RSS

Arsip Harian: November 24, 2010

Pemkab Ciamis Kurang Perhatian Pada Kesenian Ronggeng Gunung

Nyi Raspi, penari Ronggeng Gunung yang berasal dari Desa Ciulu Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Foto : Aam Lusyana/HR. 

News, (harapanrakyat.com),- Ronggeng Gunung Ciamis telah lama ditetapkan sebagai aset budaya oleh Provinsi Jawa Barat, terbukti pada akhir tahun 2009, Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan senilai Rp. 200 juta untuk pendirian sanggar ronggeng gunung, guna melestarikan budaya seni ronggeng tertua di Indonesia itu.

Sanggar ronggeng gunung didirikan oleh Pemprov Jabar bukan tanpa alasan, tetapi tentunya berkat ketelatenan, keseriusan serta dedikasi Nyi Raspi, selaku pengelola sanggar ronggeng gunung untuk pelestarian kesenian itu sendiri.

Namun sayangnya, hingga kini perhatian Pemkab Ciamis kepada pelestarian ronggeng gunung masih belum maksimal, padahal kesenian itu selalu membawa nama Kab Ciamis dalam setiap pementasan di daerah mana pun.

Terakhir, sanggar tersebut diundang untuk mengisi acara di Jakarta pada tanggal 23 Juni 2010 pada acara “ngenteng kalembur“. Dalam acara tersebut, budaya dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan,

“Saya sempat iri ketika bercerita dengan para seniman dari daerah lain terkait perhatian pemerintah di daerahnya yang cukup bagus terhadap pelestarian seni budaya, ko beda ya dengan saya,” ungkapnya sambil tersenyum.

Kini, pembangunan sanggar belum sepenuhnya selesai, ia ingin memagar area di sekitar sanggar tersebut. Kemudian ia pun ingin memperbaiki akses jalan menuju sanggar sekitar 200 meter yang sekarang rusak.

Selain itu, beberapa peralatan musik dan busana, juga pernak pernik sanggar masih serba kekurangan.

Ditemui di kediamannya yang sederhana, di Desa Ciulu Kecamatan Banjarsari, Nyi Raspi (begitu akrab disapa), menceritakan, dirinya telah melakoni sebagai peronggeng sejak tahun 1972.

Pada saat itu, ketika masih duduk di SD, salah seorang guru mengajarkan kesenian ronggeng gunung kepadanya. Karena mempunyai darah keturunan peronggeng, Nyi Raspi dengan mudah dapat mempelajari seni ronggeng gunung itu.

Alhasil tak kurang dari 10 hari dia telah menguasai kawih serta tarian ronggeng gunung. Memang, awalnya ia tidak menduga akan seperti sekarang, dulunya ia hanya mengisi hiburan dari kampung ke kampung saja, pada acara hajatan tertentu. Namun karena kecintaannya terhadap seni ronggeng gunung, ternyata tuhan berkehendak lain.

Menurut sumber sejarah yang Nyi Raspi dengar, kesenian ronggeng gunung berkaitan erat dengan kisah Dewi Samboja. Dewi Samboja ini adalah puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang.

Konon, suatu saat suami sang Dewi yaitu Angkalarang mati terbunuh oleh Kalasamudra (pemimpin bajak laut dari seberang lautan). Ketika itu, Dewi Samboja sangat bersedih hatinya, karena suami yang dicintainya telah meninggal dunia dan ia sangat marah kepada Kalasamudra yang belakang diketahui telah membunuh suaminya.

Untuk menghilangkan kesedihan dan sekaligus kemarahan puterinya atas kematian Angkalarang, maka ayahandanya, yaitu Prabu Siliwangi memberikan wangsit kepada Dewi Samboja.

Isi wangsit tersebut adalah bahwa untuk dapat membalas kematian Angkalarang dan membunuh Kalasamudra, Dewi Samboja harus menyamar sebagai Nini Bogem, yaitu sebagai seorang penari ronggeng kembang. Dan, berdasar wangsit itulah, Dewi Samboja kemudian mulai belajar menari ronggeng dan seni bela diri.

Singkat cerita, pergelaran ronggeng di tempat Kalasamudra pun terjadi. Dan, ini berarti kesempatan bagi Dewi Samboja untuk membalas kematian suaminya. Diceritakan, Dewi Samboja sempat menari bersama Kalasamudra. Dewi Samboja mewujudkan niatnya, sehingga perkelahian pun tidak dapat dihindari. Perkelahian itu baru berakhir ketika Dewi Samboja dapat membunuhnya.

Bila saja Pemkab Ciamis memperhatikan perkembangan kesenian Ronggeng Gunung secara serius, tak mustahil suatu saat nanti seni Ronggeng Gunung akan mendapat penghargaan dari pemerintah pusat.

Seperti Tari Topeng Indramayu, senimannya mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat yang diberikan kepada seniman Tari Topeng Indramayu alm. Mimi Rasinah. (Amlus/dk)

dari: http://www.harapanrakyat.com/berita-baru/pemkab-ciamis-kurang-perhatian-pada-kesenian-ronggeng-gunung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in TARIAN

 

Obyek Wisata di Ciamis

Situ Lengkong Panjalu

Situ Lengkong Panjalu merupakan perpaduan antara objek wisata alat dan objek wisata budaya. Terletak di Desa / Kecamatan Panjalu dengan jarak kurang lebih 41 km dari kota Ciamis ke arat utara. Di objek wisata ini kita bisa menyaksikan indahnya danau (situ) yang berhawa sejuk dengan sebuah pulau terdapat di tengahnya yang disebut Nusa Larang. Di nusa ini terdapat Makam Hariang Kencana , putra dari Hariang Borosngora, Raja Panjalu yang membuat Situ Lengkong pada masa beliau menjadi raja kerajaan Panjalu.

Untuk menghormati jasa para leluhur Panjalu, maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu biasa melaksanakan semacam upacara adat yang disebut Nyangku. Acara ini dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Maulud dengan jalan membersihkan benda-benda pusaka yang disimpan di sebuah tempat khusus (semacam musium) yang disebut Bumi Alit.

Kegiatan wisata yang bisa dilaksanakan di sini antara lain: berperahu mengelilingi nusa, memancing, camping, dan sebagainya.

 

Curug Tujuh Cibolang

Curug Tujuh Cibolang terletak di Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu, lebih kurang 35 km arah utara kota Ciamis. Objek wisata ini mempunyai 7 (tujuh) buah air terjun (curug) yang terdapat pada sebuah bukit di kaki Gunung Sawal. Kita dapat menikmati keindahan dan keasrian ketujuh air terjun tersebut dengan cara mengitari bukit, menapaki jalan setapak mulai dari kaki bukit sampai ke puncak bukit dan kembali lagi.

Untuk menuju objek wisata ini dapat menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat atau mountaint bike bagi yang mempunyai hobi olahraga sepeda. Bagi Anda yang memerlukan kendaraan umum, Anda dapat naik dari Terminal Ciamis jurusan Kawali Panjalu, atau langsung dari Bandung jurusan Ciamis via Panjalu.

 

Astana Gede, Kawali

Terletak di Desa / Kecamatan Kawali, kurang lebih 21 km arah utara kota Ciamis. Di sini terdapat beberapa buah Batu Bertulis (Prasasti) yang merupakan cikap bakal bukti keberadaan kerajaan Sunda yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kencana.

Salah satu dari batu bertulis tersebut bertuliskan “Mahayunan Ayunan Kadatuan” yang dijadikan sebagai motto juang kabupaten Ciamis.

Selain batu-batu prasasti terdapat pula peninggalan lainnya berupa:

1. Seperangkat batu disolit, yakni batu tempat pelantikan raja yang disebut Palangka.

2. Batu telapak kaki dan tangan dengan garis retak-retak menggambarkan kekuasaan dan penanggalan (kalender).

3. Tiga buah batu menhir : Batu Panyandaan, Batu Panyandangan, Batu Pamuruyan (alat untuk bercermin).

 

Karang Kamulyan

Karangkamulyan Cagar Budaya ini merupakan peninggalan pusat Kerajaan Galuh Pusaka yang dikukuhkan oleh Sanghyang Parmanadikusumah. Terletak di Desa Karangkamulyan Kecamatan Cijeungjing, lebih kurang 16 km dari kota Ciamis ke arah Timur.

Di situs ini kita bisa melihat tempat-tempat bekas peninggalan dari legenda Ciung Wanara, salah seorang putera Sanghyang Permanadikusumah.

Peninggalan-peninggalan tersebut antara lain:

  1. Batu Pangcalikan ialah bekas singgasana dan tempat bermusyawarah Raja.
  2. Penyambungan Ayam, tempat Ciung Wanara menyabung ayam dengan Bondan Sarati.
  3. Sanghyang Bedil
  4. Lambang Peribadatan
  5. Sumber Air Citeguh dan Cirahayu
  6. Makam Adipati Panaekan
  7. Pamangkonan
  8. Batu Panyandaan
  9. Patimuan
  10. Leuwi Sipatahunan tempat bayi Ciung Wanara dibuang di Sungai Citanduy.

 

Situ Mustika – Cisaga

Objek wisata ini merupakan situ buatan yang pada awalnya berfungsi sebagai penampung air pada kawasan hutan jati seluas ± 3 hektar. Terletak di Desa Karangpaningal Kecamatan Purwaharja, tepatnya sebelah kiri jalan propinsi menuju kota Banjar, lebih kurang 24 km arah timur kota Ciamis. Di sini pengunjung bisa melakukan kegiatan memancing, berperahu dan bersepeda air serta berkemah.

 

Kampung Kuta

Kampung Kuta terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hingga sekarang penduduk kampung yang dikelilingi bukit dan tebing tinggi dan berjarak sekitar 45 kilometer dari Ciamis ini dikenal sangat menghormati warisan leluhurnya. Adat dan tradisi menjadi salah satu peninggalan leluhur yang tak boleh dilanggar.

Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Salah satu warisan ajaran leluhur yang mesti dipatuhi masyarakat Kuta adalah pembangunan rumah. Bila dilanggar, warga Kuta berkeyakinan, musibah atau marabahaya bakal melanda kampung mereka. Aturan adat menyebutkan rumah harus berbentuk panggung dengan ukuran persegi panjang. Atap rumah pun harus dari bahan rumbia atau ijuk. Begitu pula pembangunan rumah yang mensyaratkan tidak boleh menggunakan bahan semen, melainkan hanya memakai bahan dari kayu dan bamboo. Kendati sederhana, model bangunan seperti itu memang dapat melindungi penghuninya dari berbagai macam gangguan, seperti binatang buas. Bahkan kalau dilihat dari bentuknya, rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu itu tahan dari guncangan gempa. Apalagi, belakangan ini, sejumlah daerah di Tanah Air kerap dilanda gempa tektonik maupun vulkanik.

Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Kepercayaan terhadap larangan dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan. Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah larangan, yakni larangan memanfaatkan dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh. Bahkan untuk memasuki Hutan Keramat ini pun tidak boleh memakai alas kaki, Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka.

Mayarakat Kampung Kuta mengenal hutan karamat. Dipandang dari sudut etimologis, Kampung Kuta berarti kampung atau dusun yang dikelilingi “kuta” atau penghalang berupa tebing. Menurut cerita yang beredar pada masyarakat setempat, dahutu kala tebing itu berfungsi sebagai penghalang serangan musuh dari luar, ketika Kampung Kuta akan dijadikan sebuah kerajaan oleh Prabu Ajar Sukaresi. Kisah tentang sepak terjang sang Prabu yang menjadi penguasa di Kampung Kuta sangat berpengaruh kepada warganya di kemudian hari. Sikap sang Prabu yang peduli pada lingkungan itu diteruskan kemudian oleh Ki Bumi yaitu seorang utusan Kerajaan Cirebon yang ditugaskan untuk membantu masyarakat Kampung Kuta menjaga wilayah peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Konon, semula Prabu Ajar Sukaresi bermaksud membangun istana di wilayah tersebut, akan tetapi batal karena lokasi yang ditetapkan berada di tengah-tengah perbukitan. Sementara itu bahan-bahan material yang berupa kayu, semen, batu dan bata bahkan besi sudah terkumpul hingga akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil. Kini lokasi tersebut berubah menjadi hutan yang dipercaya warga setempat sangat keramat. (Kusumah dalam Purba, 2003: 766-767).

Kawasan hutan keramat boleh dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud mencapai keselamatan, ketenangan hati, kehamonisan rumah tangga, selain meminta harta kekayaan atau maksud-maksud lain dengan meminta bantuan “kuncen” sebagai pemangku adat yang dipercaya mampu berhubungan dengan leluhur yang tinggal di hutan keramat. Kuncen dianggap sebagai penjaga hutan keramat, dan dapat menjadi penghubung antara penunggu hutan keramat dengan orang-orang yang mempunyai maksud. Di wilayah hutan itu ditabukan untuk menyelenggarakan kegiatan duniawi dan dilarang untuk memanfaatkan segala sumber daya dari hutan. Segala sesuatu dibiarkan secara alami, masyarakat dilarang menebang pohon bahkan memungut ranting pun tidak diperkenankan. Jika melanggar tabu atau larangan itu, maka orang tersebut akan mendapatkan sanksi berupa malapetaka.

Larangan-larangan  lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan “kekuatan” yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.

Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta sangat dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. Larangan para leluhur mungkin ada benarnya. Ini lantaran kondisi tanah yang labil di kampung ini dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. Terutama membuat sumur dengan cara menggali atau mengebor tanah.

Kedekatan masyarakat kampung adapt dengan alam tidak hanya itu saja setiap tahunnya masyarakat kampung Kuta mengadakan Upacara Adat nyuguh. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya. Upacara ini bertujuan sebagai persembahan bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat kampung Kuta.

Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan memegang teguh budaya, pelestarian lingkungan di kampung ini bisa menjadi contoh bagi kita semua untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan berpegang teguh kepada budaya lokal. Leuweung ruksak, Cai Beak, Anak Incu Balangsak. Cag……

(http://mustafidwongbodo.blogspot.com/2009/12/belajar-dari-kearifan-lokal-budaya.html)

 

CIAMIS SELATAN

Gua Donan – Kalipucang

Merupakan gua alam dengan luas areal ± 2,5 hektar. Memiliki panjang sekita 500 meter, dengan keunikan yang jarang terdapat di gua-gua lain. Di dalamnya terdapat lorong/ruangan luas yang berisi batu karang yang mirip binatang purba, kursi kerajaan serta dihiasi stalaknit dan stalaktit. Terletak di Desa Tunggilis Kecamatan Kalipucang di pinggir kanan jalan propinsi menuju Pangandaran, dengan jarang ± 72 km dari kota Ciamis.

 

Pantai Karapyak

Pantai Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.

Untuk menuju lokasi ini tidak begitu sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang bisa mencapai Pantai Karapyak.

Keindahan Pantai Karapyak memang belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang (kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk dijadikan suvenir laut.

Batu karang yang menghampar dan menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun. Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat petualangan Anda.

Selain menawarkan sejuta keindahan dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya. Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.

Hal ini lebih diakibatkan gelombang ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini lokasinya sangat dekat Pulau Nusa Kambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.

 

Palatar Agung

Pantai dengan panorama yang memukau ini terletak di Desa Bagolo sebelum Pantai Karapyak dengan jarak ± 85 km dari kota Ciamis. Untuk mencapai lokasi ini bisa ditempuh melalui jalan darat dari Desa Emplak atau menggunakan Fery dari Dermaga Malingklak atau Santolo. Di objek wisata yang berlatar belakang Pulau Nusakambangan ini, pengunjung dapat melakukan kegiatan seperti: memancing, berkemah, berperahu pesiar serta melihat kegiatan nelayan tradisional dengan berbagai aktivitasnya.

 

Pantai Karang Nini

Pantai Karang Nini terletak di Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang ± 83 km dari kota Ciamis ke arah Selatan. Sepanjang jalan dari pintu gerbang ke lokasi, akan Anda nikmati kesejukan hutan jati dengan irama alam liarnya. Bukan itu saja, pada beberapa bagian jalan ini akan dihidangkan panorama pantai di kejauhan dengan latar belakang Sagara Anakan. Sungguh sebuah pemandangan yang tak terlupakan apabila Anda datang pada saat cuaca cerah. Sebelum mencapai pantai Anda pun akan menjumpai Pondok Wisata yang dikelola oleh Perhutani Kabupaten Ciamis.

Di pantai ini terhampar batu-batu karang yang salah satunya menyerupai seorang nenek (nini dalam bahasa Sunda) yang sedang menunggu si kakek, sehingga tempat ini dinamakan Pantai Karang Nini.

Wana Wisata Karang Nini adalah obyek wisata alam yang merupakan perpaduan hutan dan pantai. Hamparan hutan Jati dan rimba yang lebat bertaut dengan lautan lepas, ditingkah debur ombak dan berujung di langit biru lazuardi yang membentuk garis horizon di kejauhan, merupakan pesona alam yang menyimpan misteri kebesaran dan keagungan Tuhan.

Dari silhuet mentari di ufuk timur, membayang pulau Nusa Kambangan dan teluk Pananjung di selatan, serta kelokan jalan kereta api peninggalan Belanda yang menghilang di ujung terowongan.

Kenangan tempo doeloe menerawang dalam lamunan sepur yang sarat muatan, terengah merengkuh tanjakan dan hilang di kelok jalan, menyisakan bunyi raungan keletihan.

Semua keindahan itu dapat dinikmati melalui fasilitas:

  • Lima pondok wisata berarsitektur tradisional Sunda dengan kapasitas rata-rata tiga kamar
  • Saung pertemuan Bale Rancage
  • Menara pandang dilengkapi teropong
  • Beberapa shelter untuk rileks memandang laut lepas
  • Joging track
  • Hidangan makan malam ikan bakar
  • Tempat Parkir yang luas dan aman
  • Tempat bermain anak-anak
  • Camping ground kapasitas 300 orang

Joging melalui jalan setapak bisa dilakukan sambil menikmati berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di hutan sekitar, seperti Jati (Tectona Grandis), Mahoni (Sweitenia Mahagoni), Angsana (Pterocarpus Indicus Willd), Ketapang (Terminalia Catappa), Keben (Baringtonia Asiatica), Johar (Casia Siamea) dan jenis-jenis lainnya sedangkan fauna seperti Musang (Paradoxorus Hermaproditus), Tupai (Callosiorus Notatus), Kera (Presbytis Cristata).

Wana Wisata Karangnini yang dikelola Perum Perhutani, berada pada jalur wisata Ciamis-Pangandaran. Jarak dari Bandung sekitar 200 km atau 80 km dari kota manis Ciamis, 10 km sebelum Pantai Pangandaran. Karangnini dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi, masuk sekitar 2 km, tersembunyi dari kebisingan dan menghadap laut lepas Samudra Indonesia.

Ketinggian dari muka laut sekitar 100 meter. dengan suhu 24 – 30 Derajat Celcius dan kelembaban udara rata-rata 85%.

Selain keindahan alam dapat dinikmati pula obyek-obyek kunjungan lainnya:

  • Makam Cikabuyutan dan mata air Sumur Tujuh yang dipercaya dapat membuat orang awet muda dan mampu menyembuhkan berbagai pernyakit
  • Beberapa goa keramat, seperti Goa Dompet, Goa Panjang, Goa Parat dan Goa Pendek, yang masing-masing m miliki ciri khas dan kisah yang berbeda. Konon Gua Panjang merupakan jalan tembus menuju Kasunanan Cirebon.
  • Makam Eyang Anggasinga Wencana dan Mahapatih Bagaspati
  • Aquarium alam di muara Cipangbokongan, dimana saat air laut surut, kita dapat menikmati berbagai jenis ikat hias yang terjebak di relung-relung terumbu karang.
  • Meneropong pulau Nusa Kambangan di sebelah timur dan cagar alam Pananjung di sebelah selatan, dari menara pandang.

 

Majingklak

Lokasi ini terletak di muara Sungai Citanduy dalam kawasan Nusakambangan, tepatnya di Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang ± 79 km dari kota Ciamis. Tempat ini merupakan Dermaga Kapal Fery atau Kapal Pesiar menuju Pelabuhan Cilacap dan diharapkan menjadi sarana penunjang bagi pembangunan di wilayah Ciamis Selatan. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: memancing, berwisata perahu, menyaksikan ikan pesut yang banyak terdapat di perairan ini.

 

Pangandaran Waterpark

Tempat wisata ini terhitung yang paling muda hadir di wilayah Pangandaran. Berbeda dengan waterpark yang ada, waterpark Pangandaran berada di pinggir pantai lembah puteri. lokasinya sekitar 5 kilometer sebelum masuk pintu wisata pangandaran, tepatnya dikecamatan Kalipucang. Waterpark ini dibangun dalam beberapa kolam besar dan lapangan khusus buat ATV track dan dibangun diatas lahan lebih dari 10 hektar.

Fasilitas yang disajikan antara lain seperti umumnya waterpark, seperti luncuran, waterbom dan sebagainya, anda juga bisa menikmati petualangan seperti highrope dan yang lainnya, untuk anda yang suka dengan ATV, anda juga bisa memanfaatkan fasilitas yang ada disini. Untuk fasilitas umum biaya yang harus dikeluarkan sekitar 10rb-25 untuk hari-hari besar atau libur panjang. Didalamnya selanjutnya anda bisa menyewa pelampung atau perahu plastik untuk berenang.

 

Pantai Lembah Putri

Pantai yang mempunyai panorama yang cukup indah dengan bukit-bukit yang dihiasi dengan gua-gua alam memungkinkan di objek wisata ini dilakukan kegiatan olahraga layang gantung gantole serta motocross. Terletak di Desa Ciputrapinggan, ± 85 km dari kota Ciamis.

 

Pantai Pangandaran

 

Pantai Pangandaran terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti:

• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama

• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman

• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih

• Tersedia tim penyelamat wisata pantai

• Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai

• Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski dan lain-lain.
Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.

Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulan Juni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia:

1. Lapang parkir yang cukup luas,

2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif bervariasi,

3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,

4. Gedung bioskop, diskotik

5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,

6. Bumi perkemahan,

7. Sepeda dan ban renang sewaan,

8. Parasailing dan jetski.

 

Cagar Alam Pananjung

Belum lengkap rasanya jika mengunjungi objek wisata Pantai Pangandaran bila tidak menginjakkan kaki di Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran. Objek wisata ini merupakan satu-satunya objek wisata hutan yang ada di Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Keadaan topografi sebagian besar landai dan di beberapa tempat terdapat tonjolan bukit kapur yang terjal.

TWA Pangandaran memiliki kekayaan sumber daya hayati berupa flora dan fauna serta keindahan alam. Hutan sekunder yang berumur 50-60 tahun dengan jenis dominan antara lain laban, kisegel, merong , dan sebagainya. Juga terdapat beberapa jenis pohon peninggalan hutan primer seperti pohpohan kondang, dan benda . Hutan pantai hanya terdapat di bagian timur dan barat kawasan, ditumbuhi pohon formasi Barringtonia, seperti butun, ketapang.

Dengan berbagai ragam flora, kawasan TWA Pangandaran merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa liar, antara lain tando, monyet ekor panjang , lutung , kalong , banteng, rusa, dan landak. Sedangkan jenis burung antara lain burung cangehgar, tlungtumpuk, cipeuw , dan jogjog. Jenis reptilia adalah biawak , tokek, dan beberapa jenis ular, antara lain ular pucuk.

Banyaknya flora dan fauna yang berkembang biak di sana merupakan daya tarik tersendiri. Tidak heran jika TWA Pangadaran tidak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan. Selain itu, TWA ini mempunyai berbagai daya tarik lainnya, seperti Batu Kalde, salah satu peninggalan sejarah zaman Hindu. Selain itu, banyak terdapat gua alam dan gua buatan seperti Gua Panggung, Gua Parat, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, dan gua-gua peninggalan Jepang.

Daya tarik lainnya yang berada di TWA, baik yang berada di kawasan cagar alam darat maupun cagar alam laut, adalah Batu Layar, Cirengganis, Pantai Pasirputih di kawasan cagar alam laut. Lalu, padang pengembalaan Cikamal, yang merupakan areal padang rumput dan semak seluas 20 ha sebagai habitat banteng dan rusa. Air terjun yang berada di kawasan cagar alam bagian selatan, dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 2 jam melalui jalan setapak.

Sejarah Kawasan

Pada tahun 1922, seorang Belanda bernama Eyken membeli tanah pertanian di pananjung Pangandaran, kemudian memindahkan penduduk yang tinggal di daerah yang sekarang menjadi taman wisata alam. Selanjutnya daerah tersebut dikelola sebagai daerah perburuan pada tahun 1931.

Pada tahun 1934, daerah tersebut diresmikan menjadi sebuah wildreservaat dengan keputusan Statblad 1934 nomor 663. Tetapi dengan ditemukannya jenis-jenis tumbuhan penting, termasuk Raflesia patma pada tahun 1961, membuat statusnya diubah menjadi cagar alam, dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.34KMP/tahun 1961. Akhirnya pada 1978, karena adanya potensi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata alam, sebagian wilayah cagar alam yang berbatasan dengan areal permukiman statusnya diubah menjadi taman wisata alam.

Tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitar cagar alam laut (470 ha), sehingga luas kawasan perairan di sekitar Pangandaran seluruhnya menjadi 1.500 ha. Perkembangan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.104/kpts-II/1993, pengusahaan TWA Pangandaran diserahkan kepada Perum Perhutani dan diserahkan fisik pengelolaannya pada 1 November 1999.

TWA Pangandaran mempunyai banyak legenda, seperti legenda Gua Parat. Gua ini dulu tempat bertapa dan bersemedi beberapa pangeran dari Mesir, yaitu Pangeran Kesepuluh (Syekh Ahmad), Pangeran Kanoman (Syekh Muhammad), Pangeran Maja Agung, dan Pangeran Raja Sumenda. Di dalam gua ini terdapat dua kuburan sebagai tanda bahwa di tempat inilah Syekh Ahmad dan Muhamad menghilang (tilem).

Gua Panggang

Menurut cerita, yang berdiam digua ini adalah Embah Jaga Lautan atau disebut pula Kiai Pancing Benar. Beliau merupakan anak angkat dari Dewi Loro Kidul dan ibunya menugaskan untuk menjaga lautan di daerah Jabar dan menjaga pantai Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, beliau disebut Embah Jaga Lautan.

Gua Lanang

Gua ini dulunya merupakan keraton pertama Kerajaan Galuh. Sedangkan keraton yang kedua terdapat di Karang Kamulyan Ciamis. Raja Galuh adalah laki-laki (lanang) yang sedang berkelana.

Batu Kalde atau Sapi Gumarang

Di tempat ini, menurut cerita, tinggal seorang sakti yang dapat menjelma menjadi seekor sapi yang gagah berani dan sakti. Sapi Gumarang adalah nakhoda kapal.

Cirengganis

Cerita ini berawal dari adanya sebuah pemandian berupa sungai kepunyaan seorang raja bernama Raja Mantri. Pada suatu hari, Raja Mantri pergi untuk melihat-lihat pemandiannya.

Kebetulan waktu itu Dewi Rangganis dan para inangnya sedang mandi. Karena terdorong oleh perasaan hatinya, Raja Mantri mengambil pakaian Dewi Rangganis. Karena kesal, Dewi Rangganis kemudian berkata, barang siapa menemukan bajunya, bila perempuan akan dijadikan saudara dan bila laki-laki akan dijadikan suami.

Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Pangandaran semula merupakan tempat perladangan penduduk. Tahun 1922, ketika Y. Eycken menjabat Residen Priangan, diusulkan menjadi Taman Buru. Pada waktu itu dilepaskan seekor Banteng, 3 ekor Sapi Betina dan beberapa ekor rusa. Karena memiliki keanekaragam satwa yang unik dan khas serta perlu dijaga habitat dan kelangsungan hidupnya maka pada tahun 1934, status kawasan tersebut diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 530 ha.

Tahun 1961, setelah ditemukan bunga Raflesia Fatma yang langka, statusnya diubah lagi menjadi Cagar Alam. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat rekreasi, maka pada tahun 1978, sebagian kawasan tersebut (37,70 ha) dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan kawasan perairan di sekitarnya sebagai Cagar Alam Laut (470 ha), sehingga luas seluruhnya menjadi 1.000 ha.

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104/Kpts-II/1993 pengusahaan wisata TWA Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan konservasi Pangandaran dan sekitarnya adalah: lintas alam, bersepeda, berenang, bersampan, scuba diving, snorking dan melihat peninggalan sejarah.

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.

 

Pantai Batu Hiu

Sebuah pantai dengan tebing cukup terjal yang memiliki pemandangan lepas ke arah Samudra Hindia. Batu Hiu berjarak sekitar 14 km dari pangandaran sebagai objek wisata pilihan ketika anda datang ke Pangandaran. Terletak di Desa Ciliang Kecamatan Parigi, kurang lebih 14 km dari Pangandaran ke arah Selatan. Memiliki panorama alam yang sangat indah. Dari atas bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon Pandan Wong, kita menyaksikan birunya Samudra Indonesia dengan deburan ombaknya yang menggulung putih.

Pantai ini dinamakan Batu Hiu karena ada batu yang terlihat di laut ini dan menyerupai sirip ikan hiu. Untuk menikmati indahnya pantai, kita bisa naik ke atas bukit kecil di pantai ini. Dari atas bukit itulah kita bisa melihat batu yang menyerupai sirip ikan hiu, merasakan sejuknya angin laut dan juga menikmati indahnya Samudra Indonesia.

Di bukit kecil yang ditanami pandan wong itulah tempat yang paling pas untuk menikmati pantai Batu Hiu. Yang unik, untuk naik ke atas bukit, kita melewati “gerbang” bikit berupa terowongan kecil yang berbentuk ikan hiu. Jadi, seolah-olah kita masuk ke dalam mulut ikan hiu. Kita juga bisa bermain air laut di sebelah bukit. Namun hati-hati dengan ubur-ubur yang banyak berserakan di pasir pantai ya.

Sekitar 200 meter dari pinggir pantai terdapat seonggok batu karang yang menyerupai ikan hiu, karena itulah tempat ini dinamakan Batu Hiu. Hembusan angin pantai menemani kita saat melepaskan pandangan ke arah samudra atau hamparan pantai sebelah timur yang terbentang hingga Pangandaran. Anda dapat menikmati suasa alam pantai dengan berjalan-jalan di bukit yang teduh atau duduk santai bersama keluarga. Sungguhpun Anda tidak dapat berenang karena ombaknya yang cukup besar, Anda masih bisa berjalan-jalan di pantai menikmati simbahan busa butih yang datang bersama debur ombak Batu Hiu.

 

Citumang

Obyek wisata alam Citumang merupakan obyek wisata yang memiliki daya tarik khusus, yaitu sungai Citumang yang mengalir membelah hutan jati dengan airnya yang bening kebiruan. Tepian sungai yang terdiri dari ornamen batu-batu padas dengan relung dalam dihiasi relief alam dan aliran sungai yang menembus ke dalam goa. Keheningan alam akan Anda jumpai disini. Musik alami berupa gemercik air sungai, bisikan angin sepoi yang menyelinap di antara pepohonan dan suara satwahutan yang tak pernah sepi. Obyek wisata ini terletak di Desa Bojong Kecamatan Parigi dengan jalan sekitar 15 km dari Pangandaran ke arah barat. Atau sekitar 4 km dari jalan raya Pangandaran – Cijulang. Jarak seluruhnya dari kota Ciamis sekitar 95 km.

Dapat dicapai dengan kendaraan umum jurusan Cijulang, dilanjutkan dengan kendaraan ojeg, disambung dengan jalan kaki menelusuri tepi sungai dan kebun pendudukan sepanjang 500 meter.

Setelah melewati pintu masuk, kurang lebih 300 meter perjalanan yang harus Anda tempuh menuju titik tujuan. Sambil berjalan menuruh lokasi, perlu Anda ketahui bahwa nama Citumang berasal dari legenda tentang seekor buaya buntung, Si Tumang. Begitu kuatnya kepercayaan penduduk akan kehadirna buaya buntung tersebut sehingga sampai sekarang meninggalkan nama yang melekat kuat menjadi nama sungai. Versi lain kisah Citumang, berasal dari Cai (Bhs. Sunda = air) yang numpang (cai numpang) yang berkaitan dengan adalah air sungai yang mengalir di bawah tanah. Kata cai numpang ini seiringAir yang bening menanti Andaperjalanan waktu lama-lama berubah menjadi Citumang.

Ketika Anda jumpai sungai yang rimbun dengan pohon di tiap sisinya, lanjutkan perjalanan Anda agak ke hulu, karena di sanalah bening dan sejuknya air dapat segera Anda nikmati.Tibalah kita di tempat tujuan. Aliran air yang mengalir menanti Anda untuk segera turun menikmati bening dan sejuknya air.

Pada kedalaman tertentu Anda dapat menikmatinya dengan mandi dan berenang. Lima ratus meter dari lokasi pamandian ke arah hulu, dijumpai pesona alam berupa aliran sungai Citumang yang masuk ke dalam perut bumi dan keluar lagi di arah hilir. Aliran sungai yang masuk ke dalam goa ini diberi nama Goa Taringgul yang kemudian diberikan nama baru sebagai Sanghyang Tikoro (Batara Tenggorokan).

Menikmati Citumang, tidak sekedar mandi dan berenang seperti yang selama ini banyak dilakukan wisatawan asing, tapi dapat AndaAir keluar dari Sanghyang Tikorolakukan kegiatan lainnya seperti: menikmati suasana sepanjang sungai, petualangan ke dalam goa dan menikmati privacy di tengah alam yang asli, sejuk dan eksotis.

 

Green Canyon (Cukang Taneuh)

Green Canyon (Cukang Taneuh) terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km.

Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.

Untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.

Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.

Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.

Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.

Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.

 

Pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas merupakan perpaduan nuansa alam antara objek wisata Pangandaran dan Batu Hiu dengan suasana alam yang tenang, gelombang laut yang bersahabat dengan pantainya yang landai membuat pengunjung kerasan tinggal di kawasan ini. Terletak di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang dengan jarak ± 34 km dari Pangandaran.

Pantainya yang landai dengan air laut tenang nan biru menanti Anda untuk segera berenang menikmati airnya yang segar. Anda bisa nikmati suasana tenang dengan angin sepoi-sepoi menikmati hidangan di rumah makan yang tersedia. Pandangan lepas ke ujung cakrawala memberi Anda ketenangan dan kenangan berlibur yang menyenangkan.

Kegiatan wisata yang dapat dilakukan selain berenang antara lain: berperahu di bengawan, berkemah dan berselancar. Jika liburan Anda bersama keluarga, akomodasi telah tersedia untuk Anda, ada pondok wisata yang dilengkapi dengan arena bermain dan rumah ibadah. Pondok wisata ini dikelola langsung oleh Diparda Kabupaten Ciamis. Fasilitas lainnya yang tersedia antara lain: Hotel, Camping Ground, Kios Cinderamata, sewaan papan selancar dan ban renang.

 

Pantai Karang Tirta

Pantai Karang Tirta terletak di Desa Sukaresik Kecamatan Sidamulih ke arah Batu Hiu belok kiri. Di objek wisata ini pengunjung selain dapat menikmati keindahan alam juga melakukan rekreasi berupa bersampan, memancing dan berkemah. Fasilitas yang bersedia berupa kedai makanan dan minuman dan pondok wisata.

Tahun ini (2008), rencananya di Pantai Karang Tirta akan dibangun Pintu Gerbang Wisata (Gazebo-4 buah) oleh Pemkab Ciamis melalui Disbudpar.
Pantai Karang Tirta juga memilik sedikit hutan yang disebut Leuweung Nusa, di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman yang sudah lama tumbuh dan ada di sana sejak dahulu.

Pantai Karang Tirta cocok untuk dikembangkan menjadi tempat kegiatan out bond, hal tersebut didukung oleh wisata alam yang ada disekitarnya, seperti : kolam, sungai, muara, delta, sawah, hutan, dan lainya.

Di Pantai Karang Tirta Anda dapat melakukan kegiatan seperti bermain perahu, berenang, kemping, memancing, menjala ikan, mencari taritip (semacam seafood), juga dapat mencoba membuat gula dari kelapa (wisata agro), belajar membuat opak made in Cipari, belajar nari ronggeng, melihat pembuatan wayang golek (wisata Budaya), serta ada makanan khas di daerah ini yaitu Pindang Gunung – sejenis sup lauk (Wisata Kuliner).

Pantai Keusik Luhur

Pantai Keusik Luhur merupakan perpaduan antara alam pegunungan dengan panorama pantai. Dari sebuah bukit kita bisa menyaksikan bergeloranya samudra Indonesia dengan gelombang laut selatan menghempas karang, sehingga buih-buih putih birunya laut lepas.

Gelombang laut mengangkat pasir ke atas batu karang yang terjal sehingga orang menamakannya Keusikluhur (keusik = pasir, luhur = tinggi). Objek wisata ini terletak di Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak dengan jarak ± 45 km dari Pangandaran ke arah selatan.

Bandara Nusawiru

Untuk memperpendek jarak menuju objek-objek wisata di Kabupaten Ciamis khususnya Ciamis Selatan, maka telah dibangun Lapangan Terbang Nusawiru di Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang. Lapangan terbang ini selain berfungsi untuk sektor pariwisata juga mempunyai nilai lebih bagi perkembangan pembangunan di berbagai sektor seperti: perikanan, pertanian, perhubungan serta kegiatan olahraga kedirgantaraan. Dengan run away sepanjang 1.400 x 30 meter, bandara ini laik didarati oleh pesawat sejenis CN-235.

Madasari

Pantai ini menyajikan panorama alam yang spesifik dimana Pantai Madasari dengan pulau-pulau kecilnya berpadu dengan hijaunya datadan Masawah, dihiasi pula oleh batu-batu karang sepanjang pantai yang landai. Terletak di Desa Masawah Kecamatan Cimerak ± 131 km dari kota Ciamis ke arah selatan. Dapat dijangkau dengan berbagai jenis kendaraan.

 

Sumber :
http://sis.smkn1-cms.sch.id/ciamis/petawisata.html
http://www.mypangandaran.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in KEGIATAN-KEGIATAN

 

ANGKLUNG BADUD

Angklung Badud merupakan sebuah seni pertunjukkan yang keberadaannya nyaris punah dari daerah Ciamis. Sebenarnya kehadirannya masih banyak diminati dan digemari masyarakat. Seni pertunjukkan ini tidak saja menggunakan alat kesenian angklung saja namun menggunakan alat kesenian lainnya seperti dogdog. Pada dasarnya seni pertunjukkan Angklung Badud ini mengiringi beberapa permainan yang di dalamnya terdapat sisingaan, momonyetan, bebegukan, ular naga dan kuda lumping. Pertunjukkan Angklung Badud ditampilkan untuk mengiringi pengantin sunat yang menaiki kuda keliling kampung dengan diikuti oleh pertunjukkan lainnya. Pertunjukkan yang dimainkan di alam terbuka ini dapat ditonton oleh semua orang. Para anggota pertunjukkan berperan sesuai dengan keterampilannya, namun dipimpin oleh seorang ketua yang merangkap menjadi pemain dan bertugas menyadarkan pemain yang kesurupan atau mendem. Biasanya dalam acara mendem ini sesepuh menggunakan mantera untuk memulihkan pemain yang keserupan.
Waditra Pengiring Badud/Peralatan Kesenian Badud
Kesenian ini diiringi oleh waditra Dogdog dan Angklung dan peralatan lainnya.
  • Dogdog : alat kesenian yang dimainkan dengan cara ditepuk oleh tangan. Istilah dogdog berasal dari peniruan bunyi suara waditranya jika dimainkan.Cara memainkannya dengan digendong dipinggang kiri masing-masing pemain. Cara memainkannya tangan sebelah kanan memegang alat pemukul, sedangkan tangan kirinya menekan permukaan kulit. Jumlah dogdog yang dipakai biasanya 4 buah terdiri dari; yang kecil dinamakan Tilingtit, dan dibawakan oleh pimpinan dalang dengan fungsi sebagai pemberi pangkat, pengatur lagu dan irama. Dogdog kedua disebut Panempasan (engklok), yang ke tiga dan empat masing-masing dinamai Bangbrang dan Badublag.
  • Angklung: Jenis waditra bambu ini berasal dari kata angka (nada/notasi) dan lung (patah/hilang). Oleh karena itu maksud angklunmg adalah nada yang hilang, atau ada bagian nada yang hilang. Waditra ini dalam tradisi, memiliki fungsi ritual atau sebagai sarana upacara sarana upacara adat atau senin dalam upacara. Namun kini berkembang menjadi sarana hiburan atau seni pertunjukan yang ditonton.

Sumber data: Penelitian di daerah Ciamistahun 2005.

Nara sumber : Djadja Miharja

Mantan Kasi Kebudayaan dan pemerhati kebudayaan, Ciamis

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in KEGIATAN-KEGIATAN

 

DATA SITUS, ORGANISASI PERTUNJUKAN RAKYAT,TEATER KAB. CIAMIS

 TABEL SITUS MENURUT SITUS DI KAB. CIAMIS

KECAMATAN PATILASAN MAKAM JUMLAH
[1] [2] [3] [4]
01. CIMERAK 0 0 0
02. CIJULANG 0 6 6
03. CIGUGUR 0 2 2
04. LANGKAPLANCAR 1 0 1
05. PARIGI 0 18 18
06. SIDAMULIH 0 0 0
07. PANGANDARAN 1 0 1
08. KALIPUCANG 9 6 15
09. PADAHERANG 5 7 12
10. BANJARSARI 4 16 20
11. LAKBOK 1 7 8
12. PAMARICAN 1 0 1
13. CIDOLOG 0 0 0
14. CIMARAGAS 6 17 23
15. CIJEUNGJING 2 3 5
16. CISAGA 7 18 25
17. TAMBAKSARI 2 1 3
18. RANCAH 1 4 5
19. RAJADESA 1 0 1
20. SUKADANA 0 0 0
21. CIAMIS 0 30 30
22. CIKONENG 4 29 33
23. CIHAURBEUTI 0 9 9
24. SADANANYA 0 13 13
25. CIPAKU 1 0 1
26. JATINAGARA 0 6 6
27. PANAWANGAN 4 43 47
28. KAWALI 1 0 1
29. PANJALU 1 8 9
30. PANUMBANGAN 0 0 0

JUMLAH

52 243 295

TABEL JUMLAH ORGANISASI SENI KARAWITAN DI KAB. CIAMIS
KECAMATAN DEGUNG KILININGAN BELUK JENAKA SUNDA CALUNG GEMBYUNG ANGUK LINK. SENI TEPAK LIMA KARES. ADAT BINA SENI WAYANG KULIT WAYANG GOLEK TULIS PANTUN
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15]
01. CIMERAK 1 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0
02. CIJULANG 3 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
03. CIGUGUR 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
04. LANGKAPLANCAR 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0
05. PARIGI 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 2 0
06. SIDAMULIH 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
07. PANGANDARAN 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0
08. KALIPUCANG 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
09. PADAHERANG 1 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 3 2 0
10. BANJARSARI 0 0 1 0 3 0 0 0 0 0 0 1 3 0
11. LAKBOK 4 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 3 1 0
12. PAMARICAN 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 3 0
13. CIDOLOG 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 0
14. CIMARAGAS 2 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 6 0
15. CIJEUNGJING 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 1 0
16. CISAGA 2 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 2 0
17. TAMBAKSARI 1 1 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0
18. RANCAH 1 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 0
19. RAJADESA 2 1 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 4 0
20. SUKADANA 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0
21. CIAMIS 5 0 0 0 3 0 0 0 0 0 1 0 2 0
22. CIKONENG 7 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23. CIHAURBEUTI 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
24. SADANANYA 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25. CIPAKU 4 0 0 0 2 1 0 0 0 2 0 0 0 0
26. JATINAGARA 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27. PANAWANGAN 3 1 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 2 0
28. KAWALI 2 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29. PANJALU 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
30. PANUMBANGAN 2 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 4 0

JUMLAH

53 6 1 0 89 2 0 0 0 0 1 9 52 0

TABEL JUMLAH ORGANISASI PERTUNJUKAN RAKYAT  DI KABUPATEN CIAMIS

KECAMATAN REOG BADUB BANDENG GOTONG SINGA KUDA LUMPING PENCAK SILAT AKROBAT DEBUS BONGBANG TERBANGAN GENDANG BUHUN
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12]
01. CIMERAK 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0
02. CIJULANG 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0
03. CIGUGUR 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0
04. LANGKAPLANCAR 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0
05. PARIGI 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
06. SIDAMULIH 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
07. PANGANDARAN 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0
08. KALIPUCANG 0 0 0 0 3 0 0 0 0 1 0
09. PADAHERANG 1 0 0 0 10 0 0 0 0 2 2
10. BANJARSARI 2 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0
11. LAKBOK 2 0 0 0 4 1 0 0 0 0 2
12. PAMARICAN 0 0 0 0 3 5 0 0 0 0 0
13. CIDOLOG 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0
14. CIMARAGAS 0 0 0 0 0 7 1 0 0 0 0
15. CIJEUNGJING 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
16. CISAGA 5 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
17. TAMBAKSARI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
18. RANCAH 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19. RAJADESA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20. SUKADANA 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
21. CIAMIS 3 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0
22. CIKONENG 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23. CIHAURBEUTI 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24. SADANANYA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25. CIPAKU 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26. JATINAGARA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27. PANAWANGAN 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
28. KAWALI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29. PANJALU 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0
30. PANUMBANGAN 5 0 2 0 0 0 0 0 1 0 0

JUMLAH

25 2 2 2 29 23 1 1 1 3 5

TABEL ORGANISASI TEATER DI KAB. CIAMIS

KECAMATAN TEATER MODERN DRAMA MANOREK SANDIWARA KETOPRAK
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
01. CIMERAK 0 0 0 0 0
02. CIJULANG 0 0 0 0 0
03. CIGUGUR 0 0 0 0 0
04. LANGKAPLANCAR 0 0 0 0 0
05. PARIGI 0 0 0 0 0
06. SIDAMULIH 0 0 0 1 0
07. PANGANDARAN 0 0 0 3 0
08. KALIPUCANG 0 0 0 0 0
09. PADAHERANG 0 0 0 0 0
10. BANJARSARI 0 0 0 0 3
11. LAKBOK 0 0 0 0 2
12. PAMARICAN 0 0 0 1 0
13. CIDOLOG 0 0 0 0 0
14. CIMARAGAS 0 0 0 0 0
15. CIJEUNGJING 0 0 0 1 0
16. CISAGA 0 0 0 0 0
17. TAMBAKSARI 0 0 0 0 0
18. RANCAH 0 0 0 0 0
19. RAJADESA 0 0 0 0 0
20. SUKADANA 0 0 0 1 0
21. CIAMIS 0 0 0 0 0
22. CIKONENG 0 0 0 0 0
23. CIHAURBEUTI 0 0 0 0 0
24. SADANANYA 0 0 0 0 0
25. CIPAKU 0 0 0 0 0
26. JATINAGARA 0 0 0 0 0
27. PANAWANGAN 0 0 0 0 0
28. KAWALI 0 0 0 0 0
29. PANJALU 0 0 0 0 0
30. PANUMBANGAN 0 0 0 0 0

JUMLAH

0 0 0 7 5
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in SENI BUDAYA

 

Mendaki Popularitas Tari Kele di Kabupaten Ciamis

Serombongan tamu penting bersama Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda berkunjung ke Pantai Karapyak, Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jumat (2/5). Enam orang gadis berkebaya merah menyambut kedatangan mereka, ditemani empat pria yang memegang payung.

Keenam gadis itu meliuk mengikuti irama musik sunda dan mengusung lodong (bambu penyimpan air) di kepala mereka. Setelah 10 menit berlalu, mereka menyudahi tariannya. Jika saja lodong-nya tidak pecah. Keenam gadis itu akan mencuci tangan dan kaki para tamu penting tersebut sebagai tanda penghormatan. Karena tarian yang mereka bawakan memang dimaksudkan sebagai tarian penyambutan bagi para tamu penting yang datang ke Ciamis.

Tidak banyak orang Ciamis yang tahu tentang tarian ini. Namanya pun tidak begitu dikenal, karena Tari Kele ini memang bukan tarian tradisional yang diciptakan oleh leluhur Ciamis. Adalah Neng Peking yang tertarik menciptakan tarian ini karena di Ciamis belum ada tarian khas yang mencirikan daerahnya.

Tarian ini digarap oleh studio Titik Dua dari Ciamis, milik koreografer, Rachmayati Nilakusuma, atau yang akrab disapa Neng Peking itu. Tarian ini digarap sejak dua tahun yang lalu atau tepatnya pada 2006. Menurut Neng Peking, dirinya perlu waktu satu tahun untuk menciptakan tarian ini.

Saat pertama kali dipertontonkan kepada masyarakat sambutannya masih dingin. “Mereka masih memandang aneh dan heran saat menyaksikannya,” tutur lulusan Akademi Seni dan Tari Indonesia (ASTI) Bandung tahun 1989 itu
.

Dalam memperkenalkan Tari Kele, Neng Peking tidak segan untuk datang ke desa-desa di Kabupaten Ciamis. Dia berusaha mensosialisasikan tarian ini agar bisa diterima masyarakat. Dia mengungkapkan bahwa saat ini baru beberapa desa di Ciamis yang sudah menggunakan tarian tersebut untuk menyambut tamu.

Tari Kele memiliki makna penyambutan dengan mensucikan tamu-tamu yang datang berkunjung. Istilah kele itu sendiri berarti bambu atau juga disebut lodong yang berfungsi untuk mengambil nira di kalangan masyarakat sunda.

Jumlah penari dalam tarian ini biasanya tidak terbatas. ”Tergantung tempat. Tapi biasanya berjumlah enam orang,” ungkap wanita kelahiran Sumedang 13 Januari 1966 ini. Menurut Neng Peking biasanya para penari permpuan ini dipasangkan dengan empat orang pria yang membawa dongdong atau tempat untuk menyimpan hasil bumi.

Ide tarian ini diadaptasi dari upacara adat Nyangku di daerah Panjalu Kabupaten Ciamis. Upacara Nyangku melibatkan sembilan perempuan berbaju adat warna putih. Di pagi hari mereka mengambil air dari sembilan mata air yang ada di sekitar situ di Panjalu. Air itu kemudian dimasukkan dalam satu ruas bambu. ”Bambu tersebut dibawa dan disimpan di atas kepala. Lalu para perempuan ini berjalan beriringan menuju Alun-alun Panjalu,” papar ibu dua anak ini.

Menurut penilaiannya, saat ini popularitas Tari Kele di Kabupaten Ciamis belum begitu tinggi. ”Baru sebagian kecil masyarakat Ciamis yang mengenal tarian ini,” ungkap dia. Tarian ini malah kerap dipertontonkan di luar daerahnya semisal kota Bandung dan daerah lainnya dalam acara-acara budaya. Dia menganggap masyarakat Bandung memberi sambutan lebih positif terhadap tarian ini. Tapi dia sebagai pencipta sekaligus koreografernya sangat bahagia bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi Ciamis, utamanya dalam bidang kesenian.

Selain Tari Kele, ada juga kesenian lain yang dikembangkan Neng Peking, yaitu Bebegig. ”Kesenian ini belum terangkat di Ciamis,” ujar dia. Neng Peking berharap saat bupati Ciamis yang baru nanti terpilih bisa menerima dan memasyarakatkan kesenian Tari Kele dan Bebegig. Sehingga masyarakat dapat mengenal kesenian ini sebagai ciri khas dari Kabupaten Ciamis. n yurri erfansyah

Sumber:
Republika 10 Mei 2008

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in TARIAN

 

“Si Penjaga Alam dari Ciamis Jawa Barat”

Wujud topeng pada seni tradisi ini menyeramkan. Sepintas lalu, mirip ondel-ondel betawi, reog ponorogo, leak bali, hudoq kalimantan, bahkan makhluk peminum darah, jenglot. Tapi, justru topeng dan segala pernak-pernik yang menghiasinya menjadi daya tarik, serta hiburan menyenangkan bagi para penikmatnya.

Seni tradisi ini bernama bebegig. Namun, jangan pernah membayangkan bahwa bebegig yang ini sama dengan bebegig yang biasa kita temukan di sawah. Jika bebegig yang lazim digunakan petani untuk mengusir burung-burung hama padi di sawah bentuknya berupa boneka berbahan dasar pohon padi atau sejenisnya dan dibungkus dengan pakaian manusia, bebegig yang satu ini berbeda. Pelakunya adalah manusia yang mengenakan topeng berbentuk buta ijo, kepalanya besar, giginya taring, rambutnya gimbal, tubuhnya berwarna hitam, hidung lancip, matanya melotot, dan berwarna macam-macam. Sepintas mirip hudoq dari Kalimantan, ondel-ondel dari Betawi, atau leak dari Bali. Bedanya, bebegig memiliki ciri khas, seperti rambut gimbal terbuat dari susunan bunga bubuai (bungan rotan), seluruh tubuhnya dibungkus ijuk, mengenakan sarung tangan hitam, dan sepatu hitam. Meskipun bentuk bebegig terlihat mirip, namun masing-masing memiliki nama. seperti Gandawisesa, Pancasita, Panjigoma, dan lain sebagainya.

Spektakuler

Bebegig merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Media utamanya adalah manusia yang memakai topeng besar dilengkapi rambut gimbal. Musik pengiringnya terdiri dari dogdog dan angklung yang berjalan di depan bebegig. Jika sedang mengadakan pertunjukan atau arak-arakan, orang-orang di sekitar pertunjukan boleh ikut menari bersama bebegig mengikuti irama dogdog dan angklung tadi. Dan, orang-orang pun larut dalam kegembiraan menari bersama bebegig yang punya wajah menyeramkan. Tak ada rasa takut. Semua ikut menari.

Seni yang termasuk dalam kategori helaran (karnaval) ini biasa digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI, khitanan, menyambut tamu, even-even tertentu, serta kerap dilombakan pada festival-festival di luar daerah. Seni tradisi khas Kabupaten Ciamis ini pernah mengikuti festival seni dan budaya di Jakarta, Bandung, dan Ciamis. Bahkan dalam festival budaya di Bali, bebegig sukamantri pernah menyabet gelar juara ke-2. Bebegig sendiri mulai dipopulerkan oleh para seniman Ciamis dan masyarakat Sukamantri sekitar 1950-an.

Menurut saya, seni tradisi ini terbilang spektakuler, sebab melibatkan banyak orang di dalamnya. “Di acara tertentu kami cuma membawa beberapa orang saja. Kalau di daerahnya mah bisa sampai 40-an orang lebih. Belum lagi yang mau ikut menari,” kata Fauzan, salah seorang anggota grup bebegig, Baladewa Sukamantri (10/10/2010). Yang lebih mencengangkan lagi, bobot rambut gimbal dan topeng bebegig ini tidak sembarangan. Beratnya bisa mencapai 30 kilogram, dengan tinggi mencapai 5 meter lebih.

Penjaga alam

Menurut masyarakat Sukamantri, bebegig adalah lambang kemenangan. Konon, pembuatannya terinspirasi wajah Prabu Sampulur, seorang raja yang berhasil menang melawan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Jawa. Kemudian, kemenangannya tadi dikenang oleh masyarakat berupa topeng mirip wajahnya. Lalu, apakah benar wajah sang prabu mirip dengan topeng bebegig saat ini? Jika iya, kenapa justru tampil “menyeramkan”? Entahlah.

Tapi yang pasti, sebagian besar seni tradisi Sunda ditujukkan untuk menghargai alam. Lihat saja angklung, rengkong, dan cikeruhan yang ditujukkan sebagai wujud penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci, Dewi Kesuburan. Ini wajar, sebab Tatar Sunda memang terkenal sebagai daerah yang agraris. Jadi, bisa dimengerti mengapa sebagian besar seni tradisinya berhubungan dengan alam. Begitu pula dengan bebegig. Layaknya karakter bebegig penunggu sawah, fungsi kesenian bebegig, yaitu sebagai penjaga pada prosesi pembersihan alam untuk bercocok tanam. Ini terlansir dari arak-arakan pada upacara memelihara alam yang merupakan tradisi masyarakat Sukamantri. Aneka tanaman yang menghiasi kepalanya sendiri merupakan personifikasi dari isyarat untuk mencintai alam sekitar.

Bebegig meskipun seram, rambut gimbalnya yang tersusun dari bunga rotan yang disebut bubuai itu menyiratkan kecintaan pada alam semesta. Dalam bunga-bunga itu masih tersimpan ribuan benih rotan. Jika pemilik wajahnya berjalan dan menggerak-gerakkan rambutnya, ia bagaikan kupu-kupu yang mengisap sari bunga dan menebarkannya ke daerah lain.

Itu sebabnya, rambut lelaki seram itu tak pernah diganti ijuk atau benda lain karena dari rambut itulah ia menyimpan rahasianya menjaga alam.

Wajah seram itu adalah bebegig milik masyarakat Desa Cempaka, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Hingga kini masyarakat di bagian utara Ciamis masih menggunakan bebegig untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Para pembuat kedok atau topeng bebegig pergi ke makam untuk menemukan suasana seram. Pengguna akan menyimpan kedok bebegig di makam hingga tiga hari. Dari pemakaman umum itu ratusan orang keluar dan berarak-arak keliling desa. Bebegig akan ditinggalkan di makam khusus setelah acara selesai.

Racmayati mengatakan seni baru ngarumat merupakan berbagai seni tradisi di Ciamis yang kemudian dirangkai dan dipertontonkan. Dalam seni musik, metode itu disebut medley.

Masyarakat Desa Cempaka meyakini bebegig merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah Prabu Sampulur. Ia memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Pulau Jawa. Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok seperti wajahnya.

Rachmayati mengatakan seni bebegig kemudian diambil untuk melengkapi penciptaan seni baru Ciamis, yaitu ngarumat atau memelihara. Dalam seni ngarumat yang diciptakan selama delapan bulan pada tahun 2006 tersebut seni bebegig yang hanya diiringi musik kelotok, aksesori yang dikalungkan pada kerbau dan sapi, kemudian ditambah beduk marung dari Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, Ciamis, sehingga kemudian disebut dugig atau beduk dan bebegig.

Kreasi dengan bebegig ditempatkan di akhir pementasan. Bebegig merepresentasikan penjaga lingkungan. Karena itulah masyarakat Ciamis yang agraris bisa menunjukkan kepada masyarakat lain hasil taninya yang melimpah, seperti ketupat dan galendo dari kelapa.

Sebelumnya, dalam rangkaian ngarumat juga ditunjukkan cara masyarakat memelihara alam dengan menebarkan benih. Penebaran benih diawali dengan parukuyan terbuat dari pelepah bunga kelapa kering yang dibakar dengan kemenyan. Pemegangnya mengibas-kibaskan parukuyan ke sekitar tempat penanaman benih. Dalam upacara ini juga dipertunjukkan Tari Sintung.

Penanaman benih diikuti upacara ritual nyangku dari Panjalu, Ciamis. Upacara ini dilakukan untuk mengambil air bersih dari sumber air.

Untuk menjaga yang sudah ditanam dan disiram, upacara dilengkapi tanjidor dari Buniseuri, Ciamis, sebagai kesenian untuk menjaga situasi. Kesenian karawitan ini menggunakan tabuh beduk, kendang, calung renteng, genjring, rebab, dan sinden. Mulanya seni ini dipakai orangtua yang sedang berjaga malam pada masa pendudukan Jepang. Untuk menghela rasa bosan dan mengantuk, dimainkan tanjidor.

=======================================================================

Sumber: Fandy Hutari,penulis lepas dan penyuka seni. Tinggal di Bandung

http://www.indonesiaseni.com/peristiwa/bebegig-si-penjaga-alam-2

http://www.wisataciamis.com/2009/08/kesenian-daerah-atraksi-wisata-2.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in SENI BUDAYA

 

Ronggeng Ciamis, Bergoyang di Tengah Perubahan Zaman

Oleh Dedi Muhtadi dan Adhitya Ramadhan
Kompas/Adhitya Ramadhan
Peronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat menari bersama penonton di halan balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2).

Di bawah naungan awan-gemawan musim kemarau di Kampung Kalenanyar, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tujuh penari itu menggoyang tubuh mereka di atas tanah becek yang ditaburi kapur. Para ronggeng menari tanpa alas kaki.

Udara pukul 10 pagi gerah saat suara gamelan dan tarian ronggeng mulai hadir utuh di halaman rumah Nasum (50), keluarga yang berhajat. Orang-orang berangsur berkumpul di rumah petani penyadap kelapa dari Desa Rawaapu Kecamatan Patimuan, Cilacap, itu yang tengah melaksanakan nadar khitan untuk anak lelakinya, Faisal (9).

“Walapun kaki berlepotan tanah, kami harus terus menari untuk menghormati tamu yang datang,” ujar Tati Deviati (30), penari sekaligus peronggeng primadona dari Kelompok Seni Ibing Baranangsiang asal Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang, Ciamis, Jawa Barat.

Baranangsiang pada hari itu dapat job lintas provinsi, mereka ditanggap main di wilayah Cilacap bagian selatan di Jawa Tengah. Pertunjukan ronggeng desa dengan irama musiknya yang mengayun dan meletup-letup itu tetaplah sebuah magnet yang menarik perhatian para pria penggemar seni ngibing.

Kompas/Adhitya Ramadhan
Ronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat berdandan sebelum pentas di balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2).

Suatu malam-pertengahan Februari lalu-hujan deras juga tidak menghentikan antusiasme warga melihat pentas ronggeng di halaman Balai Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Ciamis selatan.

Satu per satu penggemar berat ronggeng datang ke lokasi pementasan setelah para peronggeng dan penabuh gamelan atau biasa disebut nayaga mulai memainkan gamelan sejak pukul 20.00.

Menurut Kepala Desa Sindangasih Ahmar, ibarat artis, ronggeng memiliki penggemar beratnya sendiri-sendiri. Mereka akan mengikuti ke mana pun ronggeng favoritnya tampil.

Ronggeng amen adalah seni tradisional yang berkembang di selatan Kabupaten Ciamis. Kesenian ini banyak ditemui di Kecamatan Banjarsari, Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Cijulang, hingga ke perbatasan Cilacap, Jawa Tengah, yang mayoritas bekerja sebagai petani dan bisa dua bahasa sekaligus, yakni Sunda dan Jawa ngapak. Kini sedikitnya ada 50 grup ronggeng amen di Ciamis selatan.

Seni ronggeng amen atau ronggeng kidul lahir di tengah-tengah kultur petani. Ciamis selatan adalah komunitas yang dominan dengan budaya bercocok tanam.

Dari Ciamis selatan hingga perbatasan Jawa Tengah, tempat ronggeng amen muncul dan berkembang selama ini, kawasan itu merupakan sentra produksi beras.

Setiap tahun daerah itu menjadi andalan Bulog dalam pengadaan beras. Area sawah di wilayah itu seluas 51.000 hektar dan pada tahun 2008 menghasilkan padi 601.000 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkandengan produksi tahun 2007 sebanyak 585.000 ton.

Dahulu kala ronggeng kerap dimainkan sebagai bagian dari “ritual” syukuran masyarakat agraris atas berhasilnya panen raya padi dan selusin rangkaian upacara lain.

Bahkan, menurut penyair Sunda, Godi Suwarna, dulu ronggeng dimainkan pada siang hari di tengah sawah, untuk menemani para petani yang sedang memanen padi.

Pemimpin Kelompok Ronggeng Baranangsiang, R Devi Setia Wiguna (40), yang juga suami dari Tati Deviati, sang ronggeng, adalah seorang petani sekaligus pedagang turun-temurun. Sawah seluas 100 bata (1 bata setara dengan 14 meter persegi) warisan orangtuanya di Padaherang ia garap sendiri.

Para nayaga yang menjadi anggota kelompok seni ini pun mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani.

Ketika cuaca sulit diprediksi, hama menyerang, dan lahan sawah tidak bisa diandalkan untuk hidup, mereka pun kian mengandalkan panggilan pentas ronggeng untuk menghidupi keluarga.

Saat ini sudah jarang ronggeng dipentaskan untuk merayakan suksesnya panen. Pesta pernikahan atau khitanan pun kemudian biasa memanggil ronggeng untuk hiburannya.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa memanggil grup ronggeng amen. Tarif sekali pentas sehari semalam sekitar Rp 3,5 juta, bukanlah angka yang kecil bagi petani. Hanya warga kelas sosial ekonomi mapan yang mampu menghadirkan ronggeng dengan tarif sebesar itu.

Jika seorang petani biasa, atau penyadap nira kelapa, ingin memanggil grup ronggeng, mereka harus menyiapkan uang sesuai tarif yang dipatok sejak jauh hari. Tatkala ronggeng dipentaskan, status sosial keluarga hajat pun mulai terangkat.

Ronggeng amen merupakan turunan dari ronggeng gunung, seni tradisional buhun (kuno) dari pegunungan di selatan Ciamis, yang terkenal dengan seni ketuk tilunya. Namun, ronggeng gunung yang hanya diiringi kendang dan gong ini masa kejayaannya mulai pudar tergerus orkes dangdut dan organ tunggal. Tetapi kita berharap kesenian ini tetap mampu bertahan, meskipun berat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2010 in SENI BUDAYA, TARIAN

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: