, nyayang di titrayatra [4] Bagawat Resi Makandria [5]. Dihakan anakna ku salakina. Diseuseul [6] ku éwéna [7]. / Carék éwéna, “Papa urang, lamun urang teu dianak, jeueung Bagawat Resi Makandria. / Ditapa sotéh papa, ja hanteu dianak.” / Carék Bagawat Resi Makandria, “Dianak ku waya, ja éwé ogé hanteu.” / Ti inya carék Bagawat Resi Makandria, “Aing dék leumpang ka Sang Resi Guru, ka Kéndan.” / Datang siya ka Kéndan. / Carék Sang Resi Guru, “Na naha siya Bagawat Resi Makandria, mana siya datang ka dinih?” / “Pun samapun [8], aya béja kami pun, kami ménta pirabieun pun. Kéna kami kapupulihan ku Paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, papa baruk urang hanteu di na anak.” / Carék Sang Resi Guru, “Leumpang siya ti heula ka batur siya deui, anaking Pwah Aksari Jabung, leumpang husir Bagawat Resi Makandria, na pideungeuneun satapa, anaking.” / Leumpang Pwah Rababu, datang ka baturna, teu diaku rabi. Nyeueung inya wedadari geulis, ti inya nyieun manéh Pwah Manjangandara, na Bagawat Resi Makandria nyieun manéh Rakéyan Kebowulan, sida pasanggaman. Carék Sang Resi Guru, “Étén [9] anaking, Pwah Sanghiyang Sri! Leumpang kita ngajadi ka lanceuk siya, ka Pwah Aksari Jabung.” / Ti inya leumpang Pwah Sanghiyang Sri ngajadi, inya Pwah Bungatak Mangaléngalé. / Carék Sang Mangukuhan, “Nam adiing [10] kalih, urang ngaboro [11] leumpang ka tegal.” / Sadatang ka tengah tegal, kasampak Pwah Manjangandara deung Rakéyan Kebowulan. / Digérékeun ku sang pancaputra; beunangna samaya, asing [12] nu numbak inya ti heula, nu ngeunaan inya, piratueun. / Keuna ku tumbak Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara. / Lumpat ka patapaanana, datang paéh. Dituturkeun ku Sang Wretikandayun. Pwah Bungatak [14] Mangaléngalé kasondong nginang deung Pwah Manjangandara; ku Sang Wretikandayun dibaan pulang ka Galuh, ka Rahiyangta ri Medangjati. / Lawasniya adeg ratu lima welas tahun, disilihan ku Sang Wretikandayun di Galuh, mirabi Pwah Bungatak Mangaléngalé./ Na Sang Mangukuhan nyieun manéh panghuma; Sang Karungkalah nyieun manéh panggérék, Sang Katungmaralah nyieun manéh panyadap; Sang Sandanggreba nyieun manéh padagang. Ku Sang Wretikandayun diadegkeun Sang Mangukuhan, Rahiyangtang Kulikuli; sang Karungkalah diadegkeun Rahiyangtang Surawulan; Sang Katungmaralah diadegkeun Rahiyangtang Pelesawi [15]; Sang Sandanggreba diadegkeun Rahiyangtang Rawunglangit./ Sang Wretikandayun adeg di Galuh. Ti inya lumaku ngarajaresi, ngangaranan manéh Rahiyangta ri Menir [16]. Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, inya nunyieunna Purbatisti. / Lawasniya ratu salapan puluh tahun. / Disilihan ku Rahiyangtang Kulikuli, lawasniya ratu dalapan puluh tahun. / Disilihan ku Rahiyangtang Sarawulan, lawasniya ratu genep tahun, katujuhna panteg kana goréng twah. / Disilihan ku Rahiyangtang Rawunglangit, lawasniya adeg ratu genep puluh tahun. [Atja, 1968]
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in KERAJAAN KENDAN

 

KERAJAAN KENDAN

Sejarah Jawa Barat mencatat Kendan telah eksis sejak tahun 536 sampai dengan 612 M. Kendan berubah nama menjadi Galuh (permata) ketika masa Wretikandayun, penerus Kendan menyatakan diri melepaskan diri dari Tarumanagara (Sundapura). Karena Terusbawa merubah Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (pura). Sejak tahun 670 M ditatar sunda dianggap ada dua kerajaan kembar, yakni Sunda Pakuan dan Sunda Galuh.
Naman Kendan seolah tenggelam dalam kebesaran nama Galuh, sangat jarang diketahui masyarakat tentang wilayah dan kesejarahannya, kecuali beberapa masyarakat yang berminat mendalami sejarah Sunda. Bagi sejarawan sunda eksistensi Kendan tidak dapat dilepaskan dari Galuh. Kendan danggap cikal bakal Galuh. Bahkan sejarawan Sumedang di Musium Prabu Geusan Oeloen membedakan Galuh Kendan dengan Galuh Kawali.
Letak Kendan
Kendan didalam catatan sejarah Jawa Barat diperkirakan terletak disuatu daerah diwilayah Kabupaten Bandung, ditepi sebuah bukit (Kendan), + 500 meter sebelah timur stasiun kereta api Nagreg. Terdapat daerah hunian yang bernama Kampung Kendan, Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka. Namun berdasarkan on the spot, letak Kendan berada di sebelah barat stasiun nagreg dan termasuk Desa Nagreg.
Bukit Kendan yang dimaksud sangat jauh untuk disebutkan memiliki jejak Sejarah, mengingat perbukitan Kendan saat ini sudah hampir habis akibat tanahnya dieksploitasi untuk bahan pembuatan bata merah.
Disekitar Nagreg dan Citaman ditemukan pula suatu tempat yang disebut masyarakat sekitarnya “tempat pamujaan”, Sayang istilah tempat pamujaan dalam paradigma masyarakat sunda dewasa ini dikonotasikan negatif, karena sering digunakan “pamujaan”, suatu cara meminta harta kekayaan kepada mahluk gaib, dan dianggap menyekutukan Tuhan. Sama dengan istilah pesugihan.
Nama Kendan lebih dikenal dalam dunia arkeologi, identik sebagai pusat industri perkakakas neolitik pada jaman purbakala. Batu Kendan sudah lama disebut-sebut dalam dunia kepurbakalaan. Disinyalir daerah Kendan sudah ramai dihuni penduduk sejak sebelum tarikh masehi.
Pasir batu bukit Kendan sampai saat ini masih di eksploitasi penduduk setempat, karena mengandung bahan perekat yang sangat cocok untuk pembuatan gerabah. Haji Atang pemilik bukit itu sekarang, memanfaatkan bukit kendan untuk dijadikan bahan campuran bata merah. Konon kabar menurut cerita Pak Anang, keponakan Haji Atang, pada waktu jaman belanda kakeknya mengeksploitasi tanah Kendan untuk dikirim ke Belanda dari stasiun Nagreg melalui Pelabuhan Surabaya, bahkan pembangunan gedung sate dan gedung lainnya di kota Bandung disinyalir menggunakan bahan dari bukit Kendan. Mungkin keberadaan setasiun Nagreg pada awalnya tidak dapat dilepaskan dari Daerah Kendan. Stasiun ini merupakan saksi bisu dari diangkutnya material Kendan kedaerah lain.
Didaerah Kendan pernah ditemukan ditemukan sebuah patung kecil. Para akhli sejarah menyebutnya patung Dewi Durgi. (saat ini disimpan dimusium Jakarta). Sedangkan di dalam prasasti Jayabupati disebutkan, bahwa : kekuatan Durgi dianggap kekuatan Gaib. Dalam cerita Lutung Kasarung, Nini Dugi dianggap berasal dari Kanekes.
Keberadaan patung Durga ditempat pamujaan menimbulkan spekulasi dari beberapa akhli sejarah. Pleyte (1909) mensinyalir daerah tersebut termasuk daerah “Kabuyutan”. Sama dengan daerah Mandala, atau Kabuyutan yang ada diwilayah Cukang Genteng, dekat Ciwidey Kabupaten Bandung.
Kerajaan Kendan selain dikenal melalui gerabah purbakalanya juga disebut-sebut di dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. Kedua sumber dianggap duplikasi dari Pararatwan Parahyangan. Sayangnya Pararatwan Parahyangan saat ini tidak diketahui rimbanya. Namun karena dijadikan sebagai naskah rujukan maka Pararatwan Parahyangan dipastikan keberadaannya lebih tua dari Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. (*)
Disarikan oleh : Agus Setiya Permana
Dari berbagai sumber.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2010 in KERAJAAN KENDAN, SEJARAH

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: