RSS

LPJ PENGURUS KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA PERIODE 2010-2011

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

PENGURUS KPM “GALUH RAHAYU” CIAMIS-YOGYAKARTA

PERIODE 2010-2011

 

Disampaikan Pada

Musyawarah Warga Ke-32,

Di Asrama Galuh

PENGANTAR

            Bismillahirrahmanirrahim

            Assalamu’alaikum wr. wb.

 

            Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menjalankan semua tugas dan tanggungjawab sebagai khalifah di muka bumi ini. Tidak lupa shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita kepada zaman yang terang benderang ini kepada para leluhur pendiri Galuh yang telah memberikan tauladan kepada kita.

Pada kesempatan ini, sampai juga kami pada akhir periode sejarah kepengurusan, di mana kami akan mengembalikan kepada warga atas amanat yang dilimpahkan kepada kami pada Musyawarah ke 31 satu tahun yang lalu.

Pada akhirnya liku-liku sejarah perjuangan dan upaya maksimal kami dapat dilaporkan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban yang ada dihadapan saudara-saudara sekalian. Wujud karya kami tersebut sangat tidak terlepas dari dorongan dan bantuan banyak pihak, oleh karena itu, kami sampaikan penghargaan yang tulus dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 19, 2011 in LAPORAN PERTANGUNG JAWABAN

 

Sejarah Ciamis

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh”, berasal dari kata “sakaloh” berarti “dari sungai asalnya”, dan dalam lidah Banyumas menjadi “segaluh”. Dalam Bahasa Sansekerta, kata “galu” menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:

  • Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
  • Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
  • Galuh Pakuan beribukota di Kawali;
  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan;
  • Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
  • Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  • Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara; dan
  • Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama “Galuh”, meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa “kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh”.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SEJARAH

 

Kampung Kuta dan Upacara Adat Nyuguh

Alhamdulillah, aya ku bagja, kenging oleh-oleh ti Ki Dulur. Ngalangkungan milis urangciamis, anjeuna ngintun artikel anu diserat ku Kang Mustafid ngeunaan Kampung Kuta, salah sawios lembur anu masih nyepeng adat ti karuhun kalawan pengkuh. Sumangga diaos nyalira nya.

Kampung Kuta

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali (tabu), untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.

Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik.

Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in KABAR CIAMIS

 

Lalab Dalam Kehidupan Masyarakat Sunda

Dalam budaya dan kehidupan masyarakat Sunda, lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan sejak dahulu. Kalau dahulu lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi di pedesaan, sekarang sudah merupakan bagian dari lingkungan kehidupan modern masyarakat kota. Lalab yang terdiri dari daun, pucuk, buah muda atau biji tanaman segar, sudah merupakan bagian dari program WHO “back to nature” atau makanan kaya serat, mineral dan vitamin untuk kesehatan dan kebugaran.

Lalab atau sayuran merupakan makanan berserat. Karenanya memakan lalab dan sayuran mentah akan banyak manfaatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh serta kehalusan dan keindahan kulit, terutama untuk kulit muka wanita. Kalau masyarakat Barat (khususnya Eropa dan Amerika) bangga terhadap makanan segar asal tanaman yang disebut salads, maka masyarakat Indonesia juga bangga dengan “lalab” khususnya bagi kalangan masyarakat Sunda.

Obat peningkat “gairah”, tidak selamanya harus berasal dari obat hasil pabrikan yang mengandung banyak unsur kimia. Dalam hal ini kalau terus menerus dikonsumsi akan mempunyai efek samping. Obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti tanaman khususnya bagian dari tertentu yang berkhasiat sebagai obat dapat meningkatkan gairah.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in KABAR CIAMIS

 

The Galendo from Ciamis

Salah sahiji katuangan khas ti Ciamis, boh kanggo tuangeun jalmi atanapi tuangeun lauk (kumargi dijantenkeun eupan), nyaeta THE GALENDO. Di handap pribados cutatkeun berita ti TribunJabar. Wilujeng tuang Galendo…

BELAJAR dari pengalaman tahun lalu, pengrajin galendo, makanan khas Ciamis terbuat dari kelapa, Mang Endut Rohedi kini menyediakan stok galendo dua kali lipat menghadapi libur panjang Lebaran 2008.

“Tahun lalu kami kami hanya menyediakan stok galendo 1,5 ton. Tetapi pada H+3 sudah habis, sementara pemudik terus berdatangan dan banyak kecele karena tak kebagian. Makanya tahun ini kami menyiagakan stok tiga ton,” kata Mang Endut Rohedi kepada Tribun, Senin (29/9).

Mang Endut adalah salah seorang dari segelintir pengrajin galendo yang masih terus bertahan memproduksi makanan khas Ciamis tersebut. Ia tak hanya mempertahankan keaslian galendo tetapi juga memperoduksi galendo kontemporer dengan segala inovasinya.

Diantaranya berupa galendo rasa asli, yakni galendo yang dibungkus dengan anyaman bambu kemudian dikemas lagi dengan kotak plastik mirip kemasan brownis. Kemudian galendo rasa keju, rasa pisang dan rasa wijen. Galendo ala Oreo, galendo ala silverqueen hingga galendo bubuk.

Di antara berbagai jenis galendo tersebut menurut Mang Endut, galendo rasa asli yang dibungkus anyaman bambu tetap merupakan jenis galendo yang paling digemari (favorit). Dari 3.000 bungkus galendo rasa asli yang sudah distok, sekarang hanya tersisa 1.000 bungkus.

“Sebagian sudah dibeli perantau maupun pejabat Ciamis yang mau pulang ke kampung atau ke kotanya masing-masing. Bahkan juga banyak pemudik yang sengaja mampir ke sini meski belum Lebaran,” imbuhnya.

Sedangkan untuk anak muda menurut Mang Endut pihaknya menyediakan galendo dengan berbagai variasi dan inovasi dalam kesan tampilan lebih gaul. Harga galendo pun bervariasi mulai dari Rp 3.000 sampai Rp 32.500, tergantung jenis dan bentuk.

Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in KABAR CIAMIS

 

Tepung Ganyong Ciamis Goes to Singapura

Bandung – Siapa sangka kreativitas Siti Solihah alias Ely asal Cisitu Bandung, mampu menembus pasar Negeri Singa. Kreasi Bagelen yang dibuat dari tepung ganyong yang didapatnya dari Ciamis tak disangka mendapat banyak penggemar di Singapura.

“Kita jual seharga $7 Singapura per toplesnya,”ujar Ely bangga. “Pengirimannya memang tidak tentu, tapi dalam seminggu, kira-kira 100 toples bisa terkirim,” tambahnya.

Kelihaian Ely dalam memasarkan bagelen ganyongnya tak lepas dari rajinnya Ely mengikuti berbagai macam seminar dan Food Exhibition di beberapa kota. “Dari acara-acara seperti itu, saya mendapat banyak koneksi. Banyak yang meminta tester, dan kemudian jadi suka, jadinya malah pesen,” ujarnya.

Untuk pasar dalam negeri sendiri, Bagelen Ganyong Nanamie memang baru dipasarkan di Bandung dan Jakarta saja. Bagelen Nanamie cepat mendapat perhatian karena inovasi rasanya yang terbilang unik dan nyleneh. Selain itu, harganya yang terbilang murah, menjadi daya tariknya juga.

Di Bandung, tepatnya di Toko Kue Nanamie, Jl. Cisitu Lama no.23 Bandung, Bagelen Nanamie dijual seharga Rp.20.000/toplesnya. Namun jika sudah keluar dari Toko Kue Nanamie, alias dijual di tempat lain, harganya naik menjadi sekitar Rp 25.000 hingga Rp 30.000.

“Sudah disebar ke beberapa FO di bandung. Malah ada yang tertarik menjadi gerai resmi Nanamie. Kalau ada acara Car Free Day, kita juga ikut jualan di Dago,” celoteh Ely. “Lumayan, biar cepat terkenal,” cuap Ely dengan gaya khasnya.

Bagelen Nanamie juga sudah mendapat gerai di Jakarta. Tepatnya di sebuah Mal di bilangan Jakarta Barat. “Memang gerai-gerai tersebut bukan saya yang mengelola, kalau ada yang mau pesan, lalu dijual lagi, ya tidak apa-apa,” ujar Ely. “Tapi pengen juga punya gerai sendiri,” tambah Ely yang ketika dihubungi sedang berada di Bali. Tentu untuk urusan ekspansi gerai bagelennya.

Produksi per-hari yang hanya berkisar di angka 200 toples membuat Ely masih kewalahan. “Maklum, produksi rumahan, kita juga kan tidak buat bagelen aja. Namanya toko kue, kita juga bikin kue, roti, dan kue-kue kering lainnya,” tutupnya.

dari: http://urangciamis.blogspot.com/2011/04/tepung-ganyong-ciamis-goes-to-singapura.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in KABAR CIAMIS

 

Mengenang Sosok Iwa Koesoema Soemantri, Tokoh Pahlawan Kelahiran Ciamis

Laman Saung Urang Ciamis bade ngupayakeun ngempelkeun artikel-artikel ngeunaan para inohong atanapi tokoh anu bibit buitna atanapi asalna ti wewengkon Ciamis. Mugia aya guna mangpaatna, aya pulunganeunana kangge urang sadaya.

Iwa Koesoema Soemantri, Tokoh Hukum Penggagas ‘Proklamasi’

Bagi Anda yang pernah menimba ilmu di Universitas Padjadjaran (Unpad) atau melintas di depan kampus Universitas Padjadjaran, Bandung barang kali tak asing dengan nama Iwa Koesoema Soemantri. Setidaknya Anda mengetahui nama Iwa sebagai nama kampus Unpad yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung itu. Maklum Unpad memang memiliki beberapa kampus. Selain tersebar di beberapa lokasi di kota Bandung, Unpad juga memiliki kampus di Jatinangor, Sumedang.

Kembali ke cerita Iwa Koesoema Soemantri. Meski namanya diabadikan sebagai nama kampus, namun warga Unpad banyak yang tak mengenal lebih jauh siapa Iwa. Yang mereka tahu, Iwa adalah Presiden (kini biasa disebut sebagai Rektor) Unpad yang pertama.

Boleh jadi tak banyak yang mengetahui siapa dan apa yang telah Iwa berikan bagi negeri ini? Bisa jadi tak banyak pula yang tahu bahwa Iwa memiliki kontribusi dalam proses kemerdekaan negeri ini. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mencatat Iwa lah yang mengusulkan pemakaian nama ‘Proklamasi’ dalam naskah yang dibacakan Soekarno-Hatta mengatasnamakan rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya Soekarno hendak menamai teks itu dengan kata ‘Maklumat’.

Iwa adalah menak sunda asal Ciamis yang dilahirkan pada 30 Mei 1899. Ayah Iwa, Raden Wiramantri adalah Kepala Sekolah Rendah yang kemudian menjadi pemilik sekolah (school opziener) di Ciamis. Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan itu, Iwa beruntung bisa mengecap pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk anak-anak kalangan menak pribumi yang menggunakan pengantar bahasa Belanda.

Pernah setahun belajar di sekolah calon ambtenaar (pegawai pemerintah) di Bandung, Iwa memutuskan keluar dan pindah ke sekolah menengah hukum di Batavia. Setelah tamat, Iwa bekerja pada kantor Pengadilan Negeri di Bandung sebelum pindah ke Surabaya dan berakhir di Jakarta. Pada tahun 1922, Iwa melanjutkan studi hukumnya ke Universitas Leiden Belanda.

Pada saat kuliah di Belanda, Iwa aktif terlibat di Indische Vereeniging yang berubah menjadi Indonesische Vereeniging dan terakhir berubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Iwa bahkan tercatat menjadi ketua organisasi itu pada 1923-1924. Pada masa kepemimpinannya, Iwa meletakkan prinsip nonkooperasi sebagai asas organisasi.

Usai menamatkan kuliah, Iwa dan Semaun diutus oleh PI pergi ke Moscow untuk mempelajari Front Persatuan (Eenheidsfront) yang didengungkan oleh Komintern, semacam organisasi komunis internasional. Di satu sisi Iwa memang tertarik mempelajari sosialisme, tapi tidak untuk komunisme.

Kembali ke tanah air pada 1927, Iwa sempat bekerja di Bandung. Tak lama kemudia ia diminta pamannya membuka kantor pengacara di Medan. Di sana, Iwa tetap aktif dalam pergerakan dengan membuat surat kabar Matahari Indonesia serta mendekati kaum buruh dan tani yang tertindas. Iwa juga disebutkan pernah mendirikan SKBI (Sarekat Kaoem Boeroeh Indonesia) cabang Medan. Lantaran memiliki afiliasi dengan Moscow dan Komintern, para pemimpin SKBI ditangkap dan diasingkan. Termasuk juga Iwa yang pada Juni 1930 dibuang ke Bandanaira dan Makassar selama 10 tahun.

Ketika Jepang menaklukan Belanda, Iwa akhirnya dibebaskan. Jepang sempat mengangkat Iwa sebagai hakim Keizei Hooin (Pengadilan Kepolisian) Makassar. Tak lama setelah itu, Iwa akhirnya kembali membuka praktek sebagai pengacara di Jakarta.

Perjalanan hidup Iwa selanjutnya adalah saat dirinya diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama tokoh lain seperti Latuharhary dan Soepomo. Dalam sidang PPKI, Iwa adalah salah seorang yang berpandangan rancangan UUD 1945 adalah konstitusi yang lahir dalam keadaan darurat dan sangat mungkin untuk diperbaiki. Makanya Iwa mengusulkan agar dimasukkan satu pasal yang mengatur tentang perubahan UUD 1945. Usul Iwa itu disambut oleh Soepomo. Setelah adanya pembahasan dan perdebatan, maka munculah Pasal 37 UUD 1945 yang mengatur tentang bagaimana cara untuk mengubah konstitusi.

Setelah merdeka, Iwa didaulat menjadi Menteri Sosial pada kabinet pertama. Tak lama kemudian ia bersama Mohammad Yamin, Soebardjo dan Tan Malaka sempat ditahan karena dianggap terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946.

Meski sempat ditahan atas tuduhan ‘kudeta’ Iwa masih dipercaya Soekarno untuk menduduki jabatan Menteri Pertahanan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo (1953-1955). Saat itu Fraksi Masyumi pernah mengajukan mosi kepada Iwa lantaran dituduh sebagai seorang komunis dan adanya upaya kudeta oleh Angkatan Perang Republik Indonesia. Boleh jadi karena dua tuduhan itu Iwa memutuskan mengundurkan diri dari kursi Menteri Pertahanan.

Pada 1957, Iwa diangkat menjadi Presiden Unpad. Lalu pada tahun 1961 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Di pemerintahan, karir terakhirnya adalah sebagai Menteri Negara pada Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Kabinet Dwikora I (1964-1966). Iwa meninggal pada 27 September 1971 karena penyakit jantung.

Meski jasa-jasa Iwa terhadap negeri ini tak sedikit, pemerintah orde baru tak langsung menyematkan gelar pahlawan kepadanya. Baru kemudian pada masa pemerintahan Megawati, Iwa ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

dari:http://urangciamis.blogspot.com/2011/03/mengenang-sosok-iwa-koesoema-soemantri.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2011 in SOSOK

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: